Sisi Gelap Dunia Anak SMA

Sisi Gelap Dunia Anak SMA
Bab 114 - Overdosis


__ADS_3

...༻☆༺...


Gamal membuka mata dengan pelan. Penglihatannya disambut oleh wajah cantik Zara yang tertutupi dengan rambut.


Tangan Gamal menyisihkan rambut Zara. Sehingga wajah cantik cewek itu kini tampak lebih jelas. Senyuman tipis terukir di bibir Gamal.


Rasa pusing begitu menyengat. Kemungkinan gara-gara efek mengkonsumsi obat tadi malam. Gamal dan Zara hilang kendali karena merasa saking takutnya. Apalagi Tirta diam-diam membawa cukup banyak obat-obatan terlarang. Dia sengaja menyelipkannya ke dalam tas selempang Zara.


Karena obat-obatan-lah Gamal dan Zara dapat tidur dengan tenang. Keduanya bahkan masih sempat melakukan hubungan intim tadi malam.


Gamal merubah posisi menjadi duduk. Ia memegangi jidatnya dengan satu tangan. Lalu mengedarkan pandangan sejenak. Satu hal yang dia ketahui, Raffi telah menghilang. Entah sejak kapan temannya itu pergi.


"Ta! Tirta!" panggil Gamal sembari bangkit dari kasur. Dia berjalan mendekati posisi Tirta.


"Tirta! Lo tahu Raffi..." ucapan Gamal terhenti, ketika dirinya tidak sengaja membalikkan badan Tirta. Dia dibuat begitu kaget. Bagaimana tidak? Keadaan mulut Tirta tampak dipenuhi dengan busa.


"Tirta!" sekali lagi Gamal mencoba membangunkan Tirta. Akan tetapi tubuh temannya tersebut sangat lemah. Pertanda bahwa Tirta memang dalam keadaan tidak sadarkan diri.


"Zara!" kali ini Gamal membangunkan Zara. Dia segera memberitahukan cewek itu tentang keadaan Tirta.


Tanpa basa-basi, Gamal dan Zara bergegas mengenakan pakaian. Mereka dibuat panik untuk yang kedua kalinya.


Zara mengambil ponsel dari tas selempang. Dia berniat menghubungi panggilan darurat. Sebagai teman yang baik, Zara tentu tidak mau ada sesuatu hal buruk menimpa Tirta. Namun sayang, Gamal sigap menghentikan niat Zara.


"Jangan! Kalau lo telepon bantuan, kedok kita ketahuan dong!" cegah Gamal.


"Lo nggak kapok, terus lari dari masalah?! Bukannya lo stress berat ya setelah insiden tabrak lari? Hidup lo nggak bakalan tenang kalau terus sembunyi dari semuanya!" terang Zara. Mencoba membuat Gamal mengerti.


"Tapi gue cuman..." Gamal tidak mampu berkata-kata. Perkataan Zara memang ada benarnya. Dia akhirnya membiarkan Zara menelepon bantuan.


Sebelum terlambat, Gamal menggendong Tirta keluar dari hotel. Dia dan Zara sudah membuang semua obat-obatan terlarang ke dalam closet.

__ADS_1


Setibanya di rumah sakit terdekat, Tirta langsung mendapat penanganan darurat. Kini Gamal dan Zara duduk sambil berpegangan tangan di ruang tunggu.


"Gamal..." panggil Zara lirih. Dia segera menatap lekat ke arah Gamal.


"Hmm?" tanggap Gamal.


"Lo siap kan berhadapan sama polisi? Gue yakin, bentar lagi kita akan berurusan dengan hukum," ungkap Zara.


"Gue tahu... itulah yang bikin gue takut. Makanya gue terus berusaha melarikan diri."


"Lo lihat yang dilakukan Elsa? Dia melarikan diri, dan lo pasti tahu kalau itu bukan solusi yang terbaik. Gue yakin semuanya akan baik-baik aja." Zara menggenggam erat jari-jemari kekasihnya. Gamal hanya bisa mengangguk sambil tersenyum kecut.


Tidak lama kemudian, tiga orang polisi berdatangan. Mereka berhasil melacak tersangka yang dicurigai telah menyebabkan kebakaran hutan. Hanya bermodalkan penyelidikan kamera CCTV serta saksi mata, polisi dapat mengetahui kalau pelakunya adalah kumpulan remaja yang mengendarai sebuah mobil hitam. Para polisi mengikuti jejak mobil hitam milik Gamal dengan baik. Mereka bahkan sempat berkunjung ke hotel yang didatangi Raffi dan kawan-kawan. Tempat dimana Tirta mengalami overdosis.


Gamal dan Zara bangkit dari tempat duduk. Keduanya telah sepakat untuk menyerahkan diri. Lagi pula, mau kemana lagi mereka bersembunyi? Semua tempat sudah tidak ada yang aman.


...***...


"Sekarang gimana?" tanya Elsa. Dia meletakkan kepala di pundak Raffi.


"Setelah ini, gue mau ketemu sama Gamal dulu. Kemarin kami terlibat masalah berat, El," ucap Raffi. Membuat Elsa seketika menegakkan kepala.


"Masalah apa?" Elsa menuntut jawaban.


"Lo lihat kabut asap yang ada di sekeliling lo? Semuanya karena gue dan Gamal. Kami kemarin berantem, terus Gamal nggak sengaja buang rokoknya tanpa dimatikan lebih dahulu." Raffi memberitahukan Elsa segalanya.


"Itu bukan salah lo! Harusnya Gamal sendiri yang tanggung jawab." Elsa tidak terima.


"Tapi kalau gue nggak marah-marah sama dia, mungkin kebakaran itu nggak bakalan terjadi..." Raffi perlahan menundukkan kepala.


"Ya udah, biar gue temenin kalau gitu. Gamal-nya sekarang dimana?" Elsa mencoba memahami Raffi. Dia segera mengaktifkan ponselnya yang telah lama dimatikan.

__ADS_1


"Telepon Zara aja. Soalnya Gamal nggak bawa handphone," saran Raffi yang langsung direspon Elsa dengan anggukan kepala.


"Elsa! Lo kemana aja?!" sambut Zara dari seberang telepon.


"Gue baik-baik aja. Raffi juga lagi bareng gue," jawab Elsa sembari melirik ke arah Raffi. "Lo sama Gamal sekarang dimana?"


"Gue sama Gamal lagi dalam perjalanan ke kantor polisi. Kami terlibat masalah, El. Jadi... lo tahu-lah jadinya kayak apa," balas Zara. Menyebabkan Elsa harus mematung sejenak.


"Ya udah kalau gitu, gue sama Raffi akan ke sana!" seru Elsa.


"Tapi--" ucapan Zara terjeda, karena Elsa lebih dulu memutuskan sambungan telepon.


Elsa menatap dalam manik hitam Raffi dan berucap, "Raf, lo yakin mau nyusul Gamal?"


"Iya, emang Gamal-nya ada dimana? Dia masih di hotel ya?" tebak Raffi dalam keadaan dua alis yang terangkat bersamaan.


Elsa menggeleng. "Gamal sama Zara melakukan pemeriksaan di kantor polisi," ujarnya.


Raffi sedikit kaget. Meskipun begitu, dia tetap tidak gundah untuk bertanggung jawab atas kesalahannya kemarin sore.


"Lo kalau nggak mau ikut ke kantor polisi, biar gue carikan penginapan ya." Raffi memberikan usulan. Tetapi justru mendapat penolakan dari Elsa.


"Gue mau ikut! Mungkin keberadaan gue di sana juga bisa bantu lo sama yang lain. Kan kalian pergi gara-gara mau cari gue." Elsa mendadak merasa bersalah.


"Lo yakin?" Raffi memastikan.


"Banyak yang harus kita hadapi kan? Biar kita hadapi semuanya sama-sama." Elsa bertutur kata lembut. Ia juga mengembangkan senyuman tipis.


Akhirnya Raffi dan Elsa pergi menyusul Gamal ke kantor polisi. Keduanya memutuskan menggunakan angkot. Karena taksi kebetulan tidak melewati jalanan dekat pemakaman.


Saat sampai di kantor polisi, Raffi dan Elsa langsung dipersilahkan bergabung bersama Gamal dan Zara. Mereka disuruh menunggu seorang ahli yang akan memberikan pertanyaan.

__ADS_1


Selagi menunggu, Raffi dan kawan-kawan diwajibkan melakukan tes urine terlebih dahulu. Kedok Gamal dan Zara tentu tidak bisa ditutupi lagi.


__ADS_2