Sisi Gelap Dunia Anak SMA

Sisi Gelap Dunia Anak SMA
Bab 65 - Pelarian Bersama


__ADS_3

...༻☆༺...


Gamal baru saja mendapatkan pesan balasan dari Raffi. Matanya membulat sempurna. Bagaimana tidak? Baru kali ini Raffi mau menerima ajakannya tanpa perlu berpikir panjang.


"Gila! Raffi ikut katanya!" imbuh Gamal. Membuat Zara yang tengah duduk di sebelah, segera merebut ponselnya. Mencoba melihat pesan yang dikirimkan oleh Raffi.


"Nggak salah ini, Mal? Tadi siang Elsa tolak ajakan gue mentah-mentah tau," ujar Zara yang merasa nyaris tidak percaya.


"Lo nggak salah? Bukannya ini bagus ya. Gue suka Raffi yang begini." Gamal mengembangkan senyuman puas. Lalu menginjak pedal gas. Sehingga mobilnya melaju dalam kecepatan tinggi.


Gamal dan Zara akan pergi menjemput Raffi. Mereka akan menunggu di persimpangan berdasarkan perintah dari Raffi sendiri.


Di sisi lain, Raffi baru saja selesai mengenakan pakaian. Walau sedang melakukan pemberontakan, dia tetap berpakaian rapi. Menggunakan kemeja garis-garis hitam putih. Dilengkapi celana jeans.


Sebelum pergi, Raffi tidak lupa mengajak Elsa untuk ikut. Perlahan dia menengok ke arah jam dinding. Kebetulan waktu sudah menunjukkan jam 09.40 malam. Cowok itu membuka pintu kamar dengan pelan.


Raffi berjalan mengendap-endap ke dekat tangga. Dari sana dirinya dapat menyaksikan Heni masih sibuk dengan pekerjaan yang belum selesai. Seperti biasa, ibunya Raffi tersebut harus lembur menghitung pemasukan bulanan.


Nafas dihela cukup panjang oleh Raffi. Ia terpaksa kembali ke kamar. Kini Raffi berpikir untuk mencari jalan keluar lain. Hingga terlintas sebuah ide gila di benaknya.


Ponsel Raffi berdering. Dia mendapat panggilan telepon dari Elsa. Sambil meletakkan ponsel ke telinga, Raffi membuka tirai jendela. Dari sana cowok itu dapat melihat penampakan Elsa di jendela kamar.


"Lo nggak bercanda kan? Ngajak gue ke klub malam?" timpal Elsa dari seberang telepon.


"Nggaklah! Lo lihat sendiri penampilan gue kayak apa sekarang? Gue udah siap-siap mau pergi nih!" balas Raffi sembari tersenyum lebar. Lalu melompat keluar dari jendela. Dia memijakkan kaki ke tembok yang mencuat dekat balkon.


"Anjir! Ngapain lo?! Kali ini lo bener-bener gila!" tukas Elsa. Dia panik karena bisa menyaksikan aksi Raffi dari kejauhan.


"Gue sumpek di rumah, El!" Raffi menjeda sejenak. Dia sibuk mencari pijakan untuk turun ke tanah. Dari mulai menginjak tiang lampu, sampai atap jendela. "Lo bersedia ikut gue ke klub malam kan?" mohonnya melanjutkan. Usahanya tinggal satu langkah lagi.

__ADS_1


Elsa tidak mengatakan apapun. Cewek itu sebenarnya sibuk memperhatikan Raffi dari kejauhan. Takut kalau-kalau kekasihnya tersebut jatuh dari ketinggian.


"Gimana ya... sekarang udah cukup larut malam. Nanti kalau paman Fajar tahu bisa didepak gue dari rumahnya..." lirih Elsa yang terdengar seperti berat hati.


Raffi tidak menjawab langsung. Dia baru saja sukses besar melakukan pelarian dari kamar. Cowok itu sudah sepenuhnya berpijak ke tanah. Sekarang hanya perlu memastikan Elsa untuk ikut dengannya.


"Ya jangan sampai dia tahu. Pokoknya kita bakalan pulang sebelum matahari terbit. Kalau terjadi apa-apa, gue yang akan tanggung jawab. Gue janji!" Raffi bicara sambil berjalan menghampiri posisi kamar Elsa. Ia menyebrang jalan terlebih dahulu. Lalu berhenti tepat di bawah jendela tempat Elsa sibuk bertengger.


Raffi mendongakkan kepala untuk menatap Elsa. Memancarkan binar permohonan penuh makna. Tatapannya berhasil membuat pendirian Elsa goyah. Hingga lama-kelamaan sebuah kalimat persetujuan terlontar dari mulut cewek itu.


"Gue ganti baju dulu." Elsa memberitahu tanpa mengeluarkan suara. Namun Raffi dapat memahami pergerakan mulutnya dengan baik.


Raffi mengedarkan pandangan ke segala arah. Dia berusaha mencari sesuatu untuk membantu Elsa keluar dari kamar. Sebuah tangga yang membentang di pohon langsung menjadi pusat atensinya.


Tanpa pikir panjang, Raffi segera meletakkan tangga itu di jendela kamar Elsa. Kebetulan kamar Elsa juga berada di lantai dua seperti Raffi.


Perlahan Elsa memijakkan kaki ke tangga. Wajahnya meringis ketakutan. Dia bahkan sempat-sempatnya merengek. Elsa sendiri memang dikenal memiliki phobia terhadap ketinggian. Tidak heran, saat melihat Raffi turun tadi dia merasa cemas bukan kepalang.


Ketika berada di tengah-tengah, Elsa justru berhenti. Dia ragu untuk memijakkan kakinya lagi.


"Cepetan, El..." desak Raffi dengan nada pelan. "Lo tenang aja, gue udah pegangin tangganya kuat-kuat," sambungnya. Mencoba menenangkan.


Akibat takut, Elsa menuruni tangga sambil memejamkan mata. Awalnya pergerakan cewek itu berjalan mulus, sampai pada akhirnya dia tidak sengaja tergelincir. Alhasil Elsa terhuyung dan jatuh.


Raffi yang berada di bawah, bergegas menangkap Elsa. Untung saja usahanya berhasil. Meskipun dirinya harus rela terkena tindihan badan Elsa. Keduanya sontak terjatuh dalam keadaan telentang di rerumputan. Pakaian mereka otomatis basah karena air embun.


Belum sempat berdiri, Raffi dan Elsa mendapat tindihan tak terduga dari tangga. Mereka mengaduh bersamaan. Suara keributan tersebut sukses membuat lampu di kamar pamannya Elsa menyala. Pertanda kalau Fajar dan istrinya terbangun dari tidur.


"Gila! Paman gue kayaknya bangun!" cetus Elsa dalam keadaan mata yang membulat.

__ADS_1


"Kita sembunyi!" ajak Raffi seraya meletakkan tangga kembali ke tempat semula. Kemudian membawa Elsa bersembunyi di balik semak bonsai.


Ceklek!


Pintu terbuka. Fajar terlihat celingak-celingukan ke segala arah. Jelas dia sempat mendengar keributan yang dibuat oleh Raffi dan Elsa.


Di balik semak bonsai, Raffi dan Elsa saling berpegangan tangan dengan erat. Mereka memperhatikan Fajar dari celah-celah dedaunan. Jujur saja, keduanya sama-sama merasakan sensasi debaran jantung tak terduga. Entah kenapa adrenalin mereka seolah terpacu.


Karena tidak menemukan apapun, Fajar akhirnya kembali masuk ke rumah. Lalu mematikan lampu kamar.


Kini Raffi dan Elsa mendengus lega bersamaan. Keduanya memang baru pertama kali melakukan pemberontakan. Sebelumnya mereka adalah anak baik-baik yang selalu tinggal di rumah.


"Mendingan kita pergi sekarang. Gamal udah nunggu di persimpangan!" ujar Raffi. Dia baru selesai memeriksa ponsel. Selanjutnya, Raffi segera menuntun Elsa untuk berlari. Mereka berlari tanpa melepaskan pegangan tangan.


Sesampainya di persimpangan, Raffi dan Elsa langsung masuk ke mobil. Ternyata yang ikut bukan hanya Gamal dan Zara. Tetapi juga Danu beserta Tirta. Mereka menyambut kedatangan Raffi dan Elsa dengan sorakan bersemangat.


"Sumpah! Lo kesambet apa, Raf? Tiba-tiba mau ikutan kita ke klub malam? Padahal gue ngajaknya cuman iseng aja loh," pungkas Gamal sembari menjalankan mobil.


"Kenapa? Emang kenapa kalau gue ikutan? Aneh ya?" Raffi menatap semua wajah temannya satu per satu.


"Ya aneh lah, kampret! Ini adalah momen yang sangat langka buat kami," sahut Gamal. Dia, Zara, Danu dan Tirta tidak berhenti cengengesan. Hal serupa juga dilakukan oleh Elsa.


"Lo juga, El. Gue seneng lo akhirnya mau ikut." Zara merangkul Elsa. Keduanya lantas saling melemparkan senyuman lebar.


..._____...


Catatan Author :


Buat yang mau upnya ditambah, jangan lupa like dan komen ya... Love you guys...

__ADS_1


__ADS_2