
...༻☆༺...
Raffi akhirnya memutuskan untuk duduk beristirahat. Dia memasang raut wajah cemberut. Putri yang terlihat baru datang, segera berlari masuk ke ruangan. Kebetulan dia memegang posisi sekretaris di kepengurusan osis.
Putri tampak membawakan banyak minuman dan camilan untuk semua orang. Dia meletakkan pelastik ke meja terlebih dahulu. Lalu memberikan sebotol minuman kepada Raffi.
"Nih! Lo pasti haus," ujar Putri.
"Thanks! Tapi gue lagi nggak haus!" balas Raffi ketus. Bola matanya terus bergerak untuk memperhatikan Elsa dan Fahri.
"Minggir lo!" Zara mendorong Putri menjauh. Dia mengambil alih untuk berdiri ke hadapan Raffi. Zara menawarkan minuman isotonik kesukaan Raffi.
"Gue nggak haus!" Raffi bangkit dari tempat duduk. Lalu bergabung bersama Gamal, Danu, dan Tirta.
Zara tercengang. Baru kali ini dia menyaksikan sikap Raffi begitu dingin. Cewek itu hanya bisa memiringkan kepala, kemudian meminum minuman yang tadi harusnya diberikan kepada Raffi.
Setelah rampung melakukan bersih-bersih. Pak Willy datang mengunjungi ruang osis. Dia memberitahukan bahwa saat di penghujung liburan nanti akan diadakan kegiatan masa orientasi siswa baru. Jadi, semua pengurus osis disarankan untuk membuat persiapan sebelum kegiatan berlangsung.
"Yah, nggak bisa liburan lama-lama nih," komentar Tirta.
"Pikiran lo liburan mulu deh," sahut Gamal. Dia perlahan melirik Raffi yang sedari tadi terus cemberut. Gamal dapat menyimpulkan kalau Raffi pasti masih kesal dengan kedekatan Elsa dan Fahri.
"Raf, lo sama keluarga nanti liburan kemana?" tanya Gamal dengan nada berbisik.
"Nggak tahu. Kayaknya ke rumah nenek gue kali. Kata bokap gue, kami udah lama nggak ke sana," sahut Raffi. Kedua alisnya hampir bertautan.
Gamal memilih bungkam. Dia merasa kalau sekarang bukan waktu yang tepat untuk mengajak Raffi bicara.
Pak Willy telah menyampaikan informasi penting. Selanjutnya, dia menyuruh semua orang untuk pulang. Kebetulan semua anggota osis harus pulang lebih terlambat dibanding murid lain.
Raffi megambil tas dan segera menarik tangan Elsa. Dia membawa cewek itu jauh dari keramaian. Namun Elsa memaksa berhenti di pinggir lapangan. Dia sepertinya malas berjalan terlalu jauh.
"Ngomong di sini aja!" ujar Elsa.
Raffi medengus kasar dan bertanya, "Lo pacaran sama Fahri ya?"
__ADS_1
"Apaan sih! Nggak kok." Elsa mengerutkan dahi.
"Terus kenapa lo deket banget sama dia?!" Raffi ikut mengernyitkan kening.
"Emangnya kenapa? Kenapa lo peduli?" sungut Elsa.
"Ya gue peduli-lah. Jangan dekat-dekat dia lagi!"
"Hah? Emang lo siapa gue?! Sahabat? Emang sahabat bisa ngatur-ngatur urusan asmara sahabatnya ya?"
"Lo kenapa jadi berubah gini sih? Nggak asik banget!" Raffi terperangah tak percaya. Tanpa sadar, pertengkarannya dan Elsa menjadi bahan tontonan semua anggota osis yang lain.
"Eh, semuanya berubah karena elo!" Elsa mendorong kasar jidat Raffi dengan jari telunjuk. Dia sangat geram terhadap tingkah cowok itu.
Raffi terperangah. Dia mengusap kasar wajahnya satu kali. "Apa ini karena keputusan gue tempo hari ya? Emang kenapa sih? Gue kan buat keputusan begitu dengan niat ngelindungin kita berdua. Gue pengen kita sama-sama fokus belajar. Gue--"
"Bacot!" Elsa sengaja menabrak bahu Raffi. Dia pergi begitu saja sembari memasang raut wajah cemberut.
"Elsa!" pekik Raffi.
"ELSA!" Raffi sekali lagi memanggil. Akan tetapi Elsa sama sekali tidak peduli. Dia justru mengajak ketiga temannya untuk pulang bersama. Semenjak itu, Raffi dan Elsa tidak pernah pergi dan pulang bersama lagi.
"Pasti lo seneng?" terka Gamal sembari menoleh ke arah Zara.
"Idih! Kayak sendirinya enggak," balas Zara.
"Gue sekarang lagi nggak minat deketin Elsa. Malas juga gue berantem sama Raffi. Lo aja sana sendiri," hardik Gamal. Menyebabkan Zara menganga tak percaya.
"Lo serius? Lo kenapa sih berubah banget sekarang? Udah bosan sama gue?" mata Zara mendelik.
"Iya, gue udah bosan." Gamal menjawab dengan santainya. Dia bahkan menambahkan senyuman lebar. Terlihat sangat menyebalkan bagi Zara. Zara otomatis memilih pergi meninggalkan Gamal.
...***...
Liburan telah tiba. Raffi dan keluarganya akan berlibur ke kampung halaman. Alias ke rumah neneknya Raffi.
__ADS_1
Sementara Elsa, dia dan keluarga Vina berlibur bersama ke Singapura. Kebetulan hari keberangkatan mereka berbarengan dengan keluarga Raffi. Jadi, keluarga Raffi memutuskan makan siang bersama keluarga pamannya Elsa.
Heni menawarkan semua orang untuk makan di restorannya. Keluarga pamannya Elsa tentu tidak dapat menolak tawaran dari Heni.
Kini semua orang sedang berada di restoran. Untuk yang pertama kalinya, Raffi dan Elsa duduk berjauhan. Mereka bahkan tidak saling menyapa.
Sebagai orang terdekat Raffi, Heni merasa ada yang janggal dengan hubungan putranya dan Elsa. Dia perlahan mendekatkan mulut ke telinga Raffi.
"Kamu sama Elsa berantem?" bisik Heni.
"Nggak kok, Mah. Cuman masalah kecil aja. Nanti juga baikan kok," jawab Raffi berkilah. Dia memaksakan diri untuk tersenyum. Tanpa sengaja pandangannya harus bersibobrok dengan Elsa. Dalam sekejap jantung Raffi berdebar kuat. Meskipun begitu, cowok itu langsung membuang muka ke arah lain.
Berbeda dengan Elsa, yang malah merasa semakin membenci Raffi. Akibat tidak tahan lagi, dia pergi ke toilet sebentar. Di sana Elsa mencoba melampiaskan kekesalan. Rasanya dia ingin sekali menjambak rambut Raffi sekuat mungkin.
"Dasar cowok nggak peka! Udah dicuekin juga, masih aja nggak ngerti. Sekarang gue nggak mau peduli! Mending gue pacaran aja sama yang lain!" gumam Elsa. Dia bicara kepada pantulannya yang ada di cermin.
Makan siang telah selesai. Dua keluarga lantas saling berpamitan. Mereka segera pergi ke tempat tujuan masing-masing.
Raffi memasang headset selama perjalanan. Lagu Tulus yang berjudul Hati-Hati Di Jalan, bergema di telinga. Lama-kelamaan dia tertidur.
Saat mendengar suara seseorang, Raffi langsung membuka mata. Dia menyadari dirinya sudah tiba di rumah nenek.
Bagi Raffi definisi nenek itu banyak. Pertama tukang cium, kedua tukang suruh, dan ketiga tukang ceramah. Belum lagi keadaan rumah nenek yang masih kuno. Alias seperti rumah jawa pada zaman dahulu. Kebetulan neneknya Raffi terus-terusan menolak rumahnya untuk direnovasi. Memang, pemikiran orang tua sangatlah sulit dipahami. Setidaknya begitulah hal yang terlintas dalam benak Raffi.
Sosok wanita tua renta tampak muncul dari balik pintu. Dua pembantunya sontak saling berdahuluan membantu neneknya Raffi berjalan.
"Bocah gantengku wis datang." Neneknya Raffi yang bernama Fatma itu merentangkan tangan. Dia memeluk Irwan terlebih dahulu. Kemudian dilanjutkan dengan mendekap Heni.
Terakhir, barulah Fatma memeluk Raffi. Dia tentu tidak lupa menambahkan ciuman ke pipi kanan dan kiri cucunya.
Raffi tersenyum kecut. Dia masih canggung menghadapi sang nenek. Setelah sesi pertemuan, Fatma segera menyarankan untuk beristirahat. Hari kebetulan sudah hampir malam.
Sebelum di antar ke kamar, Raffi dengan cepat memegangi lengan Heni. Dia berbisik, "Mah, aku nggak mau tidur sendiri."
Heni terkekeh. Dia mengadukan bisikan Raffi kepada Irwan. Kini Irwan malah ikut-ikutan tergelak.
__ADS_1
"Kenapa kamu nggak pernah berubah sih kalau datang ke sini? Kamu udah gede loh. Malu tidur ditemani terus," timpal Irwan.
"Di rumah aku tidur sendiri kok. Di sini aja aku malas." Raffi mendengus kasar. Wajah masamnya membuat ayah dan ibunya kembali tertawa.