Sisi Gelap Dunia Anak SMA

Sisi Gelap Dunia Anak SMA
Bab 40 - Kado Misterius


__ADS_3

...༻☆༺...


"Gamal! Lo di dalam ya?"


Belum sempat Afrijal melayangkan tamparan, tiba-tiba terdengar seseorang memanggil Gamal. Suaranya tepat dari arah luar. Afrijal yang mendengar, otomatis batal melayangkan tamparan.


"Itu teman aku, Pah!" ujar Gamal. Dia segera beranjak keluar dari ruangan. Kini Afrijal hanya bisa mendengus kasar.


Sosok yang memanggil Gamal dari luar tidak lain adalah Raffi. Ia sebenarnya kebetulan lewat. Raffi tidak sengaja mendengar pertengkaran Gamal dengan ayahnya. Akibat mengetahui kenyataan itu, Raffi merasa kasihan kepada Gamal. Ternyata alasan dibalik sikap nakal cowok itu adalah karena kurangnya perhatian orang tua.


"Raf, lo ngapain?" tanya Gamal. Bertingkah seolah baik-baik saja.


"Gue mau cari Bu Lestari. Tapi gue nggak sengaja..." Raffi tidak melanjutkan kalimatnya saat Gamal meletakkan jari telunjuk ke depan bibir. Gamal menyuruh Raffi menutup mulut.


"Sekarang lo tahu penderitaan hidup gue. Jadi, gue mohon lo jangan bilang siapa-siapa ya?" Gamal membawa Raffi masuk ke dalam rangkulan.


Raffi menatap malas Gamal dengan sudut matanya. Dia segera melepas rangkulan Gamal.


"Iya, gue mau jaga rahasia lo, tapi kalau lo mau minta maaf sama Bu Lestari sekarang!" imbuh Raffi yang menampakkan mimik wajah serius.


"Apaan sih, Raf! Kenapa lo peduli banget sih!" balas Gamal tak acuh.


"Ya peduli lah. Dia itu guru kita. Orang yang jagain kita pas di sekolah. Ayo ikut gue!" Raffi memaksa. Mulai sekarang dia bertekad, jika Gamal berusaha memberi pengaruh buruk terhadapnya, kenapa tidak dilawan saja dengan hal sebaliknya? Raffi rasa itu akan berhasil bila dilakukan sungguh-sungguh. Orang seperti Gamal memang perlu bimbingan.


Gamal menghela nafas berat. Dia masih berdiam di tempat. Gamal merasa gengsi untuk meminta maaf kepada Bu Lestari.


Mengetahui Gamal tak kunjung bergerak, Raffi lantas menoleh. "Mal, kalau lo nggak mau, ya udah. Mulai sekarang kita bukan temen lagi. Jujur ya, gue bakal mengundurkan diri jadi wakil ketos!" pungkas Raffi. Membuat mata Gamal sontak terbelalak kaget.


"Eh, kenapa gitu? Tega lo ya." Gamal bergegas mengekori Raffi. Seperti yang pernah dia bilang, Raffi adalah teman favoritnya. Selain itu, Raffi adalah satu-satunya orang yang bisa membantu Gamal maju dalam bidang akademik.


Pada akhirnya Gamal bersedia menemui Bu Lestari. Dia benar-benar meminta maaf. Semuanya dia lakukan demi pertemanannya dengan Raffi.


"Kenapa kamu begitu sih sama Ibu?!" timpal Bu Lestari. Dia berniat mengomeli Gamal habis-habisan.


"Kalau ada apa-apa kamu itu nanti minta bantuannya sama guru loh. Jadi, mohon jangan di ulangi lagi!" Bu Lestari membuang muka. Lalu menyuruh Gamal untuk keluar dari ruangan.

__ADS_1


"Raf, ada yang mau kamu bicarakan?" tegur Bu Lestari.


Raffi lekas menggeleng dan menjawab, "Nggak ada, Bu. Aku cuman nemenin Gamal."


Penuturan Raffi membuat dahi Bu Lestari mengerut. Dia merasa heran dengan anak muridnya tersebut. Padahal sudah jelas tadi pagi Raffi ingin menghindar dari Gamal. Bu Lestari berniat menanyakannya lain kali saja.


Di koridor, Raffi dan Gamal berjalan berbarengan. Mereka memutuskan kembali ke kelas.


"Puas lo?" Gamal bersuara tepat di salah satu telinga Raffi.


"Kagak tuh!" sahut Raffi seraya memajukan bibir bawahnya.


"Ish! Lo hari ini kenapa nyebelin banget sih!" kritik Gamal. Ia kesulitan menyamakan langkah dengan Raffi. Karena Raffi terus berusaha meninggalkannya.


"Lo marah sama gue ya?" tanya Gamal. Memperhatikan ekspresi wajah yang ditunjukkan Raffi.


"Lo pikir aja sendiri!" balas Raffi. Kini dia berlari meninggalkan Gamal.


Nafas dihela Gamal cukup panjang. Dia menyandar sejenak ke dinding. Gamal sedang memikirkan tentang penyebab kemarahan Raffi. Hingga satu jawaban muncul dalam benak. Gamal yakin Raffi pasti marah karena sudah ditunjuk sebagai wakil ketua osis.


Tanpa berpikir lama, Gamal langsung menyusul Raffi ke kelas. Dia bertekad untuk membujuk.


"Udah jangan dibahas. Gue udah nggak apa-apa. Lagian kalau gue jadi wakil ketos, gue bisa ngawasin lo dari dekat," sahut Raffi. Lalu mengembangkan senyuman singkat. Alhasil Gamal hanya bisa memutar bola mata jengah.


...***...


Waktu menunjukkan jam 10.30 pagi. Semua murid diwajibkan masuk ke dalam kelas. Mereka akan mendapatkan pemberitahuan penting dari wali kelas. Yaitu mengenai berlangsungnya ulangan akhir semester yang akan dilaksanakan minggu depan.


Semua murid menyambut kabar tersebut dengan sorakan kecewa. Entah karena belum siap atau karena memang malas belajar.


Tiga jam berlalu, bel pertanda pulang berbunyi. Raffi mengambil tas ransel dari bawah meja. Saat itulah sebuah kado kecil terjatuh. Membuat dahi Raffi sontak berkerut. Dia segera mengambil kado tersebut, lalu menyimpannya ke dalam tas.


Seperti biasa, Raffi pulang bersama Elsa. Keduanya sedang dalam perjalanan. Sedari tadi Elsa hanya asyik bermain ponsel.


Raffi yang sibuk menyetir, sebenarnya tengah memikirkan sesuatu. Jujur saja, apa yang dia lakukan bersama Elsa di mobil kemarin, terasa mengganggu pikirannya.

__ADS_1


Raffi menghentikan mobil dengan pelan. Dia dan Elsa sudah tiba di rumah. Elsa keluar dari mobil lebih dulu. Kemudian di ikuti oleh Raffi setelahnya.


"El!" panggil Raffi. Menyebabkan langkah Elsa otomatis terhenti. Cewek itu berbalik menghadap Raffi sambil memegangi tali tas ransel.


"Kenapa?" tanya Elsa. Kelopak matanya mengedip pelan.


Raffi tersenyum kecut. Dia menghela nafas sejenak. Lalu berucap, "Gimana kalau kita temenan kayak dulu aja."


"Hah?" Elsa tercengang. Dia belum sepenuhnya bisa memahami maksud dari Raffi.


"Temenan. Lo ngerti kan? Lagian bentar lagi ulangan tengah semester. Terus semenjak pacaran... gue ngerasa kurang fokus belajar. Jadi--"


"Maksudnya lo pengen putus?" potong Elsa. Kini dia mengerti maksud Raffi. Tatapan matanya langsung memancarkan binar nanar.


"Emang lo nggak suka lagi sama gue?" mata Elsa sekarang sudah berkaca-kaca. Cewek mana yang tidak sakit hati saat kekasihnya meminta putus. Apalagi di saat tidak ada masalah apapun yang mengganggu.


"Bukan gitu. Gue malah suka banget sama lo. Tapi--"


"Lo tega!" Elsa tidak bisa membendung air matanya lagi. Dia lagi-lagi menjeda penjelasan Raffi. Cewek itu menangis sembari menutup mata dengan punggung tangan.


"El! Lo kenapa nangis? Kita nggak bakalan pisah kok. Kita bakalan terus bareng. Cuman kalau kita menjalin hubungan kayak pacaran, gue ngerasa kita sulit buat jaga diri. Gue harap lo ngerti. Gue lakuin ini juga karena pengen jagain lo. Gue pengen jadi cowok yang baik buat lo." Raffi menuturkan panjang lebar. Dia berupaya menghentikan tangisan Elsa.


Raffi memegang lembut pundak Elsa. Mencoba memberikan penjelasan agar Elsa dapat mengerti. Namun Elsa justru menjaga jarak darinya.


"Nggak usah banyak bacot! Bilang aja kalau lo nggak pernah suka sama gue!" pungkas Elsa seraya menghapus cairan bening dari sudut mata. Kemudian beranjak pulang dalam kadaan berjalan dengan kaki menghentak.


Raffi mematung di tempat. Menatap punggung Elsa yang akhirnya menghilang di telan pintu. Raffi sebenarnya sangat berat membuat keputusannya sekarang. Akan tetapi dia nekat melakukannya agar tidak berbuat berlebihan lagi.


Raffi melangkah masuk ke rumah. Saat sudah di kamar, Raffi teringat dengan kado misterius yang didapatnya. Tanpa pikir panjang dia segera membuka kado tersebut.


..._____...


Catatan Author :


Halo guys, di sini aku cuman mau promosi novel baru. Kali aja ada yang tertarik. Hehe...

__ADS_1


Kalau novel ini mengangkat masalah kenakalan remaja. Kalau di novel baruku itu mengambil tema tentang mental health. Yang tertarik bisa cek langsung ke profil ya! Makasih...



__ADS_2