
...༻☆༺...
Tirta merupakan satu-satunya orang yang tidak mabuk parah. Jadi dia yang bertugas menyetir mobil. Danu duduk di sebelahnya. Cowok itu sudah teler karena menjadi salah satu korban minuman racikan Gamal di ruang vip.
Danu duduk menyandar ke sandaran kursi. Kancing bajunya sedikit terbuka. Danu sudah berapa kali muntah. Ia memegang plastik serta tisu di tangannya.
Sementara Gamal dan Zara duduk di belakang. Mereka setidaknya masih agak sadar. Keduanya sibuk saling menyandar satu sama lain.
"Raffi sama Elsa pulang duluan... tega banget mereka..." gumam Gamal. Dalam keadaan mata yang terpejam rapat.
"Udah gue bilang, mereka itu takut sama orang tuanya. Wajarlah, mereka punya keluarga yang perhatian..." ujar Zara. Kepalanya sibuk menyandar ke dada Gamal. Dua tangannya melingkar ke pinggul kekasihnya tersebut.
Tirta menghentikan mobil dengan pelan. Dia dan yang lain sudah tiba di rumah Gamal. Mereka akan menginap di sana sampai merasa pulih.
Kebetulan Bi Nur satu-satunya orang yang ada di rumah Gamal. Wanita paruh baya itu berlari saat mendengar kedatangan tuan mudanya.
Ceklek!
Pintu dibuka oleh Bi Nur. Tirta tampak membopong Danu. Mereka menjadi orang yang pertama masuk ke rumah. Kemudian langsung tumbang ke sofa.
Bi Nur masih di depan pintu. Ia memastikan kehadiran Gamal. Namun Bi Nur langsung menundukkan kepala ketika menyaksikan Gamal keluar dari mobil. Bagaimana tidak? Untuk yang kesekian kalinya, dia tidak sengaja melihat Gamal dan Zara bermesraan.
Gamal dan Zara saling merangkul. Sambil berjalan, mereka tidak berhenti berciuman. Sesekali keduanya akan melenguh pelan.
Bi Nur meringis sedih. Sebagai orang yang sering menjadi saksi kelakuan Gamal, dia merasa kasihan. Wanita paruh baya itu sudah berusaha memperingatkan, tetapi yang dia terima hanyalah omelan dari Gamal. Parahnya Gamal akan mengancam Bi Nur jika nekat melapor kepada ayah dan ibunya. Makanya hingga sekarang Bi Nur tidak pernah memberikan teguran lagi.
"Ayo, Den. Masuk ke dalam. Nggak baik kalau dilihat orang," saran Bi Nur. Dia menunggu Gamal di depan pintu.
Gamal tidak menjawab sama sekali. Dia justru memojokkan Zara ke pintu. Kemudian memainkan tangan nakalnya ke bokong cewek itu. Sedangkan mulutnya sibuk bertengger ke leher Zara.
"Mal..." Zara ingin bicara, tetapi tak mampu. Sebab sentuhan yang diberikan Gamal sukses membuatnya terbuai sejenak. Meskipun begitu, Zara berusaha keras menghentikan Gamal. Dia merasa tidak enak dengan Bi Nur.
"Kita ke dalam aja." Zara berhasil melepaskan diri dari Gamal. Dia segera menarik tangan cowok itu untuk masuk ke rumah. Kini Bi Nur dapat menutup pintu dengan leluasa.
__ADS_1
Gamal dan Zara ikut bergabung duduk di sofa. Gamal belum selesai dengan yang tadi. Dia memaksa Zara telentang ke sofa panjang. Lalu kembali memberikan cumbuan.
Tirta yang kebetulan lebih dulu duduk di sofa panjang, sontak merasa risih. Dia menginjak kepala Gamal karena kesal. Tirta memang tidak mabuk, namun bukan berarti dia tidak mengkonsumsi obat-obatan terlarang.
"Sumpah! Kalian berdua mesum terus!!!" hardik Tirta. Dia tidak bersedia untuk berpindah duduk.
Danu yang menyandar di sofa sebelah, perlahan membuka mata. Dia hanya ingin melihat apa yang baru saja dibicarakan Tirta. Danu langsung terkekeh saat memergoki Gamal masih sibuk dengan Zara.
"Anjir... Kalian nggak bosen apa?..." tegur Danu. Bebicara pelan akibat sedang mabuk.
"Parah emang Gamal. Lo nggak capek, Ra? Kasihan gue liat lo," tanggap Tirta. Dia mendongakkan kepala dan menutup matanya.
"Ya capeklah! Dia udah dua kali cocol gue malam ini!" sahut Zara. Dia pasrah terhadap apa yang dilakukan Gamal.
"Ganas lo, Mal!" komentar Tirta. Dia dan Danu terlalu malas beranjak. Mereka berusaha mengabaikan aktifitas Gamal dan Zara, kemudian perlahan tertidur.
...***...
Beberapa jam terlewati. Gamal dan kawan-kawan masih tertidur di sofa. Padahal waktu sudah menunjukkan jam 10 pagi. Kegiatan di klub malam, memang selalu menguras energi yang luar biasa.
Sebelum beranjak, Bu Lestari tidak lupa membayar terlebih dahulu. Selanjutnya, barulah dia melenggang melewati pagar rumah Gamal yang tidak dikunci.
Bu Lestari menghela nafas panjang. Terutama ketika menyaksikan betapa mewahnya rumah Gamal. Dia sebenarnya sudah berapa kali menghubungi Afrijal beserta istrinya, namun tidak ada satu pun dari mereka yang menanggapi serius. Jadi Bu Lestari tidak punya pilihan selain mengunjungi langsung rumah Gamal.
Dengan rok hitam selutut, serta baju bermotif batik, Bu Lestari mencoba tampil rapi. Dia harus begitu jika ingin mengurus masalah yang berkaitan dengan sekolah.
Bu Lestari berhenti tepat di depan pintu. Ia memencet bel yang tersedia. Akan tetapi berapa kali Bu Lestari memencet bel, pintu tidak kunjung terbuka.
Di ruang tengah sendiri, Gamal dan yang lain masih asyik terlelap. Mereka sebenarnya mendengar bel pintu berbunyi. Namun memilih tidak peduli.
"Bi Nur!!!" pekik Gamal sembari menutup telinga dengan bantal. Dia tidak tahu kalau Bi Nur sedang pergi ke pasar.
"Ah... buka dong, Mal... berisik banget sumpah..." lirih Zara seraya mendorong Gamal sekuat tenaga. Kebetulan cowok itu rebahan di karpet bersamanya.
__ADS_1
"Ah! Lo dong yang buka!" Gamal menjauhkan tangan Zara darinya dengan kasar. Ia reflek memegangi kepala. Kemudian mengusap mata beberapa kali.
"Ayolah, Mal... ini kan rumah lo. Wajarlah kalau elo yang buka," sahut Danu dengan nada malas. Dia tampak meringkuk sambil memeluk bantal kecil.
Dengan lidah yang berdecak kesal, Gamal akhirnya bangkit. Dia berjalan dengan tergopoh-gopoh. Menjadikan lemari serta dinding sebagai pegangan.
Bruk!
Prang!
Sesekali benda-benda berjatuhan karena tidak sengaja ditabrak oleh Gamal. Namun dia sama sekali tidak peduli. Ia hanya mengomel sembari sibuk melangkah menuju pintu.
"Ah! Siapa sih pagi-pagi begini ke sini?! Ganggu aja." Gamal tidak berhenti menggerutu. Sebab bel pintu terus saja ditekan secara berturut-turut. Rasanya Gamal hampir gila mendengarnya.
Pintu dibuka oleh Gamal. Cowok itu sangat ingin marah, tetapi badannya masih terasa lemas.
"Berisik! gue lagi sibuk! Bisa nggak datangnya nanti aja!" ujar Gamal dengan nada memekik lantang. Matanya dalam keadaan terpejam rapat. Sehingga dia tidak tahu sosok yang ada di depannya.
Setelah mengomel, Gamal tumbang ke lantai. Dia duduk menyandar ke pintu.
Sementara Bu Lestari, sangat dibuat kaget dengan bentakan Gamal. Dia sempat mematung dalam keadaan mata membulat sempurna. Bu Lestari menggenggam erat tali tas bahunya. Berupaya menahan kesabaran atas perilaku Gamal.
Tetapi ketika menyaksikan Gamal terjatuh, Bu Lestari bergegas menghampiri. Dia menutup hidungnya dengan spontan. Sebab bau alkohol menguar jelas menghantam indera penciumannya. Kini Bu Lestari bisa menyimpulkan, bahwa Gamal sedang mabuk.
..._____...
...Bonus Visual...
Halo guys, masalah visual sebenarnya aku serahkan sama kalian masing-masing. Karena aku yakin, kalian pasti punya standar tertentu mengenai gambaran tokoh dalam cerita ini. Author cuman mencoba menunjukkan visual yang tepat saja. Hehe...
__ADS_1