
...༻☆༺...
Setelah puas melakukan hubungan intim, Raffi mengenakan pakaian. Lalu segera duduk ke sofa. Atensinya tertuju ke arah Elsa yang masih tengkurap.
Elsa belum mengenakan pakaian. Ia menutupi badan dengan selimut yang kebetulan tersedia di ruang vip. Kondisi cewek itu terlihat lemas.
"Cepet pakai baju lo..." saran Raffi sembari duduk ke sofa.
"Gue makin sayang banget sama lo..." bukannya menjawab Elsa justru bergumam. Ia meletakkan kepala ke pangkuan Raffi. "Jadi, jangan pernah pergi ninggalin gue," tambahnya, melanjutkan.
Raffi menyandarkan kepala ke sandaran sofa. Satu tangannya mengusap puncak kepala Elsa. "Sebenarnya... alasan gue pergi ke klub malam, karena satu hal," ucapnya.
"Gue terpilih jadi salah satu siswa yang ikut program pertukaran pelajar," sambung Raffi. Menyebabkan Elsa langsung merubah posisi menjadi duduk.
"Jadi lo bakalan pergi?" tanya Elsa memastikan.
"Enggak, El. Gue udah bilang ke bokap nyokap nggak mau ikut. Tapi masalahnya bokap gue maksa banget. Makanya gue sumpek banget diam di rumah," ungkap Raffi.
Elsa terdiam seribu bahasa. Dia akhirnya bergerak untuk mengenakan pakaian. Merapikan rambut, kemudian duduk menyandar ke pundak Raffi.
"Kayaknya bokap lo cuman pengen kasih yang terbaik. Nggak ada salahnya sih lo terima. Lagian itu kan kesempatan bagus kok. Bukannya lo pengen sekolah ke luar negeri ya?" Elsa berkata panjang lebar. Dari lubuk hatinya, dia tentu tidak menginginkan Raffi pergi jauh.
"Sekarang udah beda. Gue nggak mau pisah sama lo," sahut Raffi. Matanya mengedip pelan. Menatap pelafon yang hanya bersinarkan lampu redup.
Elsa mendengus kasar. Dia duduk tegak, dan mengambil salah satu botol di meja. Kemudian menuangnya ke dalam dua gelas secara bergantian.
"Lo mau minum itu?" tanya Raffi yang sedikit meringiskan wajah.
"Nggak ada minuman lain selain ini. Gue haus!" tanggap Elsa seraya menyodorkan salah satu gelas kepada Raffi.
"Jangan!" Raffi menolak. Dia juga tidak lupa merebut gelas yang ada di tangan Elsa.
"Kita pesan minuman yang lain aja. Gue bakal panggilin pelayan. Kalau kita mabuk pas pulang, kan bahaya." Raffi bangkit dari sofa. Dia beranjak untuk memanggil pelayan.
Saat membuka pintu, Raffi malah dikejutkan dengan kedatangan Gamal dan Zara. Dua sejoli itu memaksa Raffi untuk kembali masuk.
"Lama juga kalian mainnya," imbuh Gamal seraya menghempaskan diri untuk duduk.
__ADS_1
"Udah! Jangan banyak bacot, Mal. Gue mau pesan minuman dulu." Raffi mencoba kembali melangkah menuju pintu. Tetapi Zara sigap menghentikan pergerakannya.
"Di sini banyak minuman kok!" ujar Zara sambil menunjuk botol-botol berisi alkohol di atas meja.
Raffi memutar bola mata jengah. Dia sudah mengangakan mulut karena hendak bicara. Namun harus urung, karena Elsa mendadak meminum gelas yang sudah dituang tadi.
Baru menyentuh lidah sedikit, Elsa langsung meringiskan wajah. Dia tidak jadi meminum minuman beralkohol. Rasanya pahit dan mengeluarkan aroma menyengat yang khas.
"Itu biasa buat pemula. Nanti lama-kelamaan juga terbiasa," komentar Gamal. Dia mengambil botol berisi bir. Lalu meminumnya tanpa menggunakan gelas. Hal serupa juga dilakukan oleh Zara. Tetapi bedanya, cewek itu memilih mengambil botol berisi wine.
Raffi dan Elsa meringis bersamaan. Raffi akhirnya tetap melanjutkan niat untuk memesan minuman yang lain.
"Eh, gue mau ke toilet bentar." Setelah memesan minuman. Raffi pergi ke toilet. Hal yang sama juga dilakukan Elsa beberapa saat kemudian. Kini hanya ada Gamal dan Zara di ruang vip.
"Mereka nggak mau minum. Padahal gue udah bela-belain pesan ini semua buat kita." Gamal berdecak kesal. Dia terlihat mulai mabuk.
"Raffi itu pasti takut ketahuan sama orang tuanya. Lo nggak tahu atau benar-benar goblok sih!" balas Zara. Dia melanjutkan sesi meminum wine langsung dari botol.
"Tega banget lo ngejek pacarnya goblok," protes Gamal dengan dahi berkerut. Dia tersinggung dengan ucapan Zara.
"Apaan sih! Gue belum selesai minum." Zara memanyunkan mulut kesal. Dia merengek seperti anak kecil.
Gamal membawa Zara masuk ke dalam pelukan. Kemudian menenggelamkan wajah ke leher cewek itu. Ulahnya berhasil membuat Zara tergelak kecil. Saat itulah pelayan masuk untuk mengantarkan pesanan minuman Raffi.
Gamal dan Zara berhenti bercumbu. Perhatian keduanya tertuju kepada minuman sirup yang dipesan Raffi. Gamal menarik sudut bibirnya ke atas. Tanpa basa-basi, dia memasukkan serbuk putih yang masih tersisa.
"Masukin semuanya, Mal. Biar mereka teler!" ujar Zara sambil terkekeh.
"Itu udah pasti..." Gamal menuruti keinginan Zara. Dia menuang semua serbuk putih yang tidak lain adalah dari obat-obatan terlarang. Gamal baru selesai mengaduk sirup milik Raffi dan Elsa. Bertepatan dengan itu, pintu mendadak terbuka.
Sosok Raffi muncul lebih dahulu. Dia duduk dan langsung meminum sirup yang dipesannya. Raffi sepertinya benar-benar haus. Cowok itu menghabiskan minuman sampai setengah gelas.
"Enak nggak?" tanya Gamal. Salah satu alisnya terangkat.
"Apaan deh? Lo mau?" balas Raffi. Ia tidak tahu apa-apa tentang kandungan minuman yang diminumnya.
Tidak lama kemudian Elsa datang. Sama seperti Raffi, cewek itu langsung meminum sirup yang baru tersedia.
__ADS_1
"Guys, Gamal tadi kasih sesuatu ke minuman kalian. Sejenis obat buat nge-fly gitu," cetus Zara. Membuat Elsa sontak memuntahkan minumannya. Berbeda dengan Raffi, dia terlihat melotot tajam ke arah Gamal.
"Gila lo, Mal!" geram Raffi seraya mencengkeram kerah baju Gamal. Satu bogem dilayangkan olehnya.
Gamal justru tertawa geli. Dia berusaha menenangkan Raffi yang mulai terpengaruh obat.
Penglihatan Raffi perlahan berubah. Dia merasa tubuhnya seringan kapas. Belum lagi rasa melayang yang menyelingat dalam kepala. Tanpa sadar, Raffi menghempaskan diri ke lantai.
Gamal ikut rebahan di lantai bersama Raffi. Mereka tergelak bersama tanpa alasan yang jelas. Pembicaraan keduanya bahkan mulai melantur.
Sementara Elsa, dia hanya sempat meminum sedikit. Jadi obatnya tidak bisa memberikan pengaruh yang besar. Cewek itu berniat menghampiri Raffi. Memastikan keadaan kekasihnya baik-baik saja. Namun Zara dengan cepat mencegat.
"Udah, lo duduk aja di sini. Nggak bakalan terjadi hal buruk kok. Raffi bakalan kembali normal beberapa jam ke depan," ujar Zara sembari mengambil satu batang rokok dari bungkusnya. Kemudian dinyalakan dengan pemantik milik Gamal.
Elsa lantas menurut dan duduk kembali ke tempat semula. Ia mengibaskan tangan ke depan wajah, ketika asap rokok Zara mulai menyebar.
"Gila, Ra! Lo ngerokok?" Elsa merasa terheran.
"Enak loh. Lo mau?" Zara justru menawarkan.
"Nggak!" tegas Elsa. Dia mencoba menjaga jarak dari Zara. Tetapi tidak berhasil, karena Zara malah berpindah duduk ke samping Elsa.
"Gimana tadi? Nggak sesakit yang pertama kali kan?" tanya Zara. Dia menyinggung perihal aktifitas intim yang sempat dilakukan Elsa dengan Raffi tadi.
"Begitu deh..." Elsa mengangkat kedua bahunya satu kali.
"Raffi aktifnya lama juga ya. Gue sama Gamal nunggu di depan sampai bengek." Zara menyandarkan kepala ke sandaran sofa. Cewek itu belum berhenti merokok.
"Dia minum susu kali," sahut Elsa. Bermaksud bercanda.
Zara otomatis tergelak. Sebab dia mengingat salah satu iklan susu bayi di televisi.
..._____...
Catatan Author :
Makin gelap ya ceritanya guys. Gamal sama Zara emang pasangan laknat. 🙃
__ADS_1