
...༻☆༺...
Afrijal terlihat baru keluar dari kamar. Dia mengenakan setelan jas rapi. Afrijal kebetulan ada urusan bisnis di luar kota.
"Gamal!" panggil Afrijal kepada sang putra.
Tidak lama kemudian, Gamal keluar dari kamar. Ia menuruni tangga dengan tergesak-gesak. Lalu berdiri di hadapan sang ayah.
"Papah ada urusan bisnis keluar kota. Nih buat kamu. Gunakan baik-baik. Papah kasih ini karena nilai ulangan kamu nggak ada yang remedial. Sekalian juga uang jajan buat liburan." Afrijal memberikan dua kartu sekaligus kepada Gamal. Yaitu kartu debit dan kredit.
Gamal tersenyum puas dan mengucapkan terima kasih. "Pah, kita nggak jadi liburan ke--"
"Nggak jadi! Lagian Mamah kamu sibuk terus. Papah juga sekarang ada urusan bisnis mendadak. Kamu di rumah baik-baik!" Afrijal sengaja memotong ucapan Gamal. Dia seolah ingin cepat-cepat pergi.
Mobil melaju memasuki jalanan beraspal. Kini Gamal kembali sendirian di rumah. Hanya ada Bi Nur dan Pak Drajat yang merupakan asisten rumah tangga.
Gamal mendengus kasar. Ekspetasinya tentang liburan bersama keluarga terlalu tinggi. Dia hanya punya uang yang menggunung untuk menemani. Namun apa gunanya uang, jika semua teman-temannya tidak ada.
Raffi sudah berlibur ke rumah neneknya. Tirta pergi ke Paris, sedangkan Danu setahu Gamal akan menghabiskan waktu liburan ke Dubai. Gamal sangat iri dengan teman-temannya.
Mungkin dari luar, Gamal terlihat seperti yang paling hebat. Tetapi dari dalam ada kerapuhan yang tersembunyi. Gamal telah melampiaskannya dengan berbagai cara. Termasuk melakukan banyak hal terlarang.
Gamal menghempaskan tubuhnya ke kasur. Dia mengintip media sosial teman-temannya. Orang yang pertama dia lihat adalah Elsa. Cewek itu terlihat baru memposting status terbaru. Elsa tampak tersenyum lebar sambil menunjuk ke patung singa kebanggan Singapura.
Berikutnya ada postingan terbaru Erin. Gebetan baru Gamal itu katanya berlibur ke Bali bersama keluarga. Semuanya terbukti dari fotonya yang berpose di pantai kuta, Bali.
"Haahhh..." Gamal menghembuskan nafas kasar untuk yang sekian kalinya. Satu-satunya orang yang tidak kemana-mana adalah Zara.
"Tapi kemarin gue udah bilang bosan sama dia." Gamal merubah posisi menjadi duduk. Ia menggaruk rambut cepaknya dengan satu tangan.
"Ah, nggak papa deh. Dari pada gue kesepian." Gamal segera mengirimkan pesan kepada Zara. Dia menyuruh cewek itu untuk datang ke rumah.
'Enak aja gue yang ke sana. Jemput dong!' begitulah pesan balasan yang diterima Gamal dari Zara.
"Gila! Dia ngelunjak!" geram Gamal sembari membanting ponsel ke kasur. Dia terdiam sejenak. Kemudian kembali telentang.
Gamal mencoba tidur. Akan tetapi tidak bisa. Dia bingung harus berbuat apa. Segalanya terasa bosan jika dilakukan sendirian. Alhasil Gamal tidak punya pilihan selain pergi menjemput Zara.
__ADS_1
Sebelum pergi, Gamal tidak lupa memberitahu Zara lewat pesan bahwa dia akan menjemput. Cowok itu sudah mengemudikan mobil.
'Mal, beliin camilan yang banyak ya. Gue mau kasih buat anak-anak panti. Itung-itung sedekah lah. Gue yakin lo punya banyak uang.' Pesan dari Zara kembali masuk.
Gamal memutar bola mata jengah. Jika masalah uang dia memang tidak pernah pelit. Makanya Zara sengaja memanfaatkan hal itu. Hubungannya dan Zara hanya berupa saling menguntungkan. Persis seperti simbiosis mutualisme.
Gamal berhenti di sebuah toko. Di sana dia memborong banyak makanan kemasan. Dari mulai keripik sampai kue-kue kering. Selanjutnya, barulah Gamal pergi ke panti asuhan.
Melihat mobil Gamal datang, Zara langsung keluar dari panti. Dia terlihat mengenakan dress selutut dan mengenakan jaket yang sengaja diresleting sampai ke dada.
"Lo beli nggak?" tanya Zara sembari melenggang menghampiri mobil Gamal.
Gamal keluar dari mobil dan memperlihatkan apa yang sudah dibelinya. Zara otomatis tersenyum lebar. Kemudian menyenggol Gamal dengan sikunya.
"Ya udah, bantuin gue bawa ke dalam!" titah Zara.
"Kagak! Suruh anak-anak panti aja yang ngangkut ke sana," balas Gamal.
"Tega banget lo," tanggap Zara.
"Ketularan?" kening Zara ikut mengernyit.
Gamal mendekatkan mulut ke telinga Zara dan berbisik, "Ketularan yatim piatu."
Zara langsung cemberut. Tetapi Gamal justru merespon dengan gelak kecil. Lalu mencium pipi cewek itu.
Zara mengusap kasar pipi bekas ciuman Gamal. Dia segera mengangkat semua makanan kemasan pembelian Gamal. Sedangkan Gamal sendiri memilih menunggu. Cowok berambut cepak itu menyandarkan punggung ke mobil.
Dari kejauhan, Gamal dapat melihat Zara tersenyum. Selang sekian detik, puluhan anak panti tampak berlarian ke arah Gamal. Tepat setelah Zara menunjuk Gamal dengan tangan.
Gamal berdecak kesal. Dia mendapatkan ciuman di tangan dari semua anak-anak panti. Untungnya Gamal mau saja mengulurkan tangan.
Setelah para anak panti pergi, Gamal segera masuk ke dalam mobil. Takut kalau-kalau Zara kembali melakukan hal tak terduga.
Sepuluh menit berlalu. Barulah Zara masuk ke mobil. Saat itulah Gamal memegang kuat dagu Zara. Hingga kepala Zara harus mendongak.
"Lo mau main-main sama gue? Hah? Dasar cewek murahan!" pungkas Gamal. Rahangnya mengerat kesal. Mencaci maki Zara memang sudah menjadi kebiasaannya.
__ADS_1
Zara berusaha melepas tangan Gamal dari dagunya. Tetapi tenaganya tidak sekuat Gamal.
"Mal, lo bisa bunuh gue kalau kayak gini. Kapan lo sadar sih?!" ujar Zara. Dia kini hanya bisa memukul dada Gamal sebisanya.
Tangan Gamal perlahan melepaskan Zara. Dia mencoba menenangkan diri dalam sesaat.
"Lo kenapa kayak gitu aja marah sih? Padahal lo harusnya seneng bisa dapat ucapan terima kasih dari anak-anak." Zara melirik Gamal dengan getir. Jujur saja, dia sudah terbiasa dengan sikap kasar Gamal.
"Kita mabok yuk. Gue butuh temen buat nikmatin begituan," celetuk Gamal. Dia sama sekali tidak memperdulikan perkataan Zara tadi. Bersikap seakan-akan tidak ada yang terjadi.
"Emang lo udah beli barangnya?" Zara memastikan.
"Kita pesen aja. Nanti mereka bakal antar ke rumah. Kita tinggal nunggu aja." Gamal memutar setirnya seratus delapan puluh derajat. Dia dan Zara sudah tiba di rumah.
Pak Drajat yang kebetulan membukakan pintu, menyapa Zara dengan senyuman. Dia sudah terbiasa menyaksikan wajah cewek itu. Kebetulan Gamal sudah membungkam mulutnya dan Bi Nur dengan uang yang banyak.
"Bi Nur! Buatin aku mie instan boleh kan?" Zara mendatangi posisi Bi Nur. Dia memesan makanan seperti halnya di sebuah warung. Selanjutnya, Zara memutuskan duduk di sofa bersama Gamal. Mereka berniat menunggu barang pesanan.
Zara melepas jaket yang sedari tadi menutup rapat tubuh bagian atas. Dress yang digunakannya memperlihatkan sedikit belahan dada. Atensi Gamal tentu langsung tertuju ke sana.
"Gue kira lo liburan ke luar negeri." Zara sengaja duduk jauh dari Gamal.
"Nggak jadi. Gue males!" sahut Gamal. Menyebabkan Zara sontak terkekeh.
Zara hanya mengangguk-anggukkan kepala. Dia menikmati kue kering yang ada di dalam toples.
"Ra! Duduk deket gue sini! Lo kenapa duduk di sana coba," pungkas Gamal.
"Idih! Bukannya lo udah bosan ya sama gue?" Zara meringiskan wajah.
"Ke sini nggak?!" Gamal menyalangkan mata.
"Kalau gue ke sana, lo emangnya mau kasih apa? Gue mahal sekarang, Mal. Apalagi setelah lo hina habis-habisan!" balas Zara.
Gamal memutar bola mata malas. "Apapun yang lo mau gue kasih sekarang!" imbuhnya yakin.
"Apapun?" Zara mengangkat dua alisnya bersamaan. Gamal lantas menjawab dengan anggukan. Tanpa pikir panjang, Zara segera berpindah duduk ke samping Gamal.
__ADS_1