
...༻☆༺...
Langkah kaki Raffi terhenti, saat mendengar sorakan dari belakang. Dia menoleh dan sukses memergoki Fitri mendapatkan dorongan di kepala.
Raffi segera menghentikan pergerakan tiga siswi yang sudah mendorong kasar kepala Fitri. Mereka ternyata tidak lain teman sekelas Fitri sendiri. Orang-orang yang tidak pernah absen melakukan perundungan terhadap Fitri.
"Berhenti kalian!" sergah Raffi. Menyebabkan tiga sisiwi yang bernama Lia, Desi dan Sela itu berhenti melangkah.
"Kenapa, Kak?" tanya Lia sembari menatap kedua temannya secara bergantian. Mereka terheran ketika melihat ada semburat kemarahan di wajah Raffi.
"Kalian bertiga ikut gue! Lo juga, Fit!" titah Raffi. Lalu memimpin jalan lebih dulu.
Lia, Desi, dan Sela terpaksa mengekori. Hal yang sama juga dilakukan Fitri. Cewek itu berjalan di posisi paling belakang.
Raffi mendatangi ruang BK. Bersamaan dengan ke-empat siswi yang tadi dipaksanya untuk ikut.
"Kak Raffi kenapa bawa kita ke ruang BK? Kami salah apa?" timpal Desi tak terima. Dia melirik sinis ke arah Fitri.
"Iya, kami nggak ada salah apa-apa kok." Sela sependapat dengan Desi.
"Bacot kalian! Nggak usah pura-pura ya. Semua orang pasti sering lihat kalian ngebuli Fitri," balas Raffi. Menatap jengah ketiga adik kelasnya.
"Oh karena itu ya, Kak. Kami cuman bercanda kok. Aku yakin Fitri juga pasti mikirnya gitu. Iyakan, Fit?" ujar Lia yang diakhiri dengan melemparkan pertanyaan kepada Fitri.
Lagi-lagi Fitri hanya diam dan menunduk. Kedua tangannya sibuk memainkan jari-jemari tanpa alasan. Fitri tidak tahu harus bagaimana. Ia merasa semuanya serba salah.
Menyaksikan bungkamnya Fitri, Raffi mendengus kasar. Kemudian menarik cewek itu untuk mendekat.
"Fit, ngomong dong! Gue di sini berusaha bantuin elo!" tukas Raffi. Kedua alisnya hampir bertautan. Memandang tajam cewek yang sedari tadi membisu.
"Maaf, Kak..." lirih Fitri dengan suara yang begitu pelan.
Desi, Lia, dan Sela diam-diam mengikik bersama. Mereka memanfaatkan sikap polos dan baik dari Fitri.
"Fitri emang gitu, Kak. Dia emang susah kalau diajak ngomong!" seru Sela sembari melipat tangan di depan dada.
"Woy, minyak jelantah! Mulut itu dipakai buat ngomong!" geram Desi yang kesal melihat Fitri tidak kunjung bicara.
__ADS_1
Raffi segera mengalihkan pandangan ke arah Desi. "Gimana Fitri mau ngomong kalau kalian ngehina begitu?! Itu termasuk buli loh!" geramnya.
Bu Lestari baru saja datang. Ia kembali ke ruangannya setelah sibuk berada di ruang guru. Bu Lestari sontak kaget menyaksikan Raffi dan empat murid perempuan saling berdebat.
"Ada apa ini?!" tanya Bu Lestari. Menatap satu per satu semua anak didiknya.
"Tiga murid kelas sepuluh ini hobinya buli orang, Bu. Makanya aku bawa ke sini. Nih namanya Fitri, siswi yang sering jadi korban mereka." Raffi memberitahukan semuanya.
Desi, Lia, dan Sela tentu tidak terima. Mereka masih saja melakukan pembelaan. Sedangkan Fitri masih saja tenggelam dalam sepi. Membuat Raffi semakin malas berurusan dengannya. Cowok itu akhirnya menyerahkan urusan kepada Bu Lestari.
"Makasih ya, Raf. Kamu bisa kembali ke kelas," saran Bu Lestari seraya duduk ke kursi.
"Bu, kami itu cuman bercanda doang sama Fitri."
"Iya, betul banget. Fitri aja nggak ada protes tuh."
"Kalau kami buli, harusnya ada bukti kan ya. Kayak luka terus memar gitu. Ini mana ada. Coba Ibu periksa badannya Fitri. Dia sehat-sehat aja kok."
Sebelum beranjak, Raffi sempat mendengar beragam alasan yang dikatakan Desi dan kawan-kawan. Dia hanya bisa menghela nafas panjang. Lalu melenggang menuju kelas.
Setibanya di kelas, sosok Gamal, Tirta, dan Danu langsung menyambut. Tetapi Raffi justru memilih kursi paling depan untuk diduduki.
"Raf, lo kenapa duduk di kursi gue?" timpal Ratna yang merupakan pemilik kursi.
"Sekali ini aja ya, Na. Plis..." mohon Raffi. Dia malas menyebutkan alasan dibalik tindakannya.
"Ya udah. Tapi istirahat nanti traktir gue makan ya?" tanggap Ratna sembari tersenyum tipis.
"Oke, gue nanti bakalan ajak Elsa juga." Raffi mengangguk setuju.
Mendengar nama Elsa disebut, senyuman Ratna seketika memudar. Dia kesal, kenapa Elsa selalu saja menjadi penghalang usahanya untuk berdekatan dengan Raffi. Cewek itu lantas mengambil tas. Kemudian duduk di tempat Raffi sebelumnya.
Gamal, Danu, dan Tirta, sedari tadi mengamati Raffi. Raut wajah mereka tampak serius. Sesekali ketiganya akan saling membisikkan sesuatu.
"Biar gue yang ngomong!" Gamal yang sejak tadi duduk di atas meja, turun demi menghampiri Raffi.
"Raf, gue mau ngomong sama lo." Gamal sudah berdiri di sebelah Raffi. Memasukkan dua tangan ke saku celana.
__ADS_1
"Ngomong aja, kuping gue selalu aktif kok." Raffi membalas sambil sibuk membuka buku pelajaran.
"Lo kan yang ngadu sama Bu Lestari tentang apa yang gue lakuin di klub malam?" Gamal bertanya dengan nada pelan. Matanya mendelik tajam.
"Hah? Lo ngomong apaan?" Raffi otomatis tidak mengerti. Dia tidak tahu apa-apa perihal kedatangan Bu Lestari ke rumah Gamal.
Bruk!
"Tega lo ya!" sungut Gamal. Dia menggeplak meja dengan keras. Hingga mengeluarkan suara berdebam yang menarik perhatian. Seluruh atensi murid di dalam kelas langsung tertuju kepadanya.
Raffi menghempaskan bukunya ke meja. Lalu berdiri. Membalas tatapan tajam Gamal tanpa rasa takut.
"Jadi lo marah sama gue?! Bukannya harusnya gue ya yang marah?! Kalau punya otak itu dipakai dong, jangan ditaruh di dengkul!" balas Raffi. Kini dia dan Gamal berdiri saling berhadapan.
Gamal menganga tak percaya dengan sarkas yang diberikan Raffi. Ia tentu merasa tersinggung. "Oh...jadi secara nggak langsung, lo bilang gue goblok, gitu?!" sahutnya.
"Iya, lo emang goblok! Tanya aja satu sekolah mereka pasti tahu!" jawab Raffi seraya membuang muka tak acuh.
Buk!
Gamal langsung melayangkan sebuah tinju ke wajah Raffi. Serangannya yang tiba-tiba membuat semua orang panik dan berusaha menghentikan. Namun tidak ada satu pun yang berhasil. Apalagi saat melihat Raffi juga melakukan perlawanan.
Raffi mencengkeram erat kerah baju Gamal. Kemudian mendorong sekuat tenaga. Gamal otomatis terhuyung ke belakang. Punggungnya menabrak meja dan kursi.
Raffi yang merasa belum puas memberikan pelajaran, berniat kembali memukuli Gamal. Akan tetapi Tirta dan Danu segera mencegah.
"Udah, Raf. Nanti malah makin ribut. Urusan kalian bisa dipindah ke ruang BK." Tirta memegangi lengan Raffi. Dia tidak tahu Gamal sudah berdiri dan langsung menarik kerah baju Raffi.
Perkelahian berlanjut. Raffi dan Gamal berkelahi sampai telentang di lantai. Mereka saling bergantian memukuli.
Akibat kondisi bertambah parah, salah satu murid tidak punya pilihan selain melapor kepada guru. Pak Darto menjadi orang pertama yang datang. Dia bekerjasama dengan beberapa siswa untuk memisahkan Raffi dan Gamal.
Tidak lama kemudian, Bu Lestari muncul. Kebetulan dia tidak sendiri. Di belakangnya ada dua lelaki yang berasal dari aparat kepolisian.
Gamal dan Raffi membelalakkan mata bersamaan. Hal serupa juga dilakukan oleh Danu dan Tirta. Sebagai orang yang menyadari kesalahan, mereka tahu bahwasanya insiden di klub malam termasuk hal ilegal untuk dilakukan. Mereka tentu bertanya-tanya mengenai alasan dibalik kedatangan para polisi.
Sementara Bu Lestari, reflek membekap mulutnya sendiri. Matanya perlahan berkaca-kaca. Dia miris saat mengetahui apa yang dilakukan anak didiknya. Bu Lestari merasa gagal menjadi seorang guru yang baik.
__ADS_1