Sisi Gelap Dunia Anak SMA

Sisi Gelap Dunia Anak SMA
Bab 30 - Teman Makan Teman


__ADS_3

...༻☆༺...


Raffi mengedarkan pandangan ke sekitar. Dia heran kenapa semua orang malah sibuk tertawa. Bukankah sudah jelas kalau Fitri tadi menangis dan ketakutan?


"Nggak ada yang lucu!" pekik Raffi. Menyebabkan semua orang perlahan terdiam.


"Fitri emang biasanya gitu, Kak. Dia emang cengeng. Di kelas aja udah berapa kali nangis..." Siska menjawab dengan nada pelan.


Raffi melangkah ke hadapan Siska. Namun cewek itu justru tersipu malu sambil mengaitkan helaian rambut ke kuping.


"Dia nggak bakalan nangis kalau nggak ada yang ganggu," pungkas Raffi. Membuat Siska otomatis menundukkan kepala. Selanjutnya, Raffi melingus begitu saja untuk melangkah maju. Gamal lantas mengikuti dari belakang.


"Lo nggak bakalan nyari cewek cupu tadi kan?" tanya Gamal yang sudah memposisikan diri di sebelah Raffi.


"Kalau ketemu sih," sahut Raffi sembari celingukan ke berbagai arah.


"Saran gue nggak usah deh. Takutnya dia nanti malah tambah malu." Gamal mengungkapkan pendapatnya.


"Malu?" Raffi yang tak tahu banyak perihal perempuan, mengerutkan dahi.


"Si Fitri itu suka sama lo. Makanya dia ketakutan pas lo nanya baik-baik tadi. Mendingan kita langsung ke kelas aja!" Gamal merangkul Raffi untuk melangkah bersama. Alhasil Raffi ikut saja dengannya.


Saat melangkah memasuki kelas, Raffi dan Gamal langsung mendapat sorak sambutan dari semua orang. Awalnya mereka sama sekali tidak mengerti. Akan tetapi ketika menyaksikan keadaan meja, Raffi dan Gamal akhirnya paham alasan dibalik sorakan semua orang.


Raffi tercengang menyaksikan mejanya. Sebab meja maupun kursinya dipenuhi dengan hadiah valentine. Hal serupa juga didapatkan Gamal, namun jumlah yang dimilikinya tidak sebanyak Raffi.


"Kalian berdua selalu mecahin rekor tiap tahun," komentar Danu yang duduk tersandar di belakang.


"Raf, kalau isinya makanan. Bagi-bagi ke kita ya? yah?" cewek bernama Tya mendekat. Dia merupakan wakil ketua kelas dan cukup dekat dengan Raffi. Meskipun begitu, Tya dikabarkan diam-diam menyukai Gamal. Mungkin itulah alasan utama dirinya jarang mengajak Gamal bicara.


"Oke. Bentar ya," jawab Raffi santai. Dia masih berdiri menatap hadiah-hadiah yang memenuhi meja dan kursi. Akibat hadiah-hadiah tersebut, Raffi kesulitan untuk duduk.


"Mending buka satu per satu. Ambil yang berguna dan buang yang nggak guna," imbuh Gamal. Ia terlihat sudah membuka hadiah-hadiah yang didapatnya.


"Sadis banget lo! Harusnya lo bersyukur karena udah dapat banyak kasih sayang dari orang." Tirta menanggapi seruan Gamal.

__ADS_1


"Sini kita bantuin!"


"Eh, gue juga mau bantu."


"Kami juga mau bantu!"


Tawaran bantuan yang di awali oleh Danu, justru menular kepada teman-teman yang lain. Mereka membantu Raffi dan Gamal yang kebetulan mendapatkan hadiah terbanyak.


"Raf, ada cokelat silver queen gede nih. Buat kami ya," ujar Tya.


"Ambil gih!" jawab Raffi tenang. Dia sebenarnya sama sekali tidak peduli dengan isi hadiah-hadiah yang didapatnya. Raffi hanya bermaksud menghargai. Ia berpikir, jika itu makanan sejenis cokelat memang sepantasnya diberikan saja kepada orang. Sedangkan berupa barang, Raffi akan membawanya pulang.


Andai sudah dibawa pulang. Raffi hanya menyimpan yang berguna. Seperti yang dikatakan Gamal, dia juga akan membuang barang tak berguna. Apalagi berupa surat emosional atau puisi cinta yang menurutnya sangat norak.


"Eh, lihat! Ini hadiah paling mungil. Gue jadi--" ucapan Tya terpotong saat hadiahnya tiba-tiba direbut oleh Ratna.


"Apaan sih lo! Gue kan mau bantuin Raffi doang," ungkap Tya dengan dahi berkerut.


"Buka hadiah lain aja!" titah Ratna seraya menyembunyikan hadiah mungil ke balik punggung.


Mata Ratna sontak membelalak. Cewek itu merasa tertangkap basah. Pipinya langsung memerah bak sebuah tomat matang.


"Gila! Kayaknya tebakan lo bener, Dan." Gamal menyetujui pendapat Danu. Akibat persetujuannya, sekarang semua pasang mata tertuju ke arah Ratna.


Ratna mencoba tak peduli. Dia menatap Raffi dan berucap, "Gue mau ngomong sama lo empat mata."


"Cieeee..."


"Wah... Ratna lo keren banget sumpah."


Beberapa teman sekelas merespon ucapan Ratna dengan histeris. Terutama Tya, yang sangat mudah sekali terbawa suasana.


Tap!


Tap!

__ADS_1


Tap!


"Raffi!" panggil Elsa. Dia menghentikan larinya ketika telah memasuki kelas.


Semua orang seketika terdiam. Termasuk Tya yang paling cerewet. Entah kenapa suasana mendadak menjadi canggung. Apalagi setelah Ratna baru saja mengajak Raffi bicara empat mata.


"Awkward..." lirih Danu. Bola matanya melirik Raffi, Ratna dan Elsa secara bergantian.


Walau semua orang tidak tahu hubungan Raffi dan Elsa. Namun segalanya tetap saja terasa canggung. Sebab di sini posisi Ratna merupakan sahabat baik Elsa. Sebenarnya karena Elsa-lah Ratna bisa lebih dekat dengan Raffi. Jadi kemungkinan semua orang beranggapan, Elsa akan kecewa jika mendengar Ratna diam-diam menyukai Raffi. Persahabatan yang dijalin mereka terkesan dilakukan karena niat terselubung Ratna.


"Hai, El." Gamal menyapa Elsa lebih dulu. "Raffi mau ngomong berdua sama Ratna katanya. Mending lo duduk di sebelah gue nih," ajaknya sembari menarik kursi untuk Elsa. Membuat mata Raffi sontak mendelik kesal. Pesan chat yang pernah dikirim Gamal kepada Elsa, langsung muncul dalam ingatan. Kenapa bisa-bisanya dia melupakan hal itu?


"Hah?" Elsa kebingungan. Bukan karena ajakan Gamal, melainkan mengenai sesi pembicaraan empat mata Raffi dan Ratna. Atensinya perlahan tertuju ke hadiah mungil yang ada di tangan Ratna. Elsa menatap nanar cewek itu. Dia sekarang dapat menyimpulkan.


"Ya udah. Bicara di belakang sekolah aja tuh. Di sana agak sepi. Kalau perlu ke gudang sekalian!" ucap Elsa seraya duduk ke kursi yang telah disediakan Gamal. Dia menambahkan senyuman. Seolah bersikap biasa-biasa saja.


Satu-satunya orang yang bahagia dengan suasana canggung itu adalah Gamal. Dia selalu menantikan hubungan renggang Raffi dan Elsa.


"Ya udah, lo udah dapat restu dari Elsa tuh, Na!" sahut Tya. Dia dan yang lain merasa suasana canggung mereda, karena Elsa bertingkah santai saja.


Padahal dari lubuk hati yang terdalam. Elsa sangat ingin memarahi Ratna habis-habisan. Tetapi akibat pikiran logisnya, Elsa menahan semua itu. Tidak ada gunanya dia marah.


Mungkin Elsa menahan cemburunya, tetapi tidak untuk Raffi. Dia memaksa Gamal bangkit dari tempat duduk.


"Apaan sih. Ratna nungguin lo tuh!" Gamal menunjuk Ratna dengan dagunya.


Raffi yang sempat melupakan ajakan Ratna, akhirnya menatap cewek itu. Dia berujar, "Sorry, Na. Lo bisa ngomong di sini aja nggak? Gue baru dateng dan malas keluar kelas."


Pupil mata Ratna bergetar. Dia tidak menyangka Raffi nekat memberikan saran begitu. Kini Ratna lagi-lagi menjadi pusat perhatian. Cewek itu akhirnya memilih untuk berkilah.


Ratna memecahkan tawa hambar. Satu tangannya menutupi area mulut. "Gue bercanda kok. Hehehe... Sebenarnya hadiah ini bukan buat lo. Makanya gue mau ngomong empat mata. Soalnya nanti kalau gue bilang ini bukan buat lo, kan bikin malu..."


"Ya ampun, kenapa baru bilang sekarang coba!" tukas Raffi seraya mendengus lega.


"Kalian nggak kasih gue kesempatan ngomong sih!" Ratna menyalahkan semua teman-temannya. Dia bertingkah seakan tidak sakit hati. Semua orang otomatis berseru kesal. Mereka menimpali Ratna dengan sorakan.

__ADS_1


__ADS_2