
...༻☆༺...
Riuh menyelimuti suasana lapangan indoor. Kursi penonton kebanyakan di isi oleh murid perempuan. Sedangkan para siswa yang menonton hanya berhadir demi teman mereka. Seperti Tirta dan teman sekelasnya Raffi misalnya.
Tim basket tengah melakukan pemanasan di pinggir lapangan. Mereka terlihat sudah mengganti seragam dengan pakaian olahraga basket berwarna hitam kemerahan.
Dari arah pintu masuk, Olive tampak muncul. Para murid lelaki otomatis bersemangat. Seluruh atensi cowok nyaris tertuju kepadanya. Bahkan beberapa orang di tim basket.
"Anjir, anak cantik itu nonton kita latihan!" seru Gilang sembari membulatkan mata.
"Yang artis itu ya? Kalau dilihat secara langsung ternyata dia cantik banget, sumpah!" sahut Heru. Dia memainkan bola basket di tangannya.
"Astaga, dia itu selebgram bukan artis!" Gamal mengoreksi ucapan Heru yang salah.
"Sama aja kali. Pokoknya dia dikenal banyak orang. Punya endorse dimana-mana," kata Heru.
Raffi sama sekali tidak peduli dengan pembicaraan tentang Olive. Dia lebih memilih memikirkan Elsa. Memastikan kekasihnya itu juga ikut menjadi bagian penonton.
Senyuman terukir di wajah Raffi, saat dapat menyaksikan keberadaan Elsa. Cewek itu duduk bersebelahan dengan Ratna. Sementara Zara terihat duduk tiga helat baris darinya.
Perlahan Raffi mendekatkan mulut ke telinga Gamal. "Zara juga nonton tuh..." bisiknya.
Gamal segera melihat-lihat ke kursi penonton. Benar saja, dia melihat ada Zara di sana.
"Aneh banget. Padahal dia tadi marah sama gue," balas Gamal.
"Ya dia tetap datang dong kalau benar-benar sayang. Emang dia marah karena apa sih?"
"Karena gue telat jemput dia hari ini. Zara minta ditemenin pergi ke toko sebentar sebelum berangkat sekolah. Jadi dia pengen berangkat lebih pagi dari biasanya. Tapi lo tahu kan, gue udah kebiasaan bangun tidur agak siangan." Gamal memberitahu.
"Ah, cewek emang gitu. Masalah kecil aja marahnya luar biasa," komentar Raffi. Saat itulah Pak Seno datang untuk membimbing latihan.
Raffi dan kawan-kawan disuruh memasuki lapangan. Ketika peluit ditiup, permainan lantas di mulai.
__ADS_1
Kebetulan terdapat dua belas orang yang menjadi bagian tim basket pilihan. Lima orang sebagai pemain utama, sementara sisanya sebagai pemain cadangan. Jadi sekarang dua tim tersebut saling bertanding di lapangan.
"Ayang Raff, semangat ya!" Gita tidak pernah absen menjadi pengagum terang-terangan Raffi. Sikapnya memang bak seorang fans yang selalu memberikan dukungan.
Seperti biasa, tindakan Gita selalu mendapatkan beragam cemohan. Terutama dari Elsa. Cewek itu sekarang melotot tajam ke arah Gita.
"Sabar..." Citra yang duduk di belakang mencoba menenangkan. Elsa otomatis hanya bisa berdecak kesal. Dia meletakkan minuman yang sengaja di belinya untuk Raffi ke atas paha. Elsa berusaha menahan kesabaran.
"Kak Raffi! Kak Gamal! Semangat ya..." tanpa diduga Olive ikut memekik. Namun dengan nada suara yang begitu pelan. Lembut dan menggemaskan. Dia terlihat duduk di kursi paling depan.
Raffi dan Gamal tidak bisa menyempatkan diri mengurus penonton. Mereka fokus berlatih dengan arahan serta teknik yang diberikan Pak Seno.
Permainan sudah berlangsung cukup lama. Peluh sudah membasahi para pemain basket. Hal paling menonjol dalam permainan adalah kerjasama dari Raffi dan Gamal. Keduanya bermain sangat bagus. Meskipun begitu, mereka tetap tidak melupakan anggota yang lain. Jadi bola tidak melulu dikuasai oleh Raffi dan Gamal.
Peluit ditiup oleh Pak Seno. Pertanda latihan telah dirasa cukup. Sebab para pemain sudah bermain lebih dari satu jam.
Raffi tampak berdiri dalam keadaan sedikit membungkuk. Ia memegangi lutut sambil terus mengatur nafas yang ngos-ngosan.
Gamal memilih duduk berselonjor di lantai. Tatapannya tertuju ke arah Olive yang sudah menghampiri Pak Seno. Cewek itu ternyata membelikan minuman segar untuk seluruh tim basket. Termasuk Pak Seno sendiri.
Menyaksikan apa yang dilakukan Olive, siswi lainnya tidak bisa berkutik. Mereka merasa kalah telak. Karena Olive tidak hanya cantik, tetapi juga tajir, populer dan baik. Setidaknya begitulah yang terlihat.
Bertepatan dengan seruan Pak Seno, Elsa menghentikan langkahnya. Dia yang tadinya berniat memberian Raffi minuman, terpaksa berbalik arah. Elsa akan menunggu Raffi di parkiran saja.
Belum sempat beranjak jauh, seseorang tiba-tiba merebut botol minuman Elsa. Dia tidak lain adalah Raffi. Cowok itu langsung membuka tutup botol dan menenggak minuman pemberian Elsa.
"Lo kenapa minum air putih. Olive beliin minuman berenergi yang lebih baik," ujar Elsa.
Raffi tidak menggubris. Dia bertekad menghabiskan minuman dari Elsa. Kebetulan botolnya hanya berukuran sedang. Jadi Raffi dapat dengan mudah menghabiskannya.
"Air putih adalah minuman terbaik. Terkesan biasa tetapi sangat istimewa. Persis seperti orang yang beliin," ungkap Raffi seraya menyunggingkan mulut untuk membentuk sebuah senyuman.
"Idih! Sempat-sempatnya gombal." Elsa iseng menepuk dada Raffi. Keduanya tampak tergelak kecil bersama.
__ADS_1
Raffi perlahan mendekatkan wajahnya ke wajah Elsa. Jujur saja, kedekatan mereka sekarang menarik banyak pasang mata. Bagaimana tidak? Raffi dan Elsa bertindak seperti pasangan yang ingin berciuman. Padahal Raffi hanya ingin menatap lamat-lamat wajah kekasihnya.
"Raf, jangan gila. Orang-orang liatin kita." Elsa mundur satu langkah. Berusaha keras menghindar.
"Kepedean banget. Lo pikir gue senekat itu cium elo di tempat keramat kayak sekolah?" Raffi memutar bola mata malas. Lalu mengelap keringat dengan punggung tangan.
"Ish! Kayak nggak pernah aja. Lo lupa sama apa yang kita lakukan terakhir kali di belakang sekolah?" tukas Elsa yang tak ingin kalah.
"Kalau di belakang sekolah nggak apa-apa. Di sana sepi," komentar Raffi. Alhasil Elsa mengarahkan kepalan tinju ke arah wajahnya. Akhir dari interaksi mereka membuat orang-orang ragu kalau Raffi dan Elsa berpacaran. Terutama Olive.
"Cewek itu pacarnya Kak Raffi ya?" tanya Olive. Dia baru selesai membagikan minuman kepada anggota tim basket. Hanya Raffi dan Gamal yang belum mendapat bagian.
"Bukan, mereka cuman sahabatan kok. Hubungan mereka dari dulu emang gitu." Gilang menjawabkan pertanyaan Olive.
"Oh..." Olive yang tadinya sempat berprasangka yang tidak-tidak, akhirnya dapat tersenyum. Dia mengurungkan niat memberikan Raffi minuman. Olive berusaha menghormati persahabatan Raffi dan Elsa.
Kini Olive melenggang ke arah Gamal. Ketika sudah tiba di hadapan cowok itu, Zara tiba-tiba merampas minuman dari pegangannya.
"Eh!" Olive otomatis kaget. Dia menatap Zara dengan perasaan kesal. Namun cewek berambut pendek sebahu itu tak acuh sama sekali.
Perhatian Zara justru terfokus ke arah Gamal yang masih duduk di lantai. Dia menyodorkan minuman rampasannya kepada Gamal.
"Lo nggak modal banget, Ra." Gamal berkomentar. Meskipun begitu, dia tersenyum dan mengambil minuman yang diberikan Zara.
"Iya, punyaku diambil sama dia!" imbuh Olive sambil menghentakkan salah satu kakinya. Akan tetapi, baik Gamal maupun Zara sama-sama tidak menanggapi.
Zara membalas senyuman Gamal. Terutama saat Gamal bersedia menerima minuman pemberiannya.
Gamal perlahan berdiri. Kemudian mencium Zara tepat di pipi. Hal itu sontak membuat mata Olive terbelalak. Orang-orang yang masih belum pulang bahkan ikut kaget.
Olive yang melihat langsung menjauh. Ia hanya bisa menggertakkan gigi. Kemudian kembali bergabung untuk duduk dengan para tim basket.
Ibu jari Gamal memegang lembut bibir bawah Zara. "Sehabis pulang ini kita cari mati bareng lagi ya," ujarnya pelan. Kalimat itu merupakan kode dari Gamal untuk mengajak Zara melakukan hubungan intim.
__ADS_1
"Eh! Kalian jangan macam-macam ya! Dikira Bapak nggak lihat apa?!" timpal Pak Seno yang sukses melihat apa yang dlakukan Gamal terhadap Zara.