
...༻☆༺...
"Gamal! Kamu nggak apa-apa?" tanya Bu Lestari sembari berusaha membangunkan Gamal. Keributan yang dibuatnya membuat Zara terbangun. Cewek itu langsung memeriksa siapa yang sedang bicara.
Pupil mata Zara membesar, tatkala menyaksikan keberadaan Bu Lestari. Dia bergegas membangunkan Tirta dan Danu.
"Ta, Dan! Cepet bangun! Kita harus sembunyi!" ujar Zara. Sesekali menengok ke arah pintu depan.
"Apaan sih, Ra? Gue masih ngantuk..." tanggap Danu yang merasa malas untuk bangun.
"Bu Lestari di sini!" Zara bersuara ke telinga Danu. Menyebabkan cowok itu langsung membuka lebar matanya. Hal serupa juga terjadi kepada Tirta, tepat ketika Zara berbisik ke kupingnya.
Zara, Tirta dan Danu cepat-cepat menjauh dari ruang tengah. Mereka memasuki ruangan yang ada di belakang. Untung saja Bu Lestari terlalu fokus dengan Gamal, jadi dia tidak sempat memergoki ketiga muridnya yang lain.
Sementara itu, Gamal dibantu Bu Lestari untuk berdiri. Kemudian didudukkan ke sofa. Bu Lestari menatap iba Gamal yang masih teler.
"Mal, kamu bisa bicara nggak? Ada yang ingin Ibu bicarakan," tutur Bu Lestari.
"Ah... gue lagi capek banget. Nanti aja deh..." lirih Gamal seraya menyandarkan kepala ke sandaran sofa.
"Ya udah kalau begitu." Bu Lestari paham betul kalau mabuk yang diderita Gamal cukup parah. Kini matanya memindai ke sekitar. Berharap menemukan seseorang selain Gamal. Ada satu hal yang menarik perhatian Bu Lestari, yaitu tas selempang yang tersampir di ujung sofa. Jelas tas tersebut adalah milik Zara.
Bu Lestari mengambil tas selempang yang dilihatnya. Membolak-baliknya, lalu memeriksa dalamnya.
'Tas ini tidak mungkin milik ibunya Gamal. Gayanya seperti tas yang sering dipakai anak-anak muda zaman sekarang,' batin Bu Lestari menduga. Akibat terlalu penasaran, dia akhirnya mengambil dompet yang ada di dalam tas. Benar saja, Bu Lestari dikejutkan dengan pemilik tas selempang. Dia tidak lain adalah Zara. Murid yang seharusnya dikeluarkan dari sekolah. Segala prasangka kembali bertebaran dalam benak Bu Lestari.
Sekali lagi Bu Lestari mengedarkan pandangan. Mencoba mencari pemilik tas. Nihil, dia tidak melihat siapapun selain Gamal. Bu Lestari tidak bisa menanggung resiko masuk ke rumah Gamal lebih dalam. Takut nanti dikira maling.
"Mal, ibu sama ayah kamu mana?" Bu Lestari kembali menanyai Gamal.
"Mereka mati!" jawab Gamal asal.
Bu Lestari sontak kaget. Dia tentu tidak mempercayai ucapan orang yang sedang mabuk.
Tidak lama kemudian, Bi Nur datang dari pasar. Dia langsung di ajak mengobrol oleh Bu Lestari.
"Ayah sama ibunya Gamal ada di rumah nggak, Bi?" tanya Bu Lestari.
"Nggak ada, Bu. Kebetulan mereka belum pulang. Katanya banyak pekerjaan yang harus di urus," sahut Bi Nur.
__ADS_1
Bu Lestari mengangguk lemah. Lalu melirik ke arah Gamal yang mungkin sudah tertidur. "Apa Gamal sudah sering begini, Bi?" ujarnya seraya menggerakkan bola mata ke arah Bi Nur.
"Em... nggak, Bu. Ini pertama kalinya Den Gamal begini. Mungkin karena bosan sendirian di rumah." Bi Nur memilih berbohong. Karena jika dia mengatakan yang sebenarnya, maka kemungkinan Gamal bisa dikeluarkan dari sekolah. Sehingga posisinya sebagai orang yang sempat bicara dengan Bu Lestari, pasti akan menanggung resiko.
"Ah... begitu. Apa Bi Nur bisa membuat makanan untuk menghilangkan pengar? Kalau tidak bisa, mungkin aku bisa bantu." Bu Lestari tersenyum tipis.
"Bisa kok. Ibu jangan khawatir, aku akan buatkan bubur sama teh hangat buat Den Gamal. Lagian Den Gamal pasti nggak mau ngerepotin Ibu," balas Bi Nur lembut.
"Ya sudah kalau begitu. Mungkin sebaiknya aku pulang saja." Bu Lestari mengencangkan tas ke bahu.
"Nggak mau minum dulu, Bu?" tawar Bi Nur.
"Nggak usah, Bi." Bu Lestari lantas pamit untuk pulang. Dia berjalan menunduk melewati pagar rumah Gamal.
Bu Lestari benar-benar miris saat mengetahui nasib Gamal. Kini dia tahu alasan dibalik sikap nakal anak didiknya tersebut. Ternyata semua karena kurangnya perhatian dari orang tua.
...***...
Setelah puas menangis, Raffi langsung mandi dan berganti pakaian. Lalu tidur sebentar untuk beristirahat. Dia tidak lupa membuka kunci pintu. Raffi sengaja melakukannya agar sang ibu dapat masuk ke kamarnya nanti.
Tiga jam berlalu. Seperti dugaan Raffi, Heni masuk ke kamar. Membawakan nampan berisi makanan.
"Aku tadi pagi cuman keluar sebentar, Mah. Ketemu Elsa sama Vina. Kami cuman bicarain masalah sekolah," terang Raffi.
Heni tersenyum tipis. "Mamah percaya kok. Tapi kenapa kamu nggak langsung jelasin sama Papah tadi?" tanggapnya sembari duduk ke ujung kasur.
"Tadi aku kebelet, Mah. Papah aja yang baper." Raffi mendengus kasar. Dia mengambil makanan yang dibawakan ibunya. Yaitu bubur ayam dengan balutan kerupuk.
"Kalau gitu, nanti kamu sebaiknya ngomong yang benar sama Papah. Nanti dia berprasangka buruk terus sama kamu, ya?" Heni mencoba bicara baik-baik.
"Mmmh!" Raffi hanya bergumam sambil menganggukkan kepala satu kali.
"Ya udah, habisin makanannya. Nanti piring sama gelas kotornya bawa ke dapur. Jangan kebiasaan suruh Mbok Asri terus!" ujar Heni. Dia segera keluar dari kamar.
Raffi mendengus lega. Dia bahkan menghabiskan bubur ayam pemberian Heni. Mungkin dirinya hanya perlu bersiap menghadapi sang ayah.
Pesan dari Gamal diterima oleh Raffi. Bukannya meminta maaf, cowok berambut cepak itu malah mengomel perihal ditinggalkan. Gamal tidak terima Raffi dan Elsa pulang lebih dulu dari klub malam.
Raffi berdecak kesal. Dia tentu tidak berminat membalas pesan Gamal. Cowok itu memilih tiduran kembali di kasur.
__ADS_1
Jarum di jam dinding Raffi terus bergerak maju. Hingga tidak terasa satu hari terlewati. Liburan telah berakhir. Seluruh murid diharuskan kembali bersekolah.
"Raf, gue duluan ya! Gue lupa kerjain PR Bu Rara!" Elsa keluar dari mobil lebih dulu. Dia langsung berlari laju dan menghilang ditelan jarak.
"Dasar itu anak! Begitu aja terus," komentar Raffi sembari turun dari mobil. Lalu melenggang menuju gerbang sekolah.
Seorang gadis berkepang dua terlihat berhenti di depan gerbang. Dia adalah Fitri. Gadis yang pernah ditemui Raffi saat liburan ke rumah nenek.
Fitri sepertinya merasa bersalah dengan apa yang dilakukannya terhadap Raffi. Jadi dia memberanikan diri untuk meminta maaf.
"Kak Raffi!" panggil Fitri. Ia tidak hanya berhasil membuat langkah kaki Raffi berhenti, namun juga para murid yang kebetulan lewat. Terutama para siswi yang sering meremehkan dan mambulinya. Mereka bahkan sudah saling berbisik untuk mengejek.
"Eh lihat, dia sekarang udah berani ngomong sama Kak Raffi."
"Belagu banget itu cewek. Udah lusuh, miskin lagi. Nggak ngaca dia. Pffft!"
"Gue pengen tahu, seberapa tebel itu topeng. Eh mukanya itu topeng nggak sih? ckckck..."
Fitri mencoba mengabaikan ejekan orang-orang di sekitar. Niatnya hanya ingin mengucapkan kata maaf, karena sudah meninggalkan Raffi di ladang jagung tempo hari.
"Kenapa, Fit?" tanya Raffi dengan dahi berkerut. Kebetulan suasana hatinya sedang buruk. Apalagi ketika mengingat dirinya harus bertemu dengan Gamal sebentar lagi.
"Anu, Kak... aku cuman..." Fitri menundukkan kepala. Seperti biasa, dia selalu merasa gugup kala berada di hadapan Raffi.
"Idih! Fitri. Berlagak banget sih. Lo pasti nggak punya kaca di rumah." Seorang siswi angkat suara untuk memberikan ejekan.
"Ya iyalah nggak punya. Gue yakin, cermin milik dia pasti cuman pecahan yang dipungut bapaknya di tempat sampah. Haha!" satu siswi lain ikut berujar.
"Cepat ngomong, Fit! Lo mau denger mereka buli elo terus?" timpal Raffi mendesak.
Fitri sibuk membisu. Ejekan yang diberikan orang-orang membuat keberaniannya habis.
"Aku mau--"
"Kelamaan lo!" potong Raffi sambil melingus pergi. Sebab dia menyaksikan Bu Lestari dari kejauhan. Raffi bertekad ingin melakukan sesuatu atas bantuan gurunya tersebut.
"Udah gue duga. Kak Raffi mana mau ngobrol sama cewek kayak lo!"
"Huuu..."
__ADS_1
Fitri yang ditinggal, harus kembali mendapat ejekan. Bahkan ada beberapa siswi yang mendorong kepalanya dengan kasar. Kemudian mentertawakannya.