Sisi Gelap Dunia Anak SMA

Sisi Gelap Dunia Anak SMA
Bab 24 - Acara Perkenalan Calon Ketos


__ADS_3

...༻☆༺...


Saatnya kembali ke sekolah. Tidak berkunjung satu hari terasa satu bulan bagi Raffi. Dia selalu merindukan suasana belajar serta momen menyenangkan bersama teman satu kelas.


Sapaan dari Bu Lestari langsung menyambut. Dia menyuruh Raffi untuk ikut. Wanita berusia sekitar tiga puluh enam tahun itu membawa Raffi ke lapangan indoor. Di sana terdapat kursi penonton yang berjejer mengelilingi lapangan.


"Kamu harus siap-siap. Nanti jam delapan, kamu sama kandidat ketua osis yang lain akan melakukan pidato. Kamu sudah siapkan visi dan misinya kan?" Bu Lestari menoleh ke arah Raffi.


Raffi sedari tadi termangu. Apalagi saat melihat Putri dan Agung sudah ada lebih dulu hadir. Hanya Gamal yang belum ikut bergabung.


"Ayo gabung sana. Kalau belum nyiapin apa-apa, lebih baik persiapkan sekarang!" perintah Pak Willy yang merupakan pembina osis.


Raffi mengangguk canggung. Dia terpaksa melenggang untuk bergabung bersama Putri dan Agung.


Menyaksikan kedatangan Raffi, Putri langsung tersenyum. Dia bersikap seakan-akan tidak ada apapun yang terjadi.


"Lo tampil terakhir, Raf. Kita udah kocok namanya kayak di arisan," imbuh Putri.


"Oke." Raffi menjawab malas. Ia memilih berdiri ke dekat Agung.


Kebetulan Agung juga dikenal sebagai murid teladan. Dia tidak terkenal sepintar Raffi. Tetapi karena sikap religiusnya-lah yang membuat banyak guru menyukai Agung. Cowok berkacamata itu agak pendiam. Ia lebih sering menghabiskan waktu di mushola dibanding perpustakaan.


"Lo udah bikin visi misi?" tanya Raffi.


"Udah dari kemarin. Kalau kamu?" tanggap Agung sembari memperlihatkan secarik kertas berisi visi misinya.


Raffi mendengus kasar dan menjawab, "Belum."


"Santai aja. Lagian kamu tampil yang paling terakhir," ujar Agung. Mencoba menenangkan. Dia perlahan duduk ke kursi yang tersedia di belakang.


Raffi tersenyum kecut. Baginya berinteraksi dengan Agung terasa canggung. Cara bicara cowok berkacamata itu terlalu formal. Mungkin Agung sudah terbiasa sejak dahulu. Tidak heran, hingga sekarang Agung tidak memiliki banyak teman.

__ADS_1


Raffi segera mengambil buku dan pulpen. Menulis visi misinya dengan asal. Toh Raffi sama sekali tidak berminat menjadi ketua osis.


Satu setengah jam berlalu. Seperti biasa, jarang ada acara yang berlangsung tepat waktu. Terutama acara di sekolah.


Satu per satu banyak siswa sisiwi mulai berdatangan. Memenuhi tempat duduk penonton yang tersedia. Elsa bahkan telah duduk di salah satu kursi penonton. Cewek itu sengaja duduk di baris paling depan. Dia melakukannya agar bisa menontoni kekasihnya lebih jelas.


"Gamal kemana? Kok belum datang juga?" tanya Pak Willy cemas. Jika belum terpilih saja sudah bikin ulah, apa jadinya Gamal bila sudah menjadi ketua osis? Mungkinkah dia akan mengajak seluruh murid membolos setiap hari? Setidaknya begitulah hal yang terlintas dalam benak Pak Willy.


"Aku sudah telepon dan kirim chat berapa kali. Katanya masih di jalan, Pak." Raffi menyahut lembut. Sesekali dia memeriksa layar ponsel untuk memastikan.


Seluruh murid dan guru telah berhadir. Kecuali Gamal. Mereka hanya menunggu satu-satunya siswa berambut cepak tersebut.


Ponsel Raffi berdering. Dia lekas mengangkat panggilan yang tidak lain dari Gamal itu. Raffi sengaja menjauh dari keramaian agar dapat mendengar lebih jelas.


"Mal, lo kemana?! Orang-orang udah pada nunggu!" cetus Raffi dalam keadaan mata yang mendelik ke arah kepala sekolah.


"Raf, gue di depan gerbang. Bantuin gue! Gerbangnya di kunci. Si satpam juga nggak kelihatan," jawab Gamal dari seberang telepon.


"Kenapa?" Bu Lestari yang tidak sengaja melihat kepanikan Raffi, langsung bertanya.


"Gamal nggak bisa masuk karena gerbang udah ditutup." Raffi terpaksa memberitahu. Lagi pula kehadiran Gamal lebih penting sekarang.


"Ya udah, Pak. Biar aku aja yang bukain gerbangnya. Bapak diam aja di sini buat jaga keamanan." Bu Lestari menyarankan. Kemudian pergi untuk membukakan pintu gerbang untuk Gamal.


Mendengar Gamal akan segera tiba, Pak Willy lantas memulai acara. Dia menjadi orang yang memimpin acara perkenalan calon ketua osis.


Orang yang pertama melakukan pidato adalah Putri. Hanya teman satu kelas dan penggemar cowoknya saja yang berteriak histeris. Putri memang dikenal menyebalkan untuk para murid perempuan.


Putri segera berpidato. Mempromosikan dirinya sebaik mungkin. Dia bahkan memberikan janji-janji layaknya seorang politikus. Putri tidak lupa untuk memberitahukan visi dan misinya jika menjadi ketua osis nanti. Pidatonya di akhiri dengan kedatangan Gamal yang terlambat hampir satu jam.


"Huuuuuuu..." sorakan dari seluruh murid langsung diterima Gamal. Tetapi cowok itu justru melambaikan tangan dengan percaya diri. Ia melambaikan tangan bak Miss World saat di atas panggung. Gamal juga menambahkan senyuman yang menampakkan gigi-giginya.

__ADS_1


"Gamal!" seru Pak Willy sembari menarik Gamal untuk mendekat. Kemudian menyuruh Gamal agar bisa mempersiapkan pidato.


Semua orang tertawa melihat Gamal. Sebab cowok itu terlihat cengengesan saja saat dimarahi Pak Willy.


"Fix! Gamal nggak bakalan kepilih," imbuh Putri seraya duduk ke sebelah Raffi.


Raffi tak menggubris Putri. Mengajak bicara Agung pun terasa canggung. Alhasil Raffi memilih bungkam. Dia merasa di apit dua makhluk aneh yang membuatnya menderita. Sejak awal datang, suasana hati Raffi memang sudah terasa buruk.


Gamal mengatur nafas sambil menghampiri Raffi. Dia hendak duduk di sebelah Raffi. Namun tidak ada tempat yang kosong.


Bola mata Gamal memindai wajah orang yang mudah dikalahkan. Awalnya dia memilih Putri. Namun karena Putri cantik, Gamal beralih membidik Agung.


"Minggir lo!" hardik Gamal. Menyuruh Agung berpindah tempat duduk.


"Ini ada kursi kosong di sebelahku." Agung menunjuk kursi yang ada di sampingnya.


"Gue mau duduk dekat Raffi! Dia teman gue. Nggak paham banget sih lo!" omel Gamal.


"Tapi aku udah duluan di sini." Agung nampaknya cukup keras kepala. Dia masih duduk diam di tempat. Membuat Gamal otomatis mengeluarkan jurus utama. Yaitu pelototan matanya.


"Ekhem!" Raffi berniat masuk ke dalam pembicaraan. Dia menoleh ke arah Agung. "Gung, lo mending pindah ke kursi kosong itu. Sebelum Gamal ngamuk, nanti bisa kacau nih acara," katanya lembut. Bahkan menambahkan senyuman di akhir. Raffi bersikap begitu agar Agung secepatnya bisa bertindak.


Entah apa yang ada di pikiran Raffi. Kali ini dia sependapat dengan Gamal. Kemungkinan Raffi hanya merasa tidak nyaman saja dengan Agung. Belum lagi terhadap Putri yang terus curi-curi pandang ke arahnya. Menurutnya duduk di dekat Gamal lebih baik. Suasana hati serta kekesalan menghilangkan rasa empati Raffi dalam sekejap.


Sebelum pindah, Agung menatap Gamal terlebih dahulu. Dia dapat melihat cowok itu sudah siap memarahinya habis-habisan.


Setelah menatap Gamal, Agung melirik ke arah Raffi. Dia menyaksikan Raffi sudah tidak tersenyum lagi. Raut wajah cowok yang menurutnya baik itu terkesan serius. Agung lantas merasa di intimidasi oleh dua orang sekaligus. Ia terpaksa pindah tempat duduk dengan berat hati.


"Ah! Lama banget. Gerakannya meleyot kayak kukang. Kesel gue!" gerutu Gamal blak-blakkan. Dia jelas mengejek Agung.


Gamal meletakkan sikunya ke bahu Raffi. Dia mengatakan kalau dirinya tidak mempersiapkan apapun untuk pidatonya. Meskipun begitu, Gamal tampak santai saja.

__ADS_1


__ADS_2