Sisi Gelap Dunia Anak SMA

Sisi Gelap Dunia Anak SMA
Bab 64 - Keputusan Mengejutkan


__ADS_3

...༻☆༺...


Elsa dan Zara mengobrol cukup lama. Dua cewek yang awalnya saling benci itu, kini sudah menjadi akrab. Bahkan sampai ke tahap pembicaraan yang sangat pribadi.


"Gue denger, lo sama Gamal pacaran. Itu beneran?" tanya Elsa sambil mengaduk jus alpukat dengan sedotan.


Zara mengangguk lemah. "Begitu deh. Tapi jujur, gue masih belum sepenuhnya percaya sama Gamal. Cowok kayak gitu sebenarnya nggak bisa dipercaya. Lo pasti mikirnya gitu juga," ujarnya. Meminta pendapat dari Elsa.


"Nggak tau sih. Dia bisa berubah kok, Ra." Elsa mencoba berpikir positif. Zara lantas hanya bisa menghela nafas panjang.


Tidak lama kemudian, handphone Zara berdering. Cewek itu langsung mengangkat panggilan yang tidak lain dari Gamal tersebut. Kedua alis Zara nampak terangkat penuh semangat saat mendengar berita dari Gamal.


"Ada apa, Ra?" tanya Elsa. Ketika Zara baru saja selesai bicara melalui telepon.


"Gamal ngajakin ke klub malam. Lo sama Raffi juga di ajak tuh!" ungkap Zara sembari sibuk berkutat dengan layar ponsel.


"Hah? Klub malam? Nggak banget!" Elsa langsung menolak. Jujur saja, dia tidak pernah sekali pun menjejakkan kaki ke klub malam.


"Seru kok. Klub malam salah satu tempat penghilang stress loh," kata Zara. Matanya mengedip dengan pelan.


"Lo nggak usah maksa. Gue pokoknya tetap nggak mau." Elsa bersikukuh dengan pendiriannya. Dia segera bangkit dari tempat duduk dan pamit untuk pulang.


"Thanks buat segalanya ya, Ra. Sekarang lo salah satu temen deket gue!" Elsa menyodorkan satu tangan kepada Zara. Berniat ingin menyalami.


"Jadi seneng gue dengernya. Akhirnya gue punya temen cewek. Lo nggak usah khawatir, kejadian pas ulangan dulu itu nggak bakalan terjadi. Gue akan jaga rahasia lo dengan baik." Zara menyambut sodoran tangan Elsa. Keduanya saling bersalaman sebentar. Lalu pulang ke rumah masing-masing.


Di sisi lain, Raffi baru saja mendapatkan pesan dari Bu Lestari. Dia menerima kabar kalau dirinya dipilih sebagai siswa yang masuk program pertukaran pelajar. Raffi ditawarkan untuk bersekolah ke Amerika.


Jika Raffi menerima kesempatan bagus itu, maka dia akan lebih mudah melanjutkan studi ke universitas luar negeri. Terutama di wilayah Amerika.

__ADS_1


Bruk!


Pintu kamar tiba-tiba terbuka. Heni muncul dengan rekahan senyuman yang lebar. Ternyata tidak hanya Raffi yang mendapat kabar dari Bu Lestari, tetapi dia juga.


"Raffi! Mamah bangga banget sama kamu!" Heni berlari untuk memeluk Raffi. Dia merasa sangat bahagia. Orang tua mana yang tidak senang saat mengetahui anaknya sukses besar. Program pertukaran pelajar sendiri hanya akan didapat oleh siswa yang memenuhi kualifikasi tertentu.


Berbeda dengan Heni, Raffi justru tidak bahagia. Dia mendadak tidak berminat untuk bersekolah di luar negeri.


"Mamah bilangin Papah dulu ya. Ayo kita ke bawah! Kita obrolin sama-sama." Heni membawa Raffi menuruni tangga. Kemudian duduk bergabung bersama Irwan di sofa.


Heni langsung menceritakan kabar baik yang baru diterimanya. Irwan yang mendengar, tentu juga ikut bahagia. Namun setelah dia dan Heni memperhatikan raut wajah Raffi, senyuman mereka otomatis memudar.


"Raf, kok muka kamu malah sedih gitu. Ini kabar bahagia loh. Murid yang masuk buat program pertukaran pelajar itu langka. Nggak semua sekolah dapat!" ujar Heni yang merasa heran.


"Aku mau sekolah di sini aja, Mah, Pah... Kalau masalah kuliah maunya juga begitu. Di sini aja," tutur Raffi tenang.


"Raffi, Papah sama Mamah suruh rajin belajar itu ya biar kamu bisa dengan mudah dapat kesempatan bagus. Sayang banget kalau kamu tolak. Coba kasih tahu Papah, apa alasan kamu mau tolak tawaran program pertukaran pelajar?" Irwan memasang ekspresi serius. Dia agak kecewa dengan penuturan putranya barusan.


"Alasan macam apa itu, Raf? Justru dengan mengikuti program pertukaran pelajar itu, kamu berbakti sama negeri sendiri. Orang-orang akan bangga sama kamu! Apalagi jika kamu sangat berprestasi saat di negeri orang nanti!" pungkas Irwan dengan dahi berkerut.


Heni terdiam seribu bahasa. Dia agak kaget mendengar penolakan Raffi. Bagaimana tidak? Beberapa tahun lalu, impian Raffi adalah ikut pertukaran pelajar dan meneruskan kuliah di universitas ternama seperti Harvard. Tetapi kenapa pemikiran putranya itu tiba-tiba berubah?


"Udah, Pah." Heni menenangkan suaminya terlebih dahulu. Lalu maju untuk memberikan pertanyaan kepada Raffi. Nalurinya sebagai ibu merasa memiliki firasat lain. Heni yakin, Raffi punya alasan yang sengaja disembunyikan. Dia akan mencoba menebak.


"Raf, kamu punya pacar ya?" tanya Heni pelan. Satu tangannya menyentuh lutut Raffi.


Deg!


Jantung Raffi berdegub kencang. Dia tentu merasa tertangkap basah. Meskipun begitu, Raffi sudah bertekad akan merahasiakan hubungannya dengan Elsa sampai akhir.

__ADS_1


"Enggak kok, Mah! Emang Mamah ada lihat aku dekat sama cewek?" balas Raffi yang tak mau mengaku.


"Elsa? Dia juga cewek kan? Mungkin aja kamu--"


"Astaga, Mah. Mana mungkin aku sama Elsa pacaran. Kan dari kecil kami udah sahabatan." Raffi sekali lagi menepis. Ia bahkan sengaja memotong ucapan ibunya sendiri.


Heni dan Irwan otomatis saling bertukar pandang. Heni terlihat frustasi dengan cara menekan-nekan jidatnya.


"Gini aja, mending kamu pikirin baik-baik dahulu sebelum ambil keputusan. Lagian waktunya masih banyak kok buat mikir," saran Irwan yan memilih menahan ego-nya.


"Kayaknya pilihanku bakalan tetap sama deh, Pah." Raffi kembali berucap.


Bruk!


Irwan kali ini kelepasan. Dia memukul meja dengan keras. Usahanya yang terus berusaha memberikan putra tunggalnya yang terbaik, terasa berujung sia-sia.


"Papah kenapa jadi marah-marah?! Ini sudah pilihan terbaikku. Harusnya Papah bisa terima. Aku masih bisa jadi dokter kok meski kuliah di sini!" cecar Raffi. Entah kenapa nafasnya mulai terasa berat. Nampaknya rasa kesal mulai memenuhi relungnya. Persis seperti sang ayah.


"Papah cuman mau yang terbaik buat kamu! Dari kecil Papah sama Mamah selalu dorong kamu buat belajar rutin. Bahkan tanpa menekan kamu! Papah rela buang ego sendiri demi kamu!" Irwan sudah tersungut amarah. Heni yang panik, sekali lagi berusaha menenangkan.


"Sudah, Pah. Kita biarkan aja Raffi berpikir dulu. Iyakan, Raf?" Heni menatap Raffi. Berharap putranya bersedia mengalah. Tetapi sepertinya Raffi mengabaikan tatapannya.


"Jadi Papah maksa aku buat terima program pertukaran pelajar ini? Langsung ke intinya aja, Pah. Nggak perlu nyuruh aku mikir," tukas Raffi. Menyebabkan Irwan dan Heni terperangah bersamaan. Mereka tidak pernah melihat Raffi berani bersuara seperti itu.


"Iya! Kamu harus terima! Kali ini Papah nggak mau mengalah!" tegas Irwan sambil berdiri. Ia segera beranjak memasuki kamar.


"Raf, kamu harus pikirkan lagi ya. Program yang kamu terima adalah kesempatan sangat bagus. Tidak semua siswa bisa mendapatkannya dengan mudah." Heni mencoba membujuk Raffi sekali lagi.


Raffi hanya membisu. Tanpa sepatah kata pun, dia melangkah menuju kamar. Kemudian mengambil ponsel. Satu pesan dari Gamal diterimanya.

__ADS_1


...'Raf, ke klub malam yuk. Cobainlah sekali-kali. Gue bakal pesen ruang vip buat kita!'...


Begitulan bunyi pesan yang diterima Raffi. Untuk pertama kalinya, dia langsung bersedia ikut. Bahkan tanpa memakan waktu untuk berpikir. Raffi hanya ingin pergi jauh-jauh dari suasana rumah yang menyesakkan.


__ADS_2