Sisi Gelap Dunia Anak SMA

Sisi Gelap Dunia Anak SMA
Bab 54 - Balikan


__ADS_3

...༻☆༺...


"Oke.. gue--"


"Kak Elsa!" panggilan seseorang membuat perkataan Elsa terpotong. Raffi dan Elsa sontak menoleh ke orang yang memanggil. Dia tidak lain adalah Fahri.


Raffi langsung menarik Elsa mendekat. Lalu memeluk cewek itu tepat sebelum Fahri menghampiri.


Mata Elsa terbelalak. Terutama saat Raffi membawanya masuk ke dalam pelukan. Pemandangan tersebut ternyata tidak membuat Fahri menyerah. Dia terus melangkah maju.


Raffi yang mengetahui Fahri tetap mendekat, otomatis melepas pelukannya. Lalu memegangi wajah Elsa. Cowok itu langsung memadukan mulut dengan bibir Elsa.


Deg!


Jantung Elsa berdegub kencang. Dia yang masih sangat menyukai Raffi, tentu tidak mampu menolak. Elsa melupakan sosok Fahri dalam sekejap. Cinta membuatnya buta akan hati nurani.


Fahri yang menyaksikan segalanya, tahu harus berhenti. Jantungnya ikut berdebar. Persis seperti yang dirasakan Raffi dan Elsa. Akan tetapi dalam sudut pandang berbeda. Detak jantung Fahri berpacu karena rasa sakit. Ia lekas beranjak pergi. Melihat kedekatan Raffi dan Elsa terlalu lama, hanya akan membuat dadanya tambah sesak.


Selepas Fahri pergi, Raffi dan Elsa belum berhenti berciuman. Mereka terbuai akan rasa rindu dan gairah. Nafas keduanya perlahan mulai memburu. Mereka berciuman cukup lama.


"Ekhem!... Lihat! Sekarang siapa yang berbuat mesum di sekolahan." Teguran seseorang mengharuskan Raffi dan Elsa berhenti berciuman. Mata mereka sama-sama membulat. Kemudian menoleh ke arah orang yang menegur. Siapa lagi kalau bukan Gamal.


"Gila lo, Mal! Bikin jantungan aja!" tanggap Raffi sembari mengelus dada kirinya. Tepat di bagian jantungnya berada.


Gamal terkekeh seraya menyilangkan tangan di dada. Dia mengajak Elsa dan Raffi untuk makan siang. Kebetulan Gamal sudah berjanji akan mentraktir semua orang makan di restoran.


"Nggak perlu restoran nyokap gue-lah, Mal!" bujuk Raffi. Kemungkinan dia sudah bosan dengan hidangan yang ada di restoran milik sang ibu.


"Ya udah, kita makan di starbucks aja gimana?" Gamal menatap Raffi dengan sudut matanya. Tawaran cowok itu langsung disetujui oleh Raffi dan Elsa.


"Tunggu, Raf." Elsa memegangi tangan Raffi. Hingga sukses membuat Raffi menoleh.


"Gue mau bicarain tentang tadi. Gue pengen kejelasan!" Elsa memasang mimik wajah serius.

__ADS_1


"Bukannya udah jelas ya? Kalau gue tadi ngungkapin perasaan. Kita balikan lagi kan? Lo tadi juga nggak tolak ciuman gue." Raffi bicara ke salah satu telinga Elsa. Perbuatannya tersebut berhasil membuat Elsa merasa geli. Sebab hembusan nafas Raffi mengenai rambutnya, hingga rambut-rambut itu sedikit memberikan gelitikan ke leher Elsa.


"Idih! Jangan dekat-dekat. Geli tau..." Elsa tidak kuasa menahan rasa bahagianya. Dia tergelak kecil bersama Raffi.


Sekali lagi, Fahri harus melihat kebersamaan Raffi dan Elsa. Kini dia yang menggantikan posisi Raffi kemarin.


Fahri tidak punya pilihan selain mengalah. Apalagi saat dia membandingkan dirinya dengan sosok Raffi. Fahri bukanlah apa-apa. Ia hanya cowok culun yang kebetulan mendapat perhatian karena melakukan transformasi. Akhirnya besok Fahri memutuskan ingin kembali berpenampilan culun. Dia berniat mengenakan kacamatanya lagi.


Raffi tidak berhenti tersenyum lebar. Dia berjalan sambil berangkulan bersama Elsa. Keduanya banyak membicarakan perihal liburan.


Ketika semua orang sudah bubar, Zara justru baru saja datang. Dia terlihat sibuk mengatur nafas saat tiba di gerbang sekolah. Zara menyaksikan semua orang sudah beranjak menuju parkiran.


Kini Zara memutuskan untuk menemui Gamal. Dia hendak mengembalikan kartu debit milik cowok itu. Kebetulan sekali Zara berpapasan dengan Raffi dan Elsa.


"Eh, kalian lihat Gamal?" tanya Zara.


"Gamal? Gue rasa dia tadi ada deket toilet deh. Katanya ada panggilan alam," jawab Raffi sembari saling melepaskan rangkulan dengan Elsa.


"Oke, makasih." Zara melangkah cepat. Berniat menemui Gamal di dekat toilet.


Gamal dan Erin tampak sibuk berciuman. Zara dengan cepat berbalik badan. Kemudian memutuskan untuk pulang saja. Entah kenapa ada perasaan janggal di hatinya. Terutama ketika melihat Gamal bersama perempuan lain.


"Dasar playboy!" gumam Zara merutuk.


...***...


Semua orang sudah berada di parkiran. Hanya Gamal yang tidak kunjung muncul. Padahal dia adalah orang yang tadi mengajak untuk makan bersama.


"Nih anak kenapa akhir-akhir ini menghilang terus sih!" keluh Tirta yang sudah merasa terlalu lelah menunggu.


"Jangan-jangan dia begituan lagi sama Zara," imbuh Danu. Tepat bersamaan dengan ucapannya, Zara terlihat berjalan keluar gerbang sendirian.


"Tuh Zara! Dia nggak sama Gamal kok." Elsa menunjuk Zara dengan dagunya. Dia duduk di kap mobil bersama Raffi. Di bawah pohon rindang yang meneduhkan.

__ADS_1


"Tadi Gamal bilang ke gue. Kalau dia udahan sama Zara. Kayaknya omongan dia serius." Raffi berujar sambil menyaksikan kepergian Zara.


Raffi dan yang lain terdiam. Mereka tidak berkomentar apapun lagi setelah melihat Zara pergi menggunakan angkutan umum.


Beberapa saat kemudian, barulah Gamal muncul. Dia mengajak Erin ikut makan bersama. Raffi dan kawan-kawan hanya bisa geleng-geleng kepala melihat kelakuan Gamal. Mereka tak menyangka, Gamal bisa menemukan pengganti Zara semudah itu.


Roti dengan varian rasa menjadi menu makan siang Raffi dan kawan-kawan. Sekarang masing-masing dari mereka sudah memesan kopi starbucks. Sesekali mereka akan mengambil foto. Memamerkan kebersamaan di tempat makan ternama. Bagi mereka itu adalah hal keren.


"Eh, habis ini ke rumah Danu yuk. Rumah dia satu-satunya tempat yang nggak pernah kita kunjungi. Bisanya cuman lihat dari luar melulu," celetuk Gamal. Atensinya terpusat pada Danu yang tampak paling lahap menikmati makanan. Ia satu-satunya cowok yang dari tadi sibuk mengambil foto.


"A-apa? Ke rumah gue? Mau ngapain?" Danu sontak diserang rasa gugup.


"Ngapain kek. Guling-guling doang juga boleh," tanggap Tirta seraya menggerakkan kedua alisnya.


"Nggak sekarang kan? Habis ini gue ada acara keluarga," kata Danu. Dia lagi-lagi berbohong.


"Ya udah, besok aja gimana? Sekalian kita nyiapin properti buat mos nanti," seru Raffi. Berhasil membuat Danu langsung mengeluarkan keringat panas dingin.


"Be-besok? Tapi--"


"Aduh... alasan apa lagi, Dan. Pokoknya kali ini kami nggak terima!" Gamal memaksa. Raffi dan yang lain tentu menyetujui usulannya.


Danu terdiam seribu bahasa. Ekspresinya yang tadi ceria memudar dalam sekejap. Dia bingung harus mencari alasan lagi. Danu benar-benar terjebak dalam kebohongannya sendiri.


"Gue ke toilet dulu ya..." Danu bangkit dari tempat duduk. Dia ingin menenangkan diri untuk menjauh dari semua temannya.


"Elaah... nyetor juga lo di sini, Dan!" ejek Tirta. Lalu melanjutkan meminum es kopi dengan sedotan.


Danu berusaha bersikap santai. Kemudian melenggang menuju toilet. Di sana dia membasuh wajahnya beberapa kali. Mencoba mencari jalan keluar untuk membuat kebohongannya menjadi nyata.


Ceklek!


Seorang lelaki paruh baya baru memasuki toilet. Dia terlihat seperti tergesak-gesak. Lelaki paruh baya itu membersihkan noda saos yang ada di celana. Hingga mengharuskannya meletakkan tas dan mengeluarkan dompet ke wastafel. Lalu buang air kecil di salah satu urinoar.

__ADS_1


Ide buruk akhirnya terlintas dalam benak Danu. Yaitu mengambil kesempatan untuk mencuri uang milik sang lelaki paruh baya.


__ADS_2