Sisi Gelap Dunia Anak SMA

Sisi Gelap Dunia Anak SMA
Bab 63 - Obrolan Elsa & Zara


__ADS_3

...༻☆༺...


Raffi dan Elsa baru saja selesai melakukan kegiatan intim. Mereka sama-sama dalam keadaan rebahan di kasur. Mengontrol deru nafas yang masih sulit di atur.


"Gue mau ke toilet!" ujar Elsa sembari mengenakan dressnya. Lalu berjalan dengan pelan.


"Lo nggak papa kan, El?" Raffi merubah posisi menjadi duduk. Ia cemas ketika melihat ekspresi Elsa terlihat masam. Seolah seperti menahan rasa sakit.


"Gue baik-baik aja. Jangan ikut!" balas Elsa. Berlari kecil hingga menghilang ditelan pintu kamar mandi.


Elsa meringiskan wajah. Dia memegangi organ intimnya dengan satu tangan. Elsa berusaha kuat. Kemudian memeriksa keadaan dirinya. Satu hal yang pasti, dia menemukan alat vitalnya berdarah akibat akitifitas intim dengan Raffi tadi.


Untuk perempuan yang baru pertama kali melakukan, Elsa tentu dirundung perasaan takut. Ia menggigit bibir bawahnya. Lalu menatap pantulan dirinya ke cermin.


"Gue nggak papa kan ya?" gumam Elsa. Bertanya kepada dirinya sendiri. Dia tentu tidak bisa mendapat jawaban langsung. Elsa menghabiskan waktu di kamar mandi cukup lama. Hal tersebut membuat Raffi merasa kembali khawatir.


"Elsa? Lo ngapain? Kok lama?" tanya Raffi seraya mengetuk pintu. Dia sudah mengenakan pakaian. Berupa celana pendek dan kaos oblong berwarna hitam.


Ceklek!


Elsa yang telah selesai membersihkan diri, segera membuka pintu. Dia menghela nafas panjang. Sebab Raffi masih saja menanyakan pertanyaan yang sama sedari tadi.


"Udah gue bilang, gue baik-baik aja. Lo nggak percaya banget sih," sinis Elsa. Kedua alisnya hampir bertautan.


"Gue cemas tau. Gue takut lo marah karena apa yang kita lakukan tadi." Raffi memegang lembut lengan Elsa.


"Enggaklah... yang tadi itu juga kemauan gue kok." Elsa malah membawa Raffi masuk ke dalam pelukan. Kini dia merasa lebih nyaman dari sebelumnya.


"Syukur deh kalau gitu." Raffi membalas pelukan Elsa. Keduanya saling mendekap cukup lama. Tetapi kegiatan mereka harus berakhir kala bunyi pintu depan terdengar terbuka. Belum lagi suara Heni yang langsung menyerukan nama putranya.


"Gue mendingan pulang aja. Jangan lupa cuci mangkuk bekas baksonya ya!" ujar Elsa sambil merapikan rambut dan pakaian. Sebelum dirinya sempat pergi, Raffi tidak lupa memberikan sebuah kecupan singkat di bibir. Sekarang mereka benar-benar bersikap seperti sepasang pengantin baru.


"Hati-hati ya!" ucap Raffi setelah memberikan ciuman.


"Idih! Tinggal nyeberang aja kok. Lebay deh," tanggap Elsa sambil terkekeh malu.

__ADS_1


"Kan nyeberang juga harus hati-hati." Raffi memberikan alasan. Dia membiarkan Elsa keluar dari kamar. Di iringi Raffi setelahnya. Sambutan ramah dari Heni langsung didapatkan oleh Elsa.


"Loh, ada Elsa ternyata. Kalian habis belajar?" tanya Heni. Menatap Raffi dan Elsa secara bergantian.


Awalnya Raffi dan Elsa reflek saling bertukar pandang. Tidak mungkin mereka mengatakan yang sebenarnya. Alhasil baik Raffi maupun Elsa memilih untuk berbohong.


"Iya, Tante. Baru aja selesai. Aku mau pulang dulu," sahut Elsa lembut.


"Nggak mau makan-makan dulu? Tante bawain donat nih," tawar Heni. Akan tetapi langsung mendapat gelengan kepala dari Elsa.


"Nggak usah, Tante. Aku mau pulang aja. Udah larut juga, hehe..." Elsa berusaha menolak secara halus.


"Ya udah, gini aja, Mah." Raffi mengambil plastik berisi donat milik Heni. Kemudian memberikan beberapa donat untuk Elsa.


"Bener juga ya, Mamah nggak kepikiran." Heni memukul pelan pundak sang putra. Saat itulah Elsa benar-benar berpamitan untuk pulang.


Setibanya di kamar sendiri, Elsa langsung mengambil ponsel. Hanya ada satu nama yang terlintas dalam kepalanya. Yaitu nama Zara.


...'Ra, besok bisa ketemuan nggak? Ada yang mau gue omongin.'...


Begitulah pesan yang dikirim oleh Elsa kepada Zara. Awalnya Zara merasa heran, bisa tiba-tiba mendapatkan pesan dari Elsa. Sebab hubungan keduanya tidak seakrab itu. Namun di akhir, Zara setuju untuk bertemu. Mereka besok akan bertemu di sebuah cafe.


Tepat jam sepuluh siang, Elsa berangkat dari rumah. Hari itu kebetulan merupakan hari terakhir liburan. Jadi, Elsa mencoba memanfaatkan waktu sebaik mungkin.


Elsa pergi menggunakan motor. Sebelum pergi, dia memastikan Raffi tidak mengetahui kepergiannya.


Hanya perlu menempuh waktu lima belas menit, Elsa sudah tiba di cafe. Zara terlihat telah tiba lebih dulu. Cewek berambut pendek sebahu itu sedang sibuk menikmati segelas capuccino dingin.


Elsa lantas memilih duduk di samping Zara. Lalu memesan jus alpukat kepada pelayan.


"Eh, tumben lo mau ngajak gue ketemuan begini. Di suruh sendiri lagi. Jangan bilang lo juga mau bayar jasa gue?" tebak Zara seraya membulatkan mata.


"Idih! Nggak kok. Gue cuman mau tanya sesuatu doang," Elsa menepis. Perlahan dia berbicara dengan nada berbisik. Itulah alasan Elsa duduk tepat di samping Zara.


"Tanya apaan? Kayaknya serius banget." Zara menatap heran Elsa.

__ADS_1


Sebelum benar-benar membicarakan topik utama, Elsa memastikan suasana di sekitar sepi. Selanjutnya, barulah dia angkat bicara.


"Tadi malam gue sama Raffi... ngelakuin itu." Elsa memberitahu sambil menyatukan kedua tangan menjadi satu. Memberikan isyarat dengan bahasa tubuhnya tersebut.


"Ngelakuin apa? Kalian mabuk?" Sayangnya Zara tidak langsung memahami.


Elsa mendengus kasar. Dia akhirnya berbisik ke telinga Zara dan mengatakan yang sebenarnya. Mata Zara sontak terbelalak. Cewek itu kaget ternyata Raffi bisa berbuat begitu. Zara tak pernah menduga.


"Gila, El. Gue kalau jadi lo juga nggak bakalan nolak. Cewek mana coba yang nggak mau di acak-acak sama Raffi," komentar Zara blak-blakkan. Dia tentu langsung kena pukulan amarah dari Elsa. Sebab Zara berbicara dengan nada yang cukup nyaring.


"Bisa nggak ngomongnya pelan-pelan aja." Elsa memberikan teguran. Apa yang dilakukannya sukses membuat Zara tersenyum kecut.


"Terus yang mau lo tanyain apa, El? Bukannya itu enak ya? Dilakuin sama orang yang disuka lagi." Zara akhirnya bicara dengan nada pelan.


"Enak sih... cuman... agak sakit ya. Normal nggak sih kalau organ intim kita berdarah? Gue takut kenapa-kenapa," ujar Elsa. Memasang raut wajah cemas. Namun Zara justru merespon dengan gelak tawa.


"Lo kenapa malah ketawa? Nggak lucu tau!" timpal Elsa.


Zara perlahan berhenti tertawa. Melipat tangan ke meja. Kemudian mengukir ekspresi datar. "Itu normal pas dilakukan pertama kali, El. Nanti kalau next part-nya, gue jamin bakalan lebih enak. Tadi malam Raffi pakai tameng nggak sih?" tukasnya.


"Tameng? Apaan tuh?" Elsa mengerutkan dahi.


"Kon-dom, bego!" Zara memberitahu tepat ke telinga Elsa.


Mata Elsa langsung membuncah hebat. Dia mendadak merasa panik. Sebab tadi malam Raffi tidak memakai tameng saat berhubungan intim.


"Gimana dong? Gue nggak akan hamil kan ya?" Elsa memastikan. Berharap Zara memberikan penjelasan lebih lanjut.


"Nggak sih, kalau Raffi ngeluarinnya di luar. Tapi kalau ngeluarinnya di dalam, ada kemungkinan sih lo hamil." Zara menjelaskan sembari menyilangkan tangan di depan dada.


"Lo ngomong apa lagi sih? Keluarin apaan?" tanya Elsa. Jujur saja, dia terbilang cewek yang masih polos.


"Bwahahaha!" sekali lagi Zara tergelak. Dia lucu dengan sikap Elsa. "Begini nih akibatnya kalau pemerintah fokus bangun ekonomi terus. Nasib anak muda jadi terbengkalai kayak rumah kosong. Pendidikan begituan kagak ada diajarin dimana-mana," keluh Zara dengan asal. Menyebabkan Elsa kembali cemberut.


Zara merangkul pundak Elsa. Dia segera menjelaskan semuanya dengan rinci. Elsa yang mendengar, hanya bisa mengangguk-anggukkan kepala.

__ADS_1


"Sebenarnya tameng nggak selalu efisien sih. Bisa aja nggak ketahuan bocor. Makanya sejak awal, yang terbaik emang nggak usah dilakuin. Gue juga kadang nyesel udah terjun ke dunia begini," ungkap Zara penuh sesal. "Sekali coba, bakalan keterusan, El. Hal kayak beginian sama aja kayak narkoba yang bikin candu," tambahnya.


Elsa mendengus kasar. Dia tidak bisa menampik pernyataan Zara.


__ADS_2