Sisi Gelap Dunia Anak SMA

Sisi Gelap Dunia Anak SMA
Bab 77 - Semakin Banyak Yang Tahu


__ADS_3

...༻☆༺...


"Kita sebaiknya jenguk Danu sebelum para guru lebih dulu ke sana. Lagian gue yakin Danu nggak bakalan langsung ngaku," ujar Raffi sembari menghela nafas panjang. Dia menjadi orang yang paling gelisah dibanding teman-temannya. Baru kali ini otaknya terasa buntu. Bagaimana tidak? Jika Danu menceritakan semuanya, maka reputasinya akan hancur dalam sekejap. Raffi tidak bisa mengabaikan masalah tersebut begitu saja.


"Tapi jam pulang masih lama. Eh, terus Tirta gimana? Dia udah tahu belum?" Elsa berucap sambil menatap tiga orang di hadapannya secara bergantian.


"Dia belum tahu. Tirta paling dekat sama Danu. Kayaknya dia terpukul banget sama apa yang dilakukan Danu," jelas Gamal. Matanya menatap lurus ke arah Raffi. Ia terpikirkan sesuatu. Hal gila lain dalam benaknya.


"Kalau emang terdesak. Mending kita bolos aja. Lagian hari ini kan emang nggak ada kegiatan belajar?" imbuh Gamal, mengusulkan.


"Gila lo, Mal! Bukannya itu malah nambah masalah?!" timpal Elsa yang merasa tak percaya.


"Udah! Mending lebih baik kita cari Tirta dulu. Mungkin dia punya ide lain." Raffi beranjak begitu saja. Dengan tujuan untuk mencari Tirta. Hal serupa lantas juga dilakukan oleh Gamal, Elsa, dan Zara.


Raffi berlari masuk ke dalam kelas. Memindai penglihatannya ke segala penjuru. Namun dia sama sekali tidak melihat batang hidung Tirta. Raffi akhirnya bertanya kepada salah satu teman sekelasnya.


"Dia tadi bawa tas keluar. Kayaknya Tirta bolos deh," ucap Ratna memberitahu. Keningnya mengernyit heran. Terutama ketika melihat Elsa, Gamal, dan Zara berdatangan satu per satu.


"Ada apaan nih? Kayaknya kalian lagi panik gitu?" tanya Ratna.


Raffi enggan menjawab. Dia justru memberitahukan kepergian Tirta kepada Gamal dan kawan-kawan.


Lidah Gamal berdecak kesal. Rasanya dia ingin berteriak sekencang-kencangnya. Namun harus ditahan karena banyak orang yang melihat.


Raffi yang lebih tenang, segera mengambil ponsel. Dia menghubungi Tirta melalui panggilan telepon. Sayangnya Raffi tidak mendapatkan jawaban dari Tirta. Padahal dirinya telah melakukan panggilan lima kali lebih.


"Gimana? Dia nggak jawab?" tanya Elsa yang merasa ikut panik.


"Nggak." Raffi lekas menggeleng.


Gamal terlihat mengambil tasnya dan milik Raffi. Lalu memimpin jalan lebih dulu keluar dari kelas. Seluruh murid yang ada di kelas mulai tertarik memperhatikan tindakannya dan Raffi. Mereka tentu merasa ada sesuatu yang janggal dari grup pertemanan tersebut.


Raffi bergegas mengejar Gamal. Dia merebut tasnya dari cowok berambut cepak itu.


"Mal! Lo bikin gerak-gerik kita jelas banget. Lo nggak mikir orang-orang di sini pada liatin kita?" timpal Raffi.


Gamal terpaksa memutar tubuhnya menghadap Raffi. Ia berkata, "Gue nggak peduli! Mungkin yang peduli di sini cuman lo. Kan elo anak teladannya. Iyakan?"

__ADS_1


"Mal, udah! Lo malah bikin ribet deh!" Zara menjauhkan Gamal dari Raffi. Dia berupaya mencegah terjadinya pertengkaran.


"Harusnya kalian pikirin semuanya dengan tenang. Jangan gini dong!" sergah Elsa. Dia berdalih menatap Gamal.


"Mal, lo nggak bisa ambil keputusan gitu aja." Elsa merebut begitu saja tas Gamal. Dia tidak ingin cowok itu nekat membolos.


"Elsa bener, Mal. Lo tenang aja. Gue yakin, Danu juga pasti mikirin kita. Gue yakin dia nggak bakalan langsung bocorin semuanya." Zara mengusap pelan pundak Gamal.


Raffi menghela nafas kasar. Dia sebenarnya mencoba menahan amarah. Sebab perkataan Gamal tadi benar-benar menyebalkan. Namun untung saja, dua cewek di dekatnya mampu menenangkan keadaan.


"Kita diskusiin semuanya setelah tenang. Soalnya kalau kita bolos, kemungkinan orang-orang malah tambah curiga," tutur Elsa. Dia sependapat dengan Zara.


Gamal terdiam sejenak. Apalagi ketika menyadari kalau dirinya dan Raffi tengah menjadi pusat perhatian. Banyak pasang mata yang tertarik dengan interaksi mereka.


"Kita omongin pas pulang sekolah." Raffi berbalik begitu saja untuk menjauh dari Gamal. Dia meletakkan tasnya kembali ke kelas.


Elsa lantas mengikuti Raffi dari belakang. Cewek itu membawakan tas Gamal untuk diletakkan kembali ke kelas.


Sementara Gamal mematung di tempat. Zara segera membawanya pergi jauh dari keramaian. Meskipun begitu, dari sana semua orang dapat melihat cara Zara memperlakukan Gamal. Mereka jadi tahu kalau ada hubungan yang spesial di antara Gamal dan Zara.


"Eh, Kak Gamal pacaran sama Kak Zara?"


"Mereka nempel terus kayak perangko." Beberapa siswi saling berbisik. Mereka tentu tidak lupa untuk membicarakan Raffi dan Elsa.


Walau dikenal sebagai sepasang sahabat, interaksi yang diperlihatkan Raffi dan Elsa tampak berbeda dari biasanya. Tetapi setidaknya hubungan yang beredar untuk mereka hanya seperti hoax tanpa adanya konfirmasi.


...***...


Bel pertanda pulang sudah lama berbunyi. Namun Raffi tidak kunjung muncul. Cowok itu memang sedang sibuk berdiskusi mengenai olimpiade Matematika dengan guru bersangkutan.


Elsa otomatis menunggu di parkiran. Dia bersama ketiga teman dekatnya. Yaitu Tari, Citra, dan Ratna.


"El, lo kok sekarang dekat banget sama Zara. Nggak banget deh. Lo kan tahu dia itu cewek gimana? Takutnya ketularan lagi," imbuh Citra dengan dahi berkerut.


"Kalian kenapa berprasangka buruk terus sih. Emangnya Zara nggak pantas punya teman ya? Dia juga manusia kali. Kalian lupa pelajaran IPS? Manusia itu adalah makhluk sosial. Nggak bisa hidup sendiri, nanti malah stress terus bunuh diri." Elsa menanggapi dengan panjang lebar.


"Idih! Lagaknya kayak anak pintar aja lo. Ulangan Sosiologi aja dapat 50. Huuu!" Tari yang merasa geram segera membalas dengan fakta. Elsa otomatis mengikik geli.

__ADS_1


"Eh, ada gosip baru beredar. Lo sama Raffi kali ini beneran pacaran? Coba konfirmasi ke kita dong. Jangan sampai kita-kita ini tahunya dari orang lain." Tari berujar sambil sedikit memanyunkan mulut.


"Iya, bener banget. Pokoknya lo bukan komplotan kita lagi kalau masih rahasia-rahasiaan." Citra melipat tangan di depan dada.


"Mmm..." Elsa mengulum bibir sembari berpikir. Bola matanya bergerak ke arah kanan atas.


"Wah, dia mikir! Jadi gosipnya beneran? Lo pacaran sama Raffi?!" seru Tari yang langsung menyimpulkan.


"Hush!" Elsa reflek menggeplak pelan pipi Tari. Agar temannya itu tidak terlalu heboh.


"Tahu nih Tari. Lebay banget sumpah!" komentar Citra. Menatap risih kepada Tari.


"Sorry, Hehe..." Tari mengusap tengkuk akibat merasa malu.


Satu-satunya orang yang memasang ekspresi datar hanyalah Ratna. Dia tentu merasa sakit hati melihat sikap Elsa yang terlihat tidak membantah gosip kali ini. Ratna bisa menebak bahwa Elsa dan Raffi memang benar-benar berpacaran.


"Plis, rahasiain ya. Gue kasih tahu, karena gue percaya sama kalian. Awas aja kalau nyebarin kemana-mana!" mohon Elsa. Menatap serius ketiga temannya satu per satu.


"Astaga, masalah itu kita kan jagonya. Iyakan, Na?" ujar Tari seraya merangkul pundak Ratna. Namun Ratna sama sekali tidak menjawab. Cewek itu terkesan seperti melamun.


Menyaksikan mimik wajah Ratna yang sendu, Elsa baru teringat akan suatu hal. Dia benar-benar lupa kalau Ratna pernah memberi Raffi sebuah kado. Dirinya lupa bahwasanya Ratna memiliki perasaan istimewa untuk Raffi. Kini Elsa hanya bisa menggigit bibir bawahnya. Ia merasa tidak enak.


"Ratna!" panggil Citra sekali lagi. Barulah Ratna tersadar dari lamunan.


"Eh, iya!" sahut Ratna. Memaksakan dirinya tersenyum.


Selang sekian menit, Raffi muncul dari kejauhan. Dia melenggang ke arah dimana Elsa berada. Cowok itu berjalan di bawah panas sinar matahari. Raffi menyampirkan tas ranselnya di salah satu bahu. Dasinya terlihat berkibar diterpa angin.


"Eh, do'i datang tuh. Gila, El! Cowok paling keren di sekolah sekarang jadi milik lo." Citra mengguncang-guncang badan Elsa.


"Emang udah berapa lama sih kalian pacaran?"


"Eh, sumpah. Gue tuh lebih penasaran, Elsa tuh sukanya semenjak kapan. Jangan bilang pas lo masih kecil?" Tari dan Citra masih saja heboh. Mereka ingin tahu lebih banyak dan saling berdahuluan bertanya.


"Nanti aja gue jawabnya. Gue mau pergi sekarang. Bye!" Elsa beranjak meninggalkan ketiga temannya.


Sikap ceria Tari dan Citra menularkan aura yang begitu positif. Hingga membuat Elsa tidak berhenti tersenyum girang.

__ADS_1


"Ya udah, di grup chat nanti ya, El. Banyak yang harus kita bahas!" pekik Citra sembari terkekeh senang bersama Tari. Sedangkan Ratna hanya bisa mengukir senyuman kecut.


__ADS_2