
...༻☆༺...
Raffi menutup resleting celana. Lalu menghempaskan tubuhnya ke kasur. Dia bernafas melalui mulut.
Sementara Elsa, baru saja mengusap kasar bibirnya. Ia duduk di ujung kasur. Keduanya baru saja menyelesaikan oral.
Perlahan Raffi kembali duduk. Dia memeluk Elsa dari belakang. "Makasih ya..." ungkapnya sembari meletakkan kepala ke pundak Elsa. Cewek itu lantas hanya mengangguk pelan.
Di sisi lain, Gamal dan Zara sedang dalam perjalanan menuju apartemen. Mobil mereka bergerak tak terkendali.
Sambil sibuk berciuman, Gamal mengemudikan mobilnya dengan ugal-ugalan. Untung saja jalanan kebetulan sepi. Jadi mobil Gamal tidak menabrak pengendara lain.
Mobil terus berjalan. Tanpa diduga, mobil bagian depan berdegum keras. Seolah baru saja menabrak sesuatu.
Gamal dan Zara sontak berhenti berciuman. Gamal reflek menghentikan mobil. Mencoba memastikan sesuatu yang terjadi di depan mobil.
"Kita kayak nabrak sesuatu deh. Coba mundurin mobil lo," ujar Zara. Perintahnya langsung dilakukan oleh Gamal.
Gamal dan Zara dibuat kaget saat menyaksikan seorang wanita tua tergeletak di aspal. Sekarang keduanya merasa panik bukan kepalang. Wanita tua itu terlihat tidak sadarkan diri. Dalam keadaan kepala yang berdarah.
"Sial! Ini gara-gara lo, Ra!" timpal Gamal.
"Kenapa gue yang disalahin coba! Kan lo yang nyetir. Harusnya lo dengerin gue tadi. Kalau mau ciuman berhenti aja dulu! Tapi mana pernah lo dengerin gue!" Zara tidak terima dirinya disalahkan.
"Arrrghh!! Terus gimana dong?!" Gamal menatap garang ke arah Zara.
"Kita bawa dia ke rumah sakitlah!" Zara sudah siap membuka pintu mobil. Akan tetapi Gamal lekas mencegat.
"Nggak! Gue nggak punya uang sebanyak itu! Kalau bokap gue tahu, hukuman gue juga bakalan tambah parah!" Gamal yang takut, berniat ingin melarikan diri dari masalah.
"Lo gila! Lo itu cowok nggak punya rasa tanggung jawab emang ya!" Zara bersikeras turun dari mobil. Namun Gamal sengaja mengunci seluruh pintu mobil secara otomatis. Sehingga Zara tidak bisa keluar.
Dengan kecepatan tinggi, Gamal pergi meninggalkan tempat kejadian perkara. Zara lantas tidak bisa berbuat apa-apa. Setidaknya dia sudah melakukan usaha yang terbaik.
"Udah... lo tenang aja. Semua bakalan baik-baik aja," kata Gamal. Berusaha menenangkan Zara.
"Ya udah, gue bakalan percaya sama lo." Zara membuang rasa empatinya. Dia dan Gamal memilih langsung pulang. Keduanya tidak jadi pergi ke apartemen.
Keesokan harinya, Gamal menyuruh Pak Drajat membersihkan mobil pagi-pagi buta. Berjaga-jaga agar insiden tadi malam tidak ketahuan.
__ADS_1
Gamal ketakutan sendiri. Dia tidak absen memeriksa berita terkini dari internet. Gamal merasa lega ketika tidak ada satu pun berita tentang wanita tua yang ditabraknya.
'Mungkin dia masih hidup,' batin Gamal menduga. Dia bisa lebih rileks dan bersiap pergi ke sekolah.
Saat hendak mengendarai mobil, ponsel Gamal mendadak berdering. Panggilan dari Zara dia terima.
"Nggak ada kabar dari insiden tadi malam kan?" tanya Zara dari seberang telepon.
"Enggak deh kayaknya. Menurut gue, orang yang kita tabrak masih hidup," jawab Gamal. Dia bertekad untuk berpikir positif.
"Ya udah, jemput gue ya," ucap Zara. Pembicaraannya dan Gamal berakhir disitu. Mereka akan melupakan insiden kemarin malam.
...***...
Raffi dan Gamal sibuk berlatih basket. Sedangkan Elsa dan Zara duduk di kursi penonton. Dua cewek itu duduk berdekatan. Memperhatikan Olive yang tidak pernah absen datang.
"Sumpah gue kesel banget sama tuh anak. Sok cantik!" imbuh Zara sinis.
"Gamal udah putusin dia nggak sih?" tanya Elsa.
"Udah, pas tadi pagi. Gue denger sendiri kok dia ngomong di telepon. Tapi Olive kayaknya nggak terima," sahut Zara sembari melipat tangan di depan dada.
Bersamaan dengan itu, Gamal dan yang lain baru menyelesaikan latihan basket. Olive yang sudah menunggu, segera menghampiri Gamal.
"Apaan sih? Gue lagi pusing sekarang." Raut wajah Gamal pucat. Dia terlihat tidak bersemangat seperti biasa.
"Udah, Liv. Mending nanti aja. Lo pulang aja gih," saran Raffi. Mengusir Olive secara halus.
"Kakak pasti datang ke pesta ulang tahunku kan? Plis, Kak." Olive memegang pergelangan tangan Raffi. Namun itu tidak berselang lama, karena Raffi langsung melepaskan secara pelan.
"Gue nggak janji," kata Raffi.
"Kakak-kakak, pada kenapa sih? Kalau ada masalah coba ceritain ke aku. Kak Gamal nggak apa-apa kan?" Olive justru duduk ke samping Gamal. Lalu memberikan botol berisi minuman. Dia merasa ada yang berbeda dari cowok itu.
Tanpa sadar, Gamal menerima minuman pemberian Olive. Dia langsung menghabiskan minuman tersebut. Apa yang dilakukan Olive sejak tadi, sukses membuat Zara dan Elsa naik pitam. Memang pada kenyataannya, cewek itu yang terus mencoba menggoda Gamal dan Raffi.
"El, lo mau ikut kasih Olive pelajaran nggak?" bisik Zara ke telinga Elsa.
"Ayo, gue setuju." Elsa mengangguk yakin. Dia dan Zara segera keluar dari lapangan indoor.
__ADS_1
Dahi Raffi mengerut kala menyaksikan kepergian Elsa. Meskipun begitu, dia sama sekali tidak menaruh curiga.
Ketika berada di luar, Zara dan Elsa berhasil bertemu dengan teman dekat Olive. Keduanya meminta bantuan cewek itu untuk memancing Olive. Mereka sengaja menggunakan ponsel milik temannya Olive, dan memberitahu akan menunggu di toilet.
Kini Elsa dan Zara sedang berada di toilet. Menanti-nanti kedatangan Olive.
"Tadi malam, Gamal nabrak nenek-nenek di jalan." Zara membeberkan cerita tadi malam. Dia sepenuhnya mempercayai Elsa.
"Hah? Terus gimana?" Elsa penasaran.
"Gamal nggak mau tanggung jawab. Dia ninggalin nenek itu," jelas Zara. "Tapi lo tenang aja. Katanya nenek itu masih hidup kok," tambahnya. Zara mempercayai informasi yang diberikan Gamal.
"Tapi tetap aja, itu gila banget, Ra. Kalau neneknya meninggal gimana? Polisi pasti cari kalian." Elsa terlihat memancarkan tatapan cemas.
"Kayaknya enggak deh. Kan gue udah bilang, kalau neneknya masih hidup." Zara menepuk pelan pundak Elsa.
Pintu toilet tiba-tiba terbuka. Sosok yang ditunggu telah datang. Olive terheran menyaksikan Zara dan Elsa. Dua kakak kelasnya tersebut menatapnya dengan tatapan kurang mengenakkan.
Setelah memastika Olive masuk, Elsa dengan cepat mengunci pintu toilet. Dia sengaja bersandar di depan pintu, agar Olive tidak mencoba keluar.
"Kak Elsa sama Kak Zara mau apa ya?" Olive memasang ekspresi polos. Ia menatap Elsa dan Zara secara bergantian.
"Lo pengen tahu kami mau apa?" Zara berjalan ke hadapan Olive. Dia melakukan gaya berkacak pinggang. Satu tangannya segera bergerak untuk mendorong Olive.
Bruk!
Kini Olive jatuh tersungkur ke lantai. Jati dirinya langsung keluar. Olive melotot tajam kepada Zara.
"Cuh! Cara Kakak jijik banget ya!" pungkas Olive. Melepaskan air ludah begitu saja. Salivanya berhasil mengenai rok abu-abu Zara.
"Sialan lo! Berani banget sama senior!" geram Zara. Kakinya menginjak kuat tangan Olive yang tertempel di lantai.
"Aaakhh! Kak Elsa tolongin aku..." rintih Olive yang kesakitan.
"Lo kenapa diam aja, El? Bantuin gue dong. Dia juga kegatelan sama cowok lo!" Zara mendesak.
Elsa akhirnya ikut bergabung. Dia mengambil ember berisi air bekas kain pel. Kemudian mengguyurkannya ke kepala Olive.
..._____...
__ADS_1
Catatan Author :
Oke guys, beberapa bab lagi mungkin novel ini akan tamat. Semoga terus betah ya...