
...༻☆༺...
Teori Efek kupu-kupu (butterfly effect) juga dikenal sebagai suatu sistem yang sangat peka terhadap kondisi awal. Sehingga perubahan sekecil apa pun yang dilakukan pada kondisi awal, dapat mengubah seluruh sistem secara drastis dalam jangka panjang.
Intinya, segala hal kecil yang pernah kita lakukan dalam kehidupan, mungkin dapat memberikan kekacauan total. Bukan saja kekacauan terhadap diri sendiri, tetapi juga orang-orang sekitar. Bahkan orang-orang yang tak bersalah sekalipun.
Sekarang Gamal baru melangkah keluar dari kamar. Berdiri menyandar di pintu belakang. Gamal menyalakan rokok dengan santainya. Setelah merasa puas, cowok itu akan langsung membuang rokok tanpa dimatikan.
Gamal membuang nafas berat dari mulut. Terpaku sejenak pada genangan air yang ada di kolam renang.
"Gamal! Ayo kita pergi sekarang! Gue berhasil temuin lokasi Elsa!" seru Raffi yang berhasil merunyamkan segala lamunan Gamal.
"Oke, dimana?" tanya Gamal. Raffi lantas memberitahukan lewat ponselnya. Di sana dapat terlihat jelas titik merah sebagai posisi keberadaan Elsa.
Raffi dan kawan-kawan segera pergi. Termasuk Tirta, yang kebetulan masih dalam keadaan pengaruh obat.
Raffi menjadi orang yang bertugas mengemudi. Gamal duduk di sampingnya, sedangkan Zara dan Tirta berada di kursi belakang.
Titik lokasi terakhir Elsa berada di sebuah hotel bintang empat. Sebuah hotel sederhana yang terbilang cukup terjangkau harganya.
Mobil dihentikan oleh Raffi. Ia segera keluar dari mobil. Kemudian berderap menghampiri meja resepsionis. Menanyakan nama Elsa kepada si resepsionis tersebut.
"Mbak Elsa Ferlisha sudah cek out, Mas. Dia sudah pergi dari hotel lima jam yang lalu," ujar resepsionis sembari melihat daftar riwayat pengunjungnya di layar komputer.
Mendengar Elsa telah pergi, Raffi hanya bisa menunduk sendu. Dia melangkah dengan gontai melalui pintu. Dalam selang seperkian detik, Raffi kembali bergabung bersama Gamal dan yang lain.
"Gimana?" tanya Zara.
"Dia udah pergi..." lirih Raffi. Menghela nafas dengan putus asa.
Semua orang ikut merasa gundah. Meskipun begitu, Gamal dan kawan-kawan mencoba terus memberikan Raffi semangat.
"Gue yakin dia pasti ketemu. Lo sama Elsa itu jodoh!" ucap Tirta dengan mimik wajah yang meyakinkan.
"Bener, Raf. Kerja keras lo pasti membuahkan hasil." Zara ikut bersuara.
Raffi mengangguk lemah. Menerima dengan senang hati kalimat penenang dari teman-temannya.
Saat itu atensi Gamal teralih ke arah mobil yang baru terparkir. Dia merasa tidak asing dengan mobil tersebut. Gamal memicingkan mata. Terutama saat melihat sosok wanita yang dikenalnya.
Pupil mata Gamal membesar, tatkala mengetahui kalau wanita yang dia lihat adalah Tania. Ibu kandung Gamal sendiri. Sialnya Tania terlihat bergandengan tangan dengan lelaki yang tampak lebih muda darinya.
"Mal, ayo kita pergi!" ajak Zara. Akan tetapi Gamal sama sekali tidak menanggapi.
"Gamal!" panggil Zara sekali lagi. Kali ini dia mencolek salah satu bahu Gamal. Saat itulah Zara sadar kalau kekasihnya sedang terpaku melihat seseorang.
__ADS_1
Atensi Zara ikut tertuju menyaksikan Tania. "Di-dia..." terka-nya yang ragu untuk melanjutkan. Takut Gamal akan memarahinya.
"Nyokap gue!" imbuh Gamal mengakui. Bola matanya bergerak mengikuti kemana Tania berjalan.
Tania tampak berjalan memasuki hotel. Bersama lelaki yang sepertinya merupakan selingkuhannya. Sekarang Gamal paham, kenapa Afrijal begitu stress dan sering mabuk-mabukkan.
"Udah, Mal. Kita pergi sekarang yuk!" Zara menautkan tangan ke jari-jemari Gamal. Usahanya berhasil membuat Gamal bersedia masuk ke mobil.
Raffi dan kawan-kawan melakukan pencarian ke berbagai tempat. Terutama lokasi yang kemungkinan sering dikunjungi Elsa. Dari mulai tanah lapang, mall, cafe, dan restoran. Mereka semua akan saling berpencar, jika mendatangi tempat yang luas.
Nyaris seharian pencarian dilakukan. Akan tetapi Elsa tidak kunjung ditemukan. Gamal dan Zara sudah mulai kelelahan.
Raffi yang semangatnya masih tinggi, terlihat masih menggebu-gebu. Dia bahkan tidak sempat minum untuk sekedar memuaskan dahaga. Hal serupa juga dirasakan Tirta. Sebab cowok itu belum pulih dari pengaruh obat-obatan. Rasa laparnya sama sekali tidak terasa.
"Udah, Raf! Kita istirahat dulu deh. Ini udah jam tiga sore. Kita semua juga belum sempat makan siang," ujar Gamal seraya mengeluarkan kepulan asap rokok dari mulut. Batang rokok yang menyala itu, tersemat baik di antara jari-jemari kokohnya.
"Enggak! Gue mau ke tempat wisata terakhir kali Elsa datangi." Raffi bersikeras. Ia fokus mengemudikan mobil.
Kebetulan mobil yang ditumpangi Raffi dan kawan-kawan memasuki kawasan sepi. Dimana sisi kiri dan kanan di kelilingi oleh rerumputan kering serta beberapa pohon lapuk.
"Panas banget sumpah! Biar pun harinya hujan, cuaca tetap aja terasa panas. Kalian ngerasa gitu nggak sih?" celetuk Tirta sembari mengibaskan tangan berulang kali.
"Badan lo mulai di kelilingi sama api neraka kali," sahut Zara sinis.
"Idih! Enak aja. Sekarang kan musim emang nggak menentu. Kemarau kayak gini nih yang bikin..." Tirta berhenti berceloteh, tatkala mesin mobil tiba-tiba berhenti.
"Diem lo! Gue bisa atasi mesin mobil lo!" balas Raffi dengan raut wajah kesal. Dia keluar dari mobil, lalu membuka kap mobil. Kepulan asap tebal langsung menghantam wajahnya.
Raffi meringis sambil terbatuk. Gamal yang cemas, segera menghampiri. Dia mengamati keadaan mesin mobil.
"Kita diamkan sebentar dulu. Mobilnya bisa jalan lagi kok," ujar Gamal. Kemudian menghisap rokoknya yang belum habis.
Raffi menghela nafas panjang. Dia terduduk ke aspal. Kemudian meratap sembari menutupi wajah. Jujur saja, Raffi sangat frustasi sekarang. Dia benar-benar bingung harus mencari Elsa kemana. Otak jeniusnya bahkan tidak mampu berfungsi dengan baik saat keadaan kacau begini.
"Udah tenang, Raf..." Gamal mencoba menenangkan.
"Gimana gue bisa tenang, hah?!! Lo nggak tahu apa yang gue rasain sekarang!" geram Raffi. Menatap sebal ke arah Gamal.
"Nggak perlu sampai nyolot gitu kali!" balas Gamal. Terperangah tak percaya.
Raffi segera berdiri. Kemudian menarik kerah baju Gamal.
"Semuanya gara-gara lo!" Raffi mengeratkan rahang dan meneruskan, "lo itu pengaruh buruk untuk semua orang! Nyesel gue jadi teman lo!"
"Apa lo bilang?! Lo nyalahin gue?! Tega lo ya!!!" Gamal tidak ingin kalah. Dia membuang rokoknya terlebih dahulu, lalu mendorong Raffi dengan kuat. Seperti biasa, Gamal membiarkan rokoknya terbuang dalam keadaan menyala.
__ADS_1
Raffi terhuyung ke belakang. Tanpa pikir panjang, sebuah bogem dilayangkannya ke wajah Gamal. Cowok rambut cepak itu seolah hanya sebagai pelampiasan atas semua masalahnya sekarang.
"Sialan! Lo nonjok gue!" geram Gamal. Dia sontak melakukan pembalasan. Perkelahian tak terduga akhirnya terjadi.
Zara dan Tirta bergegas menghentikan. Namun usaha keduanya tidak membuahkan hasil. Perkelahian Gamal dan Raffi terus berlanjut.
"Gamal, Raffi! Plis berhenti!" seru Zara. Akibat merasa panik, cairan bening mulai berderai di pipinya.
Ketika keadaan semakin pelik, rokok yang tadi dibuang Gamal berhasil menyulut api di rerumputan kering. Cuaca yang begitu panas, membuat si jago merah kian membesar.
Awalnya Raffi dan kawan-kawan tidak menyadari ada sesuatu yang terbakar. Mereka terlalu sibuk dengan perseteruan yang sedang terjadi.
Saat api sudah melebar, barulah Zara dan Tirta sadar. Bukan saja karena bau hangus yang menyeruak, tetapi juga karena rasa panas yang begitu menyengat.
Raffi dan Gamal akhirnya berhenti berkelahi. Mata mereka membulat sempurna secara bersamaan. Menatap api yang semakin membesar.
"Gimana nih! Gimana?!" gumam Zara sembari telinga rapat-rapat.
"Ini gara-gara rokok lo, Mal!" ujar Tirta seraya berusaha menghindar dari api.
Gamal sempat mematung. Dia sangat syok. Karena merasa harus bertanggung jawab, Gamal segera bertindak. Ia melepaskan baju atasannya.
Gamal berusaha mematikan api hanya dengan bermodalkan selembar pakaian. Itu tentu tidak akan berhasil. Api malah tambah membesar.
Raffi tidak bisa berkata-kata. Hal yang sama juga dilakukan oleh Zara dan Tirta. Keadaan bertambah kacau. Apalagi si jago merah terlihat mulai melalap pohon satu per satu.
Raffi merasa cemas. Dia memaksa Gamal untuk menjauhi api. "Kita pergi sekarang!" desaknya.
"Nggak, Raf! Gimana kalau nanti kebakaran hutan?! Penyebabnya rokok gue!!!" lantang Gamal yang dirundung perasaan panik tak terkira.
"Kita selamatkan diri dulu, Mal. Ayo kita pergi!" Zara ikut membujuk Gamal. Dia dan Raffi menyeret Gamal masuk ke mobil. Selanjutnya, mereka cepat-cepat pergi meninggalkan lokasi kejadian.
Dengan hanya bermodalkan harapan dan keringat yang bercucuran, Raffi berupaya keras menyalakan mobil.
"Cepetan, Raf!" desak Tirta. Dia panik sambil mengacak-acak rambut frustasi.
"Sabar dong! Ini gue lagi usaha!" jawab Raffi. Setelah puluhan kali mencoba, akhirnya mobil bisa menyala. Kini mobil dapat dijalankan.
"Telepon pemadam! Lebih cepat semakin baik!" titah Raffi.
"Tapi--"
"Telepon sekarang!" paksa Raffi.
Zara lantas menurut saja. Jari-jemari cewek itu gemetaran saat mengetik papan keyboard di layar ponsel. Sesekali dia menoleh ke belakang. Memastikan keadaan api tidak menyebar luas. Selanjutnya, perhatian Zara teralih ke arah Gamal. Kekasihnya itu tampak memasang tatapan kosong dan gemetar ketakutan.
__ADS_1
"Lo tenang aja, ada gue di sisi lo." Zara memeluk erat Gamal sambil menangis. Dia berharap tidak ada hal buruk yang terjadi.