Sisi Gelap Dunia Anak SMA

Sisi Gelap Dunia Anak SMA
Bab 68 - Seperti Di Neraka


__ADS_3

...༻☆༺...


Elsa tidak tahan dengan asap rokok Zara yang mulai mengepul berlebihan. Dia lantas memilih beranjak ke toilet.


Ketika memasuki lorong menuju toilet, Elsa menemui banyak pasangan yang asyik berciuman. Persis seperti yang tadi sempat dilakukannya bersama Raffi.


Elsa memeluk tubuhnya sendiri. Ia merasa tertohok tanpa kata-kata. Tetapi dengan suasana yang di hadapinya sekarang. Elsa bergegas memasuki bilik toilet.


Suara keributan dari bilik sebelah membuat Elsa kembali terganggu. Kini dia dihantui suara dua pasangan yang sibuk berhubungan intim. Alhasil Elsa berpindah ke bilik toilet paling ujung. Cewek itu menutup kedua telinga dan mencoba duduk tenang di closet.


'Gue harus nunggu Raffi agak sadar, baru bisa pulang,' batin Elsa sembari menengok jam di layar ponsel. Betapa terkejutnya dia, saat mengetahui waktu sudah menunjukkan jam 01.35 dini hari.


Di ruang vip, Raffi menemukan dirinya memegang botol minuman berisi alkohol. Botol yang dipegangnya telah tandas. Raffi merasakan mual dan pusing teramat sangat. Meskipun begitu, dia berusaha keras mengumpulkan kesadaran.


Raffi mengusap matanya beberapa kali. Lalu perlahan berdiri sambil berpegangan ke ujung sofa. Penglihatannya langsung di sambut oleh keberadaan Gamal dan Zara.


"Mal, kita pulang sekarang!" ujar Raffi. Penglihatannya begitu samar. Namun dia dapat menyaksikan apa yang dilakukan Zara untuk Gamal. Cewek itu terlihat sibuk melakukan oral. Sedangkan Gamal tampak sangat menikmati layanan khusus dari pacarnya tersebut.


Akibat tidak kunjung mendapat tanggapan dari Gamal, Raffi mencoba melangkah keluar ruangan. Dia tidak sanggup lagi. Tumpuan kedua kakinya seolah goyah seperti agar-agar. Raffi hanya bisa menjadikan dinding sebagai pegangan untuk berjalan.


Bruk!


Raffi tidak sengaja menabrak seorang wanita. Dia hanya bisa reflek menyebutkan kata maaf.


"Nggak apa-apa, Dek. Ya ampun lo ganteng banget. Mau temenin kakak nggak?" ujar wanita yang ditabrak Raffi. Dia tidak sendiri, ada dua temannya yang menemani di kiri dan kanan.


"Lo bener, Jen! Ini anak ganteng banget. Pengen gue culik ke hotel sebelah."


"Eh, enak aja. Dia tadi nabrak gue. Jadi dia milik gue!"


Ketika tiga wanita berdebat memperebutkannya, Raffi malah diserang rasa mual. Sebenarnya sejak tadi dia berusaha menahan. Akan tetapi sekarang sudah tidak bisa lagi.

__ADS_1


Huek!


Cairan dari perut Raffi keluar dari mulut. Tepat mengenai wanita yang tadi sempat ditabraknya.


"Aaarkhh!! Parah! Dia muntahin gue!" keluh wanita yang mengenakan dress merah sepangkal paha tersebut.


"Kayaknya dia lagi teler. Dih! bau banget. Kita cari brondong lain aja deh!" kedua teman wanita yang kena muntahan Raffi, memilih pergi.


"Eh kalian tega ya tinggalin gue!" protes wanita berdress merah itu. Ia segera menatap Raffi. Karena merasa kesal, dirinya mendorong Raffi hingga terjatuh. Kemudian beranjak pergi begitu saja.


Raffi telentang di lantai. Suara riuh musik yang bercampur teriakan puluhan manusia benar-benar begitu memekakkan telinga. Dia ingin secepatnya keluar dari tempat yang terasa seperti neraka tersebut.


Huek!


Sekali lagi Raffi muntah. Rasa mual yang tak tertahan masih dia rasakan. Raffi merasa sangat tersiksa.


Dari kejauhan, Elsa baru saja keluar dari toilet. Perhatiannya langsung tertuju ke arah Raffi. Tanpa pikir panjang, Elsa bergegas menghampiri. Dia merasa sangat khawatir.


"Raf! Lo nggak apa-apa kan?" tanya Elsa seraya membantu Raffi berdiri. Cewek itu mengerahkan semua tenaga untuk membopong kekasihnya yang sedang mabuk.


Elsa menuruti keinginan Raffi. Dia menuntun Raffi menuju balkon. Elsa berapa kali mencoba menenangkan. Apalagi keadaan Raffi tampak begitu memprihatinkan.


Sesampainya di balkon, Raffi kembali muntah. Ia langsung tengkurap di lantai. Beberapa orang yang ada di balkon lebih dulu, segera pergi karena merasa jijik.


Tetapi tidak untuk Elsa, dia justru semakin mencemaskan Raffi. Cewek itu berada di sisi Raffi sembari mengeluskan punggung.


"Raf, lo minum berapa banyak? Kenapa bisa separah ini?" saking takutnya, air mata Elsa sampai menetes. Sebab dia dapat merasakan penderitaan Raffi. Kekasihnya itu tidak berhenti memuntahkan cairan dari perut.


"Lo mau gue bawa ke rumah sakit?" tanya Elsa. Dia bingung harus bagaimana.


Raffi tentu saja lekas menggeleng. Jika dibawa ke rumah sakit, maka semua orang akan tahu kalau dia sudah mengkonsumsi narkoba.

__ADS_1


Raffi merasa sangat lemas. Dia jatuh ke atas pangkuan Elsa dalam keadaan telentang. Elsa otomatis memeluknya dengan erat. Mengelap mulut Raffi dengan tangannya sendiri.


Sedangkan Raffi sendiri, terpaku menatap Elsa yang berderai air mata. Perlahan senyuman mengembang diwajahnya.


"Lo kenapa nangis? Gue nggak apa-apa. Apalagi kalau ada lo yang nemenin..." ungkap Raffi. Satu tangannya menghapus cairan bening yang menetes di pipi Elsa.


"Gue takut banget lo kenapa-kenapa," tutur Elsa. Dia berusaha berhenti menangis.


"Kita mending pulang. Kita naik taksi aja. Terserah Gamal mau kayak apa sama yang lain," saran Raffi seraya merubah posisi menjadi duduk. Setelah memuntahkan banyak cairan dari perut, dia merasa lebih baik.


"Emang jam segini ada taksi?" Elsa meragu. Sebab baru kali ini dia berada di luar rumah sampai lewat tengah malam.


"Ada kok, El. Kita pakai jasa go-car aja. Kan ada yang 24 jam," jelas Raffi. Dia memandangi Elsa dengan tatapan sayu. "Lo yang telepon ya, cara ngomong gue agak sempoyongan gini. Takut nggak dipercaya sama orang..." sambungnya.


Elsa langsung mengangguk. Lalu mengambil ponsel dari tas selempang. Menghubungi jasa ojek mobil yang disebutkan Raffi.


Tanpa kembali ke ruang vip, Raffi dan Elsa pergi lebih dahulu dari klub malam. Raffi benar-benar menepati janjinya kalau dia akan membawa Elsa pulang sebelum matahari terbit. Sekarang waktu sudah menunjukkan jam 02.50 pagi.


Kini Raffi dan Elsa sudah berada di mobil. Keduanya merasa begitu lega bisa meninggalkan klub malam.


"Gue nggak bakalan balik lagi ke tempat begituan. Kapok gue," imbuh Raffi. Dalam keadaan menyandar ke sandaran kursi.


"Idih! Bukannya lo ya, yang awalnya pengen banget pergi." Elsa memanyunkan mulut. Menatap Raffi dengan sudut matanya.


"Sorry ya, El. Gue nggak harusnya ngajak lo ikut." Raffi menggenggam erat jari-jemari Elsa. Dia merasa bersalah.


Elsa tersenyum tipis. "Tapi kalau gue nggak ikut, mungkin sampai sekarang lo nggak bisa pulang," katanya. Membalas sorot mata Raffi yang menatapnya dengan penuh kekaguman.


Raffi dan Elsa menyuruh sopir singgah di persimpangan saja. Mereka hanya berjaga-jaga dari pergokan keluarga masing-masing.


Raffi yang masih sempoyongan, harus berjalan dengan bantuan Elsa. Jika Raffi orang pertama yang membantu Elsa keluar dari kamar. Sekarang giliran Elsa yang membantu Raffi. Cewek itu menggunakan tangga milik pamannya.

__ADS_1


"Lo bisa naik sendiri kan, Raf?" tanya Elsa dengan nada berbisik.


"Gue usahain." Raffi perlahan melepas rangkulan Elsa. Ia berusaha berdiri tegak. Lalu menaiki anak tangga satu per satu.


__ADS_2