Sisi Gelap Dunia Anak SMA

Sisi Gelap Dunia Anak SMA
Bab 34 - Hampir Saja


__ADS_3

Warning! Terdapat adegan dewasa di episode ini!


...༻☆༺...


Rintik hujan tiba-tiba turun. Namun Raffi dan Elsa sama sekali tak hirau. Mereka masih berada di mobil karena asyik mengobrol.


Pupil mata Raffi membesar saat melihat hadiah Elsa. Yaitu sebuah buku diary milik Elsa yang telah ditulis full sampai lembar terakhir.


"Itu buku diary gue sesi pertama. Gue nulis pas masih kelas satu SMP," ungkap Elsa.


"Wah, seru nih. Ada gue nggak di sini?" tanya Raffi sembari membuka acak buku diary Elsa.


"Kalau nggak ada, ngapain gue kasih sama lo!" sewot Elsa. Sedikit memanyunkan mulut ke depan.


Raffi tersenyum tulus. Lalu mengelus lembut puncak kepala Elsa. Dia mencoba membaca diary Elsa. Senyuman Raffi seketika melebar ketika membaca cerita tentang dirinya.


'Gue nggak tahu kenapa? Akhir-akhir ini jantung gue nggak berhenti deg-degan pas deket sama Raffi. Kalau gini gue harus gimana coba?' Begitulah bunyi cerita pertama yang dibaca Raffi.


"Ini momen pertama kalinya lo suka sama gue?" Raffi menatap Elsa dengan sudut matanya.


Elsa mengangguk lemah. Dia lekas membuang muka akibat terlalu malu. Wajahnya memerah bak kepiting rebus. Jantungnya bahkan berdebar-debar tidak karuan.


"Cie... malu-malu!" goda Raffi seraya mencolek bahu Elsa. Cewek itu lantas terkekeh. Ia mencoba membantah asal. Tetapi wajahnya malah semakin memerah. Alhasil Elsa dan Raffi berakhir saling bercanda. Mereka tidak bisa membendung gebu cinta yang ada dalam hati.


"Sini lo!" Raffi menarik Elsa untuk mendekat. Hingga cewek itu sontak tertarik ke hadapannya.


Tanpa diduga, Raffi mengecup singkat bibir Elsa. Ulahnya sempat membuat Elsa kaget. Akan tetapi, beberapa menit kemudian Elsa tersenyum. Lalu memagut pelan bibir Raffi. Cewek itu kian mendekat sampai mengambil posisi duduk di pangkuan Raffi.


Pergulatan mulut terjadi. Raffi dan Elsa saling mengulum dalam. Kupu-kupu terasa beterbangan di perut. Nafas keduanya mulai tak terkendali. Seolah terus memburu. Mereka sesekali memiringkan kepala agar lebih leluasa berciuman.


Elsa duduk mengapit pangkuan Raffi dengan pahanya. Sementara tangannya melingkar erat ke tengkuk cowok itu.


Akibat semakin terbawa suasana, tangan Raffi mulai nakal. Ia menyentuh buah dada Elsa yang masih tertutup seragam.


Elsa yang dapat merasakan sentuhan Raffi, reflek melepaskan tautan bibir. Tatapannya tertuju ke tangan Raffi yang masih bertengger di kedua buah dadanya.

__ADS_1


"So-sorry, El..." ucap Raffi yang merasa bersalah. Dia perlahan menurunkan tangan.


Elsa terdiam sesaat. Dia meneguk salivanya terlebih dahulu. Kemudian membuka kancing seragam atasannya satu per satu. Raffi yang menyaksikan otomatis membelalakkan mata.


Belum sempat Raffi bicara, Elsa sudah lebih dulu melepas baju beserta tanktopnya. Sekarang tampilan cewek itu hanya mengenakan bra berwarna merah muda.


Kini Raffi yang menenggak salivanya sendiri. Dia merasa mimpi yang terjadi tempo hari telah menjadi nyata. Raffi mendongak untuk menatap Elsa. Memastikan ekspresi wajah ceweknya tersebut.


Raffi dan Elsa kembali saling bertatapan. Keduanya lagi-lagi berciuman. Lebih liar dibandingkan sebelumnya.


"Mmmph..." Elsa mulai menggumamkan suara.


Raffi yang merasa memiliki kesempatan dalam kesempitan, bergegas membuka baju atasannya. Dia juga tidak lupa menanggalkan kaos bajunya. Cowok itu dengan beraninya melepas pengait bra milik Elsa.


Raffi dan Elsa sama-sama bertelanjang dada. Gairah mereka kian menggebu. Elsa dengan pasrah membiarkan Raffi bermain mulut di dadanya. Hembusan nafas yang diberikan Raffi ke tubuhnya, membuat keringat perlahan membanjiri.


Raffi mengangkat Elsa dan mendorong ke kursi sebelah. Kemudian menurunkan sandaran kursi ke belakang. Mobilnya yang memiliki kecanggihan untuk digerakkan otomatis itu bergerak pelan. Raffi kini mengambil posisi di atas badan Elsa. Ia lanjut memberikan sentuhan lain.


Semuanya terjadi begitu saja. Hujan yang tadinya agak lebat berubah menjadi gerimis. Kala itu cuaca sangat mendung. Sangat gelap bak sore hari menjelang malam. Alam seakan marah dengan kelakuan dua anak muda yang sedang melakukan hubungan intim di mobil.


"Lo udah bikin gue cinta banget sama lo, El..." balas Raffi yang mulai kesulitan mengontrol nafas. Dia menenggelamkan wajah ke ceruk leher Elsa.


Tok!


Tok!


Tok!


Tiba-tiba terdengar ketukan di jendela mobil. Suara itu membuat Raffi dan Elsa gelagapan. Mereka bergegas mengenakan seragamnya kembali. Elsa tampak mengambil semua pakaiannya. Dia sempat menengok ke jendela dan melihat ada seorang pria tua.


Untung saja hari agak gelap, jadi kemungkinan pria tua yang ada di luar tidak bisa melihat ke dalam mobil. Belum lagi keadaan matanya yang mengalami rabun.


"Raf, lo buka aja kaca jendelanya pas udah pakai baju!" perintah Elsa. Ia segera bersembunyi di kursi belakang.


Raffi hanya mengangguk untuk mengiyakan. Jujur saja, sensasi kegiatan tadi masih membuat jantung dan nafasnya awut-awutan. Dia yang sudah mengenakan baju, perlahan membuka kaca jendela. Tepat dimana pria tua berada.

__ADS_1


"Ngapain kamu di sini?!" timpal si pria tua yang sedang sibuk memegang payung.


"Maaf, Pak. Tadi mobil saya nggak bisa nyala. Tapi sekarang udah bisa kok." Cowok sepintar Raffi tentu dapat dengan mudah membuat alasan yang meyakinkan.


"Yang benar? Kamu sendirian, Dek?" tanya sang pria tua.


Raffi tersenyum kecut. "Iya, Pak. Kebetulan sendirian. Untung banget mobilnya udah nyala," kilahnya lagi.


"Tapi kenapa aku nggak denger mesin mobilnya nyala?" Pria tua itu memastikan.


"Tadi saya nelepon orang tua dulu, Pak." Raffi bersikap seramah mungkin. Hingga si pria tua memanggut-manggutkan kepala.


Raffi yang ingin lekas melarikan diri, segera menyalakan mesin mobil. "Nah, bisa kan, Pak!" serunya sembari tersenyum.


"Iya, iya. Hati-hati ya, Dek. Aku kira ada orang yang berbuat mesum di mobil ini," ujar pria tua tersebut. Lalu mempersilahkan Raffi menjalankan mobil.


Sementara Elsa yang masih belum sempat memakai baju, terdiam di balik kursi. Dia tadi tidak berani melakukan pergerakan karena terlalu takut. Selanjutnya, Elsa langsung mengenakan semua pakaian. Kemudian duduk tersandar di kursi belakang.


Suasana hening menyelimuti. Raffi dan Elsa saling membisu. Tidak ada yang memulai pembicaraan. Hanya ada suara tetes hujan yang terus bersemayam di kaca jendela mobil.


"Lo laper nggak?" Raffi akhirnya bersuara.


"Dingin-dingin gini, bakso kayaknya enak deh," jawab Elsa seraya memegangi perut.


"Ya udah, kalau gitu kita mampir ke warung makan dulu." Raffi menyahut sambil terus melaju pelan. Dia dan Elsa seakan tidak mau membicarakan perihal kegiatan mereka tadi.


Sesampainya di warung makan, Raffi dan Elsa bertemu dengan Gamal di sana. Cowok berambut cepak itu tidak sendiri. Dia lagi-lagi ditemani oleh Zara.


"Kalian lagi... kalian lagi..." komentar Raffi sembari geleng-geleng kepala.


"Mungkin kita berempat jodoh," tanggap Gamal. Dia meletakkan satu tangan ke atas meja. Melirik Elsa yang sibuk membaca buku menu.


Atensi Gamal terfokus kepada Elsa. Ada sesuatu hal yang ditangkap oleh matanya. Yaitu tanda merah yang kebetulan ada di kulit leher Elsa yang putih. Gamal dapat menyimpulkan apa yang sudah dilakukan Elsa dan Raffi.


"Lo nakal ya sekarang," cetus Gamal. Dia tersenyum miring dengan perasaan senang.

__ADS_1


__ADS_2