
...༻☆༺...
Bu Lestari bergegas turun tangan. Tepat ketika perkelahian fisik di antara Zara dan Gita terjadi. Dua orang siswi itu segera diseret ke pengadilan sekolah, alias ruang BK.
Sementara untuk murid lainnya. Dipersilahkan kembali ke kelas masing-masing. Termasuk Gamal dan Raffi yang kebetulan satu kelas. Namun sepertinya Gamal tidak berminat pergi ke kelas. Dia seakan ingin melakukan sesuatu terlebih dahulu.
"Lo duluan aja, Raf. Gue mau ngurus sesuatu," saran Gamal sembari beranjak begitu saja.
Raffi hanya mengernyitkan kening. Dia mengangkat kedua bahunya satu kali. Lalu beranjak menuju kelas. Saat itulah Elsa tiba-tiba menghampiri dari arah belakang. Cewek itu merangkul pundak Raffi dengan kuat.
"Anjir! Kaget gue!" seru Raffi yang sedikit terhuyung ke arah samping.
"Cie... katanya nggak mau jadi ketos. Tapi pidatonya lancar aja tuh." Ratna terlihat mengambil posisi di sisi kiri Raffi. Sedangkan Elsa berada di bagian kanan.
"Dia emang gitu, Na. Selalu ngambil pilihan berbeda saat di akhir," sahut Elsa seraya melirik Raffi. Senyumannya melebar.
Raffi memutar bola mata jengah. Kemudian melepaskan rangkulan Elsa. "Kalau gue berhasil jadi ketos, gue catat ya nama kalian berdua. Gue bakalan masukin nama kalian buat jadi anggota," ancam Raffi. Dia menatap Elsa dan Ratna secara bergantian.
"Bagus dong. Kayaknya seru ya, El." Bukannya takut Ratna dan Elsa justru kegirangan.
"Sekongkol ya kalian..." Raffi reflek mencubit pipi Elsa. Kemudian langsung berlari menjauh. Sebelum Elsa sempat melakukan pembalasan.
Elsa hanya bisa mengaduh sambil mengelus salah satu pipinya yang sakit. Sementara Ratna tampak tertawa hambar di sebelahnya.
"Kalian nggak pernah berubah ya," komentar Ratna. Dia sebenarnya agak iri dengan kedekatan Elsa terhadap Raffi. Sebab hanya Elsa satu-satunya cewek yang bisa mengajak Raffi bercanda dengan leluasa.
"Iya, udah mulai SMP. Kalau dilaporin ke polisi, kami berdua bisa kena pasal penganiayaan." Elsa memanyunkan mulut. Satu tangannya masih saja mengusap-usap pipi yang memerah akibat cubitan Raffi.
...***...
Setelah memberikan nasehat kepada Zara dan Gita, Bu Lestari menyuruh dua siswi itu saling memaafkan. Selanjutnya, mereka diberikan hukuman untuk menyapu di halaman belakang selama satu minggu.
"Sekali lagi Ibu lihat kalian bertengkar. Ibu nggak segan-segan panggil orang tua kalian!" ujar Bu Lestari. Membuat Zara dan Gita sontak semakin menundukkan kepala.
__ADS_1
"Iya, Bu..." Zara dan Gita menyahut beriringan.
"Ya sudah, kembali ke kelas!" perintah Bu Lestari, yang langsung dilaksanakan oleh Zara maupun Gita.
Bu Lestari segera beranjak ke ruang kepala sekolah. Di sana dia hendak berbicara serius perihal kedisiplinan sekolah. Sebagai guru BK, Bu Lestari tentu merasa janggal terhadap kasus yang menimpa Zara.
"Bu Lestari!" panggil Bu Salsa. Dia tampak memegangi beberapa buku di tangan. Bu Salsa nampaknya sedang dalam perjalanan menuju kelas.
Bu Lestari membalas dengan senyuman tipis. Ia sontak berhenti melenggang. Mencoba mendengarkan perkataan yang akan diucapkan oleh Bu Salsa.
"Ada apa, Bu?" tanggap Bu Lestari.
"Ibu mau ngomong sama Pak Erwin? Tentang masalah Zara kan?" tanya Bu Salsa. Mencecar dengan dua pertanyaan sekaligus.
Bu Lestari mengangguk. "Iya, menurut aku udah keterlaluan. Kita nggak bisa tinggal diam kan?" tanggapnya dengan alis yang hampir bertautan.
"Tapi... jangan sampai lupa diri ya, Bu. Nanti Ibu yang kena batunya. Ya?" Bu Salsa terlihat khawatir.
"Udah, nggak apa-apa. Jangan berlebihan. Aku bukan anak SMA lagi loh." Bu Lestari menepuk pelan pindak Bu Salsa. Kemudian melanjutkan langkahnya.
Bu Lestari terlihat membalas dengan senyuman tipis. Sebenarnya dia juga merasa miris terhadap ketidakberanian semua rekan-rekannya.
Ketika sudah tiba di depan ruang kepala sekolah. Pintu mendadak terbuka. Sosok Gamal menyambut penglihatan Bu Lestari.
"Gamal? Ngapain kamu di ruang kepala sekolah?" timpal Bu Lestari.
Gamal agak kaget dengan kemunculan Bu Lestari. Jantungnya seolah hampir copot. Meskipun begitu, Gamal berusaha keras agar bisa terlihat tenang.
"Nggak apa-apa, Bu. Pak Erwin cuman ngasih nasehat aja buat aku," terang Gamal sembari memaksakan diri membungkuk hormat. Kemudian pergi menuju kelas.
Bu Lestari segera mengetuk pintu ruang kepala sekolah. Bukannya disuruh masuk, Pak Erwin malah keluar melewati pintu.
"Ada perlu apa, Bu?" Pak Erwin bertanya dengan ramah.
__ADS_1
"Aku mau menanyakan sesuatu, Pak. Ini penting!" jawab Bu Lestari bertekad.
Pak Erwin terdiam sejenak. Dia dapat menebak apa yang ingin dibicarakan Bu Lestari. Apalagi jika bukan karena kasus Zara? Pak Erwin yakin seratus persen.
"Ibu ingin membahas kasus tentang Zara bukan?" Pak Erwin memastikan. Bu Lestari lantas mengangguk.
"Menurutku, masalahnya tidak terlalu besar. Video tentang anak itu akan segera dilupakan banyak orang. Lagi pula, wajah Zara tidak terlalu jelas." Pak Erwin menjelaskan dengan pelan.
"Tapi, Pak. Apa Bapak tidak peduli dengan nama baik sekolah kita? Apa kata murid-murid kita, apalagi sekolah lain?" pungkas Bu Lestari.
"Aku hanya melakukan pekerjaan. Jika kamu berada di posisiku, kau pasti akan paham. Sebaiknya kembalilah bekerja. Beri saja Zara hukuman sepantasnya, tetapi jangan sampai di keluarkan dia dari sekolah!" titah Pak Erwin seraya beranjak meninggalkan Bu Lestari. Namun di tengah jalan dia berhenti. Lalu berbalik badan karena ingin menamgatakan sesuatu hal lagi.
"Aku diberi perintah oleh ketua yayasan. Kita tidak bisa berbuat apa-apa. Jika kamu tetap memberontak, maka mereka akan mudah menggantimu dengan guru yang baru. Bukankah harusnya kau senang bisa menyelamatkan muridmu? Kamu harusnya kasihan dengan Zara," tutur Pak Erwin. Selanjutnya, dia benar-benar pergi.
Bu Lestari terdiam seribu bahasa. Dia tidak memiliki wewenang apa-apa. Sejujurnya hanya satu hal yang Bu Lestari takutkan. Yaitu mengenai sikap dan sopan santun semua muridnya.
Tanpa sepengetahuan Pak Erwin dan Bu Lestari, Gamal menguping dari balik dinding. Dia dapat mendengarkan semua pembicaraan dua gurunya tersebut. Gamal hanya berseringai puas. Kemudian melenggang menyusuri lorong menuju kelas.
Gamal mengambil ponsel, dan mengirimkan pesan teks kepada Zara. Pesan itu berbunyi, 'Ra, gue udah urus masalah lo. Bayar jasa gue nanti pas istirahat kedua. Kita ketemu di gudang belakang sekolah!'
Tidak lama kemudian Zara membalas, 'Nggak salah, Mal? Plis, jangan di sekolah... nanti ketahuan guru bisa jadi masalah.'
Lidah Gamal berdecak kesal saat membaca pesan. Dia langsung membalas dengan kalimat yang bertuliskan huruf kapital. 'INI PERINTAH!' begitulah bunyi pesan teks terakhir Gamal kepada Zara. Seterusnya dia tidak merespon lagi balasan pesan dari Zara. Bahkan sengaja tidak membacanya.
Gamal kembali ke kelas. Dia lagi-lagi terlambat. Ketika memasuki kelas, mata Gamal langsung bersibobrok dengan Raffi.
"Gila, kemana aja lo?" ujar Raffi. Bicara tanpa mengeluarkan suara. Namun Gamal dapat mengerti melalui pergerakan mulutnya. Raffi kebetulan sedang sibuk menyelesaikan soal Kimia di papan tulis.
"Bu, lihat! Gamal datang tuh!"
"Ya ampun, Mal. Elo lagi, elo lagi yang telat."
Teman-teman sekelas Raffi sudah menyadari kedatangan Gamal. Mereka langsung memberitahukan Bu Salsa mengenai kedatangan Gamal. Bu Salsa menghela nafas berat dan menanyakan alasan keterlambatan Gamal.
__ADS_1
"Aku tadi dipanggil Pak Erwin, Bu." Gamal berucap santai. Dia yakin Bu Salsa akan paham. Terutama kala dirinya menyebut nama kepala sekolah.
Benar saja, Bu Salsa langsung memperbolehkan Gamal duduk. Gamal perlahan menyunggingkan mulut untuk membentuk sebuah senyuman.