Sisi Gelap Dunia Anak SMA

Sisi Gelap Dunia Anak SMA
Bab 31 - Strategi Gamal


__ADS_3

...༻☆༺...


Raffi dan Elsa menyempatkan diri untuk bertukar pandang. Keduanya terlihat memancarkan sorot mata yang datar. Bahkan dengan helaan nafas berat.


Beberapa saat kemudian, datang seorang siswa. Dia berperawakan berisi dan sering di sapa Gusti.


"Guys! Gue mau ngasih kabar, kalau hari ini kita nggak belajar. Soalnya guru-guru ada acara kegiatan rapat," ungkap Gusti. Lalu disambut dengan teriakan histeris dari semua orang. Jujur saja, siapa yang tidak senang dengan jam pelajaran kosong? Bahkan Raffi pun tersenyum mendengar kabar tersebut.


Ketika semua kelas tidak dimasuki oleh guru, maka hiruk pikuklah yang terjadi. Ada yang menikmati makan di kantin, berolahraga, pacaran bahkan membolos.


"Oh satu hal lagi. Bu Lestari menyarankan semua calon ketos buat beraksi hari ini. Soalnya lusa nanti vote-nya bakalan dilaksanakan!" Gusti kembali bersuara.


Gamal tampak manggut-manggut sambil tersenyum. Sepertinya dia sudah punya rencana hebat untuk mengambil hati semua orang.


Sementara Raffi, terkesan biasa saja. Dia justru duduk tenang sembari menopang dagu dengan satu tangan.


"Ayo, Danu, Tirta, bantu gue. Atau lo berdua bagi tugas. Biar bisa bantuin gue sama Raffi," ujar Gamal. Menatap Danu dan Tirta secara bergantian.


"Eh, gue nggak apa-apa kok. Biar Danu sama Tirta bantuin lo aja. Lo tahu kan gue nggak begitu berminat jadi ketos." Raffi menyahut tenang. Saat itulah Elsa mendadak beranjak keluar dari kelas. Mimik wajah cewek itu terus ditekuk sejak tadi.


"Gue pergi dulu." Raffi bergegas mengejar Elsa. Dia menarik tangan cewek itu dan membawanya ke tempat yang jauh dari keramaian. Yaitu laboratorium IPA.


"Lo marah sama gue?" tanya Raffi seraya menggenggam jari-jemari Elsa. Mereka kebetulan hanya berduaan di laboraturium IPA.


"Bukan sama lo. Tapi Ratna. Gue nggak nyangka selama ini dia suka sama lo," ungkap Elsa.


Raffi terkekeh. "Suka? Nggak lah. Kan tadi dia udah bilang, kalau masalah kado itu cuman kesalahpahaman," tanggapnya santai.


"Cowok emang punya naluri nggak peka ya. Udah jelas kok Ratna suka sama lo. Penjelasan dia yang terakhir itu bohong! Gue kenal banget sama Ratna. Kami udah temenan selama bertahun-tahun. Gue tahu sikap dia kalau sedang bohong," jelas Elsa panjang lebar.


"Ya udah, kalau gitu lo maunya apa? Suruh gue buat jauh-jauh dari Ratna, gitu?" Raffi mencoba menyimpulkan.

__ADS_1


"Terserah lo deh." Elsa membuang muka sejenak. Lalu perlahan kembali menatap Raffi. "Tapi, Raf... gue bisa kan percaya sama lo. Kalau lo sukanya cuman sama gue?" tanyanya serius.


"Ya iyalah. Gue sukanya cuman sama lo!" tegas Raffi. Menggenggam lebih erat jari-jemari Elsa.


Elsa menatap selidik. Mulutnya sedikit memanyun karena merasa ragu dengan ucapan Raffi.


"Beneran? Kok muka lo kayak nggak percaya gitu? Bilang aja lo mau apa sekarang? Gue bakal kabulin apapun itu," tawar Raffi. Membuat Elsa otomatis mengembangkan senyuman.


Elsa menangkup wajah Raffi. Menjepit wajah cowok itu dengan kedua tangannya. Sehingga menyebabkan pipi Raffi menggembul ke depan.


"Gue mau kita tanding lari marathon habis pulang sekolah," cetus Elsa.


Raffi menjauhkan tangan Elsa dari wajahnya. Kemudian menjawab, "Aneh banget permintaan lo. Tapi gue terima dengan senang hati. Kalau kalah jangan nangis ya."


"Eh, enak aja. Lo kali yang nangis," balas Elsa seraya menjulurkan lidah.


"Idih! Jangan bikin gue kesel deh." Raffi yang gemas segera mencubit pipi Elsa. Cewek itu hanya bisa mengaduh sembari mencoba melakukan pembalasan. Namun Raffi langsung berlari keluar ruangan lebih dulu. Lalu segera bersembunyi ke balik dinding.


Ketika Elsa mendekat, barulah Raffi muncul secara tiba-tiba. Saat itulah Elsa tersentak kaget. Dia dan Raffi saling berusaha melakukan perlawanan. Meskipun begitu keduanya sama-sama menikmati momen tersebut.


"Permisi, Kak..." seorang cowok tiba-tiba berani menyela kebersamaan Elsa dan Raffi. Dia ternyata adalah Fahri. Cowok yang dibuli Gamal saat pagi tadi. Raffi ingat betul wajahnya.


Fahri tampak memegang sebuah kado dan setangkai mawar merah. Tatapannya tidak teralihkan dari Elsa.


"Ini... aku mau kasih buat Kak Elsa." Fahri menyodorkan kado dan bunga kepada Elsa. Orang-orang yang ada di sekitar sontak diserang kehebohan. Mereka tidak menyangka, cowok seperti Fahri bisa seberani itu. Kini aksi Fahri menjadi tontonan banyak orang.


Sebelum menerima kado pemberian Fahri, Elsa terlebih dahulu melirik Raffi. Dia memastikan cowoknya tersebut tidak apa-apa.


Raffi menganggukkan kepala sambil tersenyum. Pertanda bahwa dirinya sama sekali tidak masalah. Sebenarnya dia hanya tidak bisa bersikap leluasa. Terutama saat menjadi pusat perhatian banyak orang.


"Makasih ya..." jawab Elsa seraya mengambil kado yang diberikan Fahri. Ia hanya merasa kasihan dengan cowok berkacamata itu.

__ADS_1


"Sebenarnya aku kagum sama Kakak berdua. Tapi karena Kak Elsa cewek, aku nggak bisa nahan buat nggak suka. Hehehe..." Fahri menjelaskan dengan malu-malu. Dia terus mengusap tengkuknya tanpa alasan.


"Oke, makasih udah kagum sama gue terus suka sama Elsa. Tapi sekarang kami mau pergi dulu ya. Mendingan lo bersih-bersih kelas aja." Raffi menepuk pundak Fahri dua kali. Lalu menyeret Elsa untuk ikut bersamanya.


"I-iya, Kak..." Fahri lekas mengangguk. Saking polosnya dia langsung melakukan apa yang diperintahkan oleh Raffi.


Elsa cengengesan ketika Raffi terus menarik tangannya. Raut wajah Raffi juga terlihat cemberut. Elsa dapat menyimpulkan kalau cowoknya itu sedang cemburu.


"Lo cemburu ya? Oh iya, pas Gamal nyuruh gue duduk di sampingnya tadi, lo juga cemburu kan?" tanya Elsa.


Raffi hanya membisu. Membuat senyuman Elsa kian melebar. Menurutnya sikap Raffi sekarang begitu menggemaskan.


Langkah Raffi dan Elsa terhenti bersamaan. Atensi mereka terfokus ke lapangan. Di sana mereka menyaksikan banyak murid yang berkerumun. Seolah ada sesuatu yang patut untuk dilihat.


"Apaan tuh?" tanya Raffi yang perlahan melepas pergelangan tangan Elsa.


"Kalau penasaran, mending kita langsung lihat ke sana." Elsa berjalan lebih dulu menuju kerumunan orang banyak. Setelahnya barulah Raffi mengikuti dari belakang.


Elsa dan Raffi datang membelah kerumunan. Keduanya bisa mendengar suara lelaki yang sedang sibuk bicara. Dia tidak lain adalah Gamal. Cowok itu asyik memberikan janji-janji menggiurkan kepada semua orang. Sepertinya Gamal sangat bertekad untuk menjadi ketua osis.


"Kalau gue jadi ketos nanti. Setiap satu minggu sekali, gue bakal bikin kantin gratis buat kalian." Gamal memberitahu dengan gaya angkuhnya.


"Dua kali seminggu dong kak!"


"Jangan-jangan! Kenapa nggak tiga kali seminggu? Digenapin ajalah, Kak!"


Murid-murid yang menonton, mencoba memberikan saran. Mereka sebenarnya hanya menginginkan keuntungan saja.


"Ya udah, tiga kali seminggu kalau gitu. Puas?" tanggap Gamal santai. Padahal uang yang dia gunakan adalah milik sang ayah. Tetapi Gamal bersikap seakan seperti orang berkuasa.


Mendengar persetujuan Gamal, semua orang yang menonton saling berseru senang. Bahkan ada yang sampai bertepuk tangan. Terutama para murid yang memiliki uang jajan sedikit.

__ADS_1


Raffi bergegas menghampiri Gamal. Lalu berbisik, "Lo gila? Ngapain ngasih janji kayak gitu?"


"Lo tenang aja deh. Uang gue banyak." Gamal menepuk pelan bahu Raffi. Kemudian kembali lanjut bicara. Dia berlagak seperti seorang calon presiden yang melakukan kampanye.


__ADS_2