
...༻☆༺...
Gamal memarkirkan mobilnya. Dia singgah di salah satu klub malam elit. Cowok itu memimpin jalan karena lebih mengetahui tempat tersebut. Raffi dan lainnya mengiringi dari belakang.
Suara degub musik yang bertabuh nyaring, menyambut. Belum lagi suasana klub malam yang hanya bersinarkan lampu warna-warni redup.
Puluhan manusia terlihat sibuk menari di lantai dansa. Baik laki-laki maupun perempuan, mereka bercampur serempak di sana. Tersenyum sambil menggerakkan badan dengan lihai.
Elsa perlahan memegangi tangan Raffi. Satu tangannya yang lain sibuk menutupi telinga. Musik yang terputar terdengar begitu lantang. Elsa awalnya merasa tidak nyaman.
"Kita ke ruang vip dulu ya! Kita isi perut dulu sama makanan. Gue belum makan malam soalnya," ujar Gamal. Berbisik ke telinga Raffi. Mereka lantas beranjak menuju ruang vip.
Ketika melangkah masuk, Raffi disambut dengan pemandangan tidak biasa. Tampak beragam jenis alkohol di meja. Dari mulai arak, bir, wine sampai sampanye. Telihat juga sekotak pizza di sana. Sepertinya itu merupakan menu makan malam yang dipesan Gamal.
"Lah, Danu sama Tirta mana? Udah hilang aja mereka," seru Gamal sembari menghempaskan diri duduk di sofa.
"Mereka udah terjun ke lantai dansa. Katanya mau cari cewek-cewek seksi," jawab Zara. Dia mengambil posisi duduk di dekat Gamal.
"Gila! Mereka semangat banget," komentar Raffi. Dia dan Elsa ikut duduk ke sofa. Mereka masih terlihat canggung dengan suasana klub malam. Terutama Elsa, yang sedari tadi tidak mengatakan apapun.
"Santai aja, El. Kita semua di sini kan buat senang-senang," ujar Zara menenangkan. Dia mengembangkan senyuman tipis.
"Kalian kalau mau gabung Danu sama Tirta, sana gih. Gue mau makan dulu." Gamal tampak sudah mengambil sepotong pizza dari kotak.
"Sini ikut gue!" Zara mengajak Raffi dan Elsa ikut bersamanya. Elsa lantas meninggalkan tas selempang. Lalu mengekori Zara dan Raffi.
Gamal yang ditinggal sendirian tersenyum. Dia merogoh sesuatu dari saku celana. Sebungkus serbuk putih siap dia masukkan ke semua minuman yang ada.
"Bawa santai aja. Terserah kalian mau ngelakuin apa di sini. Orang-orang mana peduli. Tuh Danu sama Tirta udah nempel aja sama cewek seksi." Zara menunjuk ke arah Danu dan Tirta berada. Dua cowok itu tampak mendekati cewek seksi yang sama.
"Lo suruh kita joget di sana?" Elsa memastikan. Dia kian menghimpitkan badan ke dekat Raffi.
"Iya. Sana gih, gue mau ikut makan bareng Gamal. Kebetulan gue juga belum makan." Zara melambaikan tangan ke depan wajah. Kemudian beranjak pergi.
__ADS_1
"Di rumah emang sumpek. Tapi di sini kayaknya lebih parah deh," celetuk Elsa. Menatap Raffi dengan sudut matanya. Tetapi cowok yang ditatapnya justru tersenyum.
"Kayaknya nggak bakal seru kalau kita diam aja." Raffi menarik tangan Elsa. Ia membawa gadis itu memasuki lantai dansa.
"Ish! Jangan bilang lo mau ngajak gue..." belum sempat Elsa selesai bicara, Raffi sudah menggerakkan badannya sesuai irama musik. Mereka sudah bergabung dengan banyak orang di lantai dansa. Kebetulan DJ yang bertugas memutar musik EDM yang menggebu.
Elsa berusaha keras menahan tawa. Bagaimana tidak? Dia hampir tidak pernah menyaksikan Raffi menari sebelumnya. Gerakan cowok itu sangat kaku.
"Bwahahahaha! Sumpah lo mirip robocop! Hahaha!" Elsa akhirnya melepaskan tawa. Ia tergelak puas sampai memegangi perut.
"Kalau lagu dangdut asik kali ya. Gue bisa goyangin pantat begini." Raffi menggeborkan pantat dengan lihai. Dia memang sengaja ingin membuat Elsa terus tertawa.
Benar saja, usaha Raffi sukses besar. Elsa tertawa terpingkal-pingkal. Bahkan sampai mengeluarkan sedikit air mata.
"Jangan malu-maluin, bego! Berhenti nggak?" akibat gemas, Elsa menjewer kuping Raffi. Dia ingin kekasihnya itu berhenti.
Raffi menolak. Ia menjauhkan tangan Elsa dari kuping. Lalu kembali bergerak mengikuti lantunan musik. "Gue nggak bakalan berhenti, sebelum lihat lo joget!" katanya sembari menggerakkan kaki dan tangan seperti robot.
Elsa memutar bola mata jengah. Dia menggaruk bagian belakang kepala dengan frustasi. Alhasil Elsa ikut menggerakkan badan seperti Raffi. Keduanya seperti pasangan gila yang menari tidak sesuai dengan irama musik. Meskipun begitu, mereka justru mulai menikmati waktu berada di klub malam.
"Tirta mana, Dan?" tanya Raffi dengan suara seperti berteriak. Dia terpaksa melakukannya, karena suasana di sekitar sangat riuh.
"Dia pergi bareng cewek tadi. Mereka tinggalin gue sendirian. Parah banget!" sahut Danu dengan wajah cemberut.
"Astaga, kayak nggak ada cewek lain aja. Tuh di sana ada banyak, Dan." Elsa berucap sambil mengarahkan jari telunjuk kepada sekumpulan gadis berpakaian minim.
Danu sontak tersenyum girang. Matanya mulai jelalatan. Dia mencoba memilih salah satu dari sekumpulan wanita yang ditunjuk Elsa tadi.
Raffi yang melihat, langsung mendorong kepalanya. "Dasar buaya! Lo jangan keseringan mainin cewek. Nanti nasibnya kayak Gamal," pungkasnya seraya melepas rangkulan Danu.
"Elaah... nggak apa-apa lah. Selagi muda, dinikmatin aja. Iyakan?" tanggap Danu. Dia melambaikan tangan dan melangkah pergi. Kemudian menghampiri gadis yang sudah menarik perhatiannya.
Kini Raffi dan Elsa kembali berduaan. Mereka memilih kembali bersenang-senang. Tanpa terasa waktu berlalu satu jam lebih. Mereka berjalan ke ruang vip dalam keadaan tidak berhenti tertawa.
__ADS_1
Sesekali Raffi dan Elsa saling menggelitiki perut satu sama lain. Perasaan mereka sedang melambung tinggi sekarang. Orang-orang di sekitar hanyalah paralel tidak bermakna.
Raffi dan Elsa berhenti tepat di depan ruang vip. Di sana Elsa tersandar ke dinding dekat pintu. Raffi menyatukan jidatnya dengan cewek itu. Keduanya saling menatap lekat.
"Gue sayang banget sama lo..." ungkap Raffi. Ia dan Elsa berhenti tertawa. Mereka masuk ke dalam suasana lebih serius.
Elsa menangkup wajah Raffi dan membalas, "Sama! Tapi kayaknya rasa sayang gue lebih gede dibandingkan lo."
"Idih! Enak aja. Gedean rasa sayang gue lah!" Raffi tak mau mengalah.
"Gue!" Elsa sekali lagi menegaskan.
"Gue!" Raffi ikut bersikeras.
"Gue!" Elsa kembali menyahut lebih nyaring.
"Ya gue lah!" Raffi masih tidak terima. Perdebatan mereka seolah seperti pembahasan yang sangat serius.
"Gu-" belum sempat bicara, Raffi lebih dulu menyumpal mulut Elsa dengan bibir. Perdebatan mereka berubah menjadi adegan ciuman. Parahnya mereka melakukannya dengan penuh semangat. Raffi bahkan mengacak-acak rambut Elsa karena merasakan gairah yang terpacu. Sementara Elsa, menarik erat kerah baju Raffi dengan erat.
Ceklek!
Gamal tiba-tiba membuka pintu. Dia terlihat agak sempoyongan. Pakaiannya tampak acak-acakan. Belum lagi keadaan bibirnya yang agak membengkak. Hal serupa juga terjadi kepada Zara. Cewek itu melingkarkan tangan ke pinggang Gamal. Keduanya terkekeh bersama saat menyaksikan Raffi dan Elsa asyik berciuman.
"Stop!" Gamal menarik kepala Raffi. Menyebabkan tautan bibir Raffi dan Elsa otomatis terputus.
Raffi langsung melayangkan tatapan sebal. Lalu menjauhkan tangan Gamal dari kepala. "Apaan sih lo?!" geramnya.
Zara melepas pelukannya dari Gamal. Dia kembali ke ruang vip untuk mengambil sesuatu.
"Nih! pakai dan jangan lupa kunci pintu." Zara memberikan sebuah bungkusan kecil. Selanjutnya, dia beserta Gamal beranjak meninggalkan Raffi dan Elsa.
"Guys, jangan lupa cobain minum ya!" seru Gamal sebelum benar-benar menghilang ditelan keramaian.
__ADS_1
"Apaan tuh?" Elsa merebut bungkusan kecil pemberian Zara dari tangan Raffi. Pupil matanya membesar ketika mengetahui benda tersebut. Ternyata itu tidak lain adalah kon-dom.
"Udah! Buang aja. Mereka emang sinting, El. Lo mau kita--" ucapan Raffi terhenti, saat Elsa menariknya masuk ke ruang vip. Pintu langsung tertutup rapat. Kemungkinan besar Raffi dan Elsa sudah menguncinya dari dalam.