
...༻☆༺...
Setelah pulang dari sekolah. Raffi hanya sempat makan siang, mandi dan berpakaian. Dia harus mempersiapkan diri untuk pergi mengikuti les harian. Namun ketika hendak beranjak ke kamar, Heni yang baru datang langsung menegur.
"Ya ampun, wajah kamu kenapa?" timpal Heni, saat melihat wajah Raffi babak belur. Meskipun lebamnya mulai menghilang, Heni yang jeli tetap mampu menyadarinya.
"Enggak apa-apa, Mah. Tadi cuman ada kesalahpahaman," jelas Raffi sambil menunduk malu. "Jangan bilang-bilang Papah ya. Lagian memarnya bentar lagi sembuh kok," tambahnya. Memasang ekspresi memelas.
"Yakin nggak apa-apa? Emang kamu berantem sama siapa? Kok bisa jadi salah paham?" cecar Heni yang masih cemas. Dia memperhatikan baik-baik wajah putranya.
"Nggak apa-apa, Mah. Kami udah baikan kok," Raffi berusaha meyakinkan.
Heni memandang nanar Raffi. Dia beberapa kali mengusap memar di wajah sang putra.
"Aku ke kamar dulu ya, Mah. Bentar lagi les di mulai," ucap Raffi. Dia segera melenggang menuju kamar.
Raffi hanya menghabiskan waktu sekitar satu jam berada di rumah. Di sore hari menjelang malam, barulah Raffi kembali lagi. Dia tidak sabar ingin bertemu dengan Irwan yang sudah pulang dari perjalanan dinas.
Kini Raffi dan kedua orang tuanya menikmati hidangan makan malam. Hening menyelimuti. Menurut dugaan Raffi, sang ibu tidak mengadukan perihal wajah babak belurnya kepada Irwan. Hal tersebut terbukti dari ekspresi tenang yang ditunjukkan oleh ayahnya. Untung saja memar di wajah Raffi telah sepenuhnya pulih. Efek salep yang diberikan Elsa bekerja dengan sangat baik.
Hanya ada suara dentingan sendok dan garpu yang terdengar. Namun itu tidak berselang lama, karena Raffi segera angkat suara.
"Pah, aku minta maaf soal tempo hari. Aku kemarin itu cuman ngobrol sama Elsa dan Vina," tutur Raffi sembari memasang mimik wajah takut.
"Iya, Mamah kamu udah cerita kok. Lain kali kalau mau kemana-mana izin dulu. Papah maafin kamu kali ini, tapi andai terulang lagi. Jangan harap Papah mau kasih kesempatan," sahut Irwan seraya memperbaiki kacamata tebalnya.
Heni hanya tersenyum menyaksikan interaksi antara putra dan suaminya. Dia sengaja diam agar mereka bisa berbicara lebih dalam.
"Terus mengenai pertukaran pelajar, aku benar-benar nggak bisa, Pah. Tapi aku akan melakukan yang terbaik buat olimpiade Matematika nanti," lanjut Raffi. Meneruskan pembicaraan.
Irwan membisu sejenak. Dia sebenarnya kecewa dengan pilihan Raffi. Tetapi apa boleh buat, sepertinya sang putra memang sudah menetapkan pilihan bulat. Satu anggukan akhirnya dilakukan oleh Irwan. Ia membuang egonya jauh-jauh.
"Beneran, Pah? Papah nggak marah kan?" Raffi memastikan. Dia sampai berdiri karena merasa saking semangatnya.
__ADS_1
"Iya, beneran deh..." jawab Irwan.
Raffi tersenyum lebar. Dia segera berlari untuk memeluk Irwan. Heni yang melihat tentu merasa ikut bahagia. Apalagi saat menyaksikan wajah suaminya memerah malu.
"Apaan sih kamu? Jangan dipeluk!" Irwan melepas pelukan Raffi. Lalu melanjutkan, "dicium aja, nih!" Irwan menunjuk pipinya. Bermaksud bercanda.
"Idih! Nggak deh, Pah. Kalau aku anak cewek, baru aku mau cium Papah." Raffi lekas menggeleng.
"Ya udah, cepat lanjut makan aja gih!" ujar Irwan seraya terkekeh bersama Heni. Keduanya puas bisa bergurau dengan Raffi.
Sehabis makan, Raffi langsung pergi ke kamar. Dia mengambil ponsel dan melihat ada kabar dari Tirta.
Menurut kabar yang didapat Raffi, tadi pagi Tirta memang membolos. Dia mengaku pulang lebih dulu ke rumah. Selain itu, katanya Tirta sudah menemui Danu seorang diri. Tepat beberapa jam setelah kedatangan Raffi dan kawan-kawan.
'Raf, jadi nggak kita nge-gym? Setelah gue perhatiin di cermin, omongan lo ternyata bener. Badan gue makin kurus!' Pesan dari Gamal diterima oleh Raffi. Jujur saja, Raffi merasa senang ketika mengetahuinya.
Raffi tidak mau berbasa-basi. Dia mengajak Gamal dan Tirta untuk berolahraga di tempat gym. Raffi hanya perlu mencari rekomendasi melalui internet. Selanjutnya, dia segera mengirimkan alamat gym pilihannya kepada Gamal dan Tirta. Sejak malam itu, mereka rutin melakukan fitness.
Malam minggu telah tiba. Raffi sedang sibuk berkutat di depan cermin. Mengenakan kemeja terbaik serta menyisir rambut puluhan kali.
Raffi tidak lupa menyemprotkan parfum mahal miliknya. Mau mengenakan apapun, ketampanannya memang tidak akan memudar. Justru Raffi semakin tampan dengan balutan kemeja yang rapi.
Segalanya sudah siap. Elsa bahkan telah menunggu di depan rumah. Raffi lantas bergegas beranjak dari kamar.
Kala melewati ruang tengah, Raffi harus berhadapan dengan Heni. Ibunya itu langsung menegur seperti biasa.
"Loh, mau kemana kamu? Rapi banget." Heni menilik penampilan Raffi dari ujung kaki hingga kepala.
"Mau jalan-jalan bareng Elsa, Mah. Kami nggak berduaan kok, ada teman-teman yang lain juga." Raffi masih mencoba menutupi hubungannya dengan Elsa. Dia terpaksa berbohong.
"Yang bener?" Heni meragu. Sebagai seorang ibu, dia dapat mengendus adanya keanehan dari gelagat putranya.
"Beneran. Ya udah, aku pergi dulu, Mah." Raffi cepat-cepat pergi. Dia berderap melewati pintu depan. Lalu segera pergi bersama Elsa menggunakan mobil.
__ADS_1
Ketika menyetir, Raffi terus curi-curi pandang ke arah Elsa. Cewek itu terlihat sangat cantik dengan mengenakan dress selutut bermotif bunga. Elsa juga sengaja mengatur rambutnya sedikit bergelombang.
"Apaan sih, lirik-lirik mulu." Elsa menepuk pelan pundak Raffi.
"Lo tadi ke salon dulu ya?" tanya Raffi.
"Enggaklah, ngapain buang-buang duit ke salon. Emangnya kenapa lo bisa ngira gue pergi ke sana?"
"Rambut lo beda dari biasanya," komentar Raffi.
"Nggak cocok ya." Elsa mendadak tidak percaya diri. Dia segera memperhatikan rambut panjangnya yang tergerai.
"Nggak. Lo yang cantik jadi dua kali lipat tambah cantik," puji Raffi. Dia bersungguh-sungguh. Sama sekali tidak bermaksud memberikan rayuan.
"Elaah! Bisa juga ya lo ngegombal," tanggap Elsa sambil membuang muka. Dia berusaha menutupi pipinya yang bersemu merah. Elsa tentu puas mendengar pujian Raffi. Upayanya untuk berdandan maksimal ternyata membuahkan hasil.
"Astaga, gue nggak ngegombal. Tapi cuman ngucapin fakta yang ada," jelas Raffi.
"Terserah!" Elsa menghentikan obrolannya dan Raffi. Cewek itu terlalu malu untuk melanjutkan.
Selang sekian menit, Raffi dan Elsa tiba di mall. Keduanya berjalan berbarengan memasuki bangunan mall besar.
Perlahan tangan Raffi memegangi jari-jemari Elsa. Segalanya terasa berbeda. Sebab debaran jantung yang berpacu memberikan sensasi yang khas.
Setibanya di bioskop, Raffi dan Elsa memesan popcorn terlebih dahulu. Lalu menonton film pilihan mereka. Kebetulan keduanya sepakat untuk menonton film horor.
"Kapan filmnya di mulai? Dari tadi iklan mulu," imbuh Elsa. Tangannya berupaya mengambil popcorn. Akan tetapi gagal, karena Raffi menjauhkan popocorn dari jangkauannya.
"Jangan bikin masalah deh, Raf. Gue kan juga mau... tadi kenapa cuman beli satu!" keluh Elsa. Sekali lagi dia berusaha merebut popcorn dari Raffi. Sayang, usahanya gagal untuk kali kedua.
Raffi sigap mengangkat popcorn ke atas. Dia memang sengaja mengerjai Elsa. Cowok itu berupaya keras menahan tawa.
Elsa memasang raut wajah cemberut. Dia berpura-pura menyerah. Ketika merasa waktu sudah tepat, baruah Elsa kembali mengambil popcorn dari genggaman Raffi. Kini keduanya saling berebut. Mereka cekikikan karena merasa terbawa arus suasana. Sampai-sampai tidak sadar kalau film sudah diputar. Orang-orang di sekitar otomatis menatap risih kepada dua sejoli yang kasmaran tersebut.
__ADS_1