Sisi Gelap Dunia Anak SMA

Sisi Gelap Dunia Anak SMA
Bab 61 - Obsesi Remaja


__ADS_3

...༻☆༺...


Tidak terasa, hari sudah pagi. Semua orang disuruh beristirahat. Baik itu murid baru maupun para anggota osis.


Kebetulan Raffi sedang terlelap di ruang UKS. Di sana dia tidur di salah satu kasur yang telah tersedia. Raffi menyuruh Tirta, Danu dan Elsa untuk mengambil alih urusan penjagaan.


Waktu berlalu satu jam. Barulah Raffi terbangun dari tidur. Ia membuka mata dengan perlahan. Lalu mengerjapkannya beberapa kali.


Pandangan Raffi semakin jelas. Namun dia justru dikejutkan oleh wajah Putri. Cewek itu tertidur tepat di sebelah Raffi. Matanya lekas memejam rapat saat mengetahui Raffi sudah terbangun.


Raffi bergegas menghindar. Namun Putri dengan cepat menghentikan.


"Tunggu! Gue mau ngomong." Putri mencengkeram kerah baju Raffi. Cewek itu sukses membuat Raffi mematung dalam keadaan telentang di kasur.


"Ini mengenai pacar yang elo omongin tempo hari. Itu pasti cuman akal-akalan lo doang kan?" timpal Putri. Cewek itu semakin mendekatkan wajahnya. Jelas Putri merupakan tipe perempuan yang agresif. Sepertinya dia belum menyerah dengan perasaannya terhadap Raffi.


"Raf, gue suka banget sama lo tau! Setelah gue liat-liat lo itu nggak ada deket sama cewek kok selain Elsa," ujar Putri. Dia mengamati wajah Raffi lamat-lamat. Cewek itu menggigit bibir bawahnya. Entah sudah berapa kali wajah tampan Raffi berhasil membuatnya terobsesi.


Raffi mengerutkan dahi. Dia melepas cengkeraman Putri dari kerah bajunya. Kemudian segera beranjak dari kasur.


Putri gelagapan. Kini dia berlari dan menangkap Raffi dengan pelukan. Cewek itu benar-benar gila. Dia mendekap Raffi dengan erat dari belakang.


"Gue punya banyak foto lo di kamar. Kalau teman-teman gue pada ngefans BTS, gue ngefansnya sama lo! Nggak! Ini bukan ngefans sih... tapi udah ditahap jatuh cinta." Putri tersenyum sambil menyandarkan kepala ke punggung Raffi.


"Hah?! Apa lo bilang? Foto gue?" Raffi meringis jijik. Dia mencoba melepaskan pelukan Putri. Akan tetapi Putri justru semakin erat mendekapnya. Cewek itu bahkan sengaja menempelkan buah dadanya ke punggung Raffi. Hingga Raffi dapat merasakannya dari belakang.


"Lo udah gila!" hardik Raffi. Dia tidak punya pilihan selain bertindak kasar. Menurutnya Putri sudah keterlaluan. Belum sempat melakukan, Elsa malah lebih dulu menjadi orang yang menjauhkan Putri dari Raffi.


Elsa menarik ribuan helai rambut Putri. Sampai membuat Putri mengaduh kesakitan.


Elsa melepaskan jambakannya ketika Putri terhuyung ke belakang. Sekarang Putri jatuh telentang ke kasur.

__ADS_1


"Lo nggak usah ikut campur ya!" protes Putri yang tak terima. Rambutnya jadi berantakan gara-gara ulah Elsa.


"Eh, harusnya lo yang nggak usah ikut campur! Raffi aja nggak peduli sama lo! Dasar cewek gatel!" geram Elsa.


Raffi yang mendengar, merasa risih. Dia tidak mau Elsa terlibat perkelahian. Raffi lantas berupaya mengajak Elsa pergi. Namun sayang, Elsa menolak mentah-mentah ajakannya.


"Apaan sih! Gue belum selesai ngomong sama Putri!" imbuh Elsa dengan kening yang mengerut dalam.


"Tunggu, lo pasti cemburu kan? Kayaknya lo juga suka sama Raffi. Udah jujur aja deh, El." Putri perlahan berdiri. Dia menyilangkan tangan di depan dada. Menatap Elsa dengan remeh. "Lo harusnya ngaca dong! Raffi itu levelnya beda jauh sama lo. Dia pintar, ganteng, kaya, dan masih punya orang tua lagi. Nggak kayak elo..." tambahnya. Bermaksud sarkas.


"Ngelunjak ya lo!" Elsa bersiap untuk kembali menyerang. Tetapi Raffi berusaha keras mencegah. Cowok itu mengambil posisi berdiri di hadapan Elsa.


"Lo jangan pernah coba-coba ngehina Elsa lagi! Gue tegasin sama lo ya, Put. Gue nggak suka sama lo! Justru gue tambah jijik!" Mata Raffi mendelik tajam. Dia dan Elsa segera beranjak meninggalkan Putri.


Kini Putri hanya tertunduk kecewa. Cairan bening mulai meleleh dari sudut matanya. Dia bersikap seolah menjadi orang yang tertindas. Mungkin sikap berlebihan memang sudah melekat dalam karakter Putri.


Selepas pergi dari UKS, Raffi berjalan sambil memegang erat lengan Elsa. Ketika sedang menyusuri koridor, Elsa tiba-tiba menyuruh Raffi berhenti. Raut wajah cewek itu terlihat sendu.


"Gue cuman mikir... kalau yang dibilang Putri itu ada benarnya. Level gue sama lo emang beda..." lirih Elsa yang mendadak pesimis.


"Ya ampun, perkataan cewek kayak Putri nggak perlu dibawa perasaan. Gue nggak peduli tuh! Malah di mata gue, lo cewek paling spesial di dunia!" Raffi menautkan tangannya dengan jari-jemari Elsa. Ucapannya sukses membuat Elsa tersenyum cerah dan tersipu malu.


"Iya, cewek paling spesial di dunia astral sih..." canda Raffi.


Mimik wajah Elsa seketika berubah. Cewek itu kesal dan reflek memukuli pundak Raffi. "Lo kira gue setan apa?!" geramnya. Dia dan Raffi berakhir tergelak bersama.


...***...


Tidak terasa, kegiatan mos sudah berakhir. Acara penutup dilakukan dengan kegiatan makan dahulu. Kebetulan Raffi menjadi penyumbang utama untuk membelikan adik kelas barunya makan siang.


"Gamal sama Zara udah pulang? Gue lihat mobil Gamal udah nggak ada di parkiran," bisik Tirta.

__ADS_1


Raffi berdecak kesal. Dia berjanji, jika nanti bertemu Gamal, dirinya tidak akan segan untuk memberi pelajaran.


Baru memikirkan perihal Gamal, ponsel Raffi tiba-tiba berdering. Orang yang menelepon tidak lain adalah Gamal.


"Gila lo ya! Ninggalin anak buah begitu aja!" omel Raffi dengan raut wajah masamnya.


"Sorry, Raf. Gue ada urusan mendadak. Hehe..." Gamal malah menanggapi dengan santai. Sikapnya tidak pernah berubah.


"Awas lo ya! Kalau lo gini lagi, gue bakalan ngundurin diri jadi wakil ketua osis! Pokoknya, gue nggak mau terlibat lagi!" tegas Raffi panjang lebar.


"Jangan gitu lah, Raf. Ya udah gue janji nggak akan ngulangin lagi. Tadi malam itu, gue cuman terbawa suasana tau. Soalnya Zara nerima gue buat jadi pacarnya. Sekarang kami resmi jadian," ungkap Gamal dari seberang telepon.


Raffi memutar bola mata jengah dan membalas, "Terus, lo tinggalin gitu aja kewajiban sebagai ketos?"


"Udah deh, Raf. Plis tenang, nanti gue bayar jasa lo. Terserah mau dibayar apa, kasih tau aja ke gue. Oke?"


"Terserah!" Raffi mematikan panggilan telepon lebih dulu. Saat itulah Pak Willy beserta Bu Lestari datang. Mereka merupakan guru yang ditugaskan untuk memperkenalkan lingkungan sekolah di acara penutup.


Tanpa diduga, seorang murid baru mengangkat tangan. Dia ternyata adalah Meli. Siswi baru yang sempat dihukum dengan cara membuka seragamnya. Meli mengadukan apa yang sudah dilakukan anggota osis kepada para murid baru.


Bu Lestari tentu terkejut mendengar kabar tersebut. Dia langsung meminta penjelasan dari Raffi.


"Beritahu Ibu, siapa yang berani kasih hukuman begitu ke murid baru?!" timpal Bu Lestari. Dia berbicara kepada beberapa anggota osis. Termasuk Raffi yang turut berhadir.


"Pas aku datang ke pos lima, aku nggak lihat ada murid yang lepas baju kok. Cuman push up gitu," ujar Raffi. Tetapi Agung lekas menampik.


"Nggak, Raf. Sebelum kamu datang, Gamal nyuruh Tirta buat gantiin posisi dia. Jadi Tirta manfaatin waktu itu buat suruh Meli pakai seragamnya lagi. Meli bilang yang sebenarnya kok, Bu. Dia nggak bohong." Agung yang tiba lebih dulu di pos lima sebelum Raffi, mengungkapkan segalanya.


Tirta memilih bungkam. Karena dia mencoba meindungi Gamal yang merupakan teman dekatnya.


"Tunggu, tunggu. Bicara tentang Gamal, ngomong-ngomong kemana dia? Kok sejak tadi Ibu nggak lihat batang hidungnya?" Bu Lestari terheran. Dia menatap satu per satu anak didiknya. Berharap segera mendapat jawaban pasti.

__ADS_1


__ADS_2