
...༻☆༺...
"Gila lo! Santai banget." Raffi tak habis pikir dengan sikap Gamal.
"Lo tenang aja, masalah bicara di depan publik gue adalah ahlinya," ungkap Gamal sambil menepuk dadanya dua kali.
Gamal kebetulan datang bersama Zara. Namun mereka berpisah ketika sudah memasuki lapangan indoor. Kemunculan Zara yang masih diperbolehkan sekolah, menimbulkan kontroversi untuk semua orang. Banyak yang bertanya-tanya, kenapa Zara tetap dimaafkan setelah melakukan kesalahan fatal?
Sebenarnya bukan perihal Zara yang membuat heran. Tetapi para guru yang berwenang. Terutama Bu Lestari sebagai guru BK. Para guru bersikap seolah masalah Zara adalah angin lalu. Setidaknya begitulah sikap yang terlihat dari mereka.
"Pak Erwin, boleh kita bicara empat mata?" Bu Lestari memberanikan diri bicara kepada kepala sekolah.
"Nanti ya, Bu. Aku ingin melihat acara ini berjalan terlebih dahulu," jawab Pak Erwin. Tanpa menoleh ke arah Bu Lestari.
Bu Lestari lantas mengangguk dengan perasaan kecewa. Sebenarnya dia hendak membicarakan tentang kasus Zara yang harusnya mendapat konsekuensi.
Orang yang kena giliran pidato kedua adalah Agung. Meski tidak memiliki banyak teman, dia cukup disegani karena sikap sopannya. Namun sambutan semua orang terhadapnya terbilang biasa-biasa saja.
"Habis ini elo, Mal. Jangan malu-maluin lo..." bisik Raffi.
"Ah, lo tenang aja. Udah gue bilang, publik speaking itu keahlian gue..." sahut Gamal yang terkesan santai. Raffi lantas hanya bisa memutar bola mata jengah.
"Gini, Raf. Lo kan nggak minat jadi ketos. Catatan lo buat gue aja ya." Gamal merampas begitu saja kertas milik Raffi. Bertepatan dengan gilirannya untuk berpidato.
Raffi tercengang. Dia tidak bisa menghentikan, saat Gamal terlanjur berjalan ke depan. Raffi berdecak kesal, lalu bergegas menemukan visi misinya melalui internet. Persetan Gamal!
"Raf, harusnya kamu tetap biarin aku duduk di sebelahmu. Gamal itu nggak baik orangnya," imbuh Agung. Dia berucap tanpa menoleh.
"Iya, lo benar..." tanggap Raffi sembari mendengus kasar.
Pidato yang dilakukan Gamal disambut sangat heboh. Sebab dia lebih percaya diri dibanding dua orang yang tampil sebelumnya. Kalimat yang dikatakan Gamal juga berhasil menghibur banyak orang. Nampaknya cowok itu tidak berbohong mengenai keahlian bicaranya di depan publik.
__ADS_1
Gamal ingin membacakan visi misi yang dia curi dari Raffi. Namun dia urung melakukan, karena visi misi yang ditulis Raffi seluruhnya berkaitan dengan belajar. Gamal benci itu. Dirinya lebih memilih merobek kertas tersebut.
Raffi semakin tak percaya. Sudah merampas miliknya, sekarang beraninya Gamal merobek kertas berisi visi misi dengan mudahnya. Kekesalan Raffi perlahan memuncak. Rasanya dia ingin menendang Gamal dari belakang. Tetapi karena di depan umum, Raffi menahan semua amarah itu.
"Visi gue adalah ingin menciptakan lingkungan sekolah yang menyenangkan. Pokoknya gue bakal buat kalian betah di sekolah!" seru Gamal yang direspon dengan teriakan histeris dari penonton.
"Dia pikir ini taman kanak-kanak apa?" komentar Putri seraya melipat tangan di dada.
Seperti biasa, Raffi malas merespon segala hal yang dibicarakan Putri. Apalagi sebentar lagi dirinya akan tampil.
Gamal cukup lama melakukan pidatonya. Sehingga memberikan Raffi cukup banyak waktu untuk bersiap. Kebetulan Raffi tidak melupakan visi misi yang ditulisnya tadi. Dia kembali menulis ulang.
Selang sepuluh menit kemudian, Gamal mengakhiri sesi pidatonya. Dia duduk kembali ke sebelah Raffi.
"Sorry, Raf. Gue tadi--" Ucapan Gamal terpotong, ketika Raffi berdiri begitu saja.
Baru saja Raffi melangkah menuju tiang microphone, sambutan bersemangat langsung didapatkannya. Bukan saja dari para cewek tetapi juga cowok. Sebab Raffi memang dikenal ramah dan baik kepada siapapun. Pembawaannya juga menyenangkan dibanding cara bicara Agung yang begitu formal.
"Di awal, gue sebenarnya mau bilang. Kalau gue ngerasa nggak pantas buat jadi ketua osis kalian. Jadi gue sarankan, pilih tiga teman kita yang ada di belakang ini ya." Raffi menunjuk ke arah Gamal, Putri dan Agung. Dia bahkan mencengkeram kertas visi misi yang sempat dibuat ulang. Banyak yang terkejut dengan pernyataannya.
"Menurut aku, justri Kak Raffi yang paling pantas!" tiba-tiba terdengar seruan dari seorang siswi. Raffi tidak melihat siapa yang bicara, namun dapat mendengar dengan jelas. Seruan siswi itu langsung disetujui oleh banyak pihak.
"Kalau Kak Raffi jadi ketos, pasti tambah keren! Aaaarkkhhh!!!" sekali lagi siswi yang tadi bersuara kembali berseru. Dia bersemangat bak seorang penggemar sejati. Ternyata siswi itu berasal dari kelas sepuluh. Namanya adalah Dea. Mungkin orang paling blak-blakkan kedua setelah Gita.
"Cepat kasih tahu visi misi lo, Raf!" pekik Danu yang sependapat dengan Dea.
Raffi perlahan menengok ke arah Bu Lestari. Gurunya itu memberitahukan dia untuk terus bicara. Bahkan mengucapkan sesuatu dari bibirnya. Akan tetapi tidak ada satu pun yang dimengerti oleh Raffi. Hingga kerutan di dahi terukir.
Akibat Raffi tidak kunjung mengerti, Bu Lestari otomatis mendekat. Dia membiskkan sesuatu ke telinga Raffi. Bu Lestari memberitahu bahwa dengan menjadi ketua osis, Raffi akan lebih mudah mendapatkan beasiswa. Terutama jika Raffi ingin melanjutkan pendidikan ke universitas di luar negeri.
Raffi terdiam seribu bahasa. Dia berpikir sejenak. Mencoba menemukan hal yang paling di inginkannya. Alhasil Raffi membuka kembali kertas yang tadi sempat dicengkeramnya. Dia berakhir membaca visi misi.
__ADS_1
Pidato dari Raffi berakhir. Kini Pak Willy yang mengambil alih. Dia memberitahukan kalau dalam seminggu, semua calon ketua osis akan melakukan sosialisasi di lingkungan sekolah. Mereka disarankan untuk mempromosikan dirinya sebaik mungkin.
"Raf, lo marah sama gue?" cicit Gamal. Mata Raffi langsung mendelik ke arahnya. Menunjukkan kemarahan yang tampak jelas. Raffi segera mendorong kuat kepala Gamal.
"Oke, gue terima sundulan dari lo. Kalau lo mau nambah lagi nggak apa-apa kok. Ditampar juga bisa. nih, nih..." Gamal menyodorkan pipinya. Pasrah terhadap apa yang akan dilakukan Raffi.
Plak!
Tanpa ba bi bu, Raffi benar-benar memberikan tamparan keras ke pipi Gamal. Saat itulah dia tidak kuasa menahan senyuman. Apalagi kala melihat Gamal meringis kesakitan.
Gamal ikut tersenyum ketika menyaksikan Raffi tersenyum. Dia segera melingkarkan tangan ke pundak temannya itu.
"Nah gitu dong. Sekali lagi maafin gue ya! Gue janji nggak bakal kayak gitu lagi," tutur Gamal. Dari raut wajahnya dia tampak tulus.
"Kampret lo!" hardik Raffi sembari melepas rangkulan Gamal.
"Gue lakuin itu karena gue tahu lo jenius. Ngapain lo pakai catatan kalau udah ingat semuanya di luar kepala," ujar Gamal. Membuat Raffi tidak bisa membantah lagi.
Saat Pak Willy baru memerintahkan semua orang untuk bubar. Mendadak terdengar keributan di kursi penonton. Terlihat ada dua siswi yang terlibat adu mulut. Mereka tidak lain adalah Zara dan Gita. Pertengkaran keduanya sontak menjadi pusat perhatian.
"Jijik banget gue lihat elo masih di sini! Itu muka apa topeng sih?! Nggak ada malu-malunya!" sinis Gita kepada Zara.
"Hehh, cewek gatel! Harusnya lo ngaca dulu sebelum ngomongin orang!" sungut Zara yang tak ingin kalah.
"Gilaaa! Elo kali yang gatel! Lo emang jual apa ke Gamal, hah? Dikata semua orang nggak tahu apa?!" geram Gita dengan gaya berkacak pinggang.
"Eh, ada apa ini? Udah, udah! Cepat kembali ke kelas!" Bu Lestari mencoba melerai.
"Dia yang mulai, Bu!" Zara menunjuk Gita dengan jari telunjuk.
"Bu, kenapa dia masih dibiarin sekolah sih? Harusnya sekolah malu kan sama murid kayak dia?" balas Gita. Menyebabkan pitam Zara kian memuncak. Tanpa pikir panjang, dia berlari menghampiri Gita. Kemudian menjambak rambut cewek itu dengan kuat. Sampai Gita otomatis harus membalas perbuatannya. Aksi perkelahian antar perempuan pun terjadi.
__ADS_1