Sisi Gelap Dunia Anak SMA

Sisi Gelap Dunia Anak SMA
Bab 105 - Cara Pak Ervan


__ADS_3

...༻☆༺...


Akibat ketahuan, Raffi dan kawan-kawan dibawa ke ruang BK. Di sana mereka disuruh duduk. Sementara Fahri terlihat sudah ditenangkan oleh Pak Ervan.


Fahri tidak dibawa ke UKS, karena dia terus menolak di obati. Toh keadaannya juga sehat terkendali.


"Fahri, kamu mau minum atau makan sesuatu?" tanya Pak Ervan.


Raffi, Gamal dan Tirta lantas merasa terabaikan. Namun itu tidak berlangsung lama, karena Pak Ervan juga menawarkan hal yang sama kepada mereka.


"Makasih, Pak. Tapi aku masih kenyang." Raffi menolak baik-baik.


"Aku juga..." Gamal dan Tirta sependapat dengan Raffi. Lagi pula siswa mana yang ingin berlama-lama berada di ruang BK. Fahri yang menjadi korban, bahkan ingin cepat-cepat pergi.


"Ah, kalian jangan bohong. Pas istirahat tadi kan udah jelas kalau kalian nggak di kantin. Bapak akan pesankan gorengan sama minuman. Es ya? Biasanya anak-anak kayak kalian suka es kan?" Pak Ervan benar-benar sosok yang tenang. Bukannya mengomel, dia justru bersikap friendly.


Pak Ervan memanggil tukang bersih yang kebetulan lewat. Dia menyuruh tukang bersih itu untuk membelikan gorengan dan minuman segar. Pak Ervan tetap bersikeras membelikan sesuatu kepada murid-muridnya.


"Bapak nggak akan marahin kita? Maki-maki kita gitu, kayak Bu Lestari?" timpal Gamal yang heran dengan sikap guru barunya.


Pak Ervan tergelak kecil dan membalas, "Aku masih baru di sini. Masa di hari pertama udah marah-marah, kan nggak baik."


Suasana hening menyelimuti. Pak Ervan memanfaatkan waktu tersebut untuk mengamati wajah-wajah siswanya.


"Coba kasih tahu, apa yang kalian lakukan di belakang sekolah tadi? Ceritakan dari awal mulanya," celetuk Pak Ervan. Sengaja memecah kesunyian.


"Bapak lihat seragam aku? Tadi Fahri yang bikin seragam aku kayak gini," cetus Gamal sembari memperlihatkan seragamnya yang kotor.


"Tapi aku kan nggak sengaja. Aku juga udah minta maaf berkali-kali. Tapi Kak Gamal malah seenak jidatnya nendang-nendang aku." Fahri yang tidak mau kalah, segera melakukan perlawanan.


"Apa? Ditendang?" Pak Ervan membulatkan mata. Dia tentu kaget dengan tingkat perundungan yang dilakukan oleh Gamal.


"Bacot lo ya! Lo juga tadi ngejek Raffi kan?!" sungut Gamal. Matanya menyalang lepas ke arah Fahri. Kebetulan Fahri satu-satunya orang yang duduk di seberang meja. Tidak begitu jauh dari posisi Pak Ervan.

__ADS_1


"Aku nggak ngejek kok. Itu kan emang fakta. Kak Raffi--"


"Diam lo ya! Jangan bawa-bawa nama cewek gue ke sini!" potong Raffi. Dia takut Fahri akan membeberkan apa yang sudah diketahuinya.


"Siapa yang mau nyebut nama cewek Kakak? Lagian kan hubungan kalian masih pacaran? Kalau Kakak udah nikahin, baru bisa disebut 'cewek gue' ke publik." Fahri sepertinya bertekad membangun benteng pertahanan yang kuat. Terlebih ada Pak Ervan yang mengamati.


Raffi mengeratkan rahang kesal. Kedua tangannya membentuk bogem secara bersamaan. Hingga membuat tubuhnya gemetar akibat amarah. Raffi sengaja menahan kekesalannya karena sadar sedang berada di ruang BK.


"Jadi kalian bully Fahri cuman karena masalah cewek? Begitu?" Pak Ervan menarik kesimpulan.


"Kalau aku sama Tirta enggak, Pak. Cuman Raffi sama Fahri kok. Gebetan mereka cewek yang sama. Tapi aku pastiin ke Bapak, kalau Fahri yang sejak awal mau rebut ceweknya Raffi." Gamal memberikan penjelasan.


Mendengar keterangan Gamal, Pak Ervan berusaha keras menahan tawa. Ketika orang dewasa mendengar anak remaja bicara serius tentang cinta, sungguh... itu adalah hal yang menggelikan.


Meskipun begitu, Pak Ervan lekas menggeleng untuk menyadarkan diri. Tidak lama kemudian, gorengan dan minuman segar pesanannya datang.


"Ayo isi perut kalian dulu." Pak Ervan mempersilahkan Raffi dan kawan-kawan menikmati sajian yang dibelikannya. "Kalau kalian nggak nyentuh makanan sama minumannya, sumpah... kalian jahat banget..." tambahnya, berupaya membujuk. Usahanya memang tidak sia-sia. Sebab Raffi, Gamal, dan Tirta, mulai menimati makanan dan minuman yang ada di meja. Hal serupa juga dilakukan Fahri. Dia justru menjadi orang yang paling banyak makan.


"Ngomong-ngomong, Bapak mau tanya. Gimana pendapat kalian tentang masa depan? Apa pernah terpikirkan dalam kepala gitu?" tanya Pak Ervan, setelah menelan kunyahan bakwan-nya.


"Kenapa?" tanya Pak Ervan.


"Ngerasa gitu aja." Tirta tentu enggan memberikan alasan. Apalagi sekarang dia sedang di masa-masa ketergantungan dengan obat-obatan.


"Tidak mungkin nggak ada alasan." Pak Ervan menuntut jawaban. Walau pelan tapi pasti, dia berusaha menguak masalah yang di alami anak didiknya.


Tirta hanya terdiam. Ia malu jika harus mengatakan yang sebenarnya. Perasaannya itu dapat dengan mudah dipahami oleh Pak Ervan.


"Kalau kamu malu, nanti bisa bicara sama Bapak empat mata. Oke? Masalah itu nggak bagus kalau dipendam sendirian," ujar Pak Ervan.


Raffi sontak menoleh. Dia nampaknya tertarik melakukan konseling dengan Pak Ervan. Mangingat guru barunya itu juga seorang lelaki. Raffi merasa akan lebih leluasa bercerita dibanding dengan Bu Lestari.


"Aku pengen jadi chef kalau udah dewasa nanti." Fahri tiba-tiba bersuara. Kini semua pasang mata tertuju ke arahnya.

__ADS_1


Raffi langsung mendelik. Bagaimana tidak? Fahri memiliki mimpi yang sama dengan Elsa.


"Idih! Sok-sokan banget," komentar Gamal sinis. Dia tidak suka dengan lagak Fahri.


"Gamal, jangan mematahkan semangat orang lain. Coba Bapak tanya sama kamu, kamu udah punya bayangan tidak sama masa depan? Kasih tahu Bapak cita-cita kamu apa?" Pak Ervan berusaha keras agar tidak terkesan seperti memarahi.


Gamal terhenyak. Dia tidak bisa menjawab pertanyaan Pak Ervan. Karena memang pada kenyataannya, dia tidak memiliki rencana apapun terhadap masa depannya. Sedangkan cita-cita yang seringkali disebutkannya saat perkenalan, hanya sebuah kata tak bermakna. Dia sering menyebut ingin menjadi polisi dan pengusaha. Tetapi itu tidak berarti apa-apa.


"Gamal?" Pak Ervan masih menunggu jawaban Gamal.


"Pengusaha aja. Mungkin nerusin usaha bokap." Gamal menjawab dengan asal. Terlihat dari eskpresinya yang lesu.


Pak Ervan menghela nafas berat. Dia dapat membaca masalah yang sedang disembunyikan oleh Gamal.


"Raffi?" Pak Ervan kini ingin jawaban dari Raffi.


"Astaga, Pak. Semua orang di sekolah ini tahu kalau cita-cita Raffi pengen jadi dokter," ungkap Tirta. Memberikan jawaban untuk Raffi.


"Gini, Pak. Aku pengen ngobrol empat mata sama Bapak aja," ucap Raffi seraya mengembangkan senyuman tipis.


Pak Ervan mendengus lega. Dia mampu menenangkan suasana hanya dalam hitungan menit. Selanjutnya, Pak Ervan menyuruh Raffi, Gamal, dan Tirta saling bermaafan dengan Fahri.


Satu per satu, Raffi dan kawan-kawan dipersilahkan keluar dari ruang BK. Sebelum pergi, Pak Ervan tidak lupa memberikan hukuman untuk mereka.


"Biar kalian sudah di kasih gorengan, bukan berarti Bapak membenarkan kelakuan kalian ya." Pak Ervan menggerakkan jari telunjuk ke depan wajah. "Bersihkan toilet dan sapu halaman sekolah, oke?" sambungnya, disertai senyuman tanpa dosa.


"Aku juga Pak?" Fahri yang merasa menjadi korban, memastikan.


"Kamu nggak usah. Kamu pergi ke UKS biar dapat pemeriksaan," saran Pak Ervan. Lalu kembali masuk ke ruang BK. Saat itulah Raffi mencegat kepergian Fahri.


"Kak Raffi masih belum kapok?" tukas Fahri.


"Diam lo! Gue cuman pengen ngomongin tentang Elsa. Pokoknya, lo jangan pernah coba-coba--"

__ADS_1


"Aku nggak bakalan kasih tahu ke siapa-siapa kok. Aku juga suka sama Kak Elsa, jadi nggak mungkin aku nyebarin berita buruk tentang dia!" tegas Fahri. Dia berbalik dan segera beranjak pergi.


"Belagu banget tuh anak!" geram Gamal.


__ADS_2