Sisi Gelap Dunia Anak SMA

Sisi Gelap Dunia Anak SMA
Bab 52 - Diskusi


__ADS_3

...༻☆༺...


"Jangan bohong lo!" timpal Gamal. Matanya membuncah hebat.


"Bwahahahaha!" Zara justru tertawa pecah. Dia sengaja mengerjai Gamal. Zara tergelak sampai memperlihatkan gigi gerahamnya.


"Nggak lucu tahu!" geram Gamal. Saat itulah pintu kamar mendadak terbuka. Raffi, Tirta dan Danu berhasil memergoki Gamal dan Zara berada di kasur.


"Oh, ketosnya ternyata lagi sibuk beginian?" tukas Raffi sambil melangkah masuk.


Gamal dan Zara sontak kaget. Mereka bergegas bangkit dari kasur. Zara yang dibuat paling panik, langsung mengenakan pakaian. Sedangkan Gamal berlari cepat menghampiri ketiga temannya.


Raffi lekas mendorong Gamal saat dirinya hampir mendapat pelukan. "Mandi dulu sana!" hardiknya. Namun dibalas Gamal dengan gelak tawa.


"Lo kenapa ditelepon nggak di angkat-angkat sih?" timpal Danu sembari menampar pelan pipi Gamal.


"Kami khawatir tahu nggak!" Tirta ikut menimpali.


"Hp gue lagi di ces." Gamal menjawab sambil menggaruk kepala. Dia tampak cengengesan seperti biasa. Cowok itu merasa sangat senang didatangi oleh semua temannya. Apalagi salah satu di antaranya ada Raffi.


"Elaah... bilang aja lagi keenakan sama ayang Zara. Huhuy..." ejek Tirta. Dia terkekeh bersama Danu. Gamal lantas melayangkan tatapan tajam kepadanya.


"Jaga mulut lo ya! Zara bukan pacar gue!" tegas Gamal. Zara yang masih berada di sana, dapat mendengar dengan jelas. Cewek itu tidak bisa menampik pernyataan Gamal.


Zara justru reflek menatap Raffi. Kali ini dia merasa sangat menciut. Apalagi Raffi tadi sudah melihat dirinya berada di kasur bersama Gamal.


Raffi membalas tatapan Zara. Dia memasang binar nanar melalui sorot matanya. Raffi merasa miris dengan sikap Zara. Kenapa cewek itu mau-mau saja untuk menjadi bahan pemuas naf*su Gamal?


Nafas dihela cukup panjang oleh Raffi. Sekarang dia merasa jijik saat melihat Zara. Rasa empatinya luntur dalam sekejap.


"Ya udah, mending kalian siap-siap. Kami bakalan nunggu di bawah. Kita diskusiin di sini dulu sebelum rapat osis yang resmi dilaksanakan. Biar nanti nggak pada bingung," saran Raffi. Lalu beranjak keluar dari kamar Gamal.


"Ya ampun, Raf. Jangan marah dong. Gue bakalan mandi secepat kilat buat lo!" seru Gamal. Dia merekahkan senyuman. Kemudian segera membersihkan diri ke kamar mandi.

__ADS_1


Berbeda dari Gamal yang merasa bersemangat, Zara justru terlihat murung. Dia duduk mematung di ujung kasur. Entah kenapa ada sesuatu yang mengganjal dihatinya. Ia menggenggam erat dress yang dikenakannya. Menghembuskan nafas berat dari mulut untuk yang kesekian kali.


Lamunan Zara pudar, ketika Raffi tiba-tiba muncul dari balik pintu. Cowok itu kembali untuk mengambil kertas dan pulpen.


"Nyari apa lo?" tanya Zara.


"Buku sama pulpen. Gamal nyimpennya dimana?" balas Raffi sembari berusaha mencari.


Zara melangkah ke meja yang diketahuinya sebagai tempat belajar Gamal. Meja itu tampak bersih dan rapi, karena hampir tidak pernah dipakai oleh empunnya.


"Nih! Kita mau rapat osis di sini? Yang lain juga datang?" pungkas Zara. Dia menyerahkan buku beserta pulpen kepada Raffi.


"Kita aja." Raffi menjawab singkat. Dia bersikap dingin. Setelah mengambil buku dan pulpen, Raffi langsung pergi keluar kamar.


Zara menundukkan kepala. Dia memaksakan diri untuk tersenyum. Kemudian mengibaskan rambut ke belakang. Zara berusaha bersikap tenang. Cewek itu melenggang menuju tempat dimana Raffi, Tirta dan Danu berkumpul.


Raffi dan yang lain melakukan diskusi untuk rapat resmi osis nanti. Mereka mencatat hal-hal penting terlebih dahulu ke dalam buku. Sesekali mereka melakukan diskusi dengan bercanda. Mungkin hanya Zara yang sering diabaikan oleh Raffi dan lainnya.


"Kenapa pembantu lo ke sana mulu? Itu ruang apaan sih? Jadi kepo gue." Tirta bertanya sambil memperhatikan ruangan film tempat Bi Nur masuk.


"Jangan-jangan keluarga lo melakukan ajian sesat nih," tebak Danu. Jari telunjuknya mengarah ke Gamal.


"Iya, di dalam sana banyak tuyul! Puas lo!" balas Gamal seraya menepuk kepala Danu dengan buku. Tingkah keduanya menyebarkan tawa kepada semua orang.


"Diskusinya udah selesai kan?" Zara memastikan. Seluruh pasang mata otomatis tertuju kepadanya.


Bukannya menjawab, Gamal, Danu dan Tirta malah mengalihkan pertanyaan kepada Raffi. Sebab Raffi-lah orang yang sejak tadi memimpin diskusi.


"Ketosnya gue apa elo sih, Mal!" Raffi mendorong pundak Gamal dengan perasaan sebal.


"Hehehe... kalau masalah beginian kan gue emang butuh bimbingan..." tanggap Gamal yang merasa agak malu. Dia mengusap tengkuknya tanpa alasan.


Raffi hanya membalas dengan ringisan wajah. Lalu memberitahu Zara bahwa diskusi telah selesai.

__ADS_1


Zara lantas mengambil tas, karena berniat ingin pulang. Dia sudah terlalu lama berada di rumah Gamal.


"Mal, gue mau ngomong!" imbuh Zara, sebelum pergi.


Gamal mendengus kasar. Dia terpaksa menuruti keinginan Zara. Keduanya bicara empat mata di teras rumah.


"Gue mau nagih janji lo. Pertama, tempo hari lo pernah nawarin gue boleh minta apapun sama elo. Kedua, lo janji ganti rugi hp gue yang rusak. Jadi, kapan lo ngasihnya?" tagih Zara. Satu tangannya memegang erat tali selempang yang melingkar di bahu.


Gamal memutar bola mata jengah. "Terus mau lo apa?" tanya-nya dengan nada malas.


"Gue mau lo beliin gue apartemen!" pinta Zara. Menyebabkan mata Gamal sontak membulat sempurna.


"Lo gila ya!" cerca Gamal sembari mendorong jidat Zara dengan jari telunjuk.


"Elo yang gila! Lo ingat nggak yang kita lakuin pas dalam pengaruh obat?" Zara meninggikan nada suaranya. Hal itu tentu membuat Gamal khawatir.


"Bisa nggak bicaranya pelan-pelan?" titah Gamal. Dia berupaya menutup mulut Zara. Akan tetapi Zara tidak terima.


"Enggak! Wajar dong gue kayak gini. Lo udah semena-mena sama gue. Kalau gue nanti beneran hamil, gue pasti--"


Plak!


Gamal melayangkan satu tamparan ke pipi Zara. Ia sudah muak dengan celotehan cewek itu. Keributan tersebut sukses menarik perhatian Raffi, Tirta dan Danu. Mereka segera memeriksa apa yang sedang terjadi.


Sementara Zara reflek memegangi pipinya yang sakit. Kini dia benar-benar terisak. Entah kenapa hati Zara terasa sesak. Sebenarnya dia sudah merasakan itu ketika Gamal tidak menganggapnya sebagai apa-apa. Teman bukan, apalagi pacar.


"Mal, lo nampar Zara?" timpal Raffi yang baru muncul bersamaan Danu dan Tirta.


Gamal dan Zara saling terdiam. Gamal justru beranjak masuk ke rumah. Dia meninggalkan Zara tanpa sepatah kata pun.


Raffi hendak melangkah mendekati Zara, namun dicegat oleh Danu dan Tirta. Kedua temannya tersebut menasehati untuk tidak terlibat urusan Gamal dan Zara.


"Bukannya apa-apa ya, Raf. Gamal sama Zara itu udah lakuin hal buruk yang mungkin nggak kebayang sama lo. Jadi, mending biarin aja," saran Danu.

__ADS_1


__ADS_2