Sisi Gelap Dunia Anak SMA

Sisi Gelap Dunia Anak SMA
Bab 108 - Siapa Lelaki Itu?


__ADS_3

...༻☆༺...


"Eh, Bapak nggak apa-apa?" Dokter yang melihat kepanikan Fajar mencoba menenangkan.


Fajar tidak mengatakan apapun, dan beranjak memasuki ruangan dimana Elsa sedang dirawat. Gadis itu tampak telentang di atas hospital bed. Sudah dalam keadaan sadar.


"Gimana, Pah? Elsa pasti cuman kelelahan, iya kan?" Risna bangkit dari tempat duduk. Sejak tadi dia bertugas menemani Elsa.


"Elsa! Kamu udah baikan?" tanya Fajar. Tidak menjawab pertanyaan sang istri. Dia justru ingin lekas-lekas bicara kepada Elsa.


"Iya, Paman..." jawab Elsa lirih. Ia masih terlihat lesu. Membuat Fajar terpaksa harus menyimpan terlebih dahulu apa yang ingin ditanyakannya.


Setelah mendapat perawatan beberapa jam, Elsa diperbolehkan pulang. Cairan infus yang sempat mengalir dalam tubuhnya, memberikan efek besar terhadap kesehatan Elsa. Cewek itu sudah sepenuhnya pulih.


Sekarang Elsa baru saja sampai di rumah. Akan tetapi Fajar tiba-tiba mencegat semua orang. Dia menyuruh anggota keluarganya berkumpul, kecuali Virza. Anak lelaki itu disuruh pergi ke kamar bersama pengasuhnya.


Sofa di ruang tengah kini diduduki oleh empat orang. Fajar dan Risna duduk berdampingan, sedangkan di seberang meja ada Elsa dan Vina.


"Vina, tentang apa yang kamu bicarakan tempo hari. Apa benar Elsa pacaran?" Fajar bertanya kepada sang putri terlebih dahulu.


"Emm..." Vina awalnya bingung. Ia sempat saling bertukar lirikan dengan Elsa. Di akhir Vina menganggukkan kepala dan berucap, "memangnya kenapa, Pah?"


Fajar mengabaikan pertanyaan Vina. Dia justru beralih menatap keponakannya.


"Elsa, beritahu Paman siapa pacar kamu." Fajar mengawali dengan cara baik-baik.


"Ada apa sih, Pah? Kenapa serius sekali?" Risna yang sejak tadi keheranan, mencoba menelisik. Tetapi dia masih belum memahami apa yang terjadi. Apalagi Fajar terus saja mengabaikannya.


"A-aku... udah nggak pacaran lagi, Paman. Mulai sekarang aku ingin fokus belajar. Beneran!" jawab Elsa berkilah. Dia tidak mungkin langsung mengakui.


"Kalau begitu, kasih tahu Paman siapa mantan pacar kamu itu!" sahut Fajar yang mulai memancarkan aura kemarahan.


"Me-memangnya Paman mau apa?..." Elsa tersentak.


"Paman mau menuntut sesuatu kepadanya!" sahut Fajar. Matanya tampak melotot tajam.


Deg!

__ADS_1


Jantung Elsa serasa disambar petir. Dia berusaha mengingat apa yang di alaminya sebelum pingsan. Jujur saja, hari ini Elsa menderita mual beberapa kali saat di sekolah. Dia sekarang berfirasat kalau pamannya mengetahui sesuatu. Mengingat Fajar-lah satu-satunya orang yang mengetahui hasil pemeriksaan.


Elsa menggigit bibir bawahnya dengan gundah. Dia bangkit dari tempat duduk. Berniat ingin lari dari pertanyaan Fajar. Namun usahanya tentu tidak akan dibiarkan Fajar begitu saja.


"Kamu mau kemana? Aku belum selesai bicara!" seru Fajar. Mencegah pergerakan Elsa dengan satu tangan.


"Nggak ada yang perlu dibahas lagi, Paman. Kan aku sudah bilang, kalau aku nggak pacaran lagi." Elsa bicara sambil menundukkan kepala.


"Kamu hamil, Elsa! Hamil!" Fajar akhirnya mengungkapkan segalanya. Mengguncang-guncang bahu Elsa dengan histeris.


Vina dan Risna kaget bukan kepalang. Mata mereka terbelalak secara bersamaan. Satu hal yang pasti, Vina tahu betul lelaki yang sudah menghamili Elsa. Tetapi dia memilih bungkam.


"Beneran, Pah?! Papah nggak bercanda kan?" Risna menepis apa yang baru saja dikatakan Fajar.


"Dokter sendiri yang memberitahu kehamilan Elsa! Apa kamu mau meragukannya?" Fajar akhirnya bersedia menanggapi pertanyaan sang istri.


Risna reflek memegangi mulutnya. Menatap Elsa dengan tatapan tak percaya. Keponakannya itu kembali duduk dalam keadaan terisak.


"Malah nangis lagi! Padahal kamu sendiri yang berbuat, nyesel? Nyeselkan kamu!" timpal Fajar sembari berkacak pinggang. Membuat tangisan Elsa kian menjadi-jadi.


Elsa terus menggelengkan kepala. Menyebabkan Fajar maupun Risna sudah tidak tahan lagi.


"Vina! Kamu tahu nggak siapa pacarnya Elsa itu! Kasih tahu Papah sekarang!" Fajar memilih bertanya kepada Vina.


"A-aku nggak tahu, Pah. Aku cuman tahu Kak Elsa pacaran, itu aja..." gagap Vina yang memilih tidak mau ikut campur urusan Elsa dan Raffi.


Fajar mengusap kasar wajahnya. Kemudian terduduk sebentar. Hingga terlintas sesuatu dalam benaknya. Yaitu sebuah pemikiran untuk menanyakan semuanya kepada Raffi. Dia ingat betul kalau putra dari tetangganya tersebut sangat dekat dengan Elsa.


Tanpa berpikir lama, Fajar langsung melangkah keluar rumah. Dia berjalan dalam kecepatan laju. Berhenti tepat di depan rumah Raffi.


Elsa yang melihat, bergegas mengejar. Dia memegangi pamannya dan membujuk untuk kembali pulang.


"Elsa! Kamu itu aneh sekali! Bukannya kasih pelajaran sama lelaki itu, tapi malah melindunginya, hah?!" Fajar mendorong Elsa menjauh. Dia terus memencet bel pintu.


Tidak lama kemudian, Heni membukakan pintu. Menyambut dengan senyuman. Namun ekspresi Fajar justru cemberut.


Raut wajah Heni langsung berubah menjadi cemas. Terutama ketika menyaksikan Elsa menangis tersedu-sedu.

__ADS_1


"Elsa kenapa, Jar?" tanya Heni seraya membawa Elsa masuk ke dalam pelukan. Mencoba menenangkan gadis malang itu.


"Mana Raffi? Ada yang ingin aku tanyakan sama dia!" sahut Fajar. Dia melingus masuk begitu saja ke dalam rumah.


"Kamu mau ngapain? Apa yang terjadi? Jelaskan dulu sama aku." Heni perlahan melepaskan Elsa dan berusaha bicara dengan Fajar baik-baik.


"Tante, hentikan Paman aku..." mohon Elsa sembari memegangi pergelangan tangan Heni. Dia masih belum berhenti menangis.


Keributan yang terjadi di bawah, membuat Raffi harus keluar dari kamar. Melihat kekasihnya berlinang air mata, Raffi segera berlari menuruni tangga.


"Elsa!" panggil Raffi yang sudah tidak sabar menghampiri Elsa. Akan tetapi pergerakannya dihentikan oleh Fajar.


"Sebelum kamu bicara sama Elsa, jawab dahulu pertanyaanku!" ujar Fajar.


"Kenapa, Om? Om yang bikin Elsa nangis begitu?!" balas Raffi.


"Apa kamu tahu siapa pacar Elsa?" Fajar mengabaikan pertanyaan Raffi.


"Pa-pacar?..." Raffi menggerakkan bola matanya ke arah Elsa. Ceweknya itu memberikan kode dengan gelengan kepala berulang kali.


"Memangnya kenapa, Om?" Raffi mencoba berdalih.


"Elsa hamil! Jadi aku harus tahu siapa lelaki yang harus bertanggung jawab kepadanya!" ungkap Fajar.


Pupil mata Raffi langsung membesar. Tentu dia tahu orang yang sudah menghamili Elsa. Siapa lagi kalau bukan dirinya sendiri?


Tanpa basa-basi, Raffi berucap, "Aku, Om! Aku cowok yang udah menghamili Elsa!"


"Raffi! Ini nggak lucu!" protes Heni yang tidak terima.


"A-apa?! Kamu nggak bohong kan?" Fajar memastikan.


Belum sempat Raffi menjawab, Heni sengaja memotong pembicaraan. "Sudahlah, Fajar! Kamu udah bikin anakku nggak berpikir jernih. Dia nggak mungkin berbuat begitu sama perempuan!" katanya dengan penuh keyakinan.


"Tante, benar... emang bukan Raffi kok... Raffi bohong!" sahut Elsa di tengah-tengah tangisannya.


"ELSA!!!" geram Raffi. Dia tidak habis pikir dengan keputusan Elsa. Di saat keadaan genting begini, Elsa masih saja berusaha menutupi hubungannya dengan Raffi.

__ADS_1


__ADS_2