
...༻☆༺...
Kemunculan polisi disusul dengan kehadiran seorang wanita paruh baya berpakaian lusuh. Dia tidak lain adalah Sinta, alias ibu kandung Danu. Sinta tampak berusaha membujuk polisi. Namun dia langsung terdiam saat menyaksikan Danu.
"Saudara Danu Aditya, anda harus ikut kami ke kantor polisi!" salah satu polisi menghampiri Danu.
Atensi semua orang otomatis tertuju ke arah Danu. Mereka tentu penasaran dengan apa yang sudah menimpa Danu.
"Apa-apaan ini, Pak! Aku nggak salah apa-apa!" Danu menjaga jarak dari polisi. Dia terlihat panik.
"Anda dilaporkan sebagai salah satu tersangka pencurian di sebuah rumah mewah daerah Bunga Indah. Kedok anda terbukti dengan dua saksi yang sudah tertangkap," jelas polisi yang bernama Iqbal tersebut. Dia dan rekannya segera menangkap Danu.
"Kalian salah! Aku nggak pernah curi sesuatu dari sana! Bu, tolongin aku... hiks..." Danu berusaha keras menepis tuduhan yang diberikan polisi. Namun apalah daya. Dia tidak bisa berkutik dengan dua polisi yang membekuknya. Danu sekarang pasrah membiarkan tangannya diborgol.
Danu menangis tersedu-sedu. Semua orang yang menyaksikan merasa miris sekaligus heran. Bagaimana tidak? Selama ini mereka mengetahui Danu merupakan anak orang kaya. Belum lagi pengakuan Danu secara tidak langsung terhadap sosok wanita paruh baya berpakaian lusuh.
"Pak, saya mohon jangan tangkap Danu. Dia nggak salah... biar saya saja yang ditangkap. Danu harus sekolah, Pak..." Sinta merengek di salah satu kaki Iqbal. Dia duduk bersimpuh dalam keadaan air mata yang bercucuran. Berharap lelaki berseragam polisi tersebut bersedia melepaskan sang putra.
Bu Lestari yang merasa kasihan, segera menenangkan Sinta. Dia mencoba membawa wanita paruh baya itu untuk berdiri.
"Sudah ya, Bu. Danu mungkin saja terbukti tidak bersalah. Yang paling penting dia harus mau bekerjasama untuk melakukan penyelidikan. Jika tidak, nanti hukumannya tambah parah, Bu." Bu Lestari menerangkan baik-baik. Hingga akhirnya Sinta perlahan melepaskan kaki Iqbal dan berdiri.
Sementara Danu sendiri, dia sibuk menangis sambil menundukkan kepala. Rasa malu menggerogoti dirinya. Apalagi ketika Raffi, Tirta dan Gamal melayangkan tatapan nanar kepadanya. Semua teman-temannya itu sekarang tahu kalau Danu sudah lama berbohong. Raffi dan yang lain sampai tidak mampu berkata-kata.
"Tunggu, Pak. Sebelum pergi, biarin aku bicara sama teman-temanku." Danu meminta izin. Dua polisi yang ada lantas memberinya kesempatan.
__ADS_1
Danu mendekati Tirta lebih dulu. Sebab posisi Tirta berada paling dekat dengannya.
"Ta, maafin gue. Tapi gue benar-benar bersyukur bisa jadi teman dekat lo..." ungkap Danu sembari tidak berhenti menangis. Akan tetapi Tirta justru membalas dengan cara membuang muka. Dia tentu kesal dengan kebohongan yang dibuat Danu.
Karena tidak kunjung mendapat respon, Danu sekarang pindah haluan. Dia berlari menghampiri Raffi dan Gamal. Dua temannya tersebut berdiri tidak begitu jauh. Mereka sama-sama terlihat babak belur.
Danu melingus melewati Sinta yang mengangkat tangan untuk memberikan pelukan. Kemungkinan Danu terlalu malu untuk mengakui Sinta secara terang-terangan. Meski sedang mengalami hal buruk, rasa gengsi sepertinya masih menjadi yang utama bagi Danu.
"Raffi, Gamal... maafin gue... hiks... hiks... kalian bakalan maafin gue kan?" Danu menatap Raffi dan Gamal secara bergantian.
"Gila! Gue nggak nyangka, selama ini lo bohongin kita!" pungkas Gamal dalam keadaan mata yang menyalang marah. Dia kecewa. Sungguh-sungguh kecewa. Gamal mungkin bisa dibilang anak nakal, tetapi dia tidak pernah main-main dengan yang namanya pertemanan.
"Dan, itu beneran nyokap lo?" tanya Raffi tiba-tiba. Dia menunjuk sinta dengan gerakan kepala.
"Kayaknya gue pernah lihat mukanya deh?" Gamal mencoba menelusuri ingatan. Sampai dia akhirnya teringat dengan sepasang suami istri yang menjual bakso di rumah Danu. "Dia yang jual bakso pas kita di rumah lo kan?" tanya-nya memastikan.
"Parah lo, Dan!" komentar Gamal. Dia tidak menyangka sikap Danu seburuk itu.
"Mendingan lo minta maaf dulu ke nyokap sana!" Raffi mendorong Danu ke arah Sinta. Obrolan Danu berakhir disitu. Ia langsung dibawa aparat ke kantor polisi.
...***...
Raffi dan Gamal tengah berada di ruang BK. Keduanya duduk bersebelahan. Mereka menunggu Bu Lestari yang sibuk bicara di depan ruangan.
Jujur saja, insiden perkelahian serta kasus Danu cukup menggemparkan sekolah. Sebab semua orang yang terlibat diketahui berteman sangat dekat.
__ADS_1
"Gue nggak nyangka selama ini Danu bohongin kita," imbuh Gamal sembari menyandar ke kursi. Namun Raffi hanya membisu. Mengabaikan Gamal dengan sengaja.
Raffi sebenarnya juga memikirkan Danu. Ia tentu sama kecewanya seperti Gamal. Raffi tidak menyangka tekad Danu dalam berbohong bisa separah itu. Jujur saja, dia merasa sedikit bersalah. Mengingat semua teman-teman dekatnya memang hanya berasal dari kalangan keluarga kaya. Raffi tidak menyangka hal kecil tersebut berpengaruh terhadap seseorang.
Perlahan Gamal melirik Raffi. Dia mendengus kasar. Sebenarnya tadi Gamal tidak berniat mengajak Raffi berkelahi. Tetapi karena tersulut emosi, dia akhirnya tidak bisa menahan diri.
"Raf, gue minta maaf mengenai apa yang terjadi di klub malam. Gue cuman pengen buat lo ngerasain apa yang gue rasain. Tapi lo nggak seharusnya laporin semuanya sama Bu Lestari." Gamal kembali bersuara.
"Tapi lo nggak bilang ke gue sejak awal! Lo nggak tahu betapa tersiksanya gue setelah minum minuman itu!" Raffi akhirnya menyahut. Matanya dalam keadaan mendelik tajam. "Dan mengenai Bu Lestari? Gue akui, emang gue pernah yang kasih usul beliau buat ngomong ke orang tua lo," sambungnya. Memberikan keterangan lebih jelas.
Gamal berdecak kesal. Dia mencoba menahan amarah. "Pantesan Bu Lestari nekat ke rumah gue. Ternyata tujuannya itu?! Gue kasih tahu lo ya, Raf. Gue emang begini adanya. Lo nggak perlu sok-sokan mau merubah gue buat jadi lebih baik. Menurut gue itu sia-sia! Lagian nggak ada yang peduli kok. Orang tua gue aja nggak peduli!" ujarnya, seraya mengatur nafas yang mulai bergerak cepat.
"Gue ngelakuin itu, justru karena peduli sama lo!" jawab Raffi. Menyebabkan mulut Gamal seketika bungkam.
"Tapi kalau lo tetap begini aja. Oke! Pertemanan kita mendingan berakhir di sini aja. Gue bakalan minta bantuan Bu Lestari buat pindah kelas, terus ngundurin diri dari wakil ketua osis." Raffi menunjukkan mimik wajah bertekad.
Gamal langsung dibuat gelisah. Karena selama ini Raffi-lah yang selalu membantunya dalam urusan nilai akademik. Jika Raffi pindah kelas, maka nilai Gamal pasti akan turun drastis. Belum lagi mengenai pengurusan osis. Gamal tidak bisa membantah, betapa bagusnya kinerja Raffi.
Bruk!
Gamal memukulkan bogem ke meja. Perkataan Raffi sukses menohoknya. Dia memang tidak bisa menepis ketergantungan dirinya terhadap Raffi.
Tidak lama kemudian, Elsa muncul dari depan pintu. Dia tidak sendiri. Ada Zara yang juga ikut bersamanya.
"Gila! Kalian beneran berantem?!" Elsa menatap tak percaya. Dia dan Zara geleng-geleng kepala saat melihat wajah kekasih mereka babak belur.
__ADS_1