Sisi Gelap Dunia Anak SMA

Sisi Gelap Dunia Anak SMA
Bab 58 - MOS [Masa Orientasi Siswa]


__ADS_3

...༻☆༺...


Gamal sudah selesai melakukan sambutan. Sekarang dia membiarkan Raffi untuk mengambil alih.


Baru saja mengambil microphone, para murid baru langsung berteriak histeris. Terutama murid dari kaum hawa. Mereka tentu tersihir dengan sosok Raffi yang begitu rupawan.


Satu-satunya orang yang khawatir, mungkin adalah Elsa. Dia pasti merasa mendapatkan banyak saingan. Meskipun begitu, Elsa berusaha mempercayai Raffi. Bahwasanya cowok itu hanya akan menyukainya seorang.


Raffi memperkenalkan dirinya kepada murid baru. Dia tidak lupa menyebutkan kelas dan jurusan yang di ambilnya.


"Menurut gue ya, jurusan itu nggak penting sih. Pokoknya jangan terlalu dibawa serius. Yang penting itu, keseriusan kalian buat belajar. Apapun jurusannya, kalau bodoh ya begitu-begitu aja," ujar Raffi sembari melirik ke arah Gamal. Suaranya menggema karena menggunakan microphone.


"Anjir! Lo kenapa lihatnya ke gue." Gamal diam-diam berbisik. Ia melayangkan bogem secara pelan ke perut Raffi. Apa yang keduanya lakukan sukses membuat beberapa orang tergelak.


"Nah, kalau kakak ketos kalian ini, orangnya nggak pelit. Kalau mau apa-apa, coba aja minta ke dia deh." Raffi bermaksud bercanda. Gamal sekali lagi dibuat kesal olehnya. Namun interaksi yang terjadi di antara keduanya, berhasil mencairkan suasana sekali lagi.


Setelah berbicara banyak tentang Gamal, Raffi memperkenalkan anggota osis yang lain satu per satu. Lalu memberitahukan atribut apa saja yang akan dibawa untuk kegiatan mos berikutnya.


Semua murid baru diharuskan mengenakan seragam. Mereka diwajibkan mengenakan atribut tertentu. Terutama papan nama yang terbuat dari kardus.


Ketika pengarahan berakhir, para murid baru diperbolehkan berkeliling area sekolah. Sementara untuk anggota osis, mereka harus sibuk menyusun rencana kegiatan mos besok. Mereka juga membicarakan tentang kegiatan puncak. Seperti acara api unggun dan jurit malam.


Kini Raffi sedang memeriksa daftar properti di buku. Dia tidak sendiri. Ada Elsa yang selalu menemani. Namun cewek itu harus pergi, karena Fahri mendadak memanggil.


Mengetahui Elsa kembali mengobrol dengan Fahri, Raffi langsung menoleh. Memastikan Fahri tidak berbuat macam-macam. Apalagi sampai nekat mendekati Elsa lagi.


Benar saja, Fahri terlihat memberikan sesuatu kepada Elsa. Dia melakukannya secara diam-diam. Setelah memberikan bungkusan kecil, Fahri segera beranjak pergi.


"Fahri kasih lo apa tuh?" tanya Raffi. Ketika Elsa datang menghampiri.


"Nggak apa-apa kok," sahut Elsa sembari menyembunyikan bungkusan kecil ke balik punggung.


"Sini! Gue mau liat!" desak Raffi. Dia membuka lebar telapak tangannya.


Elsa tersenyum licik. Dia justru menjulurkan lidah untuk mengejek Raffi. Elsa tahu betul kalau pacarnya sedang cemburu.

__ADS_1


"Idih! Nyebelin banget sumpah." Raffi yang gemas langsung mencubit pipi Elsa. Ulahnya sukses membuat cewek itu mengaduh kesakitan.


"Nggak usah dipikirin. Fahri cuman ngasih buku resep makanan kok. Dia kebetulan punya buku yang emang sedang gue cari," ungkap Elsa. Namun Raffi hanya membalas dengan memutar bola mata jengah.


Satu hal yang pasti, Raffi semakin membenci Fahri. Menurutnya Fahri merupakan cowok yang tidak tahu malu. Padahal sudah jelas kemarin Raffi menunjukkan kedekatannya dengan Elsa. Tetapi sepertinya Fahri belum menyerah.


...***...


Hari mos kedua telah tiba. Seluruh murid baru harus bermalam di sekolah dengan membawa tenda. Mereka akan melakukan beberapa kegiatan di malam hari.


Acara pertama adalah api unggun. Di sana para murid baru diperbolehkan menunjukkan bakat dan persembahan di depan semua orang. Kebetulan kegiatan tersebut di pimpin oleh Danu, Elsa dan Zara.


Sementara semua orang sibuk melakukan kegiatan api unggun, Gamal justru sibuk mengomel kepada dua anggota osis. Kebetulan mereka adalah Fahri dan lelaki bernama Johan. Keduanya kebetulan tidak sengaja membuang properti untuk jurit malam ke tempat sampah.


"Kalian bego atau apa sih?! Ini juga, kenapa elo terus yang bikin masalah sama gue!" Gamal mendorong kasar kepala Fahri. Dia ditemani oleh Tirta.


"Ma-maaf, Kak. Kami kan nggak tahu..." lirih Fahri dengan tergagap.


"Tanggung jawab lo! Cari gantinya kek!" pungkas Gamal seraya menggertakkan gigi.


Buk!


Buk!


Gamal menendang Fahri dan Johan secara bergantian. Dua cowok itu sekarang terjatuh ke lantai. Mereka reflek memegangi dada yang tadi sempat kena tendangan Gamal.


"Pokoknya kalian--"


"Ada apa ini? Kenapa kalian pada di sini? Mal, semua orang cari elo tuh!" Raffi tiba-tiba muncul. Dia tidak sengaja memotong pembicaraan Gamal.


"Ini nih dua cecunguk! Mereka udah buang properti buat jurit malam ke bak sampah." Gamal memberitahu sambil mengarahkan jari telunjuk ke arah Fahri dan Johan.


"Kami nggak sengaja, Kak..." Fahri menatap Raffi penuh harap.


"Dibuang? Kemana?" Raffi tidak menggubris pernyataan Fahri. Ia malah bertanya kepada Gamal.

__ADS_1


"Ke tempat sampah yang ada di belakang sekolah paling ujung!" jawab Gamal sembari berkacak pinggang.


Fahri dan Johan perlahan berdiri. Mereka mencoba menjelaskan dengan baik. Keduanya tahu hanya Raffi yang dapat meredakan emosi Gamal.


Raffi terdiam sejenak. Dia sedang berpikir baik-baik. Secara logika, Raffi memang mengakui kalau Fahri dan Johan melakukan kesalahan. Selain itu, dia juga kesal dengan Fahri. Raffi berniat ingin memberi pelajaran kepada cowok yang kembali memakai kacamata itu.


"Ya udah, lebih baik kalian ambil lagi gih propertinya ke tempat sampah. Pilih yang masih bisa digunakan aja," saran Raffi.


"Tapi, Kak. Di sana kan gelap. Terus banyak rumput liar. Takutnya nanti--"


"Cepat! Pergi sana!!!" pekik Raffi dalam keadaan mata menyalang. Dia berjalan lebih dekat ke hadapan Fahri. "Udah dikasihani juga!" tambahnya.


Fahri dan Johan terpaksa menurut. Mereka berjalan dengan malas menuju tempat sampah yang ada di belakang sekolah. Kebetulan lokasinya sangat gelap. Dipenuhi rumput liar dan agak lembab.


"Raf, gue tahu lo benci sama Fahri. Kita kerjain yuk!" bisik Gamal sambil merangkul Raffi.


"Seru kayaknya deh!" Tirta yang mendengar, sependapat dengan Gamal.


"Oke." Raffi mengangguk. Gamal lantas melangkah laju. Lalu segera merebut ponsel milik Johan dan Fahri.


"Eh, Kak! Kenapa ponsel kami di ambil. Kami nggak punya penerang selain itu," protes Johan yang tak terima.


"Biar kami yang senterin dari sini. Cepat sana!" titah Gamal.


Johan tidak tahan lagi dengan sikap semena-mena Gamal. Dia mengepalkan tinju di kedua tangan. Kemudian berlari untuk menyerang Gamal. Serangan Johan bak seekor sapi yang ingin menyeruduk. Tetapi sayang, usahanya tidak membuahkan hasil.


Gamal dengan cepat menyingkir. Menyebabkan Johan yang tidak bisa berhenti berlari, harus menabrakkan diri ke tumpukkan kursi tidak terpakai.


Gamal dan Tirta sontak tertawa bersamaan. Sedangkan Raffi hanya mengembangkan senyuman tipis. Saat itulah Fahri diam-diam bicara kepadanya.


"Kak, plis ambilin ponsel aku sama Kak Gamal. Aku nggak bisa cari propertinya dengan mudah. Kakak lihat sendiri kan tempat ini gelap banget," bisi Fahri.


"Nggak apa-apa kok. Gue, Gamal dan Tirta ada di sini jagan kalian. Cepat cari sana! Waktunya nggak banyak nih," tanggap Raffi tak peduli. Dia bahkan malas menatap Fahri.


"Cepat berdiri lo! Sok jagoan banget." Gamal memaksa Johan berdiri. Lalu mendorongnya ke arah tempat sampah berada. Di sana terdapat banyak kumpulan sampah yang menggunung.

__ADS_1


__ADS_2