Sisi Gelap Dunia Anak SMA

Sisi Gelap Dunia Anak SMA
Bab 23 - Pacaran


__ADS_3

...༻☆༺...


Raffi dan Elsa saling terpaku satu sama lain. Perlahan Raffi menautkan jari-jemarinya ke tangan Elsa.


"El, gue jadi kangen sama hobi yang sering kita lakuin dulu," celetuk Raffi.


"Maksud lo lari marathon?" tebak Elsa.


Raffi mengangguk. "Iya, udah lama kita nggak lari marathon bareng. Gue ingat banget lo udah dua kali ngalahin gue," ucapnya.


"Baru dua kali doang kok. Masih banyakan elo lah!" Elsa mengerucutkan bibirnya sebal.


"Ya maka dari itu, gue pengen lebih banyak ngalahin lo," pungkas Raffi.


"Idiiih..." Elsa yang kesal, segera menggelitik perut Raffi. Membuat cowok itu sontak tertawa akibat merasa geli.


Raffi tidak ingin kalah. Dia membalas menggelitik perut Elsa. Ulahnya sukses menyebabkan gadis itu tertawa terbahak-bahak. Elsa kalah telak. Sebab dia lebih mudah geli dibanding Raffi.


"Raf, udah! Gue nyerah!" ujar Elsa seraya mencoba bertahan dari serangan Raffi. Namun cowok itu tidak berhenti menggelitik.


Hingga tibalah Raffi dan Elsa berada di satu momen saling membisu. Hal itu karena posisi Elsa kebetulan terpojok ke sandaran sofa. Sedangkan Raffi berada tepat di hadapannya. Wajah mereka hanya helat beberapa senti.


Raffi tersenyum, lalu perlahan kian mendekat. Akan tetapi Elsa dengan cepat meletakkan telapak tangan ke bibir Raffi.


"Jangan gila. Kita ada di rumah paman gue... bisa berabe kalau ketahuan," bisik Elsa sembari mendorong Raffi menjauh.


Raffi segera merapikan rambut dan duduk dengan tenang. Dia memutar bola mata malas untuk menunjukkan kekecewaan.


"Ketagihan banget lo." Elsa menjewer gemas salah satu kuping Raffi.


"Aaa! Sakit!" erang Raffi dalam keadaan mata mendelik. Elsa lantas melepaskan jewerannya.


"Siapa juga yang mulai duluan. Elo kan?" Raffi mencubit hidung mancung Elsa. Sampai cewek itu mengerang kesakitan sepertinya tadi.


Elsa tersenyum malu. Dia memang tidak bisa membantah, kalau dirinyalah yang lebih dulu mengajak Raffi berciuman.


Drrrt...

__ADS_1


Drrrt...


Ponsel Elsa mendadak bergetar. Raffi yang posisinya paling dekat dengan meja, segera mengambilkan. Dia melihat selintas nama yang tertera di layar ponsel Elsa.


"Gamal?" Raffi menuntut penjelasan.


"Iya, dia sering ngirim pesan ke gue akhir-akhir ini. Nanyain hal-hal yang nggak penting," terang Elsa.


"Hal nggak penting? Emang gimana?" Raffi mengerutkan dahi.


Elsa otomatis menunjukkan pesan-pesan yang dikirim Gamal. Di sana dapat diketahui bahwa Gamal hanya mengirimkan pesan sederhana. Seperti, Lagi ngapain?, Lagi sama siapa?, Udah makan atau belum?


Raffi menghela nafas. Dia mengambil alih ponsel Elsa. Kemudian menggeser layar ponsel untuk melihat lebih lengkap. Gamal terkesan seperti melakukan pendekatan kepada Elsa. Bukan hanya di sana, Raffi juga menemukan dua cowok lainnya yang mencoba mendekati Elsa.


"Siapa Beni dan Nuwanda? Mereka cowok kan? Kayak pernah denger namanya di sekolah." Raffi menatap Elsa dengan penuh tanya.


"Beni cowok kelas XI MIPA 3. Kalau Nuwanda, kakak kelas kita. Hehe... tapi gue nggak balas chat mereka sama sekali kok. Nggak kayak lo yang balas terus sama pesan cewek." Setelah menjawab, Elsa langsung menimpali.


"Cewek yang kirim pesan ke gue kan nggak banyak," ungkap Raffi. Masih sibuk melihat-lihat kotak pesan Elsa.


"Hah? Nggak banyak? Jangan bohong lo. Sini serahin ponsel lo, biar gue periksa!" Elsa membuka lebar telapak tangannya.


"Ish! Nggak adil. Sini hp lo!" Elsa memaksa sambil memeriksa kantong yang ada pada pakaian Raffi. Dia memeriksa satu per satu, sampai akhirnya benar-benar menemukan ponsel.


"Bentar, gue lihat dulu." Raffi mencoba merebut kembali ponselnya dari tangan Elsa. Namun Elsa langsung menepis.


"Nggak ada apa-apa. Nggak percayaan banget lo sama gue," kata Raffi. Alhasil dia memilih menikmati vanilla cake.


Elsa tampak serius memeriksa pesan di ponsel Raffi. Sesuai dugaannya, banyak gadis yang mengirim pesan kepada cowoknya itu. Semua bisa terlihat dari banyaknya nomor tak dikenal yang mengirimkan pesan sapaan. Tetapi tidak ada satu pun yang dibalas. Raffi memang hanya membalas pesan dari orang yang dikenalnya saja.


"Pesan dari Putri beruntun banget. Tapi lo cuman balas satu sampai dua kata. Pffft..." Elsa tergelak sambil menyandarkan kepala ke pundak Raffi.


"Puas lo! Udah gue bilang nggak ada apa-apa." Raffi merebut ponselnya dari tangan Elsa.


"Iya sih, lo cuek kalau di pesan. Tapi kalau berhadapan di kenyataan, selalu aja ngasih perhatian lebih. Ingat mulai sekarang di tahan-tahan ya. Cewek itu gampang baper tau!" Elsa melingkarkan tangannya ke pinggul Raffi.


"Iya, iya... gue itung udah tiga kali lo ngomong kayak gitu. Sampai bosen gue dengernya," balas Raffi tak acuh. Dia mengambil remot dan menyalakan televisi.

__ADS_1


Elsa mengikik halus. Dia mengarahkan manik hitamnya untuk memandangi Raffi. Kemudian berucap, "Ish! Gemesin. Jadi pengen cium."


Raffi reflek menoleh ketika mendengar Elsa menyebut kata cium. Dia menyahut, "Kagak! Gue mau balas dendam. Tolak dibalas tolak!"


"Yang bener nggak mau?" Elsa mendekatkan mulut ke telinga Raffi. Bicara dengan nada berbisik.


"Jangan mancing-mancing deh. Lo tahu nggak cowok itu paling susah buat nahan hasrat. Makanya mereka selalu mendominasi saat berhubungan intim," tukas Raffi. Menyebabkan Elsa bergegas menjaga jarak darinya.


"Idih! Kenapa malah ngomongin begituan sih." Wajah Elsa seketika memerah bak tomat matang. Menurutnya Raffi terlalu lugas membicarakan sesuatu hal tabu.


"Gue ngomongin fakta kok. Gue baca itu di jurnal terjemahan Psikologi dari Harvard. Di sana juga dijelaskan, kalau--"


"Stop! Plis deh. Bisa nggak, pas lagi pacaran lo nggak ngomongin pelajaran. Otak gue udah mumet duluan tahu." Elsa sengaja memotong ucapan Raffi.


"Oke." Raffi menyahut singkat. Ia kembali bergumul menyaksikan televisi. Menekan tombol puluhan kali demi mencari acara yang menarik. Sayangnya, Raffi tidak berhasil menemukan.


"Ngapain lo buka televisi? Malam-malam begini adanya cuman sinetron Cinta Yang Terikat kesukaan emak-emak." Elsa merampas remot dari tangan Raffi. Lalu mematikan televisi.


Tanpa sepengetahuan Raffi dan Elsa, ada Vina yang sibuk menguping di tangga. Kebetulan tangga di rumahnya tidak begitu tinggi. Makanya Vina dapat mendengar segala pembicaraan dari pertengahan tangga.


Vina memasang mimik wajah cemberut. Entah kenapa dirinya merasa dikhianati. Apalagi ketika mendengar Elsa menyebut kata 'Pacaran'. Padahal selama ini, Vina selalu menganggap hubungan Raffi dan Elsa hanya sebatas sahabat. Vina juga mempercayai Elsa yang terus mengatakan tidak memiliki perasaan terhadap Raffi.


Lama-kemalaan, Vina semakin kesal. Terutama saat mendengar Raffi dan Elsa yang terus bercanda gurau. Vina yang tadinya hendak bergabung, akhirnya memilih kembali ke kamar. Mulai hari itu Vina membenci Elsa.


Selang beberapa menit, pendar cahaya lampu mobil terlihat dari jendela. Menandakan Paman dan Tantenya Elsa telah pulang dari kondangan.


Ceklek...


Pintu terbuka pelan. Muncullah Risna yang kebetulan mengenakan gaun merah muda. Dia membawa banyak plastik di kedua tangan.


"Tante, sini biar aku bawain." Elsa berinisiatif membantu.


"Makasih, El." Risna tersenyum tipis. Atensinya segera tertuju ke arah Raffi yang terlihat sudah berdiri. "Wah, ada Raffi toh. Kalian lagi belajar?" tanya-nya ramah.


"Begitulah, Tante. Cuman biasalah, Elsa selalu aja males. Dia malah buka televisi. Jadi kami nonton deh," jawab Raffi. Dia memang sudah mempunyai hubungan akrab dengan keluarga pamannya Elsa.


"Elo yang buka televisinya kali!!" Elsa yang dapat mendengar, langsung berteriak dari dapur.

__ADS_1


Risna hanya geleng-geleng kepala sambil tersenyum. Saat itulah sosok lelaki berwajah tegas masuk ke rumah. Dialah Fajar, paman kandung Elsa.


"Nggak bisa dipaksain. Bakat Elsa memang bukan di bidang akademik," imbuh Fajar. Ia tersenyum tipis untuk menyapa Raffi.


__ADS_2