Sisi Gelap Dunia Anak SMA

Sisi Gelap Dunia Anak SMA
Bonus Chapter - Akhir Raffi & Elsa


__ADS_3

...༻☆༺...


Usia kandungan Elsa telah memasuki bulan ke-enam. Perutnya terlihat sudah membesar. Kini dia sedang menghabiskan waktu di rumah Fajar. Melakukan kegiatan makan malam bersama.


Seluruh keluarga Fajar telah menerima Elsa apa adanya. Simpati mereka justru bertambah.


"Elsa, Tante ada beliin kamu kue putu loh. Kemarin Tante dengar, kamu ngidam ingin makan kue ini," tawar Risna sembari mengambilkan kue yang disebutkannya untuk Elsa. Ia melakukannya tanpa mendengar persetujuan sang keponakan terlebih dahulu.


"Makasih, Tante..." ucap Elsa seraya mengembangkan senyuman tipis. Sebenarnya dia sudah memakan kue putu kemarin sore. Ibunya Raffi malah bersedia membuatkan kue tersebut khusus untuk Elsa.


Elsa tidak menyangka, dia akan mendapatkan banyak sekali perhatian saat sedang hamil. Andai dulu dirinya tahu akan begitu, mungkin Elsa tidak akan pernah menggugurkan kandungan pertamanya.


Setelah menghabiskan makan malam, Fajar mengajak Elsa bicara empat mata. Lelaki paruh baya itu ingin membicarakan sesuatu hal penting. Keduanya sudah duduk di kursi yang ada di teras depan.


"Gimana belajar kamu sama Raffi? Lancar kan?" tanya Fajar. Mengawali obrolan.


"Banget. Aku malah lebih enak belajarnya kalau sama Raffi," jawab Elsa. Aura cerianya kembali lagi.


"Syukur deh kalau begitu. Paman ikut senang juga. Lalu apa rencanamu kalau sudah lulus SMA? Mau lanjutin kuliah nggak?" Fajar menatap Elsa dengan ekor matanya.


Elsa terdiam sejenak. Sebenarnya dia sudah banyak bicara dengan Raffi mengenai masa depan kelak. Mereka berniat ingin sama-sama berkuliah keluar negeri. Tepat setelah anak mereka lahir nanti. Alhasil Elsa memberitahukan rencana tersebut kepada Fajar.


"Paman senang banget dengarnya. Kalau begitu, Paman akan bantu kamu. Seluruh harta warisan yang aku simpankan, Paman akan serahkan sama kamu sepenuhnya. Gunakan itu dengan baik ya," ujar Fajar lembut.


"Beneran, Paman?" Elsa memastikan.


"Bener. Itu kan emang hak kamu. Sekarang kamu udah punya keluarga sendiri. Jadi bisa gunakan uang itu dengan baik ya." Fajar mengusap puncak kepala Elsa.


"Makasih banyak, Paman." Elsa yang merasa terharu, segera memeluk pamannya.


"Tapi jangan semuanya juga, Paman. Sisakan uangnya untuk Paman ya," kata Elsa yang telah melepas dekapannya dari Fajar.

__ADS_1


"Itu kayaknya harus deh. Sebagai upah jaga kandang," canda Fajar. Menyebabkan Elsa tidak kuasa menahan tawa.


"Jaga kandang? Paman ada-ada aja deh," komentar Elsa. Pembicaraannya dan Fajar berakhir disitu.


Tidak lama kemudian, Raffi dan Heni datang. Keduanya baru menjemput neneknya Raffi dari kampung.


Elsa bergegas menyambut kedatangan neneknya Raffi. Dia mendapatkan sapaan ramah dari wanita tua itu.


Perbincangan keluarga cukup lama dilakukan. Satu-satunya orang yang tidak hadir adalah Irwan. Sebab Heni sudah membuat keputusan untuk menggugat cerai.


Raffi sama sekali tidak masalah dengan pilihan kedua orang tuanya. Bila itu adalah yang terbaik, maka dirinya tidak bisa berbuat apapun.


Selepas puas mengobrol, Raffi dan Elsa kembali ke kamar bersama. Elsa tampak lebih dulu telentang ke kasur.


"Sayang... aku mau ngomong sesuatu," imbuh Elsa.


Raffi yang baru selesai berganti baju, segera duduk ke samping Elsa. Menatap istrinya sambil menopang dagu dengan satu tangan. "Kenapa istriku yang cantik?..." ujarnya. Membuat pipi Elsa sontak tersipu malu.


"Apaan sih, lebay banget deh." Elsa mendorong pelan Raffi. Dia memutar bola mata jengah sejenak.


"Aku mau bicara serius tahu!" Elsa menepuk kedua pipi Raffi dua kali.


"Oke?" Raffi otomatis memasang telinganya baik-baik.


Elsa menghela nafas panjang dan memasang ekspresi serius. "Sebenarnya... aku hamil anak kamu dua kali... maaf yang sebelumnya, aku nggak pernah kasih tahu kamu..." ungkapnya. Dia tidak berani menatap Raffi.


Senyuman Raffi langsung pudar. Dia tentu kaget mendengar pengakuan Elsa.


"Kenapa kamu baru kasih tahu sekarang?" Raffi menuntut jawaban.


"Aku saat itu takut banget. Aku nggak tahu harus gimana, karena itulah aku nekat gugurin kandungannya sendiri. Maafin aku ya..." tanpa sadar Elsa mulai menitikkan air mata.

__ADS_1


Raffi lekas menggeleng. Lalu mendekap Elsa dengan lembut. "Untung nggak ada yang terjadi apa-apa sama kamu. Udah jangan nangis. Semuanya sudah berlalu, kita fokus sama sekarang dan masa depan aja ya," ucapnya. Berusaha keras menenangkan sang istri.


Elsa hanya mengangguk pelan sembari menghentikan rengekannya. Dia dan Raffi segera telentang bersama. Kemudian perlahan tertidur.


...***...


Sembilan bulan terlewati. Elsa telah melahirkan seorang anak perempuan. Ramanda Pelita, itulah nama yang diberikan Raffi untuk anak tersebut. Usianya sudah menginjak enam bulan.


Bersamaan dengan itu, Raffi dan Elsa berniat kuliah ke Sidney, Australia. Mereka tentu akan membawa Ramanda ikut.


Kebetulan Raffi mengambil jurusan kedokteran bedah. Sedangkan Elsa memilih berkuliah di jurusan kuliner. Dua sejoli itu sengaja memilih kampus yang sama. Mereka melakukannya agar bisa lebih sering bertemu.


Walau sama-sama disibukkan dengan jadwal kuliah, Raffi dan Elsa berusaha menyisihkan waktu dengan Ramanda. Menjaga seorang anak tentu tidak semudah membalikkan telapak tangan.


Di suatu waktu, tepat ketika tengah malam. Raffi mencoba membangunkan Elsa. Ia hendak meminta jatah birahinya kepada sang istri.


"Sayang..." bisik Raffi ke telinga Elsa. Namun Elsa tidak kunjung terbangun.


Raffi lantas mengguncang badan Elsa. Guncangan tersebut sukses membangunkan Elsa.


"Kenapa?" tanya Elsa seraya mengusap matanya berulang kali.


"Aku mau anu..." jawab Raffi sambil mengerlingkan salah satu matanya.


"Apaan sih? Anu-anu apa?" Elsa mengerutkan dahi.


"Idih! Sok-sokan nggak ngerti lagi." Raffi segera melepas piamanya. Saat itulah Elsa mengerti apa yang dimaksud Raffi sedari tadi.


"Bwahahaha... ngomong dong dari awal. Nggak perlu pakai kode segala." Elsa tertawa lepas sejenak. Dia langsung ikut melepas pakaian.


Raffi memegangi tengkuk Elsa. Lalu perlahan mengecup bibir merah muda alami sang istri.

__ADS_1


Baru beberapa detik memulai, suara tangisan Ramanda tiba-tiba terdengar. Elsa sontak melepas tautan bibirnya dari mulut Raffi. Dia langsung bangkit dan mengenakan pakaian.


"Bentar ya, Sayang... aku tidurin Ramanda dulu..." Elsa meninggalkan Raffi begitu saja. Kini Raffi memilih rebahan sambil merentangkan tangan. Dia hanya bisa meneguk salivanya sendiri berulang kali.


__ADS_2