Sisi Gelap Dunia Anak SMA

Sisi Gelap Dunia Anak SMA
Bab 82 - Kencan Ala Remaja


__ADS_3

...༻☆༺...


Raffi dan Elsa langsung sadar saat wanita yang duduk di depan menoleh. Mereka berhenti bercanda. Beberapa popcorn terlihat berjatuhan ke bawah. Baik Raffi maupun Elsa, keduanya justru sama-sama tergelak.


Film belum selesai, namun Raffi dan Elsa memilih keluar lebih dahulu. Keduanya melenggang bersama. Sejak awal, tautan tangan mereka tidak pernah terlepas.


"Sumpah, filmnya nggak jelas. Ke buang jadinya duit ayang gue." Elsa memindahkan pegangan ke lengan Raffi. Dia semakin mendempetkan diri kepada kekasihnya tersebut.


"Hah? Apa lo bilang? Ayang?" Raffi tercengang. Meskipun begitu, dia tidak bisa membendung senyuman di wajahnya.


"Emang salah ya? Panggil orang kesayangan dengan sebutan itu." Elsa bersikap manja. Ia tidak seperti biasanya. Raffi merasa gemas sekaligus ngeri. Cowok itu tidak terbiasa dengan sikap Elsa yang begitu.


"Lo kesambet setan apa sih? Lupa minum obat ya?" Raffi mengacak-acak kasar puncak kepala Elsa. Membuat ceweknya itu langsung cemberut.


"Ish... lo ngerusak rambut gue nih!" Elsa reflek melepaskan diri dari lengan Raffi.


"Nah, ini Elsa yang gue kenal." Raffi mengapit Elsa dengan sikunya. Lalu menyeret Elsa untuk kembali melangkah.


"Raffi! Rambut gue jadi tambah berantakan..." protes Elsa sembari berupaya melepas kekangan Raffi. Tetapi tidak bisa. Dia bahkan kesulitan menyamakan langkahnya dengan cowok itu.


Raffi justru tergelak geli. Dia akhirnya melepaskan Elsa. Kekasihnya tersebut bergegas memperbaiki rambut. Mereka kebetulan berhenti di dekat pagar pembatas lantai dua. Dari sana, Raffi dan Elsa dapat menyaksikan keadaan mall di lantai paling bawah. Ada acara pertunjukan musik akustik di sana.


Musik tersebut dapat terdengar dari lantai dua. Raffi lantas terbawa suasana. Pandangannya tidak bisa lepas dar Elsa. Dia menatap Elsa secara gamblang. Dengan binaran mata yang tentu akan membuat jantung Elsa berdebaran.


"Apaan sih..." Elsa tersipu. Untuk menutupi rasa malunya, dia menutup mata Raffi dengan telapak tangan.


Raffi tidak terima. Dia cepat-cepat menjauhkan tangan Elsa dari matanya. "Jangan halangin gue! Gue mau lihat bidadari," ujarnya.


"Idih... Hueek! Jijik banget gue dengernya." Elsa tergelak geli. Dia menyempatkan diri menjulurkan lidah. Sebab gombalan Raffi sangat berlebihan baginya.

__ADS_1


"Terus gue mau bilang lo apa coba? Masa nyebut lo setan? Nggak mungkin kan?" canda Raffi sambil memegangi kedua tangan Elsa. Mendorong cewek itu menyandar ke pagar pembatas.


"Terserah!" sahut Elsa. Ia mendongakkan kepala. Hingga dirinya dapat membalas tatapan Raffi. Keduanya tersenyum dan saling bertukar pandang penuh kekaguman. Mata Raffi dan Elsa berninar-binar. Rasanya mereka tidak ingin waktu berlalu.


Raffi perlahan merapikan rambut panjang Elsa. Tanpa sedikit pun mengalihkan pandangannya. Dia mengaitkan helaian rambut Elsa ke daun telinga.


"Lo mau sampai kapan mau lihatin gue terus?" pungkas Elsa.


"Selamanya juga boleh. Gue nggak pernah puas..." ungkap Raffi.


"Elaaah... lebay!" Elsa kali ini mencubit pinggang Raffi. Cowok itu sontak mengaduh kesakitan. Pandangannya dari Elsa akhirnya terputus.


"Udah deh, mending kita makan yuk! Gue laper nih. Tadi belum sempat makan," ajak Elsa. Dia kembali menggandeng Raffi. Elsa menuntun Raffi pergi ke tempat makan terdekat.


"Kali ini biar gue yang bayarin lo ya," ujar Elsa sembari mengambil dompet dari tas selempang. Dia dan Raffi telah berada di tempat makan. Berdiri di depan meja pesanan.


"Beneran? Nggak apa-apa, El? Kemarin lo juga udah pakai uangnya buat bantuin Danu. Uang peninggalan orang tua lo kan buat kuliah lo nanti," tanggap Raffi yang merasa cemas.


Walau tinggal bersama pamannya, Elsa sesekali membiayai hidupnya sendiri dengan uang warisan orang tuanya. Kebetulan warisan yang didapatnya terbilang melimpah. Karena orang tua Elsa dahulu juga merupakan keluarga kaya raya. Namun sayangnya, dia hanya memegang seperempat saja. Sementara sisanya disimpankan oleh sang paman.


"Duduk di sana aja yuk!" ajak Raffi. Elsa segera mengangguk. Mereka lagi-lagi berpegangan tangan. Padahal letak meja yang ingin mereka tempati tidak begitu jauh.


"Yang, kita foto berdua yuk!" Elsa tampak sudah memegangi ponselnya.


Mendengar Elsa kembali memanggilnya ayang, Raffi memutar bola mata jengah. Ia terkekeh geli. Akibat gemas, Raffi memilih ikut-ikutan saja.


"Apa yang enggak sih buat, ayang." Raffi menarik kursinya ke dekat Elsa. Keduanya malah cekikikan bersama. Merasa geli dengan panggilan baru candaan mereka.


Elsa segera mengambil foto selfie-nya bersama Raffi. Mereka mengambil beberapa foto. Sesekali keduanya mencoba memasang ekspresi jelek. Serta tidak lupa pose saling menyenderkan kepala.

__ADS_1


Sesi foto Raffi dan Elsa harus berakhir, ketika pelayan mengantarkan makanan. Keduanya memutuskan mengisi perut terlebih dahulu.


Raffi menjadi orang yang lebih dulu selesai menghabiskan makanan. Selanjutnya, dia bermain ponsel sebentar.


Elsa masih sibuk menikmati makanan. Kebetulan hidangan yang dipesannya berupa ayam dan nasi putih. Ditemani saos pedas untuk melengkapi kenikmatan rasa. Cewek itu makan cukup lambat.


"Mall ini bentar lagi tutup kayaknya," sarkas Raffi. Menyindir Elsa agar bisa cepat-cepat menghabiskan makanan.


"Sabar dong. Bentar lagi nih." Elsa yang mengerti, segera angkat suara. Dia menoleh ke arah Raffi. Saat itulah Raffi dapat melihat ada saos yang belepotan di sudut bibir Elsa. Cowok itu sigap mengusap saos tersebut dengan ibu jarinya. Lalu langsung memasukkannya ke dalam mulut. Elsa yang melihat justru tersenyum.


"Ini rasanya pedas kan?" imbuh Raffi.


"Iya, emangnya kenapa? Rasanya jadi aneh ya gara-gara bibir gue." Elsa membalas sambil melebarkan kelopak matanya. Entah kenapa dia mengharapkan gombalan Raffi selanjutnya.


Raffi mengangguk. "Iya! Rasanya asam kayak mau basi gitu," terangnya.


"Ish!" Elsa mengarahkan bogem ke arah Raffi.


"Tuh kan, serba salah. Di gombalin salah, dibercandain salah," kritik Raffi. Namun Elsa hanya merespon dengan ejekan memajukan bibir bawahnya.


Elsa sudah menghabiskan makanan. Dia dan Raffi berniat pergi dari tempat makan.


Ketika hendak beranjak dari meja, atensi Elsa tiba-tiba tertuju ke arah wanita dari pintu masuk. Mereka tidak lain adalah tantenya sendiri. Risna tidak sendirian. Dia bersama adiknya Vina yang bernama Virza.


"Astaga, ada tante gue!" seru Elsa gelagapan.


"Hah? Yang bener lo?" Raffi segera memastikan. Benar yang dikatakan Elsa. Ada Risna dan adiknya Vina sedang berdiri di depan meja pesanan.


"Gimana nih?" Elsa berbalik badan. Berusaha keras menutupi wajahnya. Perlahan dia melepaskan tangannya dari jari-jemari Raffi.

__ADS_1


"Kita pergi sekarang. Mereka lagi berdiri menghadap pelayan tuh." Raffi menarik tangan Elsa. Kemudian mengajak cewek itu berlari melewati pintu masuk.


Bertepatan dengan pelarian Raffi dan Elsa, Risna tiba-tiba menengok ke pintu. Dia berhasil melihat punggung Raffi dan Elsa. Dahinya mengerut heran, Risna merasa tidak asing dengan perawakan dua sejoli yang dilihatnya barusan.


__ADS_2