
...༻☆༺...
"Gimana kalau kita kasih tahu mereka tentang hubungan kita?" usul Raffi. Membuat Elsa langsung melepaskan genggaman tangannya.
"Enggak! Gue masih belum siap!" tegas Elsa. Kedua tangannya berpegangan ke ransel yang melingkar di bahu.
"Mau sampai kapan kita mau sembunyi terus?" Raffi menatap malas Elsa.
"Gue nggak tahu..." Elsa menggeleng lemah. Dia beserta Raffi akhirnya melenggang bersama untuk menghampiri Heni dan Fajar.
"Raffi! Kamu masuk ke rumah! Kita akan bicarakan semuanya, oke?!" pungkas Heni seraya mencoba mengajak Raffi pulang.
"Enggak, Mah. Ngomong di sini aja!" balas Raffi. Dia menatap Heni dan Fajar secara bergantian.
"Elsa! Cepat masuk!" titah Fajar dengan keadaan mata yang menyalang. Tidak memperdulikan imbuhan Raffi.
Elsa mendengus kasar. Dia sempat bertukar pandang dengan Raffi. Lalu barulah melangkah ke arah dimana pamannya sedang berdiri.
Belum sempat masuk, Raffi berlari ke hadapan Fajar. Dia berkata, "Om, jangan marahin Elsa. Akulah yang maksa dia untuk ikut jalan-jalan seharian. Kalau Om mau marah, marahin aku aja!"
"Raffi!" panggil Heni. Dia tentu tidak suka mendengar sang putra berucap begitu. Namun Raffi sekali lagi tidak hirau. Dia hanya berusaha melindungi Elsa dari amarah Fajar.
"Kamu sebaiknya pulang." Fajar menjawab dengan nada datar. Dia menyuruh Elsa masuk, kemudian segera menutup pintu.
Sekarang Raffi tidak punya pilihan lain selain mengikuti ibunya. Ia berjalan dengan gontai. Seolah membawa batu besi di kedua kaki.
Saat sudah masuk ke rumah, Heni langsung mengajak bicara empat mata. Dia dan Raffi duduk di sofa ruang tamu.
"Bu Lestari selalu kasih tahu Mamah, kalau kamu nggak masuk sekolah. Jadi Mamah tahu kalau kamu membolos hari ini." Heni menatap tajam Raffi.
"Semuanya kan gara-gara Mamah dan Papah. Gimana aku bisa fokus belajar, kalau dengar kalian bertengkar terus tiap hari?" sahut Raffi secara gamblang. Mimik wajahnya cenderung menunjukan tidak kepedulian.
Heni benar-benar dibuat geram terhadap sikap Raffi. Kedua tangannya mengepal erat karena merasa saking kesalnya.
"Kasih tahu, Mamah! Apa yang kamu lakukan selama seharian ini?!" tanya Heni. Matanya terlihat bergetar.
"Cuman ke rumah teman kok. Mamah nggak usah khawatir, aku nggak ngelakuin hal buruk." Raffi bangkit dari tempat duduk. Dia tidak berniat meneruskan pembicaraan.
__ADS_1
"Raffi!" Heni ikut berdiri, dan mencegat pergerakan Raffi. Saat itulah dia dapat mencium bau rokok yang kuat dari pakaian sang putra.
"Astaga... kamu ngerokok?!" Heni membekap mulutnya. Kepalanya menggeleng berulangkali. Pertanda bahwa dia sedang mencoba menepis kenyataan. Kecewa, Heni sangat kecewa.
"Ini yang terakhir kok, Mah." Raffi menjawab tanpa menatap sang ibu. Rasa bersalah tentu menghujam perasaannya.
Heni justru memecahkan tangis. Wanita itu melepaskan Raffi, lalu kembali duduk. Di sana Heni menangis sambil menutupi wajahnya.
Raffi yang tadinya hendak ke kamar, membatalkan niat. Dia berjalan menghampiri sang ibu.
"Mah... ceritain ke aku apa yang terjadi sama Papah?" tanya Raffi lembut. Ia duduk tepat di sebelah Heni.
"Masuk ke kamar kamu!" Heni tidak menjawab pertanyaan Raffi. Dia bangkit dari tempat duduk dan melingus masuk ke dalam kamar.
Raffi tertegun saat dirinya ditinggal sendirian. Padahal tadi dia sempat melunak. Akan tetapi Heni terlanjur marah. Parahnya saat waktu menunjukkan jam 07.10, Heni pergi entah kemana.
Kebetulan Raffi baru mengetahui kepergian ibunya ketika ingin makan malam. Dia berakhir makan dengan hanya ditemani oleh Mbok Asri.
Sementara itu, Elsa. Dia diomeli habis-habisan oleh Fajar. Apalagi Vina yang sudah terlanjur menaruh kebencian, terus saja memanas-manasi Fajar untuk memarahi Elsa.
"Kak Elsa pacaran, Pah. Makanya mulai nggak terkendali kelakuannya," adu Vina untuk yang kesekian kalinya. Meskipun begitu, dia tidak menyebut nama Raffi, karena Vina masih menaruh rasa kepada cowok itu.
"Kenapa Kak?! Mau marah sama aku?! Aku ngomong jujur kok! Kak Elsa di sekolah pacaran kan?! Karena itulah nilai-nilai Kakak semakin anjlok." Vina tetap melakukan pengaduan.
"Apa?! Nilai kamu anjlok? Separah apa, hah?!" Fajar menuntut jawaban dari Elsa.
"Astaga, Elsa... kamu makin hari kenapa jadi tambah bobrok sih?" Risna yang sejak awal mendengar semuanya, berkomentar.
Elsa sangat tertohok. Hingga cairan bening meluruh dari matanya. Tanpa mengatakan sepatah kata pun, Elsa berlari memasuki kamar.
"Elsa! Paman belum selesai ngomong!!" seru Fajar sembari bergegas mengikuti. Dia terhenti tepat di depan pintu kamar Elsa. Mengetuk beberapa kali, dan melantunkan berbagai ancaman.
Elsa tidak hanya mendapat pengurangan uang jajan, tetapi juga diharuskan pulang pergi ke sekolah bersama Vina. Selain itu, Elsa tidak di izinkan lagi mendatangi rumah Raffi sendirian.
Kini Elsa menangis sambil meringkuk di kasur. Mulai hari itu, pertemuannya dengan Raffi semakin terbatas. Terutama saat berada di rumah.
Raffi paham betul apa yang sedang di alami Elsa. Dia yakin cewek itu mendapatkan hukuman dari Fajar.
__ADS_1
...***...
Tiga hari berlalu, Elsa selalu pergi bersepeda bersama Vina. Namun sekarang Elsa sendirian. Kebetulan dia bangun lebih telat dibandingkan Vina.
Raffi yang sejak awal menunggu, mengikuti dari belakang dengan mobil.
"Lo duluan aja!" ujar Elsa, yang tahu kalau mobil Raffi mengekori dari belakang. Perlahan cowok itu menyamakan kelajuan dengan pergerakan sepeda Elsa. Lalu menbuka kaca jendela mobil.
"Ikut gue! Ini udah telat. Masalah sepeda lo, taruh aja di kursi belakang!" seru Raffi.
Awalnya Elsa mencoba mengabaikan. Tetapi karena Raffi terus memaksa, Elsa lantas menurut saja. Kini dia sudah berada di mobil Raffi.
"El, gue minta maaf banget. Semuanya gara-gara gue..." Raffi meminta maaf untuk yang kesekian kalinya.
Elsa justru terkekeh. "Ya ampun, udah berapa kali sih lo minta maaf? Lagian gue nggak bakalan mati karena dihukum kok? Tenang aja," katanya. Menyebabkan senyuman lega merekah di wajah Raffi.
Sesampainya di sekolah, Raffi dan Elsa berjalan berbarengan. Keduanya saling mengobrol seperti biasa.
Ketika berjalan memisah, Fahri tiba-tiba mendekati Elsa. Dia ingin mengajak Elsa untuk mengikuti kelas memasak. Keduanya terlihat berbincang cukup akrab. Dari kejauhan, Raffi dapat melihat kedekatan mereka.
'Gila! Itu orang belum kapok.' Raffi geleng-geleng kepala.
Buk!
Lamunan Raffi harus buyar, tatkala Tirta mendadak menepuk pundaknya.
"Kenapa lo? Lagi sibuk cemburu ya?" tegur Tirta yang cekikikan sendiri. Sedangkan Gamal sejak tadi tampak terus cemberut.
"Apaan sih! Ayo kita ke kelas." Raffi merangkul Tirta dan Gamal sekaligus. Melenggang seraya sesekali menoleh ke arah Elsa. Kekasihnya itu masih asyik mengobrol dengan Fahri.
Sebelum bel pertanda masuk berbunyi, seluruh atensi murid tertuju kepada seorang lelaki dewasa berbadan tegap. Tampilannya tampak muda dan memiliki kumis tipis. Sosok misterius berpakaian rapi tersebut juga murah senyum. Sesekali dia akan menegur murid yang menarik perhatiannya.
"Siapa tuh?" tanya Tirta. Dia, Gamal, dan Raffi sedang berdiri di depan pintu. Mereka tidak hanya bertiga, separuh murid dari kelas juga ada di sana. Ikut menyaksikan kedatangan sosok yang diduga sebagai guru baru.
"Kira-kira beliau ngajar apa ya?" celetuk Ratna.
"Ah, gue nggak peduli. Palingan sama aja kayak guru-guru lain." Gamal tak acuh. Dia segera masuk ke dalam kelas. Hal serupa akhirnya juga dilakukan Raffi dan kawan-kawan.
__ADS_1
Sosok lelaki yang sejak tadi menarik perhatian, berhenti melangkah ketika bertemu para guru. Namanya adalah Ervan. Guru baru yang akan menemani Bu Lestari di bidang Bimbingan Konseling. Sekarang Bu Lestari tidak akan kewalahan lagi mengurus murid bermasalah sendirian.