
...༻☆༺...
Raffi segera memberitahukan yang lain mengenai idenya. Dia mengajak Gamal, Elsa, dan Zara untuk memberi bantuan kepada kedua orang tuanya Danu. Terkait bantuan kebutuhan hidup serta tanggung jawab atas apa yang sudah dilakukan Danu.
"Bagus juga ide lo. Tapi gue nggak yakin orang tuanya Danu mau nerima. Mereka pasti kayak terhina gitu nggak sih? Orang baik biasanya begitu. Mereka benci dikasihani," cetus Zara. Mengungkapkan pendapat.
"Mending dicoba aja dulu. Kalian bawa uang tunai nggak?" tanggap Raffi yang di akhiri dengan pertanyaan.
"Lewat atm aja. Itu ada mesinnya di belakang lo!" Elsa menunjuk lokasi mesin atm yang kebetulan tersedia.
Raffi tersenyum malu. "Ya udah, kalian bersedia bantu nggak? Kalau nggak ikhlas jangan dipaksain deh," ujarnya. Menatap tiga orang yang ada di sekeliling.
"Gue pasti dong. Nih!" Gamal mengambil kartu debit dari dompet. Lalu menyerahkannya kepada Raffi.
"Eh enak aja. Ambil sendiri dong. Nanti kita kumpulin uangnya," ucap Raffi dengan dahi berkerut. Membuat Gamal terkekeh geli.
Raffi dan yang lain saling bergantian menggunakan mesin atm. Mereka tentu mengambil uang dengan jumlah yang berbeda-beda.
Inisiatif cowok pintar seperti Raffi memang tinggi. Dia sekarang mengobrol dengan seorang polisi yang berjaga. Raffi meminta sebuah amplop kepada polisi itu. Permintaannya langsung terkabul. Kebetulan kantor polisi memiliki stok perlengkapan alat tulis yang lengkap.
Sebuah amplop besar berwarna cokelat sudah berada di tangan Raffi. Dia segera kembali bergabung dengan Elsa dan yang lain.
Semua uang yang terkumpul berjumlah sekitar tujuh juta tiga ratus ribu rupiah. Orang yang paling banyak menyumbang adalah Gamal. Dia memang memiliki simpanan uang lebih banyak dari yang lain. Sebab ayahnya hanya mengandalkan uang untuk menjaga Gamal.
"Menurut gue, ini lebih dari cukup. Bapaknya Danu bisa bikin warung bakso depan rumah kayaknya," imbuh Gamal percaya diri.
"Semoga aja beneran cukup. Ayo! Kita barengan ketemu orang tuanya Danu. Jangan ngandelin gue terus dong," ajak Raffi dengan semburat wajah sebal.
Gamal segera merangkul Raffi. Di iringi oleh Elsa dan Zara dari belakang. Mereka melenggang untuk menemui Sinta dan Wildan.
Raffi menuturkan niat baiknya. Hingga membuat kedua orang tua Danu kaget. Keduanya reflek saling bertukar pandang.
"Nggak usah repot-repot, Dek. Kalian harusnya pakai uangnya untuk kebutuhan sekolah kalian," balas Wildan. Mencoba menolak baik-baik.
__ADS_1
"Kami udah punya uang sendiri kok buat itu." Raffi memaksa Wildan untuk memegang amplop berisi uang.
Wildan terdiam seribu bahasa. Dia memang tidak menampik kalau dirinya sedang kesulitan ekonomi. Apalagi istrinya baru saja dipecat sebagai pembantu rumah tangga. Bakso yang dijual Wildan sendiri kurang laku akibat kelakuan buruk Danu.
"Terima kasih..." Wildan lagi-lagi tidak kuasa menahan air mata. Hal serupa juga terjadi kepada Sinta.
"Makasih banyak ya... Danu beruntung banget punya teman-teman seperti kalian..." tutur Sinta sembari menatap haru ke empat anak SMA di hadapannya.
Tidak lama kemudian, Raffi dan kawan-kawan berpamitan untuk pulang. Mereka kembali beranjak ke mobil.
"Mal!" panggil Raffi. Mencegat pergerakan Gamal yang ingin masuk ke mobil.
"Kenapa lagi?" tanya Gamal. Tetapi Raffi malah membalas dengan senyuman tipis.
"Ini mengenai nasehat Danu tadi. Gue rasa dia ada benarnya. Sebagai teman, gue juga nggak mau lo berantakan." Raffi berujar. Lalu memperhatikan Gamal dari ujung kaki sampai kepala. "Coba lihat lo sekarang? Lo makin kurus," tambahnya sambil geleng-geleng kepala.
"Itu efek obat yang lo minum loh. Mulai berdampak ke badan lo. Cowok kurus kerempeng itu nggak banget," kritik Raffi blak-blakkan. Menyebabkan Gamal harus memutar bola matanya.
"Hah..." Gamal membuang nafas berat. Kemudian berkata, "Gue nggak bisa berhenti kalau sendirian terus di rumah. Lo pernah nggak sih ngerasa bingung mau melakukan apa? Terus bosan aja bawaannya?"
Raffi mendekatkan mulut ke telinga Gamal. Ia berbisik, "Cewek kita bakalan semakin klepek-klepek kalau liat badan kita sehat. Apalagi kalau ada roti lapisnya."
"Roti sobek, kampret!" Gamal mengoreksi ucapan Raffi yang salah. Keduanya otomatis cekikikan bersama.
"Apaan sih kalian? Ngomongin apa coba?" tegur Elsa yang baru saja datang dari toilet. Dia kebetulan bersama Zara. Perempuan memang terbiasa ditemani ketika pergi ke toilet.
"Ada deh. Masalah cowok," jawab Raffi dengan raut wajah mengejek.
"Biarin aja, El. Kan bagus liat mereka akur begini," komentar Zara seraya merekahkan senyuman lebar. Selanjutnya, mereka segera masuk ke mobil masing-masing dan pulang.
Dalam perjalanan Gamal tenggelam dalam diam. Pembicaraan Zara bahkan hanya terdengar samar di telinga. Dia merogoh ponsel dari saku celana. Lalu menelepon seseorang.
"Mas, pesanan tadi batal ya!" Gamal terdengar memberitahukan seseorang.
__ADS_1
"Hah? Kenapa gitu, Dek. Barangnya udah siap nih," sahut seorang lelaki dari seberang telepon.
"Pokoknya nggak jadi!" tegas Gamal. Dia langsung mematikan panggilan telepon secara sepihak.
"Baru ngomong sama siapa?" tanya Zara penasaran.
"Lo tahulah dari siapa. Pengedar tatoan tempat gue bisanya pesan barang," jelas Gamal.
Zara terkesiap. Kelopak matanya mengedip pelan. Dia mencoba mencerna sikap Gamal sekarang.
"Ciee... mau tobat? Raffi tadi emang ngomong apa?" Zara mengusap gemas rambut cepak Gamal.
"Nggak ada kok. Kalau itu emang obrolan cowok. Lo nggak usah tau!" balas Gamal seraya fokus mengemudikan mobil. Zara lantas hanya memasang ekspresi kesal.
...***...
Raffi baru menghentikan mobil ke halaman rumah. Dia memegangi tangan Elsa saat ceweknya itu nyaris beranjak.
"Kenapa?" tanya Elsa yang tidak jadi keluar mobil.
"Kita jalan yuk. Selama ini kita nggak pernah kencan kayak pasangan lain?" ujar Raffi yang tampak bersungguh-sungguh.
Elsa melakukan tatapan selidik sambil tersenyum lebar. Dia merasa sangat senang mendengar permintaan Raffi. Sebenarnya Elsa sudah menunggu momen tersebut sejak lama. Cewek mana yang tidak mau diperlakukan dengan baik oleh pacarnya.
"Kalau gitu, kita nonton aja gimana?" usul Elsa yang mendadak bersemangat.
Raffi terlihat berpikir sebentar. Mulutnya sedikit memanyun. Dalam keadaan kening yang mengernyit samar.
"Ish! Kelamaan mikir deh." Elsa yang sudah tidak sabar, memukul keras pundak Raffi.
"Aw! Sakit, El." Raffi sigap mengelus pundaknya yang kena pukulan.
"Makanya jangan kelamaan mikir dong," pungkas Elsa.
__ADS_1
Raffi mendengus kasar. "Oke, nanti malam minggu kita jalan ya," balasnya.
Elsa tersenyum senang. Dia mencium pipi Raffi. Lalu pergi menuju rumahnya. Meninggalkan Raffi yang tersenyum malu sambil memegangi pipi bekas ciuman.