
...༻☆༺...
Hari sosialisasi calon ketua osis dilakukan pada tanggal 14 Februari. Bertepatan dengan hari valentine, alias hari kasih sayang yang disukai banyak anak muda. Akan tetapi tidak bagi Raffi. Dia sama sekali tidak tahu menahu akan hari spesial tersebut.
'Raf, kali ini gue pergi ke sekolah agak telat. Lo duluan aja. Gue nanti naik motor punya Paman Fajar.' Pesan teks dari Elsa mendadak masuk. Bertepatan saat Raffi hampir membuka pintu mobil.
'Oke, hati-hati ya.' Raffi membalas singkat. Bahkan tanpa menambahkan emot apa-apa. Begitulah gaya Raffi ketika berkirim pesan. Elsa yang sangat memahami sikapnya, sama sekali tidak masalah terhadap hal itu.
Sebelum masuk ke mobil, Raffi menatap ke arah kamar Elsa terlebih dahulu. Kebetulan posisi jendela kamar Elsa dapat terlihat dari depan. Persis seperti kamarnya sendiri.
Seakan memiliki koneksi yang kuat, Elsa terlihat muncul dari jendela. Dia melambaikan tangan sambil tersenyum.
"Gue duluan ya!" seru Raffi sembari memegang tas ransel di salah satu bahunya. Elsa lantas membalas dengan anggukan. Cewek itu bertingkah tidak seperti biasanya.
"Aneh banget tuh anak. Biasanya juga buka jendela, terus langsung ngomong." Raffi bergumam sambil geleng-geleng kepala. Kemudian segera pergi dengan mobilnya.
...***...
Sesampainya di sekolah. Raffi memarkirkan mobil terlebih dahulu. Lalu beranjak menuju kelas. Dalam perjalanan, Raffi menyaksikan Gamal terlihat mengamuk kepada seorang siswa berkacamata.
"Sekali gue denger lo bicara kayak gitu lagi. Jangan harap hidup lo bisa tenang! Dasar cupu!" pungkas Gamal sembari mengeratkan rahang kesal. Dia menarik kerah baju siswa berkacamata yang bernama Fahri itu.
"Ma-maaf, Kak. Ta-tapi seluruh murid di sini juga bilang begitu kok..." Fahri menyahut dengan ragu. Ia hanya bisa menundukkan kepala. Kegagapannya dalam bicara menunjukkan bahwa dia agak ketakutan.
"Gue nggak peduli! Pokoknya orang yang pertama kali ngomong begitu adalah lo!" geram Gamal. Lalu menghempaskan Fahri ke tanah. Hingga menyebabkan seragam yang dikenakan Fahri kotor. Belum lagi hempasan kuat yang sukses membuat punggung Fahri kesakitan.
Raffi bergegas datang. Dia segera membantu Fahri bangkit. Matanya menatap tajam Gamal. Seolah tidak terima dengan perlakuan kasar Gamal terhadap Fahri.
"Lo kenapa bantuin dia? Si cupu ini udah hina gue!" ujar Gamal seraya berkacak pinggang.
"Tapi nggak perlu sampai ke fisik juga kali!" balas Raffi dengan dahi berkerut.
__ADS_1
"Tapi gue--" Raffi langsung menarik tangan Gamal. Membuat perkataan Gamal sontak terpotong.
"Apaan sih, Raf! Gue nggak minat berantem sama lo ya!" seru Gamal. Menatap Raffi dengan sudut matanya.
"Bukannya lo pengen jadi ketos ya?" timpal Raffi sembari melepas tangan Gamal.
"Iya, terus kenapa?" Gamal mengangkat dagunya sekali.
"Harusnya lo jaga sikap. Bukannya malah nunjukkin sikap bejat lo. Kalau gitu, mana ada yang mau pilih elo buat jadi ketos." Raffi menjelaskan.
Gamal membisu sambil memasukkan dua tangan ke saku celana. Bola matanya memutar malas. Meskipun begitu, Gamal tidak bisa membantah pernyataan Raffi.
"Mending lo minta maaf sama dia." Kini Raffi menarik Fahri untuk berada di sisinya.
"Gue nggak sudi minta maaf sama dia! Dia soalnya tadi ngejek gue. Jadi dia juga salah dong." Gamal nampaknya masih tidak bersedia mengalah.
"Emang dia ngomong apa?" Raffi menatap serius Fahri.
"Dia bilang gue nggak pantas buat jadi ketos. Katanya gue lebih mirip preman di pasar!" ujar Gamal memberitahu.
"Dia udah minta maaf, Mal." Raffi mengalihkan manik hitamnya ke arah Gamal.
Gamal menggertakkan giginya. Dia bukan orang yang mudah untuk memaafkan. Namun jujur saja, Gamal paling benci ketika dirinya harus bertengkar dengan teman baik. Apalagi dengan Raffi. Sebab Raffi merupakan teman favoritnya dibanding yang lain.
"Ya udah, pergi sana!" Gamal memilih mengusir Fahri saja. Dia tidak sudi meminta maaf. Jika melihat orang yang berani mengolok-oloknya, maka bawaan Gamal hanya ingin memberinya pelajaran.
Raffi menghela nafas berat saat melihat kelakuan Gamal. Menurutnya itu agak kasar. Untungnya lokasi mereka berada di sudut parkiran. Jadi agak jauh dari keramaian.
"Kita ke kelas aja!" Gamal melingus lebih dulu. Raffi lantas mengekori dari belakang. Tanpa sadar keduanya berjalan bersamaan seperti biasa.
"Anak kelas sepuluh tadi bikin mood gue turun drastis! Padahal gue semangat buat sosialisasi hari ini. Lo rencanain apa, Raf?" celetuk Gamal. Raut wajahnya tampak masam. Mungkin akibat insiden kemarahannya dengan Fahri tadi.
__ADS_1
"Nggak ada. Gue nggak mau terlalu ambisius. Menang atau kalah, gue terima dengan lapang dada," tutur Raffi.
"Emang kemarin Bu Lestari bisikin apa sih ke elo?" tanya Gamal. Sepertinya dia masih penasaran.
"Dia cuman ngasih tahu, kalau dengan menjadi ketos, gue bisa lebih mudah dapat beasiswa ke luar negeri." Raffi memberitahu saja semuanya.
Gamal terlihat manggut-manggut saja. Dia sempat mengira Bu Lestari berlaku curang. Sebab Guru BK tersebut dikenal sangat pilih kasih kepada Raffi.
Ketika menyusuri area kelas sepuluh, langkah Raffi dan Gamal dihentikan oleh seorang siswi dengan rambut beranyam dua. Cewek itu tampak memegang sebuah hadiah berwarna pink. Sedangkan di depan pintu kelas terdekat, terdapat dua orang siswi yang cekikian memperhatikan.
"Kenapa ya?" tanya Gamal. Dia berusaha mengamati wajah cewek beranyam dua yang tertunduk. Saat Gamal berbuat begitu, siswa dan siswi yang ada di sekitar otomatis tertawa.
Si cewek beranyam dua itu tampak gugup. Semuanya dapat terlihat jelas dari tangannya yang gemetar. Belum lagi peluh yang bercucuran di pelipis.
"Dia cosplay jadi patung kayaknya, Kak!" seru salah satu cewek yang sedari tadi berdiri di depan pintu kelas. Ucapannya tersebut kembali menularkan tawa kepada semua orang. Bahkan Gamal sendiri. Perasaan marah yang tadinya meluap, perlahan sirna.
Hanya Raffi yang menampakkan ekspresi datar. Baginya apa yang dilakukan oleh orang-orang di sekeliling merupakan pembulian. Raffi melangkah lebih dekat kepada si cewek beranyam dua.
"Lo mau ngomong sama siapa? Gue atau Gamal?" bisik Raffi pelan. Namun cewek beranyam dua itu justru ketakutan. Dia reflek melangkah mundur hingga terhuyung ke lantai.
"Hahaha! yah... jatuh deh..."
"Gitu ya kalau anak introvert dipaksa ngasih hadiah sama gebetan. Pita suaranya langsung mengalami disfungsi. Hahaha..."
Semua orang mentertawakan cewek beranyam dua itu. Namanya adalah Fitri. Dia memang sering dibuli oleh teman sekelasnya karena dekil dan terlalu pendiam. Fitri kebetulan adalah murid yang berasal dari keluarga miskin. Ayahnya dikabarkan bekerja sebagai pemulung.
"Ayo Fit! Ngomong sama Kak Raffi dong. Katanya tadi mau ngasih hadiah." Seorang siswi bernama Siska menghampiri Fitri. Kemudian memaksa Fitri untuk berdiri.
"Eh, dekil! Ngomong dong! Lo nggak bisu kan? Cepet kasih hadiahnya sama Kak Raffi." Sambil mengajak Fitri berdiri, Siska menyempatkan diri untuk berbisik.
"Gu-gue nggak bisa, Sis." Fitri merasa kena serangan panik. Belum lagi dengan banyak pasang mata yang tertuju kepadanya.
__ADS_1
Fitri akhirnya menangis. Dia memutuskan berlari sejauh mungkin dari keramaian. Cewek itu merasakan malu teramat sangat.
Melihat Fitri yang berlari kocar-kacir, semua orang sontak semakin gelak tertawa. Menurut mereka itu sangat lucu.