Sisi Gelap Dunia Anak SMA

Sisi Gelap Dunia Anak SMA
Bab 96 - Belum Kapok


__ADS_3

...༻☆༺...


Tanpa sadar, Raffi dan kawan-kawan akhirnya tertidur. Mereka memutuskan menunggu Zara sampai pulih.


Dua jam berlalu. Zara menjadi orang pertama yang bangun. Rasa pusing langsung menusuk kepalanya. Wajah Gamal menyambut penglihatan. Membuat Zara seketika beringsut mundur.


Zara tidak sengaja menabrak Raffi yang ada di belakang. Dia reflek menengok sosok yang ditabraknya. Sekali lagi Zara dibuat terkejut. Cewek itu lupa dirinya ada dimana.


Perlahan Zara merubah posisi menjadi duduk. Lalu menatap Gamal yang masih memejamkan mata. Dia memang masih agak kesal dengan cowok itu. Namun dirinya tidak bisa membendung rasa rindunya.


Zara mendekatkan wajah kepada Gamal. Tatapannya tertuju ke arah bibir cowok itu. Zara kian mendekat.


Bersamaan dengan itu, Gamal terbangun dari tidur. Dia langsung mendapatkan sebuah ciuman dari Zara.


Gamal tidak mampu menolak. Terutama ketika Zara memegangi kerah bajunya dengan kuat. Cewek itu kembali bersikap bar-bar. Mengulum dalam mulut Gamal dengan agresif.


Di suatu waktu, Gamal melepaskan tautan bibirnya dari mulut Zara. Dia berkomentar, "Lo ngapain coba?! Nyosor-nyosor nggak jelas!"


"Diem lo!" sungut Zara. Ia memadukan kembali bibirnya dengan mulut Gamal.


Hasrat Gamal mulai tersulut. Kini dia memegang tangan Zara dan membuat cewek itu telentang di bawah. Suara kecup-mengecup terdengar memecah keheningan. Membuat Raffi perlahan membuka mata.


Raffi langsung menoleh ke belakang. Dia tercengang menyaksikan kelakuan Gamal dan Zara. Raffi sontak membangunkan Elsa dengan beberapa tepukan di bahu.


Cumbuan Gamal dan Zara semakin menjadi-jadi. Zara bahkan mendorong Gamal. Hingga posisinya berada di atas badan cowok itu. Dia terduduk di bagian perut Gamal. Berniat melepas pakaiannya.


"Zara!" Elsa menghentikan tindakan Zara. Ia membawanya menjauh dari Gamal.


Gamal yang tidak terima, berusaha mempertahankan Zara. Tetapi tidak bisa, karena Raffi terlanjur memeganginya.


"Lo jangan macam-macam ya! Kalau mau mesum, harus tahu tempat bego!" Raffi melingkarkan tangannya ke leher Gamal. Dia sedang adu kekuatan dengan temannya yang berambut cepak itu.


"Oke, oke! Lo bisa lepasin gue nggak. Gue kehabisan... nafas..." imbuh Gamal sembari menepuk tangan Raffi.

__ADS_1


"Kayak kalian nggak pernah aja. Gue yakin kalian pernah ngelakuin di sini kan?" Zara yang sudah berdiri, sudah lepas dari pegangan Elsa. Dia menatap Raffi dan Elsa secara bergantian. Dua orang yang ditatapnya hanya bisa membuang muka. Mereka tentu tidak bisa membantah. Banyak hal yang terjadi di kamar Elsa.


Melihat ekspresi Raffi dan Elsa, Zara cekikikan bersama Gamal. Mereka satu pemikiran. Bahwasanya kelakuan Raffi dan Elsa sama saja.


Setelah puas melepaskan tawa, Zara menggerakkan bola matanya ke arah Gamal. Dia mengarahkan jari telunjuk ke wajah cowok itu.


"Eh, gundul! Putusin Olive sekarang!" pungkas Zara, dengan raut wajah teramat serius.


Gamal terpelongo. Kemudian tertawa renyah sampai mendongakkan kepala. Dia puas atas usahanya yang sudah berhasil membuat Zara cemburu.


"Gila... dia malah ketawa," komentar Elsa dengan kening yang mengernyit.


"Salah siapa di ajak balikan nggak mau," kata Gamal. Menyebabkan mata Zara lantas mendelik.


"Lo kenapa diam aja, Raf? Nggak mau bantu belain Zara?!" Elsa menuntut Raffi bertindak.


"Elaaah... lo aja yang nggak tahu, El. Pas lo nggak ada, dia sering pelukan sama Olive kok," celetuk Gamal. Dia sukses mendapatkan ancaman kepalan tinju dari Raffi.


"Nggak ada, El. Lo ngapain percaya omongannya Gamal?" balas Raffi sembari melirik tajam ke arah Gamal. "Lo sih! Awas ya," geramnya. Kesal terhadap aduan dari temannya.


"Gamal bener kok. Kemarin gue juga sempat lihat Raffi pelukan sama Olive." Zara memberitahu apa yang diketahuinya.


"Sorry, Raf..." bisik Gamal yang merasa tidak enak. Dia dan Raffi sedang kena murka dari dua cewek yang ada di hadapan mereka.


"Udah! Lo sama Zara mending pulang." Raffi sengaja merubah topik pembicaraan. Dia mendorong Gamal agar bisa lekas berdiri.


"Nggak perlu, gue nggak mau dekat-dekat Gamal!" tolak Zara sambil mengalihkan pandangan dari Gamal. Dia dan Elsa segera mengeluarkan tangga dari jendela. Mengabaikan bantuan dari Raffi dan Gamal.


Zara tampak turun dari tangga lebih dulu. Di ikuti oleh Gamal setelahnya. Cowok itu berusaha membujuk Zara untuk berbaikan.


"Oke, Ra. Gue putusin Olive sekarang!" Gamal memegang lengan Zara. Lalu langsung menghubungi Olive melalui panggilan telepon. Namun Olive tidak kunjung mengangkat panggilannya.


"Kayaknya cewek manja itu lagi tidur. Besok pagi aja udah! Kalau perlu di tengah lapangan biar dia kapok!" saran Zara. Berbicara dengan nada ketus.

__ADS_1


Gamal tersenyum miring. Dia senang bisa mendapatkan Zara kembali. Cowok itu mengajak Zara pergi ke apartemen yang sudah lama ingin diberikannya.


Sementara itu, Raffi. Berupaya membujuk Elsa yang marah karena ucapan iseng Gamal. Dia sekarang duduk di bawah seraya memegangi lutut Elsa.


Kebetulan Elsa tengah duduk di tepi kasur. Raut wajahnya terus saja cemberut. "Olive emang cantik banget sih. Pantesan lo tertarik sama dia," ucapnya. Tanpa membalas tatapan Raffi.


"Tapi dia nggak bisa ngalahin kecantikan lo. Sumpah deh," ujar Raffi. Mencoba membujuk dengan kalimat rayuan.


"Lo mending pulang aja gih!" Elsa menjauhkan tangan Raffi dari lututnya.


"Jangan ngambek dong. Gue nggak bisa tidur nanti." Raffi mendekatkan wajahnya. Kemudian memberikan kecupan ke kening Elsa.


Elsa reflek menatap Raffi. Dahinya masih saja mengerut dalam. Akan tetapi Raffi membalas dengan senyuman. Selanjutnya, dia mengelus leher Elsa dengan wajahnya. Hingga akhirnya Raffi mampu membuat cewek itu tertawa geli.


"Lo maafin gue kan?" tanya Raffi.


"Janji sama gue, jangan dekat-dekat Olive lagi." Elsa mengacungkan jari kelingkingnya.


"Gue nggak pernah dekat-dekat Olive sih. Dia-nya aja yang gigih selalu dekat-dekat gue. Lo tahu kan, Olive selalu nongol pas tim basket sekolah latihan?" Raffi bercerita panjang lebar.


"Bener juga ya." Elsa tidak bisa membantah pernyataan Raffi. Kenyataannya, memang Olive yang sering mencari muka kepada semua orang. Terutama kepada cowok-cowok populer di sekolah.


Elsa yang terdiam, dibuat kaget dengan sentuhan di salah satu buah dadanya. Tangan Raffi tampak bermain tanpa permisi.


"Raf, gue lagi mens." Elsa menurunkan tangan nakal Raffi.


"Gue tahu. Lo mau lakuin oral nggak? Gue lagi pengen, El..." ungkap Raffi. Kini dia sudah tidak malu-malu lagi menyatakan hasratnya.


Elsa menenggak salivanya sendiri. Bola matanya bergerak menatap alat vital Raffi. Dia mencoba membayangkan sebelum bertindak. Sebab Elsa selama ini tidak pernah sekali pun melakukan oral sek*ś.


"Kalau nggak mau, gue nggak maksa kok. Mending gue pulang aja." Raffi paham dengan tatapan ragu Elsa. Ia bergegas beranjak menuju jendela. Namun tangan Elsa sigap mencegat.


"Gue mau kok!" ujar Elsa. Dia tidak mau mengecewakan Raffi. Elsa belum kapok dibutakan terhadap yang namanya cinta. Apalagi setelah mendengar cerita Raffi yang mulai dekat dengan Olive.

__ADS_1


__ADS_2