Sisi Gelap Dunia Anak SMA

Sisi Gelap Dunia Anak SMA
Bab 116 - Nikah Muda


__ADS_3

...༻☆༺...


Seluruh keluarga berdatangan. Terutama keluarga Raffi dan Elsa. Mereka cenderung sangat khawatir. Akibat hal itu, mereka harus menyesampingkan masalah yang ada. Bagi mereka, keselamatan anak-anak adalah yang utama.


Heni kali ini tidak sendirian. Ada Irwan yang juga menemaninya. Keduanya langsung menghampiri Raffi. Memastikan keadaan putra mereka baik-baik saja.


Kini Raffi dan Elsa berpisah. Mereka menaiki mobil yang berbeda. Keduanya akan berusaha yang terbaik untuk menghadapi keluarga masing-masing.


Saat di dalam mobil, hanya ada keheningan yang menyelimuti. Raffi menghela nafas berulang kali. Ia duduk sendirian di kursi belakang.


Sesampainya di tempat tujuan, Raffi langsung mengajak ayah dan ibunya bicara di ruang tamu.


"Nanti aja ya, Raf. Kamu lebih baik istirahat dulu." Heni memberikan saran.


"Enggak! Aku nggak bisa tenang kalau belum membicarakan tentang--"


"Papah sebenarnya sangat kecewa sama kamu. Kami berdua sudah lihat apa yang sudah kamu lakukan dengan Elsa." Irwan sengaja memotong perkataan Raffi. Lalu perlahan duduk ke sofa. "Tapi apa boleh buat. Semuanya sudah terlanjur terjadi..." lirihnya, melanjutkan.


"Raffi, tolong beritahu kami apa pilihan kamu?" ujar Heni. Dia duduk di jarak yang agak jauh dari Irwan.


"Aku pengen nikahin Elsa, Mah. Aku akan tanggung jawab," jawab Raffi tegas.


"Terus gimana nanti kamu biayain hidup Elsa? Kerja aja belum, kuliah aja belum!" timpal Irwan. Dia sebenarnya menahan kesabaran sedari tadi.


"A-aku... akan kerja apa aja..." sahut Raffi meragu. Nadanya memelan seiring kalimat terakhir terlontar.


Irwan menggeleng remeh. "Jangan sok-sokan mau tanggung jawab! Kamu nggak tahu aja kalau tanggung jawab seorang suami itu sangat besar!" katanya.


"Apa Mas melarang Raffi buat tanggung jawab? Begitu? Mas sendiri bahkan bukan termasuk suami yang mau tanggung jawab sama kesalahan?" tukas Heni blak-blakan.


"Kita masih bisa selamatkan masa depan Raffi. Satu-satunya yang aku pikirkan adalah... menyuruhnya pergi ke luar negeri," jelas Irwan. Mengabaikan kritikan istrinya.


Heni otomatis terdiam. Wanita itu merasa ucapan sang suami ada benarnya.


"Mamah kenapa diam aja? Mamah dukung Papah?" Raffi tercengang. Menatap kedua orang tuanya secara bergantian. "Mamah sama Papah nggak sama sekali mikirin nasib Elsa gitu? Di sini itu kami sama-sama salah! Lagian kalau aku ke luar negeri, aku nggak menjamin hidupku akan tenang di sana. Aku pasti kepikiran Elsa!"


"Terus aku masih bisa kuliah kok, jadi dokter kan nggak kayak polisi. Yang mana persyaratannya nggak harus lajang saat mendaftar. Papah sama Mamah juga harus tahu, apa yang aku lakukan sama Elsa juga sebagai pelampiasan dari stress aku. Terutama setelah aku sering dengar kalian berantem." Raffi mendominasi pembicaraan. Perkataannya sangat menohok Heni dan Irwan.

__ADS_1


"Ya sudah kalau itu keputusan akhir kamu..." Heni tersenyum tipis. Lalu berpindah duduk ke sebelah Raffi. Memeluk Raffi sembari merengek. Sejujurnya dia merasa sangat terharu dengan keputusan Raffi. "Mamah senang kamu sudah berani bertanggung jawab."


Berbeda dari Heni, Irwan justru terdiam. Ia kemungkinan sudah pasrah terhadap pilihan bulat Raffi. Irwan tidak bisa berbuat apa-apa, jika putranya telah begitu bertekad.


"Papah? Papah juga akan dukung aku kan?" Raffi bertanya kepada Irwan.


Irwan tidak punya pilihan lain selain mengangguk. Dia membuang semua egonya karena lebih mengkhawatirkan Raffi.


"Sebaiknya kamu istirahat ya," saran Irwan yang segera dituruti oleh Raffi.


Sekarang hanya ada Heni dan Irwan berduaan di ruang tamu. Keduanya tidak mengucapkan sepatah kata pun.


"Mah, aku dengar kamu sedang mengurus perceraian ya?" tanya Irwan.


"Kalau udah tahu kenapa tanya lagi," sinis Heni sambil membuang muka.


"Aku harap kamu membatalkan semuanya. Toh Raffi sekarang sedang dalam masalah. Kita bisa urus dia sama-sama," ucap Irwan pelan.


"Aku bisa urus dia sendiri kok. Kan sebagian besar emang aku yang sering jagain Raffi. Aku udah enek lihat muka kamu, Mas! Apalagi kamu sama sekali tidak membantah kalau kamu memang berselingkuh. Lebih baik nikahi saja simpananmu itu!" tukas Heni. Dia bangkit dari sofa dan meninggalkan Irwan sendirian.


Irwan hanya bisa membuang nafas berat dari mulut. Kemudian mengusap kasar wajahnya sendiri.


Untung saja sekarang hati Fajar dan Risna sudah melunak. Hal itu karena pelarian yang Elsa lakukan. Mereka tentu tidak mau Elsa hidup sendirian di luar sana.


"Sudahlah, El... mungkin ini juga kesalahan Paman. Aku nggak bisa jaga kamu dengan baik. Maafin Paman..." ungkap Fajar sembari mengelus pelan pundak Elsa. Dia tidak kuasa menahan cairan bening yang berjatuhan di sudut matanya.


"Enggak... ini sepenuhnya salah aku..." isak Elsa. Dia berada dalam pelukan Risna.


"Yang penting Raffi bersedia tanggung jawab. Dengan begitu, kamu juga bisa tanggung jawab sama anak kamu ya." Risna mencoba menenangkan. Elsa lantas hanya mengangguk sambil berusaha berhenti menangis.


...***...


Pernikahan akhirnya dilakukan. Pihak keluarga masing-masing tidak mau menunda terlalu lama. Meskipun begitu, mereka mengadakan acara agak tertutup. Hanya di isi oleh keluarga dan kerabat terdekat.


Beberapa guru dan teman dari sekolah Raffi ada yang turut berhadir. Mereka menyaksikan Raffi melakukan sesi ijab kabul dengan lancar.


Hanya dalam sekian detik, Raffi dan Elsa sudah menjadi pasangan halal. Mereka tampak saling menatap dan melemparkan senyuman.

__ADS_1


"Yah... nggak punya teman contekan lagi gue," kelakar Royan. Salah satu teman sekelas Raffi.


"Bisa aja lo, Yan! Lo kan bisa belajar sendiri," balas Raffi seraya terkekeh. Kemudian membiarkan Royan pergi selepas memberikan pelukan.


Sementara Elsa, dikelilingi oleh ketiga temannya. Mereka terlihat menangis haru dan saling mendoakan.


"Gue doain yang terbaik buat lo sama Raffi ya," ujar Ratna seraya memberikan sebuah pelukan singkat kepada Elsa.


"Makasih ya, Na..." jawab Elsa.


Satu per satu tamu beranjak pulang. Bu Lestari menjadi yang terakhir berpamitan. Dia tidak mampu menahan tangis. Bu Lestari memeluk Raffi dan Elsa sekaligus.


"Ibu doakan yang terbaik buat kalian. Jadikan semuanya sebagai pembelajaran ya... dan satu hal lagi, kalian masih bisa lanjut sekolah kok. Jangan putus semangat buat belajar. Di luar sana banyak pendidikan informal yang memiliki akreditasi tinggi." Bu Lestari tidak lupa memberikan nasihat dan semangat terbaiknya.


Raffi dan Elsa hanya bisa mengucapkan kata maaf serta terima kasih kepada gurunya itu. Mereka tidak bisa melakukan apapun selain hal tersebut.


Setelah acara pernikahan selesai, Raffi dan Elsa beristirahat. Kebetulan Elsa ikut tinggal di rumah Raffi. Mereka akan tinggal di sana untuk sementara. Mengingat pernikahan yang terjadi dikarenakan keadaan mendesak.


Irwan dan Heni mencoba bersikap ramah kepada Elsa. Mereka akan menerima kehadiran gadis itu sebagai bagian dari keluarga.


Selepas menikmati makan malam, Raffi dan Elsa pergi ke kamar. Keduanya duduk menyandar ke kasur. Mereka sama-sama memasang tatapan kosong.


"Raf, lo punya rencana setelah ini?" tanya Elsa.


Raffi tersenyum dan berkata, "Jangan pakai lo gue lagi dong. Kan aku udah jadi suami kamu."


Ungkapan Raffi membuat Elsa tergelak kecil. "Ya udah, aku akan membiasakan diri mulai sekarang. Mau dipanggil Papah aja?" tukasnya. Suasana berubah menjadi hangat seketika.


"Panggil tayang aja dong." Raffi menangkup wajah Elsa. Lalu mengecup kening perempuan yang telah menjadi istrinya itu.


"Rencana aku setelah ini adalah jagain kamu. Kita bisa sekalian belajar sama-sama. Tadi Bu Lestari kan bilang, kalau kita masih bisa lanjutin sekolah!" seru Raffi.


"Lo bener. Eh, kamu maksudnya," tanggap Elsa. Membuat Raffi gemas, dan segera mengusap puncak kepalanya dengan lembut.


"Aduh, nggak nyangka kamu udah jadi istriku sekarang." Walau pernikahan yang terjadi dilakukan karena desakan, bukan berarti Raffi tidak bahagia. Dia kini senang bisa hidup berdampingan bersama Elsa.


..._____...

__ADS_1


Catatan Author :


Sekitar dua atau tiga bab lagi novel ini tamat guys. 😆


__ADS_2