
...༻☆༺...
Raffi sedang berada di mini market. Dia sengaja membeli beberapa camilan setelah pulang dari les. Raffi sudah berjanji kepada Elsa akan belajar bersama.
Satu pak permen kiss rasa cherry di ambil oleh Raffi. Dia tersenyum miring. Seakan merencanakan sesuatu.
Sehabis melakukan pembayaran di meja kasir, Raffi melenggang keluar dari mini market. Atensinya tertuju ke arah segerombolan anak jalanan yang lewat.
"Eh, Dek! Sini!" ujar Raffi sembari melambaikan tangan. Lalu mengambil bungkus permen yang tadi dia beli. Raffi membukanya dan hanya mengambil satu buah permen. Sedangkan sisanya, dia berikan kepada anak jalanan yang tadi dipanggil.
Kini Raffi segera berkendara untuk menemui Elsa. Dia hanya perlu memakan waktu lima menit untuk sampai ke tempat tujuan.
Raffi menekan bel pintu. Elsa yang merupakan bagian dari pemilik rumah menyambut kedatangan Raffi.
Raffi terpaku melihat penampilan Elsa. Cewek itu mengenakan kaos pendek seperti kekurangan bahan. Pusarnya yang putih dan mulus bahkan kelihatan. Elsa bahkan juga terlihat hanya mengenakan celana jeans sepangkal paha. 'Seksi!' itulah satu kata yang terlintas dalam benak Raffi. Lelaki mana yang tidak telan ludah ketika menyaksikan perempuan berpakaian minim begitu.
"Anjir! Lo seksi banget!" pungkas Raffi blak-blakan.
"Gue kepanasan! Lagi disuruh masak makan malam soalnya. Kebetulan paman sama tante gue lagi pergi. Di rumah cuman ada gue sama Vina." Elsa berjalan lebih dulu. Di iringi Raffi dari belakang. Cowok itu tidak lupa untuk menutup pintu kembali.
"Terus Virza? Ikut paman sama tante lo ya?" tanya Raffi. Dia mengekori Elsa sampai ke dapur.
"Iya, Virza mana mau pisah sama emaknya." Elsa tampak mengaduk masakannya dari dalam wajan. Sesekali dia akan memotong sayuran yang belum sempat terpotong.
Elsa memotong sayuran dengan cepat. Seperti seorang chef handal yang sudah terlatih.
"Lo istri idaman banget." Raffi terkagum menyaksikan Elsa. Ceweknya itu juga terlihat lebih mempesona dengan rambut yang digelung ke atas.
"Apaan sih! Sempat-sempatnya gombal." Elsa terkekeh geli. Dia mulai kewalahan melakukan aktifitas memasaknya. Sebab Elsa mengurus dua hal di waktu bersamaan. Yaitu memasak dan memotong sayuran.
"Sini biar gue bantu." Raffi mengajukan diri. Dia mengambil pisau dan memotong sayuran yang ada. Elsa otomatis tersenyum senang. Sikap Raffi memang tidak pernah mengecewakan.
"Vina nggak pernah bantuin lo ya?" tanya Raffi.
"Dia nggak bisa masak. Lagian Vina fokus belajar sama melakukan perawatan. Dia makin langsing dan cantik," ungkap Elsa. Dia menyayangi Vina sepenuh hati.
"Tapi bukan berarti dia bikin lo jadi babu gini," komentar Raffi. Ia justru mendapatkan geplakan di kepala dari Elsa.
"Kenapa lo sinis banget? Gue enjoy aja kalau disuruh masak. Gue malah seneng banget." Sisi Elsa yang polos kembali muncul.
__ADS_1
"Terserah lo lah..." Raffi memutar bola mata jengah.
Setelah memakan waktu sekian menit, masakan Elsa sudah jadi. Kini Elsa segera menyimpannya di balik tudung saji.
Sementara Raffi, memilih menunggu di ruang tengah. Dia lebih tertarik bermain ponsel dibanding menonton televisi.
"Raf, nih makanan tadi." Elsa datang menyajikan makanan yang dimasaknya tadi. Kemudian pergi ke kamar untuk mengambil buku.
Raffi dan Elsa belajar bersama. Jujur saja, keduanya sama-sama tidak bisa fokus.
"Belajar sama pacar susah ya. Gue salah fokus mulu," cetus Elsa yang masih belum mengerti penjelasan materi dari Raffi.
"Bener banget. Apalagi pakaian lo itu bikin gue ngiler tau," balas Raffi. Dia tidak bisa mengalihkan pandangannya dari Elsa.
"Idih! Mesum banget deh." Elsa mencubit pipi Raffi.
"Lo yang mancing gue berpikiran mesum." Raffi menjauhkan tangan Elsa dari pipi. Dia mendadak teringat dengan permen yang dibelinya tadi.
Elsa terkekeh sambil melepas ikat rambutnya. Dia seolah sengaja menggoda Raffi. Apa yang dilakukannya memang sukses besar.
"Lo mau?" Raffi menyodorkan permen kiss kepada Elsa.
"Yang bener deh, Raf. Lo kan tadi yang nawarin." Elsa memanyunkan mulutnya.
"Permennya cuman satu nih. Namanya kiss lagi. Lo ngerti kan?" Raffi melirik Elsa dengan tatapan nakal.
"Gila! Lo mau coba begituan?" Elsa memastikan.
"Gue cuman penasaran. Katanya kalau pakai permen lebih enak. Tirta sama Gamal pernah bilang ke gue." Raffi memberikan alasan.
"Ya udah, buka permennya!" suruh Elsa.
Raffi lantas membuka bungkus permen. Lalu menggigit permen itu dengan giginya. Elsa yang mengerti segera mendekat. Sebelum melakukan, mereka tergelak kecil sejenak. Meskipun begitu, keduanya sudah saling setuju.
Perlahan Elsa ikut mengecup permen di mulut Raffi. Mereka menikmati satu permen bersama.
Raffi dan Elsa saling mengulum dalam. Bibir keduanya menempel kuat. Hingga lama-kelamaan, ciuman mereka semakin panas. Elsa bahkan sudah duduk mengapit pangkuan Raffi. Lagi-lagi mereka lupa tempat. Dimabuk cinta yang menggebu, membuat dua sejoli itu melupakan segalanya. Termasuk Vina yang tidak sengaja memergoki dari belakang.
Bertepatan dengan kehadiran Vina, sebuah mobil terdengar berhenti di depan halaman. Raffi dan Elsa langsung memisahkan tautan bibir mereka.
__ADS_1
Saat berbalik, keduanya membulatkan mata di waktu bersamaan. Ada Vina sedang berdiri tegak di dekat tangga. Cewek itu lekas-lekas pergi, setelah Raffi dan Elsa menoleh ke arahnya.
"Vina!" Elsa yang cemas berniat mengejar. Namun langkahnya harus terhenti, kala Fajar datang dan langsung memanggil.
"Elsa! Kamu kenapa pakai baju begitu?!" timpal Fajar.
Membuat Elsa sontak kaget. Hal serupa juga dirasakan Raffi. Cowok tersebut reflek berdiri.
Semburat kemarahan di wajah Fajar seketika pudar. Dia berusaha jaga imej di depan Raffi.
"Nah, ada Raffi lagi. Keenakan dia liat kamu pakai baju begitu," ujar Risna yang sependapat dengan sang suami. "Iyakan, Raf. Nanti kalau kamu khilaf gimana?" Risna sekarang bicara kepada Raffi.
"Udah khilaf banget, Tante." Raffi menjawab dengan nada bercanda. Alhasil Risna tertawa kecil. Sedangkan Elsa terlihat sudah menaiki tangga. Berniat mengganti baju sekaligus berbicara dengan Vina.
Usai berganti baju, Elsa mengetuk pintu kamar Vina. Tanpa disangka, Vina justru mengusirnya.
"Pergi, Kak! Jangan dekat-dekat kamar aku lagi!" kata Vina.
"Tapi--"
"Pergi! Kalau nggak, aku bakalan laporin kelakuan Kakak sama papah!" ancam Vina. Berhasil membuat Elsa kehabisan kata-kata. Sejak hari itu, banyak hal yang berubah di hidup Elsa.
...***...
Di hari yang cerah, Elsa baru pulang dari sekolah. Dia masuk dengan tergesak-gesak karena ingin ke kamar.
Elsa langsung berlari memasuki kamar mandi. Selanjutnya, dia menutup pintu. Lalu merebahakan diri ke kasur. Elsa memegangi perutnya. Dalam tiga hari terakhir dia terus-terusan merasa mual.
Segala hal berkecamuk dalam kepala Elsa. Dia menduga kemungkinan terkuat. Apalagi kalau bukan hamil!
"Nggak! Nggak mungkin gue..." Elsa mencoba menepis kenyataan. Tetapi ketika mengingat pernah beberapa kali melakukan hubungan tanpa alat kontrasepsi, dirinya tidak bisa membantah.
Elsa mengambil ponsel. Dia mencari segala hal tentang kehamilan di internet. Elsa memang selalu mencari solusi masalahnya melalui internet.
Elsa gigit jari, ketika fakta yang dia temukan sesuai dengan kriterianya sekarang. Perasaan gugup menyelimuti. Meskipun kebenaran tentang kehamilannya belumlah pasti.
"Ini nggak mungkin. Gue nggak hamil! Gue--" rasa mual membuat gumaman Elsa terhenti. Kini cewek itu berlari ke kamar mandi. Ia memuntahkan isi perut di wastafel.
"Penyakit mag gue pasti kambuh. Gue nggak makan dari tadi pagi," ujar Elsa mencoba berpikir positif. Dia segera pergi ke dapur untuk mengisi perut.
__ADS_1