Sisi Gelap Dunia Anak SMA

Sisi Gelap Dunia Anak SMA
Bab 53 - Rapat Osis


__ADS_3

...༻☆༺...


Raffi tak peduli. Ia tetap bersikukuh menghampiri Zara. Raffi berhenti tepat ke hadapan Zara.


"Sini gue lihat!" Raffi memaksa Zara memperlihatkan pipi bekas tamparan Gamal. Memastikan cewek itu tidak terluka.


Zara menghempaskan tangan Raffi. Dia menutup wajahnya rapat-rapat dengan tangan. Kemudian berjongkok agar bisa lebih leluasa menangis.


Rasa iba Raffi kembali lagi. Meski sudah menganggap Zara perempuan nakal, dia merasa Zara tidak pantas diperlakukan kasar. Perlahan Raffi ikut berjongkok dan melihat keadaan Zara kembali. Sekarang dia melakukannya lebih lembut dari sebelumnya.


Zara akhirnya bersedia memperlihatkan wajahnya. Rupa cewek itu tampak sembab. Salah satu pipinya agak memerah akibat tamparan Gamal.


"Dan, ambilin tisu gih!" perintah Raffi.


Dengan terpaksa, Danu melangkah berat untuk mengambilkan tisu. Bukannya memberikan langsung ke Zara, dia justru menyodorkannya kepada Raffi.


"Kenapa kasih ke gue sih! Kan Zara yang butuh. Kalian itu nggak punya hati nurani ya?" tukas Raffi dengan dahi berkerut. Ia mengambil tisu dengan kasar dari genggaman Danu.


"Cewek kayak dia nggak butuh di kasih hati, Raf. Kan perbuatan begitu udah jadi pilihan hidupnya!" Danu mengungkapkan pendapat.


Raffi tercengang. Dia baru saja memberikan Zara beberapa lembar tisu. Lalu berdiri untuk menegaskan, "Oh... jadi menurut lo, Zara nggak punya hati? Kalian pikir dia barang yang bisa digunakan setiap saat?"


"Dia emang begitu!" Tirta sependapat dengan Danu. Keduanya berupaya menjauh dari posisi Zara.


Raffi menghentakkan salah satu kakinya. Dia memperhatikan Zara kembali. Cewek itu terlihat belum menggunakan tisu yang diberikan Raffi. Alhasil Raffi turun tangan dan mengusapkannya untuk Zara.


Gamal tampak baru saja keluar. Langkahnya terhenti ketika menyaksikan perlakuan Raffi kepada Zara. Tanpa pikir panjang, Gamal langsung memaksa Raffi menjauhi Zara.


"Biar gue yang urus dia! Pergi lo!" Gamal menyalangkan mata. Untuk pertama kalinya dia memarahi Raffi.


"Urus? Bukannya lo tadi tampar muka dia?!" Raffi tak mau kalah.

__ADS_1


"Nggak usah sok peduli sama Zara. Kalau lo peduli, mendingan lo pacarin aja dia!" ujar Gamal, yang diteruskan dengan menarik sudut bibirnya ke atas. Dia menatap remeh. "Lo pasti nggak mau kan punya pacar kayak Zara? Apalagi kan lo anak baik. Gue yakin, nyentuh Zara pun lo nggak minat!" pungkasnya.


Raffi membuang muka. Perkataan Gamal sukses membuatnya tertohok. Jujur saja, cowok mana di dunia ini yang mau menerima perempuan nakal sebagai pendamping hidup? Nyaris tidak ada.


"Udah sana!" usir Gamal.


Raffi tidak mampu berkata-kata. Dia memilih masuk ke mobil. Berniat untuk pulang saja. Danu dan Tirta lantas tidak punya pilihan selain mengikuti.


Gamal menatap Zara. Dia memaksa cewek itu berdiri. Lalu memeluknya. Lama-kelamaan dekapannya begitu erat, sampai Zara kesulitan bernafas.


"Mal..." Zara menepuk pundak Gamal, agar cowok itu segera melepaskan pelukan.


"Lo tadi cuman akting kan?" Gamal akhirnya melepas pelukannya. Ia mendorong Zara jauh-jauh.


Zara menatap kesal Gamal. Sebab tadi dia sama sekali tidak berpura-pura. Zara menangis karena Gamal tega menamparnya.


"Ini terakhir kalinya kita berhubungan ya! Gue nggak mau lagi deket sama lo!" tegas Zara.


"Oke. Sebelum itu, gue bakal bayar janji gue." Gamal merogoh saku celana. Dari sana dia mengeluarkan sebuah dompet. Lalu mengambil sebuah kartu debit. "Nih! Kembaliin ke gue kalau udah selesai! Puas lo!" ucapnya sambil melempar kartu debit ke wajah Zara.


Gamal menatap punggung Zara yang kian menjauh. Entah kenapa dia merasa berat melepas kepergian cewek itu. Namun hal tersebut tidak cukup lama berselang.


"Ngapain gue peduli sih?" Gamal menggeleng untuk menyadarkan diri.


...***...


Hari dilaksanakannya rapat osis tiba. Seluruh anggota sudah berkumpul di ruangan. Mereka diperbolehkan mengenakan pakaian bebas, karena kebetulan sedang tidak melakukan kegiatan sekolah.


Raffi terlihat berdiri di dekat pintu. Ia menanti kedatangan Elsa. Sebab saat hendak menjemput tadi, Elsa ternyata sudah lebih dulu berangkat. Tetapi ketika sudah sampai di sekolah, Raffi tidak melihat sedikit pun batang hidung Elsa.


Mendadak terlintas dalam pikiran Raffi tentang suatu hal. Yaitu mengenai apa yang pernah dilakukannya dengan Elsa saat berpacaran. Dari mulai berciuman sampai ke tahap yang lebih intim.

__ADS_1


'Gimana kalau Elsa juga begitu sama Fahri?' batin Raffi menduga. Dia menggigit bibir bawahnya akibat merasa gelisah.


Dari kejauhan, Raffi dapat melihat Gamal. Keduanya reflek saling bertukar pandang. Gamal tersenyum dan bergegas menghampiri Raffi.


"Sorry ya, yang kemarin. Gue lagi sebel banget sama Zara. Jadi ke bawa-bawa," imbuh Gamal sembari melingkarkan tangan ke pundak Raffi.


"Gue juga minta maaf. Tapi lo harusnya jaga sikap, Mal. Gue cuman kasihan aja sama Zara," ungkap Raffi.


"Lo nggak perlu khawatir. Gue sama Zara nggak bakal berhubungan lagi!" terang Gamal. Dia dan Raffi melenggang masuk ke dalam ruangan.


Karena anggota inti sudah datang, rapat osis di mulai. Saat itulah Elsa baru datang bersama Fahri. Keduanya duduk bersebelahan.


Kebetulan sekali, posisi duduk Elsa berhadapan dengan Raffi. Namun Elsa berusaha mengalihkan pandangan. Terutama kala Raffi terus memandanginya dengan serius.


Berdasarkan catatan yang ditulis Raffi, Gamal mampu memimpin rapat dengan baik. Dia memberitahukan kegiatan apa saja yang harus dilakukan saat mos nanti.


"Gimana? Kalian setuju bukan?" tanya Gamal seraya menatap satu per satu anggota osis yang berhadir. Hingga dia menemukan satu hal, Zara tidak terlihat menghadiri rapat. Hal itu membuat Gamal melamun sejenak. Namun Gamal harus berhenti termangu ketika Raffi tiba-tiba menyenggol.


"Tanya semua orang, punya masukan baru atau tidak..." bisik Raffi memberitahu. Gamal lantas mengangguk dan langsung melakukan saran Raffi.


Rapat memakan waktu hampir dua jam. Semua anggota kini tinggal membagi tugas sesuai jabatannya masing-masing. Selanjutnya, barulah mereka diperbolehkan pulang.


Raffi diam-diam mengikuti Elsa. Cewek itu kebetulan melangkah sendirian menuju toilet. Dengan cepat Raffi menarik tangannya. Lalu membawa Elsa ke tempat yang jauh dari keramaian. Entah kenapa mereka selalu menjadikan belakang sekolah sebagai lokasi favorit.


"Raf, gue kebelet pipis tahu!" keluh Elsa yang tak terima dibawa paksa oleh Raffi. Dalam hatinya sebenarnya merasa senang.


"Lo kenapa sih menghindar terus? Kalau gue ada salah, gue minta maaf deh..." ujar Raffi. Dia berbalik menghadap Elsa.


"Tapi lo sadar kan apa kesalahannya?" Elsa melipat tangan di depan dada.


"Karena gue egois mungkin... tiba-tiba putusin elo..." lirih Raffi. Dia membuang egonya agar Elsa tidak kelain hati.

__ADS_1


"Iya! Gue sampai nangis tahu!" Elsa memukul dada Raffi cukup kuat. Namun Raffi tidak bergeming.


"Lo maafin gue kan?" Raffi memegangi kedua tangan Elsa. Menatap lekat cewek itu.


__ADS_2