Sisi Gelap Dunia Anak SMA

Sisi Gelap Dunia Anak SMA
Bab 104 - Ulat Kaki Seribu


__ADS_3

...༻☆༺...


Bel pertanda istirahat berbunyi. Seluruh murid menghambur keluar dari kelas. Sebagian besar dari mereka pergi ke kantin. Persis seperti yang dilakukan Raffi dan kawan-kawan.


"Mal, muka lo kenapa dari tadi cemberut mulu?" tegur Raffi. Alisnya nyaris bertautan.


"Gue kesel aja sama bokap gue. Dia menghilang lagi. Padahal gue sempat melunak sama dia. Apapun yang gue lakukan, keadaan tetap nggak berubah," sahut Gamal sembari menghela nafas berat.


"Lo bilang nggak, kalau lo mau tobat? Kali aja bokap lo luluh gitu," cetus Raffi.


"Udah, tapi dia nggak peduli. Dia malah kasih gue kartu atm sama kartu kredit. Gue ngerasa nggak dihargain sama sekali. Bokap gue juga sama sekali nggak kasih pujian atau semangat." Gamal mencurahkan semua kegelisahannya.


Raffi lantas hanya bisa mengelus pundak Gamal dengan pelan. Dia tidak bisa mengatakan apa-apa, karena nasibnya sekarang hampir sama seperti Gamal.


"Udah, kita nikmatin aja apa yang ada." Tirta yang sejak tadi mendengarkan, memberikan kalimat penghibur. Dia, Raffi, dan Gamal, baru saja memasuki area kantin. Semua pasang mata langsung tertuju ke arah mereka. Terutama Olive, yang tempo hari harus menerima kenyataan, bahwa tidak ada satu pun cowok populer yang datang ke pesta ulang tahunnya.


Suasana hati Gamal sekarang benar-benar buruk. Dia memesan makanan, dan beranjak lebih dulu ke salah satu meja. Namun saat cowok itu berbalik badan, sosok Fahri tidak sengaja menabrak.


Bakso yang dipegang Fahri, otomatis menumpahkan kuah ke seragam Gamal. Seluruh murid yang ada di sekeliling berseru kaget bersamaan.


"Aw!" Gamal reflek mengaduh. Kuah bakso yang mengenainya tentu terasa panas.


"Maaf, Kak! Maafin aku... aku nggak sengaja..." Fahri lekas memohon. Dia meletakkan mangkuk bakso ke meja terdekat. Kemudian bergegas membersihkan seragam Gamal dengan tisu.


Menyaksikan kehadiran Fahri, Raffi berdecak kesal. Dia masih ingat kedekatan cowok itu dengan Elsa tadi pagi. Raffi dan Tirta hanya membisu. Menantikan bagaimana reaksi Gamal selanjutnya.


Gamal terkekeh sejenak. Lalu berucap, "Lo tahu nggak apa yang lo lakuin sekarang itu fatal, hah?!"


"Aku nggak sengaja, Kak..." Fahri menundukkan kepala seraya memperbaiki kacamatanya.


"Ya udah, kalau lo mau dimaafin, ikut gue!" Gamal menyeret Fahri untuk ikut bersamanya.

__ADS_1


Tanpa disuruh, Raffi dan Tirta segera mengikuti Gamal. Tirta tampak lebih dulu beranjak dibandingkan Raffi. Sebab tangan Raffi tiba-tiba dipegang oleh seseorang. Yaitu cewek pendiam dan berparas manis. Siapa lagi kalau bukan Fitri.


"Kak Raffi. Ada yang pengen aku--"


"Kak Raffi! Kenapa kemarin nggak datang ke ulang tahunku?" belum sempat Fitri bicara, Olive mendadak datang. Olive bahkan sengaja mendorong Fitri menjauh dengan paksa. Sehingga pegangan Olive terlepas dari tangan Raffi.


"Sorry, Liv. Kemarin gue sibuk!" Raffi memberikan respon singkat. Dia hendak bicara kepada Fitri, tetapi cewek itu sudah terlanjur pergi dari kantin. Alhasil Raffi mengangkat bahu tak peduli. Kemudian berlari menyusul kedua temannya.


Langkah Raffi terhenti, ketika tiba di belakang sekolah. Tempat Gamal, Tirta, dan Fahri sekarang berada.


Gamal terlihat sibuk mencengkeram kerah baju Fahri. Menyudutkan siswa berkacamata itu ke dinding. Lalu melayangkan tendangan lutut beberapa kali.


"Mal! Jangan sampai ke fisik!" Raffi menjauhkan Gamal dari Fahri.


"Kak Raffi nggak usah sok-sokan peduli deh!" tanpa diduga, Fahri malah bersuara begitu. Membuat Raffi yang tadinya berniat membantu, kini tercengang.


"Apa lo bilang?!" Raffi menuntut penjelasan.


"Aku nggak butuh bantuan Kakak! Aku benci cowok yang nggak bisa jaga ceweknya sendiri!" balas Fahri yang sepertinya sedang membicarakan Elsa. Dia memang sudah membenci Raffi semenjak kegiatan mos tempo hari.


"Kak Elsa udah kasih aku tahu sesuatu. Kalau dia udah nggak perawan. Tolong kasih tahu ke aku, apakah--"


Buk!


Gamal sudah tidak tahan. Dia melayangkan tendangan ke dada Fahri. Hingga siswa berkacamata itu sekarang terjatuh ke lantai.


"Kurang ajar! Bangs*t!" Gamal melampiaskan amarahnya dengan terus menendangi Fahri berulang kali. Ia persis seperti Afrijal. Seolah-olah sedang kesetanan.


"Mal!" Raffi sekali lagi menghentikan Gamal. Meskipun begitu, matanya melotot tajam ke arah Fahri. Dia perlahan berjalan ke hadapan cowok berkacamata tersebut.


"Lo yakin, kalau Elsa yang kasih tahu sendiri tentang keperawanannya?" Raffi bertanya dengan baik-baik.

__ADS_1


"Kak Elsa bilang begitu, agar aku nggak deketin dia lagi. Aku udah nggak respek sama Kakak!" tukas Fahri. Menyebabkan Raffi kian terperangah.


Raffi sangat ingin memukuli Fahri. Namun dia berusaha keras menahan, mengingat Fahri sudah ditendang oleh Gamal berulang kali. Raffi mencoba mencari cara lain untuk memberi Fahri pelajaran.


"Udah pukulin aja mukanya sampai bonyok! Lo kenapa nahan-nahan, Raf?!" geram Gamal yang sudah siap memberikan pukulannya lagi.


"Nggak! Kalau mau kasih nih anak pelajaran, cari cara lain aja," saran Raffi sambil mencekal pergerakan Gamal.


Tirta yang sejak tadi sibuk merokok, akhirnya angkat bicara. "Gue punya ide!" ujarnya. Dia nampak mengambil sesuatu dari tanah dengan menggunakan ranting pohon.


Seekor ulat berkaki seribu berukuran besar, telah menempel di ranting kayu yang dipegang Tirta.


"Mau ngapain sama begituan?" tanya Gamal sembari meringis jijik.


"Coba pegang nih anak! Gue mau lakuin sesuatu," jawab Tirta yang sama sekali tidak menyambung pertanyaan Gamal.


"Gila lo!" tanggap Raffi. Sedikit menyeringai. Dia memahami maksud rencana Tirta. Cowok itu lantas memegangi Fahri. Membiarkan Tirta memasukkan ulat kaki seribu itu masuk ke dalam seragam Fahri. Raffi berbuat begitu karena merasa kesal dengan Fahri.


Sebelum sempat Tirta bertindak, Fahri sempat melakukan perlawanan. Ia mengerahkan semua tenaga untuk melepaskan diri. Tetapi karena yang dihadapinya ada tiga orang sekaligus, Fahri tentu tidak bisa berkutik. Sekarang ulat kaki seribu itu masuk ke dalam seragam Fahri.


"Anjir! Bwhahaha... kalau masalah beginian, lo emang jagonya, Ta!" seru Gamal di sela-sela tawa puasnya. Suasana hati yang tadinya buruk, berubah cerah seketika.


"Aaaarrghh!!!" Fahri berteriak ketakutan. Dia langsung melepas seragamnya. Fahri juga tidak berhenti menggeliatkan badan. Rasa jijik dan takut bercampur aduk menghantuinya.


Raffi yang awalnya setuju dengan rencana Tirta, kini berubah pikiran. Hati nuraninya gampang tersentuh. Dia akhirnya turun tangan membantu Fahri.


Raffi segera membuang jauh ulat kaki seribu yang terlihat sudah menempel di kaos dalam Fahri. Walaupun begitu, Fahri nampak masih belum berhenti menggelepar.


"Udah, Ri! Ulatnya udah gue buang." Raffi mencoba menenangkan.


"Lo kenapa bantuin dia coba?!" protes Gamal seraya memutar bola mata jengah.

__ADS_1


Fahri yang sudah lepas dari ketakutan, malah menangis. Kebetulan keadaannya sekarang sedang bertelanjang dada. Sungguh, Fahri tidak hanya malu, tetapi juga marah. Dia tidak mampu melawan, karena merasa lemah dibandingkan tiga lelaki yang berhadapan dengannya.


"Kalian ngapain di sini?" suara bariton lelaki dewasa terdengar mendekat. Dia tidak lain adalah Pak Ervan. Guru BK yang sukses memergoki kelakuan Raffi dan kawan-kawan.


__ADS_2