
...༻☆༺...
Zara segera bangkit dari kasur. Dia melangkah cepat ke hadapan Gamal. Lalu membawa cowok itu keluar dari panti. Zara mengajak Gamal pergi ke halaman belakang. Di sana terdapat jalan setapak yang dikelilingi oleh pepohonan.
Zara berhenti, ketika sudah merasa menemukan tempat yang tepat. Dimana tidak ada satu orang pun yang mendengar pembicaraannya dan Gamal. Mereka sekarang berhenti di tengah rerumputan liar yang luas.
"Lo nggak serius kan soal kemarin?" tanya Gamal.
Zara membuang muka sejenak. Dia hanya terdiam. Tanpa menoleh sedikit pun ke arah Gamal.
"Kasih tahu gue, Ra! Kalau mau mutusin gue, kasih tahu gue alasannya!" Gamal mengguncang-guncang badan Zara.
"Ya karena bokap lo lah! Dia pasti bakalan depak gue dari sekolah kan?!" akhirnya Zara angkat suara.
"Dia nggak tahu lo satu sekolah sama gue. Jadi lo tenang aja," balas Gamal. Masih dalam keadaan memegangi pundak Zara.
"Gue takut terlalu berharap, Mal... gue merasa kalau hubungan kita nggak ada masa depan." Zara menjauhkan tangan Gamal dengan kasar. Dia terdengar begitu pesimis. Raut wajahnya tampak muram.
"Lo kenapa jadi gini sih? Nggak seperti Zara yang gue kenal," sarkas Gamal yang tidak terima dengan sudut pandang Zara.
"Lo pikir gue bakalan bersikap bar-bar terus? Gue juga punya hati!"
"Gue juga punya hati kali! Makanya gue ke sini buat ketemu sama lo. Nih! Gue masih simpan baik-baik kunci apartemennya." Gamal memperlihatkan kunci apartemen yang sempat diberikannya tempo hari.
"Plis, Ra..." mohon Gamal dengan semburat wajah memelas. Matanya memancarkan binar nanar yang dalam.
"Kita putus! Mulai sekarang jangan ke sini lagi." Zara membulatkan tekad. Meskipun begitu, dia tidak berani menatap Gamal. Matanya terlihat sudah berpendar dengan cairan bening.
"Lo yang bilang putus, tapi lo juga yang nangis. Heran gue. Emang lo rela biarin gue sama cewek lain?" Gamal yang masih tidak terima, berpikir keras untuk meluluh lantahkan tekad Zara.
"Lo pasti tahu cewek baru yang namanya Olive kan? Gue bakalan pacarin dia, kalau lo tetap putusin hubungan kita." Gamal mencoba mengancam.
"Ya udah! Pacarin aja dia!" sahut Zara yang akhirnya mendongak untuk membalas tatapan Gamal. Satu tetes air mata lolos dan mengalir melewati pipinya.
"Oke." Gamal mengangguk tegas. Dia terlanjur kecewa. Kemudian pergi begitu saja. Gamal bertekad akan membuat Zara cemburu habis-habisan. Sampai cewek itu bersedia kembali kepadanya.
...***...
__ADS_1
Satu hari berlalu. Elsa dan Zara akhirnya kembali bersekolah. Keduanya sama-sama sedang berada di suasana hati yang buruk.
Ketika tengah mengikuti kegiatan belajar, Elsa tiba-tiba diserang rasa mual. Tanpa pikir panjang, dia berlari keluar kelas. Karena terdesak, Elsa jadi lupa meminta izin kepada guru yang mengisi jam pelajaran.
"Huek!" Elsa memuntahkan isi perut di toilet. Dia melakukannya berkali-kali. Hingga rasa mualnya menghilang.
Setelah yakin tidak akan mual lagi, Elsa melangkah keluar toilet. Namun saat hampir tiba di kelas, rasa mual itu kembali lagi. Elsa lantas kembali ke toilet.
Jujur saja, Elsa mulai frustasi. Ketika dia melihat dirinya di cermin, kekecewaan menghujam hatinya. Elsa sempat menangis sebentar. Ia sangat kewalahan menutupi kehamilannya.
Kala baru keluar dari toilet, Elsa tidak sengaja berpapasan dengan Raffi. Cowok itu baru hendak masuk ke toilet khusus lelaki.
Raffi langsung tersenyum dan membawa Elsa masuk ke dalam pelukan. "Eh, nggak sengaja nemu kesayangan di depan toilet," ujarnya.
"Ish! Apaan sih. Kalau ada guru yang lihat bisa kacau." Elsa perlahan melepas pelukan Raffi.
"Sok-sokan ngingetin lo." Raffi mencubit hidung Elsa karena gemas.
Elsa yang tadinya sedih, akhirnya bisa tertawa. Meskipun itu hanyalah tawa yang singkat.
"Hah?" mata Raffi terbelalak. Dia segera melanjutkan, "Jangan berandai-andai kayak gitu, El. Nanti kalau kejadian beneran gimana? Jangan hamil dulu deh." Raffi menangkup wajah Elsa dengan dua tangannya. Semudah itu dia berucap begitu.
"Gue cuman mau tahu tanggapan lo kok." Elsa memaksakan dirinya tersenyum.
"Lo tenang aja. Satu-satunya cewek yang ingin gue nikahin di dunia ini cuman lo." Raffi menggenggam jari-jemari Elsa. Tatapannya terlihat begitu meyakinkan.
"Gue..."
"Gue pasti nikahin lo, kalau gue udah jadi dokter yang mapan." Tanpa sengaja Raffi memotong perkataan Elsa. Padahal Elsa nyaris mengakui tentang kehamilannya. Namun harus batal, karena ucapan Raffi tersebut. Elsa tidak mau menghancurkan mimpi kekasihnya yang sudah dibangun semenjak kecil.
Elsa hanya bisa mengangguk sambil mengembangkan senyuman terbaik. Hal serupa juga dilakukan Raffi sekian detik kemudian. Mereka segera kembali ke kelas masing-masing.
Sehabis pulang sekolah, Elsa menyempatkan waktu untuk menemani Raffi latihan basket. Dia sendirian, karena teman-temannya harus pulang lebih dulu untuk memenuhi jadwal les. Elsa mencoba mencari-cari keberadaan Zara. Namun tidak menyaksikan cewek itu dimana-mana.
Sama seperti Elsa, sejak tadi Gamal juga berusaha mencari Zara. Sudah puluhan kali dia memeriksa pintu masuk dan kursi penonton. Akan tetapi Zara belum juga datang. Padahal tadi Gamal tahu kalau Zara sudah kembali ke sekolah.
Latihan Gamal jadi tidak fokus. Ia kena marah Pak Seno beberapa kali. Teman-temannya bahkan agak kesal dengan tingkah Gamal hari itu.
__ADS_1
"Karena kapten kalian begini, kita akhiri aja latihan hari ini!" ujar Pak Seno. Lalu beranjak pergi.
"Lo kenapa? Apa gara-gara Zara nggak ada?" tanya Raffi dengan nada berbisik. Dia duduk bersebelahan di ruang ganti.
"Cewek itu sialan banget!" rutuk Gamal dengan wajah masamnya. Dia sangat kesal dengan Zara.
"Sabar dong. Kalau berantem, mending lo bicarain baik-baik." Raffi memberikan saran terbaik.
"Sia-sia! Dia nggak dengerin gue!" kemarahan Gamal memuncak. Ia mencengkeram botol minuman kosong dengan kuat. Hingga botol tersebut akhirnya menjadi remuk.
Satu per satu orang keluar dari ruang ganti. Hanya ada Raffi dan Gamal yang tersisa. Saat itulah Olive masuk. Dia datang dengan keadaan dua tangan yang bertautan di balik punggung.
"Maaf, Kak. Aku ke sini cuman mau kasih tahu kalau gerbang bentar lagi ditutup," ucap Olive sembari mengaitkan anak rambut ke daun telinga.
"Oh, makasih." Raffi menjawab singkat.
Gamal tampak mematung dalam keadaan menundukkan kepala. Dia sepertinya sedang memikirkan sesuatu. Gamal akhirnya angkat suara. Tepat ketika Olive hampir beranjak keluar.
"Liv, jangan pergi! Gue mau ngomong," cegat Gamal. Lalu menggerakkan bola matanya ke arah Raffi.
"Lo pulang duluan gih! Kasih tahu Pak Beni, jangan kunci gerbangnya dulu," titah Gamal.
Pupil mata Raffi membesar. Dia menoleh sejenak ke arah Olive yang kian mendekat. "Lo mau ngapain?" timpalnya.
"Mau cari pacar baru. Lo nggak usah urus. Pulang sana!" balas Gamal tak acuh. Dia menatap Olive dan tersenyum lebar.
Belum sempat Gamal bicara, Raffi sudah mencengkeram kerah bajunya.
Bruk!
Raffi menyudutkan Gamal ke lemari loker. Tetapi Gamal langsung mendorongnya dengan kuat. Hingga Raffi otomatis terhuyung ke belakang.
"Kak, jangan berantem!" Olive yang ada di sana sontak panik.
"Pergi lo!" Gamal bersikeras mengusir Raffi.
"Sinting lo, Mal!" cibir Raffi. Lalu pergi dengan mimik wajah cemberut.
__ADS_1