Sisi Gelap Dunia Anak SMA

Sisi Gelap Dunia Anak SMA
Bab 92 - Keputusan Gila


__ADS_3

...༻☆༺...


Selepas Raffi pergi, Gamal berjalan ke hadapan Olive. Ia memojokkan cewek itu ke lemari loker. Olive tampak mengedipkan matanya dengan ekspresi wajah polos.


"Lo mau jadi pacar gue nggak?" tidak ada angin, tidak ada hujan, Gamal melontarkan kalimat tersebut begitu saja.


"A-apa? Yang bener, Kak? Aku kira Kakak pacaran sama--" perkataan Olive terhenti saat Gamal menyumpal bibirnya dengan ciuman.


Olive yang sejak awal memang mengincar salah satu cowok populer di sekolah, tentu tidak akan menolak. Dalam hitungan detik status hubungan mereka berubah jadi pacaran.


Di sisi lain, Zara sebenarnya tidak pulang. Dia ada di belakang sekolah sambil menikmati rokok bersama Tirta.


"Lo gila, Ta. Lo harus tanggung jawab sama cewek itu!" tukas Zara. Dia baru mengeluarkan kepulan asap dari mulut. Tirta kebetulan meminta bantuan kepadanya tentang suatu hal.


"Terus berhenti sekolah gitu? Ya enggaklah! Lo mesti ngomong ke dia, kalau gue bakalan kasih uang sebanyak mungkin." Tirta mendengus kasar. Mengingat mantan kekasihnya yang sekarang sedang hamil lima bulan.


Zara terperangah. Dia selalu dibuat geram dengan sikap lelaki yang semaunya saja. Zara ingin sekali mengutuk orang seperti Tirta agar bisa merasakan yang namanya hamil!


"Lo pikir masalah akan selesai dengan uang? Di dunia ini ada yang nggak bisa di selesain sama uang! Termasuk tentang perasaan!" pungkas Zara. Ia yang tadinya berjongkok, segera berdiri menghadap Tirta.


"Gue salah pilih orang kayaknya. Seharusnya gue nggak cerita sama lo!" balas Tirta. Kemudian mencoba berderap meninggalkan Zara. Namun langkah kakinya terhenti kala melihat Gamal dan Olive lewat.


Zara yang belum beranjak, juga dapat menyaksikan kebersamaan Gamal dan Olive. Dia sontak tercengang. Bagaimana tidak? Gamal dan Olive terlihat begitu mesra sambil saling berangkulan.


Zara lekas membuang muka. Dia bertekad tidak mau peduli. Dirinya tahu kalau apa yang dilakukan Gamal hanyalah kepura-puraan.


"Kalian putus?" tanya Tirta sembari menoleh. Namun Zara memilih bungkam. Cewek itu segera berlalu pergi.


...***...


Waktu menunjukkan jam sepuluh malam. Elsa berjalan mengendap-endap keluar dari kamar. Dia berdiri sambil menatap tangga dari lantai dua.


Elsa berlari menuruni tangga. Setelah sampai di bawah, dia kembali naik ke atas. Elsa melakukannya berulang kali. Tanpa mengeluarkan suara dan hanya diterangi cahaya lampu yang remang. Kebetulan lampu utama dekat tangga selalu dimatikan saat malam hari.


Nafas Elsa mulai tersengal-sengal. Keringat juga sudah membasahi sebagian pakaiannya. Elsa mengenakan daster selutut.

__ADS_1


Jujur saja, sebelum berlari bolak-balik di tangga, Elsa memakan banyak sekali buah nanas. Menurut artikel yang dia baca di internet, buah nanas cukup berbahaya bagi ibu hamil. Terutama jika usia kandungan masih berada di trimester pertama. Elsa bahkan rela pergi ke pasar tradisional demi bisa membeli buah nanas.


Kini Elsa masih saja berlari di tangga. Ia tidak akan berhenti, sebelum melihat darah mengalir di antara kedua kakinya.


Lama-kelamaan Elsa mulai diserang rasa lelah. Meskipun begitu, dia tetap memaksakan diri. Hingga larinya semakin melambat. Rasa nyeri yang tak tertahankan mulai terasa di bagian perut. Sesuatu yang dinantikan Elsa terjadi. Darah segar mengalir di antara dua kakinya.


Elsa membekap mulutnya. Lalu perlahan duduk di salah satu anak tangga. "Maafkan aku..." ungkapnya kepada janin yang tak bersalah. Dia duduk sebentar untuk meredakan rasa nyeri. Tangan Elsa gemetaran karena merasa ketakutan.


Perlahan Elsa mengelap darah di kakinya dengan tisu. Kebetulan dia telah mempersiapkan tisu tersebut sejak awal. Dengan deraian air mata, Elsa memaksakan diri untuk tetap kuat.


Sebelum kembali ke kamar, Elsa tidak lupa membersihkan darah yang berceceran di tangga. Dia tentu tidak mau ada orang rumah yang tahu. Apalagi Vina, yang akhir-akhir ini terus melempar kata cibiran kepadanya.


Elsa berjalan pelan menaiki tangga. Tangannya terus memegangi perut yang sakitnya masih tak tertahan. Elsa ingin rebahan di kasur. Ia berpikir, itu akan meredakan rasa nyerinya.


Sekarang Elsa meringkuk sambil meringiskan wajah. Sampai akhirnya dia jatuh ke dalam lelap.


Malam berganti siang. Sinar matahari dari luar jendela, mengharuskan Elsa beringsut ke ujung kasur. Dia lagi-lagi memegangi perutnya. Sebab rasa nyerinya belumlah reda.


Elsa bangkit dari kasur, matanya langsung membelalak tatkala menyaksikan ada banyak darah di kasur. Elsa lantas menutupinya dengan selimut baru yang di ambil dari lemari. Selanjutnya, dia bergegas membersihkan diri terlebih dahulu.


Wajah Elsa sangat pucat. Dia sibuk bersih-bersih tanpa memindahkan satu tangannya dari perut. Walaupun begitu, Elsa tetap berniat sekolah. Ia bahkan sudah memakai seragam putih abu-abu.


Ceklek!


Pintu tiba-tiba terbuka. Elsa nyaris dibuat jantungan. Untung saja dia baru selesai membersihkan noda merah di kasur.


Sosok Raffi tampak muncul dari balik pintu. Dia datang karena ponsel Elsa tidak aktif sejak tadi malam.


Melihat Raffi, Elsa bergegas memoleskan lip cream ke bibirnya. Dia tidak mau terlihat lusuh di depan kekasihnya. Elsa memang tipe perempuan yang rela berkorban. Terutama jika dirinya memiliki orang yang sangat di sayang.


"Kasur lo kenapa? Lo ngompol?" timpal Raffi seraya tidak bisa menahan gelak kecil.


"Gue mens, darahnya tembus ke kasur. Jadi gue bersihin deh." Elsa memberikan alasan.


"Baru aja?" tanggap Raffi. Elsa lantas mengangguk untuk mengiyakan.

__ADS_1


"Padahal malam ini gue mau ngajak lo anu. Ya udah deh..." ungkap Raffi. Membuat Elsa reflek melemparkan bantal ke wajahnya.


"Pikiran lo itu aja terus!" cibir Elsa. Raut wajahnya tampak cemberut. Kemarahannya sekarang bukanlah bercanda.


"Ya ampun, PMS lo bangkit. Sabar, El..." Raffi mencoba menenangkan. Dia mendekat dan memegangi pundak Elsa dengan lembut. Tetapi Elsa lekas menepis.


"Lepasin!" kini kesabaran Elsa sudah habis. Rasa sakit yang dia derita membuat emosinya memuncak.


"Lo kenapa?!" Raffi mengerutkan dahi. Dia tidak mengerti.


"Gue--" Elsa berhenti berujar tatkala nyeri di perutnya kembali sakit.


"Elsa! Lo sakit perut? Gue bawa ke klinik ya?" Raffi mencoba membantu Elsa berjalan. Namun Elsa bergeming dan tidak mau beranjak. Cewek itu ingin bicara, tetapi rasanya tidak mampu.


Raffi yang panik, segera menggendong Elsa. Kemudian berlari memasuki mobil. Dia mendudukkan Elsa di kursi depan.


Kebetulan paman dan tantenya Elsa sedang tidak ada di rumah. Mereka sudah berangkat ke suatu tempat saat jam lima subuh. Katanya mereka berusaha menghadiri kematian bagian dari keluarga penting. Sedangkan Vina telah berangkat ke sekolah bersama adiknya.


Sesampainya di klinik terdekat, Elsa justru mencegah Raffi ikut dengannya. Dia ingin melakukan pemeriksaan sendirian. Raffi lantas menurut saja. Sebab Elsa terlihat serius dari biasanya.


Sekian menit berlalu, Elsa baru selesai melakukan pemeriksaan. Dokter yang memeriksanya tampak memasang raut wajah sendu.


"Kamu keguguran, Dek. Sebelumnya Adek tahu kalau sedang hamil nggak?" ujar Dokter yang menangani Elsa.


"En-enggak, Dok..." Elsa memilih berbohong. Dia menunjukkan ekspresi kaget. Seolah-olah baru mengetahui tentang kehamilannya.


"Oh, begitu. Kamu nggak ada ngerasain mual?" Dokter memastikan.


"Ada, cuman aku berpikir kalau itu cuman penyakit magh." Kebohongan Elsa berlanjut.


"Aku kasih obat aja ya. Biar nyerinya sembuh, terus rahimnya bersih." Dokter meresepkan obat untuk Elsa. Selanjutnya Elsa diperbolehkan pulang. Dia diberi saran agar tidak ke sekolah terlebih dahulu.


Elsa berjalan dengan gontai. Raffi otomatis bergegas menghampiri. Cowok itu langsung menanyakan keadaan Elsa.


"Gue nggak apa-apa." Elsa mengembangkan senyuman tipis. Lalu memeluk Raffi dengan erat. Dia berakhir memecahkan tangis. "Jangan tinggalin gue..." lirih Elsa. Semakin mengencangkan dekapannya.

__ADS_1


Raffi lekas mengangguk. Dia membalas pelukan Elsa dengan tulus.


__ADS_2