
...༻☆༺...
Danu diam-diam mengambil uang yang ada di tas dan dompet si pria paruh baya. Usahanya sukses besar, karena pemiliknya terlalu sibuk membersihkan noda saos di celana.
Setelah berhasil, Danu cepat-cepat pergi dari toilet. Lalu mengajak teman-temannya untuk segera pulang.
"Kenapa lo kayak dikejar-kejar setan gitu sih, Dan?" tanya Tirta seraya mengangkat dagu.
"Bokap gue suruh cepat-cepat pulang. Acara keluarga gue bentar lagi dimulai," kilah Danu. Raffi dan lain terpaksa setuju. Mereka beranjak dari tempat makan.
Raffi mengantarkan Danu sampai ke rumah. Danu lantas mengucapkan terima kasih dan keluar dari mobil.
Selepas semua temannya pergi, Danu berbalik menatap rumah mewah yang selama ini dia akui sebagai tempat tinggal. Danu sebenarnya mengetahui keluarga yang tinggal di rumah mewah itu. Mereka tidak lain adalah majikan tempat ibunya bekerja. Ibunya Danu sendiri bekerja sebagai pembantu rumah tangga di sana.
'Ibu lagi kerja nggak ya sekarang?' batin Danu seraya memperhatikan keadaan rumah.
Tidak lama kemudian, sebuah mobil keluar dari sana. Danu otomatis menyingkir untuk memberikan jalan. Dari kejauhan dia dapat menyaksikan sang ibu sedang mengepel lantai di teras.
Tanpa pikir panjang, Danu bergegas menghampiri. Dia tidak lupa mengamati baik-baik keadaan rumah.
"Danu! Kam baru pulang dari sekolahan?" tanya ibunya Danu yang sering disapa Sinta.
"Iya, Bu. Aku pas lewat tadi lihat Ibu. Jadi mampir dulu deh." Danu lagi-lagi berkilah.
"Tidak biasanya kamu begini," komentar Sinta. Ia sebenarnya merasa senang bisa mendapat perhatian Danu. Senyuman Sinta merekah simpul. Namun putranya justru terdiam.
"Bu, majikan Ibu mana? Lagi pada di dalam ya?" Danu menuntut jawaban.
"Baru aja mereka pergi. Mereka semua baru bisa liburan. Kemungkinan akan kembali seminggu lagi. Jadi Ibu--"
"Mereka pergi?" kelopak mata Danu melebar penuh semangat. Dia merasa mendapat keburuntungan yang tak terkira. Danu tampak kegirangan dan menyerukan kata yes beberapa kali.
"Kamu kenapa, Dan?" Sinta mengerutkan dahi.
"Nggak apa-apa, Bu. Aku cuman senang. Berarti Ibu bisa liburan juga," ujar Danu seraya membawa Sinta masuk ke dalam pelukan.
__ADS_1
"Eh, nggak gitu. Biar majikan Ibu liburan, Ibu tetap harus kerja. Bersih-bersih rumah terus nyiram tanaman." Sinta memberitahu.
"Oh gitu ya." Danu mengangguk beberapa kali. Dia akan memikirkan rencana selanjutnya nanti.
Danu pulang lebih dulu ke rumah. Di perjalanan dia menemui dua temannya untuk meminta bantuan. Dua teman Danu yang merupakan pengangguran itu tentu setuju. Apalagi dengan iming-iming akan diberikan banyak uang.
Setibanya di rumah, Danu menemukan ibunya sudah lebih dulu pulang. Dia langsung dicecar pertanyaan oleh kedua orang tuanya.
"Perasaan tadi kamu pulang duluan deh, Dan? Kenapa baru pulang?" tanya Sinta heran.
"Aku tadi ke rumah teman dulu, Bu." Danu menjawab sambil berjalan melewati sang ibu.
"Ya udah, cepat mandi. Terus siap-siap buat makan!" ujar Sinta. Dia sibuk mempersiapkan hidangan di atas meja. Sementara suaminya, Wildan. Baru saja keluar dari kamar.
Wildan terlihat berjalan dengan kaki pincang. Dia kebetulan menderita asam urat. Tetapi terus memaksakan diri untuk berjualan bakso.
Selang sekian menit, Danu selesai membersihkan diri. Langkahnya terhenti saat mendengar obrolan ayah dan ibunya. Dari pembicaraan itu, Danu mengetahui satu hal. Bahwasanya Sinta menyimpankan kunci rumah majikannya.
Danu tersenyum, sebuah ide terlintas dalam benaknya. Dia langsung menghubungi kedua temannya tadi. Lalu mengatakan untuk bersiap-siap dengan rencana besok.
Satu malam berlalu. Di pagi yang cerah, Danu bangun lebih cepat biasanya. Padahal jika liburan dia selalu tidur sampai siang.
Danu menghampiri Sinta. Dia mengajukan diri untuk menggantikan pekerjaan ibunya.
"Lebih baik Ibu bantuin Bapak jualan keliling hari ini. Biar pekerjaan Bapak lebih ringan. Sebenarnya aku mau bantuin Bapak, tapi Ibu tahu kan kalau aku nggak bisa pergi seharian. Karena hari ini ada rapat osis lagi." Danu bertutur kata lembut.
Sinta berpikir sejenak. Dia merasa usulan sang putra ada benarnya. Bukannya curiga, Sinta malah kagum dengan ide yang diberikan Danu.
"Udah jadi anak pinter kamu ya, Dan." Wildan menepuk pundak Danu. Memancarkan binar penuh kekaguman kepada sang putra.
"Lain kali, pasti aku yang bakal bantuin Bapak keliling." Danu membalas dengan senyuman. Dia melepas kepergian kedua orang tuanya. Wildan dan Sinta mulai berkeliling untuk menjualkan bakso.
Setelah memastikan ayah dan ibunya pergi, Danu langsung bersiap-siap. Dia mengenakan pakaian rapi. Danu juga tidak lupa memastikan apa yang dirinya pakai adalah barang bermerek. Semuanya dia lakukan agar kekayaannya lebih meyakinkan.
Sesampainya di rumah majikan Sinta, Danu berkeliling terlebih dahulu. Melihat-lihat isi rumah dan memilih satu kamar untuk dijadikan sebagai miliknya.
__ADS_1
Danu tidak sendiri. Dia datang bersama dua lelaki yang sudah menyetujui kesepakatan dengannya. Mereka adalah Dayat dan Hendro. Dua orang pengangguran yang berusia lebih tua dari Danu.
Kini Danu hanya perlu menyuruh semua temannya datang. Jujur saja, dia sudah tidak sabar untuk memamerkan segalanya.
Satu jam berlalu. Barulah Raffi dan kawan-kawan tiba di rumah Danu. Mereka bergegas menghampiri Danu yang telah berdiri di teras.
"Lo kenapa udah di luar? Jangan bilang lo dari tadi udah nunggu di sini?" timpal Raffi sembari meletakkan siku di pundak Danu.
"Enggak kok. Kebetulan gue tadi keluar aja," jawab Danu. Ia sebenarnya menunggu di luar selama satu jam.
"Gede juga rumah lo, Dan. Bokap sama nyokap lo mana?" tanya Gamal seraya mengedarkan pandangan ke segala arah.
"Mereka dari kemarin nggak ikut pulang. Gue aja pulang duluan dari acara keluarga. Gue lakuin buat kalian tahu!" jelas Danu.
"Elaah... jangan gitu dong. Yang penting kita udah bisa lihat rumah lo sekarang," cetus Elsa. Dia dan yang lain segera masuk ke rumah Danu.
Dayat menyuguhkan banyak makanan ke meja. Dia memang disuruh oleh Danu untuk menyamar sebagai pembantu.
"Wah, pembantu lo cowok, Dan?" tanya Tirta.
"Lo ngapain nanya, kalau udah lihat di depan mata!" sahut Danu sambil mendorong sebal kepala Tirta.
"Gue kan cuman mastiin." Tirta mengusap tengkuk tanpa alasan.
"Eh, Mal! Lo nggak ngajak Erin atau Zara ke sini? Gue sendirian ceweknya nih," keluh Elsa. Kebetulan kali ini Gamal datang sendiri.
"Hehe... Erin hari ini lagi sibuk. Kalau Zara, gue udah ogah ngajak dia," terang Gamal.
"Emang kenapa kalau sendiri, El. Ayangnya selalu di samping kok, ciaahhh..." goda Danu sembari menyenggol Raffi dengan siku. Semua orang otomatis tertawa geli bersama.
Elsa yang mendengar jadi salah tingkah. Wajahnya memerah bak tomat matang. Untuk menghilangkan rasa malu, dia memukul keras pundak Danu.
"Danu bener kok. Kan ada gue di sini." Raffi yang tahu Elsa salah tingkah, justru ikut menggoda. Dia bahkan sengaja memeluk Elsa dari samping.
"Raf, baru kali ini ya, gue pengen nonjok muka lo!" geram Gamal. Dia tidak tahan menyaksikan sikap manja Raffi. Gamal tentu hanya bercanda. Ia berhasil memberikan suasana semakin lawak.
__ADS_1
"Idih! Jangan lebay lo!" tanggap Elsa sambil menjaga jarak dari Raffi. Wajahnya masih belum berhenti tersipu.