Sisi Gelap Dunia Anak SMA

Sisi Gelap Dunia Anak SMA
Bab 94 - Seperti Anak Manja


__ADS_3

...༻☆༺...


Heni sengaja berkunjung ke sekolah putranya. Dia membawakan banyak kotak berisi makanan untuk para guru. Heni melakukannya sebagai rasa terima kasih. Sebab Raffi terus diberikan kesempatan ikut berbagai kompetisi nasional maupun internasional.


"Sebenarnya kami yang sangat berterima kasih. Karena Ibu yang mau menyekolahkan Raffi di sini. Oh iya, Raffi sakit apa, Bu?" tanya Bu Lestari. Membuat kening Heni mengernyit heran.


"Maksudnya?" Heni berbalik tanya.


"Raffi nggak masuk hari ini. Katanya lagi sakit," kata Bu Lestari. Masih menunggu jawaban dari Heni.


Heni hanya termangu sendiri. Bagaimana tidak? Yang dia tahu, hari ini Raffi pergi ke sekolah. Dia bahkan sempat melihat sang putra sudah berpakaian seragam.


"Bu? Bu Heni?" panggil Bu Lestari. Mencoba menyadarkan Heni yang mendadak melamun.


"Eh, iya. Saya sebaiknya pulang dulu." Heni merubah topik pembicaaan. Dia ingin lekas-lekas pergi.


"Tapi--" Bu Lestari tidak bisa mencegah, ketika Heni terlanjur pergi.


Kini Heni melajukan langkahnya memasuki mobil. Ia bergegas kembali ke rumah. Mengingat tidak ada siapapun orang di sana. Heni berpikir, Raffi mungkin saja melakukan sesuatu.


Setibanya di tempat tujuan, Heni dapat melihat mobil Raffi terparkir di halaman rumah. Tanpa pikir panjang, dia langsung melangkah masuk. Mencari keberadaan Raffi dengan perasaan cemas. Anehnya Heni tidak bisa menemukan Raffi dimana-mana. Bahkan di kamar pun tidak ada.


Tertujulah atensi Heni ke arah rumah pamannya Elsa. Dia akhirnya pergi ke sana. Mengira kalau Raffi mungkin saja ada di sana.


Heni menekan bel pintu rumah. Berharap ada seseorang yang membuka pintu. Akan tetapi seberapa lama dia memencet bel, tidak ada orang yang membukakan pintu.


Sementara di dalam rumah, Raffi dan Elsa justru asyik tertidur. Suara bel pintu hanya terdengar samar di telinga mereka. Alhasil Heni memilih kembali pulang. Dia akan menunggu kedatangan Raffi di rumah.


Saat waktu menunjukkan jam dua siang lewat, barulah Raffi pergi meninggalkan Elsa. Dia sengaja kembali saat jam pulang sekolah tiba. Jadi pembolosan yang dia lakukan secara mendadak, tidak ketahuan.


Raffi berjalan melalui pintu masuk dengan senyuman. Langkahnya terhenti ketika mendengar panggilan Heni. Raut wajah ibunya tersebut tampak cemberut. Seolah bersiap memarahi.


"Kamu dari mana?!" timpal Heni.


"Habis sekolah dong, Mah. Aku kemana lagi coba." Raffi yang sudah terbiasa berbohong, menjawab dengan santai.


"Sekarang kamu mulai berani bohong sama Mamah ya!" Heni menggeleng tak percaya. Ucapannya itu membuat Raffi memikirkan segala hal kemungkinan. Termasuk pengetahuan Heni mengenai dirinya yang tidak masuk sekolah.


"Ke-kenapa, Mah?" Raffi memastikan.


"Kamu nggak pergi ke sekolah kan?! Cepat kasih tahu Mamah kemana saja kamu seharian ini?!"


"A-aku cuman..."


"Cuman apa?!! Sakit hati Mamah, Raf. Cepat beritahu! Apa ada hal lain yang kamu sembunyikan selain ini? Mamah benar-benar kecewa sama kamu!" Heni mengarahkan jari telunjuknya ke wajah Raffi.

__ADS_1


"Maaf, Mah... aku tadi cuman ikut teman..." lirih Raffi sembari menundukkan kepala.


"Teman? Siapa?!" Heni menuntut jawaban. Jujur saja, dia sangat penasaran dengan teman Raffi. Dia ingin tahu siapa nama yang telah membuat putranya berubah drastis.


"Gamal..." Raffi asal menyebutkan nama. Saat mengingat banyak hal tentang kenakalan, hanya nama Gamal yang terlintas dalam benak Raffi.


"Mulai sekarang, Mamah sita mobil kamu. Mamah akan carikan sopir khusus untuk mengantarmu ke sekolah!" tegas Heni.


"Tapi, Mah--"


"Cepat masuk ke kamar! Hari ini kamu nggak perlu pergi les. Bolos semuanya aja sekalian! Mana kunci mobil kamu?!" Heni sengaja memotong perkataan Raffi. Dia membuka lebar telapak tangannya.


Dengan berat hati, Raffi menyerahkan kunci mobilnya. Dia tidak bisa membantah kala dirinya sudah ketahuan bersalah.


Hukuman Raffi tidak sampai di sana saja. Irwan yang juga baru diberitahu Heni, ikut-ikutan kecewa terhadap kelakuan Raffi. Dia mengurangi uang jajan sekitar lima puluh persen.


Irwan sampai bersedia mengantarkan Raffi pergi ke sekolah setiap hari. Sedangkan orang yang nanti bertugas menjemput Raffi pulang adalah Heni. Keduanya sepakat untuk menjaga putra semata wayang mereka dengan baik.


Sungguh Raffi sangat kesal. Sekarang dia seperti anak manja di mata semua orang. Raffi benar-benar malu. Apalagi Heni seringkali terlambat menjemput.


"Arrgh!" Raffi menghempaskan bola basket ke lantai dengan penuh amarah. Gamal dan kawan-kawan sontak kaget. Mereka baru saja menyelesaikan latihan basket.


"Lo kenapa?" pungkas Gamal dengan dahi berkerut.


"Kesal gue! Akhir-akhir ini gue ngerasa kayak di penjara!" keluh Raffi sembari duduk ke sebelah Gamal. Mereka memilih beristirahat di kursi penonton.


"Bokap sama nyokap lo protektif banget," komentar Gamal seraya mengelap keringat dengan handuk kecil.


Tak!


Tak!


Tak!


Suara derap langkah kian mendekat. Pemiliknya ternyata adalah Olive. Dia membawa tas karton di salah satu tangannya.


"Sayang, kamu udah selesai?" tanya Olive yang telah berdiri di hadapan Gamal.


"Sudah, yang..." jawab Gamal.


Raffi mengikik geli. Dia tidak pernah mendengar Gamal bersikap seperti itu. Terutama kepada perempuan.


"Kak Raffi kenapa ketawa?" tegur Olive. Membuat Raffi langsung berhenti tertawa.


"Nggak ada kok." Raffi lekas menggeleng.

__ADS_1


"Oh iya, ini undangan buat Kak Raffi. Datang ya! Kak Elsa juga udah aku kasih undangan," ujar Olive seraya menyerahkan sebuah undangan untuk Raffi.


"Oke, thanks!" Raffi menyambut undangan yang diberikan Olive.


"Lo mau gue antar pulang? Kali aja nyokap lo telat lagi," ajak Gamal. Dia dan Raffi berderap menuju ruang ganti.


"Eh lo nggak di antar Pak Drajat?" Raffi terheran. Setahunya Gamal juga sedang dihukum oleh Afrijal. Dia hanya tahu Gamal diberi hukuman, tetapi tidak pernah tahu alasannya apa.


"Gue dapat uang banyak dari nyokap. Jadi bisa nyuap Pak Drajat. Untung si tua bangka itu mata duitan," jelas Gamal sambil menarik sudut bibirnya ke atas.


Raffi memutar bola mata jengah. Meskipun begitu, dia tetap menerima tawaran Gamal. Pulang bersama teman lebih baik dari pada dijemput oleh orang tua.


Selepas berganti pakaian, Raffi dan Gamal segera pergi ke parkiran. Di tengah jalan mereka lagi-lagi harus bertemu dengan Olive. Raffi sudah terbiasa akan hal itu. Dia bahkan juga ikut-ikutan akrab dengan Olive. Pembawaan cewek itu cukup lucu dan menyenangkan bagi Raffi.


"Kalian sekarang sering lupain gue ya!" Tirta tiba-tiba ikut bergabung. Dia langsung merangkul Raffi.


"Lo sibuk ngurus pacar-pacar lo mulu sih. Sekarang yang mana lagi coba?" tukas Gamal.


"Ah... gue udah tobat. Sekarang gue jomblo! Beneran deh." Tirta menegaskan.


Saat tiba di depan mobil Tirta, ikat rambut Olive terjatuh. Tirta diam-diam langsung mengambilnya dan menyembunyikan. Kini rambut Olive yang tadinya terikat jadi tergerai.


"Eh, ikat rambutku jatuh." Olive mengedarkan pandangan ke tanah yang ada di sekitar.


"Ini ya?" Tirta memperlihatkan ikat rambut Olive.


"Bener, Kak. Maka--" perkataan Olive terjeda saat Tirta menjauhkan ikat rambut dari jangkauannya. Lalu melempar benda itu kepada Raffi.


Sekarang ikat rambut Olive ada di tangan Raffi. Olive otomatis merubah haluan. Seakan satu pemikiran dengan Tirta, Raffi ikut-ikutan menggoda Olive. Mereka bahkan tertawa geli. Hal yang sama juga dilakukan Gamal selaku pacar Olive.


"Iiih... Kakak-kakak semua nyebelin deh..." protes Olive. Walau dipermainkan, dia justru merasa senang. Sesekali tawa kecil dilakukannya. Olive menganggap dirinya sudah cukup akrab dengan para cowok populer.


"Kalau bisa ambil ikat rambutnya. Nanti dapat hadiah dari ayang Gamal. Iyakan, Mal?" ujar Raffi seraya mengangkat salah satu tangannya setinggi mungkin.


Olive berusaha merebut ikat rambutnya. Kedua kakinya sampai harus berjingkat. Ia terpaksa berpegangan erat ke pinggul Raffi. Jantung cewek itu langsung berdegub kencang ketika dapat melihat wajah tampan Raffi lebih dekat.


Akibat hal tersebut, Olive sengaja tidak meraih ikat rambutnya. Dengan tujuan agar bisa berlama-lama memeluk Raffi. Namun itu tidak berlangsung lama, karena Raffi tiba-tiba melempar ikat rambut Olive kepada Gamal.


"Yo'i! Apa yang enggak sih buat yayang," tanggap Gamal. Membuat Olive semakin tidak bisa menahan senyuman lebar.


Gamal menyembunyikan ikat rambut Olive ke balik punggung. Olive yang hendak mengambil terus saja dipermainkan. Hingga akhirnya dia jatuh ke dalam pelukan Gamal.


"Eyaaak! Kena perangkap." Tirta dan Raffi cekikikan bersama.


Di tempat yang tidak jauh, Zara kebetulan menyaksikan semua yang dilakukan Gamal dan kawan-kawan. Dia bersembunyi di balik dinding. Memendam rasa cemburunya dengan sangat baik.

__ADS_1


Jujur saja, pekerjaan Zara tidak berlangsung lancar. Dia sudah tidak terbiasa lagi menghadapi lelaki yang lebih tua darinya. Entah kenapa ada perasaan jijik. Sehingga Zara memutuskan untuk tidak melanjutkan pekerjaan buruknya. Ia sekarang tengah mencoba mencari jalan lain. Tetapi yang ada dipikiran Zara justru hanyalah menginginkan bantuan Gamal.


__ADS_2