
...༻☆༺...
Raffi maju satu langkah dan menuturkan, "Gamal sudah pulang, Bu."
"Apa?! Dia sama sekali tidak bertanggung jawab. Padahal pas pemilihan, dia ambisius sekali ingin menjadi ketua osis." Bu Lestari berkacak pingang. Ia semakin dibuat geram akan kelakuan Gamal. Hingga terbersit sebuah ide dalam benaknya. "Raffi, apa kamu bersedia untuk menggantikan posisi Gamal sebagai ketua osis?" tanya Bu Lestari tiba-tiba. Sejak awal dia memang tidak setuju untuk menjadikan Gamal ketua osis.
Raffi dibuat kaget dengan tawaran Bu Lestari. Usahanya menggantikan tugas Gamal, hanya karena posisinya sebagai wakil ketua osis.
"Nggak, Bu! Aku nggak bisa. Lebih baik aku saja yang mengundurkan diri," ujar Raffi. Dia jelas tidak mau menggantikan Gamal.
"Kenapa? Padahal kinerja kamu jelas lebih baik dari Gamal. Benarkan, Gung?" Bu Lestari kini meminta persetujuan Agung.
"Bener, Bu. Aku juga setuju kalau Raffi yang jadi ketua osis," tanggap Agung sambil menganggukkan kepala.
"Maaf, Bu. Aku nggak bisa. Sebaiknya kita kasih kesempatan aja buat Gamal. Tapi untuk menangani kelakuan tidak bertanggung jawab dia, mendingan dikasih hukuman aja biar jera." Raffi memberikan saran. Hampir separuh anggota osis lainnya lantas mengangguk. Mereka sependapat dengan Raffi.
"Sekali-kali Gamal memang harus dikasih pelajaran," komentar Johan yang sedari tadi berdiri di belakang Raffi.
Bu Lestari berpikir sebentar. Menurutnya pendapat Raffi ada benarnya. Lagi pula dia sudah lelah menghadapi sikap Gamal yang tidak kunjung berubah. Tetapi jujur saja, Bu Lestari bingung harus memberikan hukuman seperti apa? Dari berbagai cara yang telah dia lakukan, belum ada hukuman yang berhasil membuat Gamal jera.
Raffi dapat menangkap adanya kegelisahan di wajah Bu Lestari. Dia lantas mengajak Bu Lestari untuk mengobrol empat mata. Ada hal penting yang ingin disampaikan oleh Raffi.
"Ada apa?" tanya Bu Lestari dengan dahi yang berkerut.
"Ini tentang Gamal. Jika Ibu ingin memberinya hukuman, sebaiknya bicara terlebih dahulu dengan Pak Afrijal." Raffi memberitahu. Sebab dia satu-satunya orang yang berhasil memergoki Gamal kena marah oleh Afrijal.
"Maksudnya gimana, Raf?" Bu Lestari meminta keterangan lebih jelas.
"Maksudku, lebih baik semua kesalahan yang Gamal lakukan dikasih tahu ke orang tuanya. Biar nanti ayah atau ibunya Gamal sendiri yang nasehatin," jelas Raffi pelan.
"Ide kamu bagus juga. Nanti Ibu akan coba menghubungi orang tua Gamal. Terima kasih dengan sarannya ya." Bu Lestari menepuk pelan pundak Raffi. Lalu segera beranjak masuk ke ruangan. Bu Lestari bergabung bersama Pak Willy untuk melakukan pengarahan sebelum acara ditutup.
Setelah acara penutup selesai, semua orang diperbolehkan pulang. Termasuk para pengurus osis yang bertugas.
...***...
__ADS_1
Akibat kelelahan, Raffi tertidur pulas seharian di kamar. Panggilan dari Mbok Asri bahkan tak mampu melintasi gendang telinganya.
"Den Raffi?" Mbok Asri memanggil untuk yang kelima kalinya. Dia sebenarnya hanya ingin meminta izin kepada Raffi. Kebetulan Heni dan Irwan belum pulang. Jadi Raffi sendirian di rumah sebagai majikan.
"Mmhh?..." Raffi bergumam dengan malas. Dia mengusap matanya beberapa kali. Kemudian beringsut ke ujung kasur.
"Kenapa Mbok?..." tanya Raffi masih dalam keadaam menutup mata.
"Saya mau pergi sebentar ya Den. Kebetulan ada kunjungan keluarga jauh Mbok ke rumah..." ujar Mbok Asri lembut.
"Iya, hati-hati Mbok..." Raffi menjawab lirih.
"Makan malamnya udah siap di meja ya, Den Raffi..." begitulah pemberitahuan Mbok Asri sebelum benar-benar beranjak.
Raffi langsung membuka lebar matanya. Dia kaget saat mendengar hari sudah malam. Tanpa pikir panjang, cowok itu segera bangkit dari kasur. Raffi mandi dan berganti pakaian.
Ketika turun dari tangga, bel pintu terdengar berbunyi. Raffi lantas melenggang untuk membuka pintu terlebih dahulu. Sosok Elsa yang membawa plastik hitam cukup mengejutkan Raffi. Cewek itu terlihat berdandan cantik. Seakan hendak pergi ke suatu tempat.
"Lo mau kemana? Kok gaya banget," tukas Raffi.
"Mau pacaran." Elsa menjawab secara gamblang. Dia melangkah masuk, saat Raffi membuka pintu dengan lebar.
Seperti biasa, Raffi dan Elsa makan bersama di depan televisi. Mereka lebih memilih menonton kartun dibanding sinetron abg pada umumnya. Kebetulan keduanya sedang berada di kamar Raffi.
"Kita main permainan yuk!" ajak Elsa. Ketika memastikan dirinya dan Raffi baru saja menghabiskan bakso. Elsa meletakkan mangkuk kotor terlebih dahulu ke atas nakas. Kemudian memutar tubuhnya agar bisa duduk berhadapan dengan Raffi.
"Main apaan?" Raffi mengangkat dagunya satu kali. Dia menyilakan kaki dengan santai.
"Main suit-suitan aja. Tapi siapa yang kalah, harus kena tampar!" usul Elsa percaya diri.
Raffi setuju saja. Apapun kegiatannya, dia selalu menikmati jika itu dilakukan bersama Elsa.
Permainan di mulai. Raffi dan Elsa melakukan suit. Mereka bisa mengeluarkan, batu, gunting, dan kertas menggunakan tangan.
Orang yang pertama kali kalah adalah Raffi. Dia dikalahkan Elsa dengan gunting. Kebetulan Raffi mengeluarkan kertas saat bersuit.
__ADS_1
Plak!
Elsa menampar pipi Raffi. Cewek itu tergelak puas, hingga memunculkan perasaan dendam pada Raffi.
"Awas lo ya!" ancam Raffi bertekad. Dia dan Elsa kembali melakukan suit.
Siapa yang menyangka, kali ini Elsa yang kalah. Dia dikalahkan Raffi dengan batu. Cewek itu tidak sengaja mengeluarkan kertas saat melakukan suit.
Plak!
Raffi bisa mewujudkan dendam. Parahnya dia tega menampar pipi Elsa. Raffi bahkan sempat-sempatnya tertawa kecil.
"Tega lo ya sama cewek!" protes Elsa.
"Idih! Ini namanya keadilan," balas Raffi seraya mengusap puncak kepala Elsa.
Permainan terus berlanjut. Malangnya Elsa yang harus kalah berturut-turut. Sudah tiga kali Raffi menampar pipinya. Meskipun tidak dilakukan dengan kasar, namun tetap saja Elsa merasa gusar.
"Udahan deh, lo nanti tambah ngambek." Raffi merasa kasihan dengan Elsa. Akan tetapi Elsa justru tidak terima.
"Sekali lagi ya! Habis ini kita beneran udahan," tawar Elsa sembari mengerjapkan mata dengan pelan.
Raffi tidak bisa menolak. Dia dan Elsa kembali melakukan suit. Sayangnya, Elsa lagi-lagi kalah. Raut wajah cewek itu langsung cemberut. Mulutnya yang sedikit memanyun membuat Raffi merasa gemas.
"Ya udah, gue pilih ini aja buat hukum lo," kata Raffi. Lalu melayangkan sebuah kecupan di pipi. Elsa sontak terkesiap. Wajahnya sontak tersipu malu.
Melihat Elsa yang tampak malu. Raffi malah tergoda menambahkan ciuman lagi. Cowok itu nekat menciumi wajah Elsa. Dari mulai dahi, hidung, kelopak mata, hingga bibir.
Di akhir, Raffi dan Elsa bertukar tatapan lekat. Tanpa sepatah kata pun, keduanya saling memagutkan bibir. Awalnya mereka melakukannya dengan lembut, dan lama-kelamaan semakin intens.
Elsa perlahan telentang ke kasur. Sebab Raffi terus saja membuatnya terdorong ke belakang. Kini posisi Raffi berada di atas badannya.
Gairah Raffi dan Elsa kian menggebu. Dalam sekejap mereka melupakan teguran dari hati kecil masing-masing. Alhasil keduanya mulai saling melepaskan pakaian. Hingga tidak menyisakan satu helai benang pun. Malam itu Raffi dan Elsa melakukan hubungan intim untuk yang pertama kalinya.
Sebagai perempuan yang terbilang masih di bawah umur, Elsa kewalahan menghadapi Raffi. Alat vitalnya terasa perih ketika kekasihnya terus menggeruskan hasrat.
__ADS_1
Lenguhan kenikmatan Elsa bercampur dengan keluhan rasa sakit. Dia ingin berhenti, namun di sisi lain masih mau lanjut.
Sementara Raffi, dia menjadi orang yang paling menikmati. Peluh di pelipis cowok itu menderai membasahi sebagian rambut.