Sisi Gelap Dunia Anak SMA

Sisi Gelap Dunia Anak SMA
Bab 50 - Depresi Ringan


__ADS_3

...༻☆༺...


Setelah puas menikmati obat terlarang serta aktifitas senggama, Gamal berpindah posisi. Dia kembali ke kamar dan meninggalkan Zara di ruang film sendirian.


Akibat kelelahan, Gamal dan Zara tertidur cukup lama. Itu karena serbuk putih membuat mereka aktif melakukan kegiatan sampai 24 jam lebih. Tanpa tidur dan makan. Serbuk putih jenis crystal meth tersebut memang dapat menghilangkan rasa lapar. Serta memberikan semangat berapi-api dalam waktu yang cukup lama.


Setelah hampir seharian, Zara terbangun dari tidur. Dia menemukan dirinya acak-acakan. Ruangan tempat Zara berada bahkan lebih berantakan dibanding dirinya.


Zara merasakan kepalanya pusing. Dia rebahan menyamping di lantai. Zara lupa sudah berapa kali berhubungan intim dengan Gamal. Sebenarnya ini pertama kalinya Zara melakukan hubungan intim dalam pengaruh obat-obatan terlarang. Jadi dia tidak tahu efeknya akan separah ini.


Sekujur badan Zara terasa pegal. Dia yang tadinya rebahan ke samping, perlahan telentang. Menselonjorkan kakinya dengan rata. Zara berpelukan pada selimut yang sedang menutupi tubuh bugilnya.


"Ugh..." gumam Zara sembari meringiskan wajah. Penglihatannya agak samar-samar. Meskipun begitu, dia mencoba menyadarkan diri.


Zara mencoba mengedarkan pandangan ke segala arah. Dia mencari Gamal. Tetapi tidak menyaksikan cowok itu dimana-mana. Alhasil Zara kembali memejamkan mata. Dia tertidur dalam beberapa jam kemudian.


Ketika terbangun, Zara langsung mengenakan pakaian. Energinya sudah cukup terkumpul. Dia berjalan tergopoh-gopoh hanya untuk membuka pintu.


"Laper... gue laper banget." Zara memegangi perutnya yang terasa kosong. Dia memang tidak makan selama satu hari lebih bersama Gamal.


"Bi Nur!" panggil Zara sembari melangkah pelan menuju meja makan. Langkahnya terhenti saat menyaksikan ada banyak makanan di meja.


Tanpa basa-basi, Zara bergegas mengambil sepiring nasi. Lalu makan seperti orang yang sedang kelaparan.


Bi Nur meringiskan wajah saat melihat Zara. Penampilan cewek itu tampak berantakan. Rambutnya sangat acak-acakan. Jika di ibaratkan, keadaan Zara sekarang persis seperti gelandangan yang kelaparan.


Lama-kelamaan, Zara mulai kenyang. Dia menghentikan aktifitas makannya, lalu menghabisakn segelas air. Satu sendawa keluar dari mulutnya. Zara segera menatap ke arah Bi Nur.


"Bi, Gamal mana? Dia udah makan?" tanya Zara.

__ADS_1


"Belum, Mbak. Ini aku lagi nyiapin makanan buat dia. Tapi pas Bibi cari ke kamar, Den Gamalnya nggak nyahut. Pintu kamarnya juga dikunci. Coba Mbak yang panggilin, mungkin Den Gamalnya mau bukain," jawab Bi Nur lembut.


"Mungkin..." Zara mengangguk setuju. Dia mencuci tangan dan wajahnya terlebih dahulu. Kemudian pergi menuju kamar Gamal.


Zara menggedor pintu Gamal. Dia juga tidak lupa memanggil nama cowok itu. Zara sama sekali tidak melakukan panggilan lembut. Melainkan sebuah ancaman, yang mungkin akan membuat Gamal langsung membukakan pintu.


"Gamal! Gue bakal kasih tahu bokap lo semuanya, kalau pintunya nggak dibuka!" seru Zara.


Gamal yang di dalam sebenarnya sedang merasa lemas. Mendengar seruan Zara, dia segera bangkit dari kasur. Lalu berjalan sempoyongan untuk membukakan pintu.


"BERISIK LO!!!" sungut Gamal, ketika pintu sudah terbuka. Dia hanya mengenakan celana pendek. Wajahnya terlihat pucat pasi.


"Lo kalau udah konsumsi begituan, mesti makan yang banyak. Ayo, ikut gue ke meja makan!" Zara membawa Gamal untuk ikut bersamanya. Akan tetapi Gamal dengan cepat menarik tangannya kembali.


"Gue nggak sanggup jalan ke bawah." Gamal ambruk ke lantai. Kepalanya terasa sangat pusing. Hal itu karena dia mengkonsumsi banyak obat terlarang dibanding Zara.


"Makanya, jangan makan terlalu banyak. Gue kan kemarin berapa kali bilangin elo. Mati kutu kan lo sekarang!" gerutu Zara. Dia mencoba membantu Gamal kembali ke kasur. Namun tenaga Zara tidak cukup kuat untuk membawa tubuh Gamal.


"Astaga, udah dibantuin juga!" Zara menggertakkan gigi.


Gamal berdecak kesal. Dia memaksakan diri untuk bangkit. Gamal melakukannya agar Zara tidak kerepotan. Usahanya lantas membuahkan hasil. Kini Gamal berhasil rebahan di kasur.


Mata Gamal melirik ke arah Zara yang duduk di sebelah. Cewek itu terlihat sibuk bermain ponsel.


"Sumpah... lo mending mandi deh. Rambut lo mirip orang gila yang sering keluyuran di jalan," komentar Gamal.


"Idih! Gue kayak gini gara-gara lo kali!" sahut Zara sembari merapikan rambut pendek sebahunya. Dia meletakkan ponsel ke atas nakas. Kemudian keluar kamar.


Selang beberapa menit, Zara kembali dalam keadaan membawa nampan berisi makanan dan minuman.

__ADS_1


"Nih! Puas lo. Gue mau mandi!" ujar Zara. Dia sudah menaruh nampan ke dekat Gamal. Menyuruh cowok itu untuk segera mengisi perut. Sementara dirinya beranjak ke kamar mandi.


Gamal yang sebenarnya kelaparan, langsung melahap makanan bawaan Zara. Sama seperti Zara tadi, Gamal juga makan sangat lahap. Perutnya butuh gizi yang banyak akibat tidak di isi hampir dua hari.


Entah kenapa Gamal mendadak merasa emosional. Apalagi saat mengingat dirinya sedang sendirian sekarang. Hati Gamal merasa tersayat. Dia merasa tertekan kala mengingat keadaannya.


Prang!


Gamal menghempaskan nampan ke lantai. Hingga piring dan gelas kaca jatuh. Berubah menjadi menjadi serpihan-serpihan kaca.


Gamal merasa frustasi. Rasa kesepian terasa membunuh. Dia berharap mendapatkan kepedulian dari seseorang. Terutama dari kedua orang tuanya. Tetapi bagaimana Gamal bisa berharap? Orang tuanya bahkan hampir tidak pernah menelepon untuk menanyakan kabar.


Ceklek!


Zara yang mendengar adanya keributan, bergegas menyelesaikan aktifitas mandi. Lalu keluar untuk memeriksa apa yang terjadi. Dia tidak menyangka bisa menemukan Gamal sedang menangis.


"Mal, lo nggak apa-apa?" tanya Zara seraya berjalan kian mendekat. Ia dalam keadaan masih mengenakan handuk.


"Gue ngerasa sendiri... Nggak punya siapa-siapa. Mungkin kalau gue mati, nggak bakalan ada yang peduli..." lirih Gamal yang tengah mencengkeram kepala dengan perasaan frustasi.


"Eh, siapa bilang. Lo masih punya orang tua. Nggak kayak gue, harusnya gue yang ngomong begitu." Zara duduk ke pinggir kasur. Tangan Gamal perlahan melingkar di pinggulnya.


"Mereka orang tua nggak berguna!" cetus Gamal. Dia menenggelamkan wajah ke kasur. Gamal malah semakin tenggelam dalam tangisan.


Sebenarnya depresi kecil yang di alami Gamal merupakan efek dari obat terlarang. Dia baru mengalaminya sekarang, karena mengkonsumsi lebih banyak obat dibanding dari biasanya.


"Udah, Mal... gue--" ucapan Zara terhenti, tatkala Gamal mulai menangis histeris di pangkuannya.


Gamal terus saja mengeluh tentang kesendiriannya. Zara yang sebenarnya memiliki nasib sama, perlahan merasa ikut emosional. Mata cewek itu jadi berkaca-kaca.

__ADS_1


"Lo harusnya bersyukur. Orang tua lo masih hidup, dan punya banyak uang. Lo harusnya jadi anak baik, Mal..." tutur Zara. Air matanya perlahan meleleh di pipi.


"Lo harus tahu. Selama bertahun-tahun gue sendirian. Nyari uang sendiri, beli baju sendiri, semuanya gue lakuin sendiri. Kesendirian gue itu lebih parah dari lo!" pungkas Zara melanjutkan. Dia akhirnya ikut memecahkan tangis.


__ADS_2