
...༻☆༺...
Elsa membekap mulutnya sendiri. Dia melakukannya, karena tidak mau menimbulkan suara berisik. Apalagi ketika Raffi bergerak semakin intens di atas badannya.
Gairah Elsa telah beberapa kali membludak. Dia hanya bisa menggumamkan suara kenikmatan yang pelan.
Hal serupa juga dilakukan Raffi. Dia berusaha keras agar tidak mengeluarkan erangan yang nyaring. Hanya ada suara kasur yang berdecit samar.
Saat telah saling terpuaskan satu sama lain, Raffi langsung telentang ke sebelah Elsa. Melepaskan deru nafas yang memburu.
"Thanks, ya..." lirih Elsa. Menatap Raffi dengan sudut matanya. Dia segera merebahkan kepala ke bagian dada Raffi.
"El, ini yang terakhir ya. Setelah ini kita harus fokus belajar buat masa depan kita," imbuh Raffi seraya memeluk Elsa dengan satu tangannya.
Elsa hanya tersenyum dan mengangguk. Dia mendekap Raffi dari samping. Tubuh mereka masih belum mengenakan satu helai benang pun. Tertutupi oleh selimut berwarna biru muda milik Elsa.
"Elsa! Kamu di kamar?!" panggilan Risna dari luar, membuat Raffi dan Elsa gelagapan. Keduanya segera bangkit dari kasur. Lalu bergegas mengenakan pakaian masing-masing.
"Elsa!"
Tok!
Tok!
Tok!
Risna sudah berada di depan pintu. Untung saja pintu dikunci, jadi kedok Elsa dan Raffi tidak ketahuan.
"Lo mending sembunyi!" perintah Elsa yang langsung direspon Raffi dengan anggukan. Cowok itu bergegas masuk ke bawah kolong tempat tidur.
Elsa bersiap merapikan rambut dan pakaian. Setelahnya, barulah dia membukakan pintu.
"Kamu kemana aja, hah?!" timpal Risna. "Orang-orang pada ngumpul, kamu malah kurung diri di kamar. Ayo gabung sama yang lain! Paman Candra nyariin kamu tuh," lanjutnya.
"Iya, Tante. Aku tadi sakit perut." Elsa memberi alasan sambil memegangi area perut.
"Masih sakit perutnya?" mendengar Elsa sakit, mimik wajah Risna seketika berubah. Dia mendadak cemas.
__ADS_1
"Udah mendingan kok. Tadi udah minum obat," dalih Elsa. Berhasil meyakinkan Risna. Alhasil mereka pergi bersama ke tempat semua orang sedang berkumpul. Elsa terpaksa meninggalkan Raffi sendirian.
Merasa keadaan telah aman, Raffi perlahan keluar dari kolong tempat tidur. Saat hendak berdiri, dia menyaksikan Vina sudah berdiri di depan pintu.
"Kak Raffi ngapain?" tanya Vina.
"A-anu..." Raffi tergagap. Otaknya seolah mengalami disfungsi. Dia tidak menduga, Vina akan tiba-tiba muncul seperti hantu. Tanpa suara langkah kaki, bahkan teguran.
Vina melangkah ke hadapan Raffi. Membersihkan debu yang tidak sengaja menempel di rambut dan kemeja cowok itu.
"Vin! Gue bisa sendiri." Raffi menjauhkan tangan Vina darinya.
Ekspresi Vina langsung berubah menjadi cemberut. "Aku kan cuman bantuin. Rambut Kakak juga berantakan tuh," jawabnya seraya sedikit memanyunkan mulut. Perhatian Vina segera teralih ke arah kasur Elsa yang tampak berantakan.
"Kak Raffi sejak tadi di sini?" Vina memastikan.
"Ayo kita ke bawah!" Raffi sengaja merubah topik pembicaraan. Ia tersenyum singkat. Kemudian mengajak Vina untuk bergabung ke tempat acara keluarga dilaksanakan. Secara alami, Vina melupakan pertanyaannya tadi.
...***...
Hari demi hari berlalu. Raffi kembali rajin belajar. Dia dapat menjalani harinya seperti dulu. Apalagi selepas dirinya sering mengobrol dengan Pak Ervan. Guru barunya itu, banyak sekali memberikan Raffi pencerahan.
Akibat terlalu sibuk, Raffi hanya sempat menghabiskan waktu bersama Gamal saat latihan basket. Mereka semakin gencar berlatih. Hal itu karena satu minggu lagi pertandingan yang sebenarnya akan dilakukan.
"Raffi yang dulu kembali lagi. Sibuk banget lo sekarang. Di ajak ke kantin, malah belok ke perpustakaan," seru Gamal seraya mengelap keringat dengan handuk kecil.
"Gue udah capek keluyuran nggak jelas. Btw, kalau kalian punya masalah, mending ngomong aja sama Pak Ervan. Gue tahu kalian--"
"Lo promosiin Pak Ervan mulu. Kayak promotor berjalan aja," potong Gamal yang diteruskan dengan tawa renyah. Tirta yang baru datang, akhirnya ikut-ikutan tergelak. Kebetulan mereka berada di ruang ganti.
"Mal, gue serius. Gue bilang gini karena peduli sama kalian berdua. Setelah gue bicarain masalah orang tua gue ke Pak Ervan, gue ngerasa lebih lega. Pak Ervan kasih solusi dengan baik," ujar Raffi.
Gamal memutar bola mata jengah. "Terus, lo bilang nggak tentang apa yang pernah lo lakuin bareng Elsa? Itu masuk masalah juga kan?"
"Itu terlalu pribadi. Nggak mungkin gue cerita sama Pak Ervan! Lo emangnya mau ngungkapin aib lo sama Zara?" timpal Raffi. Ia agak risih dengan pertanyaan Gamal tadi. "Lagian gue sama Elsa udah sepakat untuk nggak begitu lagi kok. Kami pengen fokus belajar. Kita udah kelas tiga, bentar lagi ujian sekolah. Kalau nggak lulus, kan malu-maluin. Lo juga nggak bisa terus ngandelin orang lain. Gue nggak mau terus-terusan jadi malaikat lo pas ulangan," lanjut Raffi.
"Idih! Serius banget sih lo, Raf," komentar Tirta. Dia merasa Raffi versi anak teladan telah kembali. "Lo bener, Mal. Raffi yang dulu balik lagi nih. Nggak seru!" tambahnya.
__ADS_1
Plak!
Satu geplakan di kepala langsung diterima Tirta dari Raffi.
"Harusnya kalian tuh yang tobat!" sentak Raffi. Dia menyampirkan tas ransel ke salah satu bahu. Lalu berjalan keluar lebih dulu dari ruang ganti.
"Gara-gara Pak Ervan temen kita jadi gitu. Jadi tambah sepi kalau gini," ucap Gamal seraya menyandar ke lemari loker.
Selepas kepergian Raffi, Zara perlahan muncul dari ambang pintu. Dia tersenyum dan melambaikan tangan ke arah Gamal.
"Ah, gue lupa. Gue punya kecebong bohai," gumam Gamal. Membuat Tirta tidak kuasa menahan tawa.
"Gila lo! cewek sendiri dibilang gitu." Tirta menepuk pundak Gamal. Keduanya melenggang bersama untuk menghampiri Zara.
"Kenapa? Kalian ngejek gue ya?" tebak Zara yang dapat melihat gelagat Gamal dan Tirta dari kejauhan.
"Enggak dong, sayang... masa gue ngejek cewek secantik lo." Gamal mengacak-acak rambut Zara. Lalu menggigit puncak kepala cewek itu.
"Lebay banget lo, sumpah! Jangan panggil-panggil sayang gitu ah!" hardik Zara sembari berusaha melepaskan diri dari Gamal. "Aaaa... sakit, bego!" protesnya, sehabis menerima gigitan Gamal.
"Gemas gue. Habis ini kita ke apartemen ya," ajak Gamal. Dia merangkul Zara, lalu melangkah pergi menuju parkiran. Di ikuti oleh Tirta dari belakang.
Saat berada di parkiran, sosok wanita hamil tempo hari kembali membuat Tirta kaget. Cowok itu otomatis cepat-cepat pergi dengan menggunakan mobil. Zara dan Gamal yang menyaksikan, hanya bisa mengerutkan dahi.
Di waktu bersamaan, Elsa dan Vina baru saja pulang dari sekolah. Keduanya sama-sama menaiki sepeda seperti biasa.
Vina berjalan lebih dulu dibanding Elsa. Dia tidak sabar untuk makan siang. Sedangkan Elsa, ia berjalan dengan gontai. Seakan kedua kakinya membawa beban seberat batu. Wajah cewek itu juga nampak pucat.
Bruk!
Tanpa diduga, Elsa ambruk ke lantai. Orang-orang rumah segera mendekat dan menemukan Elsa tidak sadarkan diri. Risna dan Fajar langsung membawa Elsa ke rumah sakit.
Setelah mendapat pemeriksaan, Fajar menjadi orang yang bertanggung jawab mendengar hasil pemeriksaan dari dokter.
"Keponakan saya baik-baik saja kan, Dok?" tanya Fajar.
Dokter tersenyum kecut dan menjawab, "Keponakan Bapak hanya kelelahan. Kemungkinan janin dalam perutnya lah yang membuatnya cepat lelah."
__ADS_1
"A-apa?! Ja-janin?!" mata Fajar membulat sempurna. Dia terhenyak sambil memegangi bagian dada.