Sisi Gelap Dunia Anak SMA

Sisi Gelap Dunia Anak SMA
Bab 87 - Ketahuan! [Hinaan Untuk Zara]


__ADS_3

...༻☆༺...


Gamal tersenyum kecut. Dia mengusap tengkuknya akibat merasa malu. "Sorry, Pak. Khilaf..." ujarnya.


Zara langsung memukul pundak Gamal dengan kesal. "Kalau kita kena masalah lagi. Lo harus tanggung jawab!" pungkasnya. Lalu pergi menjauh dari Gamal.


Untung saja Pak Seno terlihat sudah beranjak. Kebetulan dia mendapatkan panggilan mendesak. Jadi sepertinya Pak Seno sudah tidak mau mengurus kesalahan Gamal tadi. Lelaki itu justru pulang setelah mengakhiri pembicaraan di telepon.


Raffi dan kawan-kawan sedang berada di ruang ganti. Di sana terdapat lemari loker yang berjejer. Loker Raffi sendiri berada di nomor tujuh belas. Lemari loker tersebut memang sengaja diberi nomor agar mudah membedakan.


"Eh, Mal. Lo sama Zara beneran pacaran?" tanya Heru sembari melepas baju atasannya.


"Menurut lo? Nggak usah ngurusin hidup gue deh. Suka-suka gue mau pacaran sama siapa." Gamal memberikan jawaban ambigu.


"Astaga, gue kan cuman tanya doang. Soalnya si Olive itu tadi tanya ke gue," ungkap Heru yang telah mengenakan seragam sekolahnya lagi.


"Hah? Olive? Yang bener lo?" Gamal akhirnya berbalik dan menatap Heru.


"Iya, kayaknya dia tertarik sama lo dan Raffi." Heru menatap Raffi dan Gamal secara bergantian.


Raffi terlihat sudah mengenakan seragam sekolahnya. Dia ikut menoleh ketika mendengar pemberitahuan dari Heru.


"Kalian kenapa? Pasti kepo kan? Cewek cantik emang susah dilewatin." Heru bicara sambil mengangkat kedua bahunya satu kali.


"Gue nggak peduli." Raffi tak acuh.


"Olive-nya udah pulang?" Gamal tiba-tiba bertanya.


"Nggak tahu. Tapi gue lihat dia udah pergi dari lapangan indoor," terang Heru sembari menyampirkan tas ranselnya.


Dahi Raffi berkerut dalam. Dia menarik Gamal berbalik menghadapnya. "Lo mau ngapain? Jangan bilang lo mau deketin Olive!" timpalnya.


"Serius banget sih. Ya enggaklah! Gue kan punya Zara," Gamal membawa Raffi masuk ke dalam rangkulan. Mereka pergi bersama keluar dari ruang ganti.


Mendengar pernyataan Gamal, mata Heru sedikit terbelalak. Kini hubungan Gamal dan Zara sudah terkonfirmasi.


Setibanya di parkiran, Gamal segera masuk ke mobil. D sana Zara telah menunggunya. Cewek itu terlihat melipat tangan di depan dada.


"Anjir! Lo marah lagi?" tukas Gamal seraya mencolek dagu Zara. Lalu terkekeh.


"Apaan sih lo!" mata Zara mendelik. Dia menjauhkan tangan Gamal dengan paksa.

__ADS_1


"Ya udah, gue nggak jadi kasih hadiah deh..." imbuh Gamal.


Kekesalan Zara seketika sirna. Ia malah dibuat penasaran dengan ucapan Gamal tadi. Zara otomatis merubah raut wajahnya menjadi datar. Dia tidak terlihat marah lagi.


"Hadiah apaan?" tanya Zara.


"Kita cari mati dulu, baru gue kasih." Gamal bicara sambil fokus mengemudi.


Zara mendengus kasar. "Kemesuman lo kapan berhentinya sih?" keluhnya. Namun Gamal hanya tersenyum. Seolah sengaja mengejek Zara.


...***...


Gamal dan Zara baru saja masuk ke dalam rumah. Di sana keduanya langsung berciuman. Mereka terus melakukannya sampai terhempas ke sofa panjang ruang tengah. Satu per satu pakaian ditanggalkan oleh Gamal dan Zara.


Tampilan Zara hanya mengenakan bra dan rok abu-abu. Sedangkan Gamal bertelanjang dada, dalam keadaan memakai celana boxer.


Bibir Gamal terus bermain di setiap jengkal badan Zara. Cewek itu hanya bisa melenguh untuk melampiaskan kenikmatannya.


"Gue lepas cangcut lo ya," ujar Gamal sembari melepas sabuk tiga Zara dari dalam rok.


"Cepetan, Mal. Nanti bokap lo datang. Kata lo dia pulang hari ini kan?..." lirih Zara.


"Ah! Bokap gue nggak pernah datang siang. Dia datangnya selalu malam," sahut Gamal. Ia nyaris membuka celana. Akan tetapi Zara sigap mencegah.


"Lo bisa diam nggak? Percaya aja sama gue!" Gamal bergegas menyatukan tubuh dengan Zara. Tanpa pikir panjang dia langsung melakukan pergerakan. Zara lantas hanya bisa pasrah. Mereka bersenggama sampai merasa saling terpuaskan. Segalanya selalu berakhir dengan sisa nafas yang memburu.


Gamal mengenakan celana boxernya. Tanpa sepengetahuan Zara, dia mengambil sesuatu dari dalam tas ransel. Yaitu sebuah benda yang disebutnya hadiah tadi.


Sementara Zara telah memakai seragam putihnya kembali. Belum sempat Zara selesai menyematkan kancing, Gamal malah menghentikan.


"Mager dulu ya." Gamal memeluk erat Zara. Kemudian mengajak untuk telentang bersama ke sofa lagi. Sekarang Zara meletakkan kepala ke pundak Gamal. Mereka sama-sama membisu akibat masih merasa lelah dengan aktifitas intim tadi.


"Ra, lo udah siap terima hadiah dari gue?" celetuk Gamal.


"Apaan deh. Cepetan kasih tahu! Kalau kelamaan, gue gigit tete lo, mau?" Zara mengguncang-guncang badan kekasihnya.


Gamal tergelak mendengar ancaman Zara. Dia perlahan memperlihatkan sesuatu yang sedari tadi dia sembunyikan dalam genggaman tangan.


"Nih!" Gamal memamerkan sebuah kunci apartemen untuk Zara.


"Lo beneran beliin gue apartemen?" Zara tertegun. Dia merasa kaget sekaligus bahagia.

__ADS_1


"Kenapa? Nggak mau? Ya udah..." Gamal menjauhkan kunci yang dipegangnya dari Zara.


"Eh, eh! Mau dong." Zara memanyunkan mulutnya. Hingga akhirnya Gamal memberikan kuncinya kepada Zara.


"Lo kenapa baik banget sih..." ungkap Zara. Matanya tampak berkaca-kaca. Dia sangat terenyuh. Menatap Gamal dengan penuh kekaguman.


Gamal lantas membalas tatapan Zara. Saat itulah dia mendapatkan sentuhan bibir dimulutnya. Dia dan Zara kali ini berciuman dengan perasaan tulus. Sangat berbeda dari biasanya.


Zara melepaskan tautan bibirnya sejenak, dan berucap, "Gue sekarang makin sayang sama lo..."


"Gue juga," balas Gamal. Dia dan Zara kembali lanjut berciuman.


Di waktu yang bersamaan, sebuah mobil baru saja berhenti di depan rumah. Orang yang datang tidak lain adalah Afrijal. Dia sepertinya datang lebih cepat dari biasanya.


Ceklek...


Pintu depan terbuka. Suaranya yang pelan membuat Gamal dan Zara tidak menyadari ada orang yang datang. Parahnya mereka tadi juga lupa mengunci pintu. Hal itu karena Gamal dan Zara terlalu fokus bermesraan.


Afrijal memijat-mijat pundaknya. Dia berjalan gontai seakan sedang kelelahan. Langkahnya reflek terhenti saat melihat apa yang dilakukan sang putra dengan seorang perempuan. Suara kecup-mengecup juga jelas terdengar di telinga.


Tubuh Afrijal bergetar hebat. Wajahnya memerah padam akibat amarah yang seketika meluap dengan cepat.


Demi menarik perhatian, Afrijal mengambil sebuah vas bunga keramik. Lalu sengaja memecahkannya ke lantai.


Prang!


Gamal dan Zara otomatis menengok ke arah sumber suara. Mata mereka membelalak tak percaya, kala menyaksikan keberadaan Afrijal.


"Papah!" panggil Gamal sembari bangkit dari sofa. Hal serupa juga dilakukan oleh Zara.


"Dasar anak kurang ajar!" Afrijal mengamuk. Dia lagi-lagi melampiaskan benda berbahan kaca untuk dibanting ke lantai.


"Aaaarrkhh!" Zara reflek menutup telinga dengan kedua tangan. Dia gemetar ketakutan. Apalagi saat melihat Afrijal berjalan cepat menghampiri Gamal. Kemudian melayangkan tinjunya.


"Dasar anak sialan! Beraninya kamu berbuat begini!" satu tinjuan tidak cukup bagi Afrijal. Dia sekarang menendangi Gamal yang meringkuk di lantai.


Gamal merasa malu bukan kepalang dengan Zara. Kini cewek itu tahu kalau dirinya adalah seorang pecundang besar. Dia berusaha menahan air mata, namun cairan bening tersebut luruh begitu saja.


"Om, hentikan, Om..." Zara tidak tega melihat Gamal dianiaya. Dia menangis tersedu-sedu sambil memberanikan diri memegangi lengan Afrijal.


Tidak disangka Afrijal malah mendorong Zara dengan kasar. Zara otomatis terjatuh ke lantai. Sekarang Afrijal beralih mengurus Zara terlebih dahulu.

__ADS_1


"Oh, ternyata kamu yang morotin uang Gamal, hah?! Masih kecil, kelakuannya udah begini kamu ya, Cuh!" Afrijal menghina dengan ludahan yang dibuang tepat ke hadapan Zara. "Menjijikan!" lanjutnya.


__ADS_2